
"Sial! Kalau saja aku bisa ikut, aku akan recokin tuh acara nikahan. Kesel deh, saudariku yang paling cantik serumah, di sakiti,"
"Dasar, cowok plin plan. Ini nih yang aku males buat jatuh cinta, ogah!" gerutunya Gwen. Ia terus mengomel di halte seperti ibu-ibu yang baru saja mengetahui harga cabai di pasar sedang naik.
Orang-orang di sana sampai melihatnya dan menjauhinya. Namun, tetap saja Gwen masih mengomel tiada henti. Memang diantara Gwen dan Aisyah selalu bertengkar dan jarang bisa akur, namun tetap saja mereka selalu pengertian satu sama lain.
"Siapa sih yang jadi istri ustadz Khalid? Penasaran aku, seberapa cantik dia dan seberapa pintarnya dia. Bisa-bisanya cuekin Aisyah," masih sana Gwen mengumpat di angkutan umum.
"Aisyah kan cantik, baik hati juga meski galak. Tapi dia menjadi terluka hatinya. Bener-bener nggak bisa di biarin ini!" lanjutnya.
Sesampainya di kampus, Gwen terus menyepam pesan kepada Feng. Ingin tahu, bagaimana keadaan saudarinya saat ini.
[Tenang saja, ini kami sudah sampai di rumah ustadz Khalid.] - jawab Feng.
[Dih, kalian jadi datang?]
[Iya, memangnya kenapa? Di undang juga, 'kan? Dah sana belajar yang giat!] - balas Feng.
Saat sibuk dengan ponselnya, Anita menghampiri dirinya dan memberikan pertanyaan konyol tentang kalsium kepadanya. Gwen pun merasa heran atas pertanyaan tersebut.
"Kalsium? Dah minum obat kan lu?" Gwen menjawab dengan tatapan kesal.
"Jawab aja ngapa!" sulut Anita.
"Bodo!" seru Gwen kembali sibuk dengan ponselnya.
Anita hanya ingin membuatnya malu di kelasnya. Ia pun merebut ponsel milik Gwen dan hendak memberikannya lagi ketika Gwen mampu menjawab semua pertanyaannya.
"Jawab dulu, kalsium gunanya untuk apa?" Anita memberikan pertanyaan itu lagi.
"Dih, lu seharusnya tanya sama mahasiswa kedokteran sono, ngapain lu nanya ke gue, hah?" Gwen menepis tanya Anita yang saat itu memberikannya kertas kosong untuk menjawab.
Kalsium adalah mineral penting yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang serta gigi.
"Udah, besok gue pindah haluan kejuruan. Pinter gue ini!" ucap Gwen membanggakan diri.
Rupanya, Anita menanyakan itu karena adiknya yang bertanya. Pada dasarnya, Anita memang tidak pintar. Namun, ia memiliki daya fisik yang lumayan membuat kaum Adam tertarik alias good looking.
Di tempat kondangan,
Aisyah terus memperhatikan resepsi pernikahan itu dengan tatapan sendu.
Feng menepuk bahu saudarinya dengan lembut dengan berkata, "Sabar ya, kuatkan hatimu. Jodohmu mungkin baru lulus SMA, atau bahkan dia masih kuliah di luar sana,"
"Na'udzubillah, masa lulus SMA, sih? Nggak lucu!" kesal Aisyah. "Bagaimana kalau Koko aja yang jadi suamiku? Kita kan tumbuh bersama nih, deket pula. Kenapa kita tidak menikah saja?" imbuhnya.
"Kamu kalau sakit, sebaiknya kita pulang, yuk. Aku jadi takut deket-deket denganmu. Aku masih waras woy, nggak mungkin nikahin adik sendiri," sukur Feng dengan pipi yang menggebu.
Aisyah tertawa, candaan Aisyah justru malah membuatnya tertawa sendiri. Tidak mungkin juga Aisyah akan jatuh cinta dengan sepupunya. Meski mereka memang diperbolehkan menikah dalam islam, tetap saja Aisyah dan Feng tidak memiliki perasaan seperti itu.
Sama halnya dengan sepupu lainnya, memang anak dari Falih, Aminah dan Mayshita juga seorang laki-laki. Kedekatan mereka juga seperti orang tuanya dahulu. Namun, jarak yang memisahkan mereka, sehingga mereka jarang bertemu.
Lahir di tahun yang sama, membuat mereka tidak canggung dengan statusnya. Tetap saja, Aisyah dan Gwen adalah kakak bagi Feng. Namun, Aisyah sendiri yang tidak suka memang Feng dengan menyebut namanya langsung. Karena bagaimanapun juga, Hamdan adalah anak dari adiknya almarhumah Aisyah, neneknya. Ah bingung aku. Dahlah, yang lain gak usah masuk di novel ini😅