Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Berkatan



Malam pertama di dalam kamar yang sama. Gwen merasa dirinya masih belum terbiasa mengenakan gamis. Ia pun berencana mengganti pakaiannya mengenakan babydoll yang panjang agar tetap menutup auratnya. 


"Malam-malam gini keramas, untung saja aku bawa hairdryer dari rumah. Huft!" gerutu Gwen duduk di depan cermin. 


"Sudah jam 10 juga, Mas Agam kenapa belum kembali, sih? Katanya mau sebentar ketemu Ustadz Khalid-nya," keluhnya. 


Rambut sudah kering, Gwen sengaja mengurai rambutnya yang berwarna pirang begitu saja. Jika dilihat, kornea mata Gwen memang sedikit berwarna biru, tapi tidak seterang milik Chen. 


"Aku telpon Kak Aisyah saja, deh. Siapa tau dia belum tidur," gumamnya. 


Belum memencet tombol panggil, suara Agam salam sudah terdengar dengan jelas. Seperti mendapat hadiah yang besar, Gwen semangat membuka pintu sembari membalas dalam suaminya.


"Assallamu'alaikum," salam Agam mengetuk pintu yang telah terkunci. 


"Wa'alaikumsallam, tunggu dulu, ya …." 


Gwen sendiri lupa memakai jilbab, namun aman karena dirinya memakai baby doll meski panjang. Tapi bagi, Agam, itu adalah hal baru. Dirinya masih belum terbiasa melihat Gwen tanpa jilbab. 


"Lama banget pulangnya, aku sudah nunggu kek kanebo kering tau. Mana sendirian juga di rumah, aku tidak terbiasa sendirian, Mas_" rengek Gwen seperti anak kecil sembari merangkulkan tangan di leher suaminya dari depan, persis kala dirinya bersama dengan Aisyah ketika pulang dari puskesmas. 


"MasyaAllah, Dek. Jangan seperti ini, Mas nggak bisa napas. Lagian masih ada beberapa orang di luar," ucap Agam berusaha melepas rangkulan tangan istrinya. 


"Kami nggak lihat apa-apa, kok, Ustadz. Kami pamit dulu, assalamu'alaikum!" beberapa orang yang sebelumnya hendak mampir sebentar menjadi canggung dan memilih pulang. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


Agam menepuk keningnya sendiri. Kemudian mengetuk kening istrinya. Mengajak sangat istri untuk duduk bersama dan memperlihatkan apa yang ia bawa pulang dari acara. 


"Apa tu?" tanya Gwen manja. 


"Sebelumnya Mas nggak pernah mau bawa makanan dari acara. Tapi, karena di rumah Mas sudah tidak sendirian, maka Mas bawa pulang," jawab Agam


"Tapi aku udah gosok gigi … tapi ini bolunya, pastel dan juga risolesnya menggoda… gimana dungs?" dengar suara Gwen manja malah membuat Agam semakin tertarik dengan istrinya. 


"Mas ada ide," 


"Apa tuh?"


"Kamu makan saja, nanti bisa gosok gigi lagi. Mas akan temani kamu makan, bagaimana?" usil Agam seperti layaknya bicara dengan anaknya kecil. 


Gwen tepuk tangan, membuat Agak terkejut dibuatnya. "Ide cemerlang! Gas makan!" ucap Gwen semangat.


Sesekali, Gwen juga menyiapkan Agam dengan tangan putihnya. Agam merasa bahagia memperistri Gwen, karena dapat menghidupkan senyumnya kembali, setelah Ibunya mulai sakit-sakitan dulu. 


"Alasan saya memilih kos dan jauh dari pesantren, untuk menghindari kenangan dan kesepian. Tapi, saat kamu hadir, kamu membuat hidup Mas jauh lebih baik, Dek. Bahkan, Mas sampai buru-buru pulang, hanya ingin melihat kamu dan mendengar celotehan kamu yang ramai ini," gumam Agam dalam hati.


"Terima kasih," ucap Agam. 


"Eh, iya nggak papa. Santai saja, kalau kurang pastelnya, besok kita otw beli ke pasar!" seru Gwen masih sibuk dengan makanannya. 


"Bukan pastelnya," kata Agam masih dengan nada lembut. 


"Terus?" tanya Gwen. 


"Santai saja. Aku juga hidup sederhanakan, kok, Mas. Kak Aisyah dan orang tuaku tidak pernah memanjakan aku. Tapi, mereka selalu menyayangiku. Bahkan, waktu sekolah saja … Mami nggak pernah tuh, kasih uang jajan lebih buat naik angkot. Jalan kaki terus pulang pergi, serius!" ungkap Gwen dengan mulut penuhnya. 


Gwen juga banyak cerita masa kecilnya saat di Australia. Begitu sunyi waktu masa kecil karena ia hanya bermain dengan ayah angkatnya, Willy dan juga pamannya, Chris. Setelah itu, setiap kali dirinya bermain di rumah singgah, Maminya, Rebecca akan marah dengannya tanpa alasan yang jelas. 


"Tapi, setelah menikah dengan Mas Agam, meski baru dua malam, rasanya udah seneng banget. Terima kasih telah menerimaku yang nakal ini," ucap Gwen manis.


"Kita sama-sama beruntung. Ayo dimakan lagi, setelah ini kita harus tidur. Besuk sebelum subuh, Mas akan bangun lebih awal, soalnya masih ada beberapa pekerjaan yang harus Mas selesaikan. Kamu mau ikut atau tetap di rumah?" tanya Agam. 


Gwen pun memberi jawaban jika dirinya akan tetap tinggal di rumah karena takut akan mengganggu pekerjaan suaminya. Ia juga mengatakan bahwa kakak-kakaknya akan datang, jadi ia akan tetap di rumah.


"Kakak yang mana? Kalau begitu, Mas akan tunda saja pekerjaan Mas. 'Kan nggak enak juga kalau ipar datang Mas nggak ada di rumah," ucap Agam.


"Kelima kakakku, sama Ilkay. Kecuali Kak Chen, dia sudah kembali ke nagaranya. Mas Agam nggak boleh menunda-nunda pekerjaan, jika memang tidak bisa ditinggalkan, ya sudah nggap papa, kok," jelas Gwen. 


"Aku ke dapur dulu mau nyimpan makanan ini. Anterin aku gosok gigi, dungs! Aku takut sendirian soalnya," lanjut Gwen dengan manja. 


Agam masih diam karena ia bingung, ada pekerjaan dan di sisi lain saudara istrinya akan datang. Dirinya pun meraih ponselnya, menghubungi Ustadz Khalid untuk membantunya mengurus pekerjaannya itu. 


"Alhamdulillah, Mas Khalid mau membantu. Jadi, besok bisa menemui semua saudara dari istriku ini," gumam Agam dalam hati. 


"Mas Agam, bisa bantuin aku, nggak? Tolong dong!" teriak Gwen dari dalam dapur. 


"Iya, tunggu!" jawab Agam segera datang. 


Gwen kesulitan memutar kran air di dapur. Segera Agam membantunya dan mereka cuci perkakas yang sebelumnya mereka gunakan sore tadi. Setelah asik cuci piring di dapur, Gwen meminta Agam menemaninya gosok gigi. Sebab, kamar mandi di rumah Agam modelnya masih di luar rumah. 


Seorang anak ratu Mafia hanya bisa manja kepada suaminya. Padahal di tangannya dulu, ia sudah mampu membunuh orang dalam kehidupan gelapnya. 


Bluk! 


Suara pintu di buka dengan kasar. Gwen hanya memastikan jika suaminya tidak masuk dulu ke rumah meninggalkan dirinya di kamar mandi. 


"Astaghfirullah hal'adzim. Kamu buat Mas kaget, Dek!" seru Agam mengusap dadanya. 


"Ya maaf, takutnya Mas ninggalin aku. Aku kan takut, kalau ada hantu gimana? Kan nggak lucu, aku yang manis ini di gondol hantu," celetuk Gwen. 


Agam tertawa. "Di gondol? Mana ada hantu yang mau gondol kamu, Dek. Sudah ayo masuk!" ajak Agam. 


"Tunggu!" seru Gwen menahan tangan Agam. 


"Ada apa lagi? Ada yang tertinggal di dalam?" tanya Agam. 


Cup! 


Kecupan gratis lagi dari Gwen di pipi Agam. Membuat Agam kembali membulatkan matanya karena terkejut. 


"Terima kasih udah nemenin ke kamar mandi. Ayo, kita bubuk!" ajak Gwen seperti tanpa melakukan sesuatu. 


Dua kali, kecupan itu diterima oleh Agam. Masih membuatnya terkejut dan canggung setelah kecupan itu. Setelah itu, apakah Agam bisa anuu dengan Gwen? Apa mungkin mereka masih menundanya anuu?