Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
LOLOS



"Kak, hanya satu celup saja. Pasti mereka tidak lagi mengincarku setelah ini  …" suara Xia sampai bergetar karena Tama terus mengajaknya berlari.


Tak mempedulikan permintaan gila Xia, Tama terus membawanya lari menjauh dari kediaman Yu. Dalam pikirannya, hanya bagaimana caranya mereka selamat dan segera menuju ke mobil dan menjemput Feng kembali nanti. 


Mereka mengambil waktu kabur petang adalah waktu yang sangat tepat. Warga di sana dan juga beberapa penjaga sedang tidak ada di luaran rumah. Sehingga, bisa dengan bebas berlari keluar. Kediaman Yu berada di sisi jembatan masuk dari desa tersebut. Itu memudahkan bagi Dishi, Tama dan Xia untuk kabur lebih dulu saat itu.


"Ayo, cepat! Apa kau sudah tidak kuat lagi? Jika tidak, aku akan menggendongmu," ujar Tama, menghentikan larinya karena Xia melepaskan genggaman tangannya. 


"Huh, huh, huh, aku, lelah--"


Tama memalingkan wajahnya lagi karena saat itu Xia masih hanya mengenakan pakaian dalam saja di tubuh bagian atasnya. Tak ingin menodai matanya, Tama pun hanya mengulurkan tangannya lagi untuk membantu Xia berdiri. "Jika sudah mengatur napasnya, mari kita lanjutkan kembali kaburnya," ucap Tama.


Tatapan sedih Xia memang ada alasannya. Xia sedih karena Tama selalu menghindarinya. Tama juga tak pernah memperlakukan lembut dirinya. "Tidak perlu. Aku bisa ja--" 


"Cepat lari!" teriak Feng dari belakang. 


Padahal antara Tama dan Xia sedang terjadi drama sedih, malah dengan konyolnya Feng berteriak kepada keduanya untuk cepat lari. Saat itu, Feng hanya mengenakan boxer hello kitty yang dibelikan oleh Gwen. Bertelanjang dada dan telanjang kaki sembari lari terbirit-birit. 


"Astaga, kenapa kalian masih bengong seperti orang bodoh. Jika kalian tidak mau mati muda, cepat lari!" seru Feng menarik tangan Tama. 


Spontan, Tama pun menarik tangan Xia yang sebelumnya masih sedikit membungkuk karena kelelahan. Mereka bergandengan tangan lari menjauh dari desa. Dari kejauhan sana, banyak orang utusan Yu Liu supaya bisa mengejar mereka. Meski jarak mereka berjauhan, tapi orang dari desa itu menggunakan panah untuk menyerang Feng, Xia dan juga Tama. 


"Xia!" 


Tangan Feng ditepis oleh Tama, kemudian menerima serangan panah itu dan berhasil melindungi Xia. "Shh ...." desis Tama.


"Kak Tama, kau terluka?" 


"Sial, mereka malah menyerang kita. Ayo, cepat kita ke mobil. Aku akan menggendongmu, Tama!" Feng begitu perhatian. 


"Yang kena hanya tangan. Kakiku masih sehat-sehat saja, ini saja juga hanya meleset, bukan menancap. Ayo segera pergi," ucap Tama. 


Tak selang lama, mobil pun datang dikendarai oleh Dishi. Segera Feng, Tama dan Xia masuk. Mobil melaju kencang sampai orang desa sudah tidak bisa mengejar mereka lagi. Di sisi lain, Yu Liu begitu murka karena Dishi dan Feng berhasil kabur darinya. 


"Xia, kau lepaskan dulu kemeja Tama. Aku akan mengambil kota obat di dasboard," perintah Feng. 


Xia mengangguk, kemudian membantu Tama melepaskan pakaiannya. Lukanya tidak begitu parah karena anak panah itu tidak menancap, melainkan hanya menyerempetnya. Tapi tetap saja melukai lengan Tama dan membuatnya kehilangan darah. 


"Kalian semua tidak berpakaian, apakah aku juga harus menanggalkan pakaianku?" tanya Dishi di sela-sela kekhawatiran. 


"Jika kau mati, katakan saja. Aku akan menyuntik mati dirimu saat ini juga," desis Feng. 


Sebagai dokter, Feng akan memberi pertolongan pertama dengan menghentikan pendarahan di lengan Tama. Kemudian membalutnya dengan perban yang memang sudah tersedia di kotak obat di mobilnya. Feng begitu telaten merawat luka sepupunya itu. 


"Kau gila?  Lalu aku bagaimana?" protes Tama. 


"Aku akan meminta Dishi menurunkan dirimu di sini jika masih protes, Tama," ketus Feng. 


"Ck, kau gila. Aku kedinginan degan hanya mengenakan kaos dalam seperti ini!" lanjut Tama. 


"Lalu, kau pikir aku juga tahan banting dengan hanya mengenakan boxer seperti ini, hah!" sentak Feng. 


Tama pun memperbolehkan Xia memakai kemejanya. Kemudian Feng melanjutkan apa yang seharunya ia lakukan. Mereka berempat bernapas lega karena bisa keluar dari desa tersebut. Semua barang pribadi juga kebetulan ada di mobil semua kecuali ponsel. Tak ada yang tertinggal di desa mengerikan itu. 


Sedangkan di desa itu, Yu Liu mulai gila dan membunuh semua pelayannya menggunakan pedang panjang miliknya. Tak ada pelayan yang tersisa di kediamannya. Yu Liu begitu murka dan ingin membalas dendam. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi karena Yu Liu akan mati jika meninggalkan desa tersebut. 


***


Di perjalanan, Xia tak henti-hentinya menatap Dishi dengan tatapan tajam. Kecurigaan Xia terhadap Dishi akhirnya terjawab. Dishi mengatakan jika dirinya tidak hilang ingatan dan lumpuh. Dishi menjelaskan juga alasannya kepada Xia dan Feng yang belum tahu jelas alasan mengapa dirinya bersandiwara. 


"Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu, Dishi? Mengapa kau sampai di desa terkutuk itu?" tanya Feng. 


"Lalu, kenapa kau saja yang masih hidup? Kenapa Ayah, Kak Chen, istrinya dan Ibuku meninggal? Kenapa kau tidak membawa mereka pergi sebelum ledakan itu, Asisten Dishi! Kenapa?" Xia kembali terisak mengingat semua keluarganya telah pergi meninggalkannya. 


Dishi diam saja. Tak ingin mengatakan apapun kepada Xia. Feng pun meminta Tama untuk menenangkan Xia karena bagaimanapun juga, selama kembali dari luar negeri, hanya dekat dengan Tama. Bagaikan memiliki koneksi, Tama dan Feng malah debat dalam hati mereka. Tama menolak dengan perintah Feng dan Feng pun masih tetap memaksa.


"Cepat kau jelaskan padanya!" ketus Feng dalam hati, dengan melototi Tama. 


"Aku? Kenapa harus aku? Aku sudah hampir gila karenanya  tadi," sahut Tama dalam hati. 


"Tidak peduli apa yang terjadi diantara kalian. Cepat jelaskan padanya untuk tidak banyak mengatakan tentang keluarganya kepada Dishi. Cepat, tahu busuk!" bibir Feng sampai seperti dukun yang terus komat kamit dengan matanya yang masih terus melotot.


"Aku tidak peduli--" sahut Tama dengan santai. 


"Oh, kau tidak mau? Mudah saja, aku akan mengatakan kepada kedua orang tuamu, jika kau melakukan maksiat dengan anak dibawah umur, hahaha, mau apa kau!" ancam Feng dalam hati. 


Keduanya terus perang batin yang tiada henti. Tak tahu bagaimana caranya nyambung, tapi keduanya memang sedang berdebat dalam hati masing-masing. Hingga akhirnya Xia malah tertidur. Perjalan mereka akan panjang sampai ke Kota karena jarak tempuhnya sangat jauh. Sementara, untuk membuat tubuhnya hangat, Feng, Tama dan Xia memakai selimut bersama di jok belakang, 


"Mereka pasti kelelahan. Aku tidak menyangka jika mereka akan mencariku. Mereka juga pasti melakukan ini karena istriku. Ai, tunggu aku pulang. Setelah menyelesaikan berkasku, aku akan segera pulang ke Korea. Aku sangat merindukanmu."  


"Meski hanya satu bulan, itu sangat lama bagiku. Maafkan aku yang tidak berusaha untuk keluar dari desa itu, Ai."  


Rindu memang sangatlah berat. Hanya iman yang mampu membuat seseorang itu menguatkan hatinya. Di jauh sana, Aisyah percaya jika suaminya masih hidup. Rasa percaya itu menjadi doa, kemudian sampai menembus langit dan benar suaminya selamat, sehat dan masih mengingatnya meski susah untuk keluar sendiri. Sementara Dishi, di desa yang asing dan banyak kejadian kejam, masih berusaha bertahan menjaga cintanya dan berusaha bertahan supaya bisa bertemu dengan istrinya lagi.