Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ilkay Minta Adik



Setelah beberapa drama, akhirnya Aisyah bisa bicara berdua dengan Asisten Dishi di samping tenda dimana Ilkay tidur. 


"Apa Ilkay sudah tidur?" tanya Aisyah berbisik. 


Asisten Dishi mengangguk. Begitu genbiranya Ilkay memiliki Paman kecil membuatnya sedikit rewel saat mau tidur. Akhirnya, harus Ayahnya (Dishi) yang menemaninya tidur. 


"Aku buatkan cokelat hangat untukmu," ucap Aisyah sembari memberikan secangkir cokelat hangat untuk pria yang baru hari itu melamarnya.


"Bagaimana rasanya menjadi kakak lagi di usia yang seharusnya sudah menjadi Ibu, Mail?" goda Asisten Dishi. 


"Hish, kamu menggodaku lagi?" kesal Aisyah.


"Hehe, maaf, cantik. Aku turut bahagia adikmu lahir. Tiga hari lalu, baru saja aku bertemu dengan Nyonya Lim. Meski hamil besar, beliau masih terlihat cantik," ujar Asisten Dishi memuji calon mertuanya.


"Kamu melamarku di depan Ayah dan Ibuku, aku jadi malu tau. Pasti mereka mikir, tiba-tiba saja kamu datang melamar, membawa sertifikat bahwa kamu telah jadi mualaf? Kan terkesan mendadak," ucap Aisyah menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. 


"Hey, kenapa mesti malu? Tujuan kita baik, bukan? Aku janji, setelah semua pekerjaanku selesai, aku akan segera menikahimu,"


"Kita akan hidup bersama membesarkan Ilkay. Tinggal pilih saja, kamu mau menetap di sini, atau mau rumah baru, aku akan siapkan semuanya untukmu," Asisten Dishi sudah mempertimbangkan semuanya untuk masa depannya bersama dengan Ilkay dan Aisyah. 


Chen dan Feng ternyata mendengar ungkapan mereka. Keduanya terdiam, mereka tak menyangkal jika hubungan antara Asisten pribadi dan adiknya sudah sedekat, sejauh itu. 


"Selamat, kau akan menambah satu lagi adik ipar, Tuan muda Wang," ucap Feng berbisik. 


"Diam!" 


"Apa yang ingin kau lakukan lagi, mereka saling mencintai. Tak ada yang mampu memisahkannya kecuali Tuhan. Hahaha, selamat Chen, selamat," lanjut Feng terus memanasi hati Chen. 


Bukan maksud Chen tidak menyetujui Asistennya menikahi dengan adiknya. Hanya saja, waktu yang dilalui Chen tanpa kedua saudarinya tidak banyak. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama keduanya. 


"Gwen telah menikah, seluruh hidupnya hanya akan dihabiskan bersama suaminya. Aku belum bisa melepas Ai untuk saat ini. Tak bisakah aku sebagai kakak meminta lebih banyak waktu bersamanya?" gumam Chen dalam hati. 


"Aku bekerja keras saat ini, agar aku bisa memiliki banyak waktu untuk aku habiskan bersama dengan Ai nanti. Aku menunda pernikahan dengan Puspa juga karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kandungku,"


"Apakah, permintaanku terlalu banyak? Tuhan, bukankah Engkau telah merenggut apa yang seharusnya aku miliki di masa lampau? Masa iya, aku minta kebersamaan sebentar saja tidak Engkau kabulkan." tukas Chen menarik selimutnya dan kembali tidur. 


Selama di Korea, mereka bersenang-senang cukup puas. Agam dan Gwen bisa menikmati waktu berduaan sewaktu-waktu di sana. Mereka juga mulai memeriksan keadaan mereka lagi agar bisa cepat memiliki keturunan. 


Bersama Aisyah dan Ilkay, Asisten Dishi juga sangat senang menikmati liburan sempitnya. Sementara Chen, Jovan dan Feng, mereka menghabiskan waktu bersama Ayden berkeliling menikmati banyak tempat wisata sembari bekerja. 


Setelah sekian lama, akhirnya Ilkay bisa memperkenalkan Ayahnya kepada semua temannya yang selalu mengejeknya tidak memiliki Ayah. 


"Apa? Kata siapa Ilkay tidak memiliki Ayah? Ayah di sini, ayo kita berkenalan dengan teman-temanmu. Hari ini, Ayah dan Mama akan mengantarmu ke sekolah," ucap Asisten Dishi. 


"Tentu saja! Ilkay buktikan ke teman-teman Ilkay, kalau Ilkay punya Ayah," jawab Asisten Dishi.


"Yeay! Ilkay jadi semangat belajarnya. Ayo, kita berangkat!" 


Dengan penuh semangat, Ilkay menggandeng tangan kedua orang tuanya dan berjalan dengan tegak. Menunjukkan bahwa dirinya memiliki kedua orang tua yang menyayangi dirinya. 


Selama di sekolah, Ilkay selalu di bully oleh teman-temannya karena jarang sekali Ilkay mau berinteraksi dengan mereka. Ilkay lebih suka menyendiri dan diam. Jika di bully, Ilkay tak pernah melawan karena dukungan sangat Ibu yang selalu bilang, "Allah selalu ada untuk orang-orang yang sabar."


"Bagus! Ilkay memang nggak boleh balas dengan bully-an juga. Harus selalu sabar, dan ikhlas dengan apa yang mereka katakan. Selagi mereka tidak main pukul, Ilkay jangan melawan," tutur Asisten Dishi. 


"Kalau mereka mukul Ilkay, apa Ilkay boleh melawan? Ilkay pernah di pukul, tapi pas Ilkay mau pukul balik, Ilkay teringat ucapan Paman Adam," celetuk Ilkay.


"Paman Agam selalu bilang, anak lelaki nggak boleh mukul anak perempuan. Meski perempuan itu mukul duluan, Ilkay tidak boleh membalas dengan pukulan, karena itu sama saja Ilkay menyakiti Mama Ilkay sendiri!" sweu Ilkay menjelaskan dengan jelas dan fasih menggunakan bahasa Inggris. 


"Ilkay juga akan balas temen Ilkay yang bully Kay nanti. Biar tau rasa! Ilkay juga bisa kalau mengejek mereka." tukasnya. 


Sekolah yang dipilih Aisyah memang sekolah internasional. Berharap, agar banyak siswa maupun siswi yang bukan hanya orang pribumi saja. Supaya Ilkay tidak merasa sendiri, meski mahal, Aisyah tetap tidak memikirkan hal itu demi masa depan putranya. 


"Benar, Ilkay juga tidak boleh pendendam. Tau nggak, Ilkay tidak sadar sudah jadi pendendam loh tadi," ujar Asisten Dishi menoel hidung Ilkay. 


"Astaghfirullah hal'adim, benarkah? Iyakah Ma?" tanya Ilkay kepada Aisyah. 


"Loh, kok nanya Mama? Kan Ayah yang bilang, seharusnya Ilkay minta pejelasan kepada Ayah, dong!" sahut Aisyah. 


"Kapan Ilkay tak sengaja jadi pendendam, Ayah?" tanya Ilkay. 


"Ilkay selalu di bully, tapi Ilkay pengen balas suatu hari nanti dengan ucapan juga, 'kan? Itu sama saja dendam, Nak. Nggak boleh, ya?" tutur Asisten Dishi. 


"Balas dendam terbaik itu, ya menjadikan diri kamu sendiri jauh lebih baik. Buktikan kepada temen Ilkay yang nakal, kalau Ilkay ini anak yang baik dan cerdas, bisa?" lanjut Asisten Dishi sembari mengusap kepala Ilkay. 


"Jika Ilkay mampu mendapat nilai bagus dan peringkat pertama, apakah Kay bisa dapat adik kecil dari Mama dan Ayah? Kay ingin adik perempuan yang bisa Kay lindungi juga," celetuk Ilkay dengan mengusap perut Aisyah. 


Aisyah dan Asisten Dishi terdiam. Tak lama lagi, Ilkay akan lulus dari sekolahnya yang saat itu ia tempuh. Orang tuanya saat ini belum bisa memenuhi keinginan Ilkay. Membuat keduanya hanya bisa tersenyum dengan keterpaksaan. 


"Tapi Ayah, kenapa Ayah dan Mama tidak sekarang saja bikin adeknya?" desak Ilkay. 


"Eh, ya nggak harus sekrang, dong! Mama masih harus belajar, Ayah harus bekerja jauh di sana. Jika nanti Ilkay mau punya adik, siapa yang akan bantu urus adik Ilkay? Apa Ilkay mau, membuat Mama bertambah pekerjaannya? Kan kasihan, Mama nanti kecapekan," tutur Asisten Dishi dengan menahan pipinya yang mulai memerah karena malu. 


"Oh, benar juga! Ya sudah, kapan-kapan saja punya adeknya. Kay masih sabar, kok!" seru Ilkay kembali duduk dengan baik dan tenang. 


Aisyah tersentuh oleh kebijaksanaan pria yang dicintainya itu. Mampu menjelaskan dengan tenang, baik dan juga benar kepada Ilkay yang masih kecil. Aisyah merasakan banyak perubahan dari Asisten Dishi usai menjadi seroang mualaf.