
"Lusa? Ustadz itu, bukannya pria yang di sukai Ai?" tanya Chen tanpa berpikir dahulu.
Gwen reflek langsung menendang kaki Chen dengan sekuat tenaga. "Aduh!" Chen menjerit.
"Gwen, kau?"
"Diam!" desis Gwen.
"Sudahlah, kalian bisa meneruskan sarapannya. Pagi ini, saya akan menemui Mas Khalid dulu. Ada hal yang harus saya tanyakan. Tuan Chen bisakah Anda menemani istri saya yang manis ini?" Agam bahkan tidak malu memuji istrinya manis di depan saudara kandungnya sendiri.
"Tentu saja. Aku datang kemari juga karena dia. Tenanglah, pergi dengan tenang, dan pulang dengan membawa keceriaan. Aku akan menjaga istrimu ini dengan aman sentosa," celetuk Chen menggibaskan tangannya.
Gwen mengetahui sesuatu. Dirinya tahu bahwa suaminya hendak mempertanyakan masalah kakak sepupunya itu mau menikahi Syifa. Dengan senyuman, Gwen mengantar suaminya sampai di depan pintu. Mencium lembut tangan suaminya dan Agam berkata, "Apapun hasilnya, kita harus hormati keputusan Mas Khalid, Dek,"
"Bismillah, semua pasti akan ada titik terangnya, Mas. Pergilah, aku masih ingin bicara dengan kakakku itu," ucap Gwen dengan tenang.
Agam tersenyum. Kemudian, meraih kepala Gwen dan mencium keningnya dengan lembut. Ciuman itu sangat hangat dalam rasa yang dirasakan Gwen. "Assalamu'alaikum," salam Agam.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah Agam pergi, Gwen langsung bergegas ke dapur menahan Chen menghabiskan semua makanannya. "Hentikan! Ini semua makanan aku!" teriak Gwen.
"Apa, apa? Makananmu? Kau tuli atau bagaimana? Suamimu bilang, aku boleh nambah sebanyak yang aku mau, kutis!" seru Chen berusaha menutupi lauk yang ia masak sendiri. "Lagipula, ini aku yang masak. Kau tau apa tentang memasak?" ketusnya.
Mendengar namanya menjadi kutis, Gwen semakin kesal dengan saudara kembarnya itu. Gwen tak tahu darimana Chen mendapat nama hewan tersebut. Bahkan menyebutnya dengan fasih.
"Kutis? Kau memanggilku kutis? Baiklah, kemarilah supaya aku bisa mengajarimu, bagaimana kutis ini bertindak!" Gwen menarik lengan Chen dengan sekuat tenaga.
Kesal karena waktu makannya di usik, Chen menantang Gwen untuk berduel dengannya. Masih dengan paha Ayam yang digigitnya, Chen menarik tangan Gwen dan menekuknya di punggungnya.
"Pilih, belati, pistol apa bela diri?" bisik Chen.
"Kau ingin membunuhku? Kau ingin membunuh adikmu yang lucu, baik hati dan tidak sombong ini, hah?" ketua Gwen. "Saat kau bersama Kak Aisyah, kenapa mulutmu sangat manis? Tetapi, bersamaku kau seperti me--"
"Aw, rasakan!" tendangan kaki Gwen mampu melepas cengkraman tangan Chen yang kuat itu.
Ketika mereka sibuk berkelahi, mata-mata Syifa datang berkedok membawakan baju seragam yang akan dipakai di acara pernikahan lusa. Kata-kata Syifa itu melihat Chen dan Agam sedang berpelukan dalam pandangannya.
"Si-siapa dia? Kenapa Mbak Gwen dan pria asing itu berpelukan?"
"Astagfirullah hal'adzim, aku tidak menyangkal jika Mbak Gwen tidak bisa sesolihah Mbak Syifa. Tapi jika perselingkuhan …,"
"Aku harus foto bukti ini dan memberikan kepada Mbak Syifa. Pasti akan dibayar dengan mahal kerja kerasku ini." tukasnya dengan pergi sesegera mungkin.
Mata-mata Syifa ini berpikir negatif. Dalam pikirannya, ia melihat Chen sedang memeluk Gwen dengan erat dan berpandangan mesra. Padahal, mereka sedang saling mengunci tubuh dengan seni bela diri dan tatapan saling kesal.
"Sudahlah, aku lelah. Kau boleh tinggal di sini. Pilih kamar yang paling kau suka," Gwen mengalah.
Gwen menjelaskan pernikahan Ustadz Khalid yang dinilai terlalu mendadak dengan wanita yang tak mungkin bisa dicintainya. Chen bingung hendak membantunya dengan bantuan yang seperti apa. Sebab, dirinya juga tidak tahu menahu soal seperti itu.
"Sama halnya Kak Aisyah yang rela berkorban demi keluarga. Kini, keluarga suamiku ini adalah keluargaku, jadi aku siap berkorban demi keluarga ini, Kak," ucap Gwen.
"Jadi intinya, kamu ingin menggagalkan pernikahan tanpa menyabotase?" tanya Chen.
Gwen mengangguk. Pada dasarnya, mereka memiliki satu pemikiran. Lain dengan Aisyah yang selalu menang sendiri dalam pemikiran. Ada cara yang diusulkan oleh Chen hari itu. Rencana mulai di susun dengan rapi oleh Gwen dan Chen.
Sementara itu, santri yang di mintai Syifa untuk memata-matai Gwen melapor kepada Syita tentang pria yang memeluk Gwen, yang tak lain adalah Chen, saudara kandungnya sendiri.
"Apa kamu yakin?"
"Gwen memeluk pria lain?"
"Bagus, kirimkan fotonya padaku. Aku akan memberikan kompensasi bagus untukmu hari ini, terus gali informasi tentang pria itu padaku, paham?" perintah Syifa.
Bukan hal mudah bagi siapapun menyelidiki siapa Chen yang sebenarnya. Pada dasarnya, memang keluarga pesantren tidak mengumumkan siapa putra pertama yang hilang dan telah kembali itu. Hanya berita kembali, namun tidak dengan seperti apa putra pertama itu.
Paman Chris juga datang ke pesantren hanya demi memberikan informasi berhasilnya dirinya membayar semua kekurangan dari biaya pembangunan yang pernah orang tua Syifa sumbangkan.
"Paman Chris? Anda datang secepat ini? Masuk lah, kebetulan sekali ada banyak makanan di rumah. Mari masuk dan makanlah!"
Gwen menyambut hangat Paman Chris yang sedari Gwen kecil selalu menemaninya. Paman Chris juga yang mengajarkan taktik ilmu seni bela diri dalam dunia gelap.
"Makanan ini enak sekali, Nona muda ternyata pandai memasak, ya? Sama persis seperti mendiang Kakak Jimmy!" seru Paman Chris makan dengan lahap.
Chen mendeham. Koki sebenarnya tidak terima pujian dari Paman Chris nyasar kepada Gwen yang tentu saja bukan dia yang memasak.
"Tuan muda Wang? Anda kah itu?" tanya Paman Chris baru tersadar ada seorang pria berbadan tinggi, kulit putih dengan rambut ikal tengah duduk didepannya.
"Kau mengenalku?" tanya Chen dengan tatapan datar.
"Tentu saja! Kita bertemu di pelelangan dua tahun lalu. Saat itu, usiamu masih 20 tahun dan membeli seorang gadis cantik yang berbahaya. Apa Anda lupa, Tuan muda?" terang Paman Chris masih sibuk mengunyah.
"Oho, pelelangan gelap, gadis muda cantik? Apa yang kau lakukan di sana, Tuan muda Wang?" goda Gwen.
Chen hanya melirik. Lalu meraih selada yang ada di depannya dan memasukkan di mulut Gwen dengan paksa. "Diam itu lebih baik, bawel!" sulut Chen.
Wanita yang dibeli Chen dua tahun lalu adalah Esti. Chen tidak tahu bahwa Esti adalah adiknya Agam saat itu. Yang Chen tahu, dia harus membantu Esti keluar dari pelelangan gelap yang diselenggarakan di kapal pesiar di laut China. Melihat Esti, Chen merasa jika ia melihat kedua saudarinya. Membuat hatinya tergerak untuk menolongnya.
Esti di culik saat ingin berbelanja. Chen membelinya dengan harga fantastis. Sampai saat itu, Esti berterima kasih kepada Chen dan meminta kakak sepupu Asisten Dishi, yang dulu menjadi asisten pribadi Chen saat kecil, kembali ke tanah air.
Kakak sepulu Asisten Dishi menceritakan segalanya apa yang terjadi kepada Esti dua tahun lalu. Hal itu yang membuat Agam semakin terpukul setelah Ibunya jatuh sakit, akibat batalnya pernikahan dikala Syifa kabur di waktu yang tepat untuk ijab kobul.
Sampai saat itu, tidak ada yang tahu bahwa Chen lah yang menolong Esti agar bisa pulang kembali bersama keluarganya.