Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Penculikan Berulang



"Ada apa?" tanya Asisten Dishi sudah kembali. 


"Kak Leo telepon sampai 4x , tapi setelah di telepon balik nggak diangkat. Malah sekarang nomornya nggak aktif," jelas Aisyah. "Ada apa, ya? Kok, perasaanku nggak enak gini?" lanjutnya.


Saat Asisten Dishi hendak mengatakan sesuatu, ponselnya berdering. "Sebentar, Mail," ucap Asisten Dishi mengangkat teleponnya. 


"Katakan!"


"Apa? Baiklah, kalian tetap awasi mereka. Ada hal yang mencurigakan, langsung kabari saya," Asisten Dishi menutup teleponnya. 


"Gawat Mail,"


"Ada apa? Apa orang kepercayaan kamu kembali mengirim informasi baru tentang Ibunya Ilkay atau Kak Raza?" tanya Aisyah mulai panik. 


"Leo, tertangkap oleh mereka. Orang ku mengatakan, mereka melihat kaki Leo berdarah. Apa sebenarnya rencana Raza ini?" jelas Asisten Dishi dengan tenang.


"Apapun itu, kita harus selamatkan Kak Leo!" seru Aisyah. 


"Biar aku saja. Kamu pergi ke rumah Tuan Lee, jaga Ilkay di sana dan selalu doakan aku," Asisten Dishi masih memikirkan keselamatan Aisyah. Bagaimanapun juga, Asisten Dishi juga tak ingin membuat Aisyah terlibat dalam hal yang tak seharusnya ia ikut terlibat di dalamnya. 


Namun, Aisyah tetap kekeh ingin ikut menyelamatkan Leo. Aisyah mengatakan jika Leo juga bukan termasuk dalam dunia hitam itu. Sebab, Aisyah tahu jika penangkapan Leo, pasti ada hubungannya dengan dirinya. 


"Baiklah, kita berangkat. Misi kita kali ini agak berat, jadi kamu jangan jauh-jauh dariku ya, Mail," dalam keadaan genting, Asisten Dishi bisa-bisanya tetap menggoda Aisyah dengan menaik turunkan alisnya.


Sebelum menemui Raza dan menanyakan tentang Leo mereka pergi ke apartemen Asisten Dishi lebih dulu. Ada beberapa hal yang akan mereka siapkan untuk melindungi diri. "Baiklah, semuanya sudah siap. Meski kita tidak membunuh orang, tapi belati ini sangat bermanfaat bagi kita untuk melindungi diri," ujar Asisten Dishi. 


"Beberapa racun yang Tuan Hao berikan sebelum pergi juga sangat bermanfaat. Ayo, kita berangkat ke rumah Raza."


Asisten Dishi begitu bersemangat membantu kekasihnya untuk menemukan Leo. Namun, di tengah perjalanan, Aisyah mendapat kabar jika Ilkay telah di culik dan di bawa ke Tiongkok bersama dengan Leo. 


"Apa? Bagaimana bisa Ilkay di culik?" Aisyah menerima telepon dari Ayden.


"Ilkay di culik? Ai, bagaimana bisa Ilkay di culik?" tanya Asisten Dishi mulai panik. 


Seketika tubuh Aisyah menjadi lemas. Kasih sayang yang diberikan kepada Ilkay begitu besar sehingga membuat nya terpukul mendengar putranya di culik. 


"Ai, katakan siapa yang menculik Ilkay?" Asisten Dishi terus mendesak Aisyah agar mau mengatakan siapa yang telah menculik putra mereka. 


Aisyah menangis keras, sembari mengatakan bahwa Raza lah yang telah menculik Ilkay dan membawanya ke Tiongkok bersama Leo sekalian. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Ilkay. Kenapa dengan Raza ini? Sekarang juga, kita harus kembali ke Tiongkok, Ai. Aku akan memesan tiket sekarang juga," ucap Asisten Dishi panik. 


Cobaan ketiga saudara kembar ini begitu berat. Chen di tinggal wanita terkasihnya menikah, lalu Aisyah tersakiti karena putranya di culik oleh orang yang dekat dengannya. 


"Kita tidak dapat tiket penerbangan ke Tiongkok, Ai. Jika harus cepat, mau tidak mau kita harus melewati jalur hitam," ungkap Asisten Dishi menyesal. 


"Ya Allah, kenapa lagi ini. Dishi, aku mau putraku kembali, aku tidak mau yang lainnya lagi. Aku hanya ingin putraku, hua...." Aisyah terus menangis. 


Masalah sebesar itu, Asisten Dishi juga tak tinggal diam. Ia menghubungi Chen agar segera membuat rencana untuk membebaskan Ilkay dan Leo dari tangan Raza, yang menjadi kaki tangan Jackson Lim dan juga Cindy. 


"Apakah dengan melewati jalur hitam kita tidak akan tertangkap? Bagaimana jika kita tertangkap oleh polisi patroli negara ini, Dishi?" Aisyah masih mengkhawatirkan keadaan dirinya dan juga Asisten Dishi. 


"Aku harus menelpon, Tuan. Setelah itu, kita pikirkan bagaimana supaya kita bisa segara terbang ke sana, oke? Kamu tenang, istighfar dan terus berdoa agar Ilkay dan kakakmu Leo baik-baik saja," tutur Asisten Dishi dengan suaranya yang lembut. 




Di Jogja, saat Chen dan Jovan hendak pulang, Puspa datang ke rumah untuk bertemu dengan Chen. Awalnya Gwen tidak mengizinkan Puspa menemui kakaknya, tapi Puspa mengatakan jika ada hal penting yang ingin dikatakan dengan kakaknya. 



"Puspa, aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua. Tapi, untuk saat ini biarkan kakakku memiliki waktu sendiri, bisakah?" ujar Gwen. Dirinya juga tidak mempermasalahkan jika Puspa tidak jadi menikah dengan kakaknya atau tidak di undang dalam pernikahan sahabatnya itu. 



"Tapi Gwen, ini penting sekali. Aku harus katakan ini kepada kakakmu," Puspa terus mendesak agar dirinya bisa menemui Chen dalam keadaan apapun. 



Chen yang mendengar keributan itu pun keluar. Jantungnya masih saja berdebar di kala melihat wanita yang telah meninggalkannya itu. "Jantung ini, bahkan sulit untuk di stabilkan saat bertemu dengannya yang jelas-jelas telah menjadi milik orang lain. Mengapa dia datang kesini?" gumam Chen dalam hati. 



Melihat Chen keluar membawa koper ditangannya, membuat hati Puspa semakin sakit. Namun, keduanya tetap bertahan menghormati keputusan masing-masing. Dengan suaranya yang lirih, Puspa meminta waktu untuk mengobrol sebentar dengan Chen.



"Ya Akhi, bisakah kita bicara sebentar saja?" tanya Puspa dengan menundukkan pandangannya. 



Suasana menjadi canggung. Adegan yang begitu familiar, dimana beberapa bulan lalu di saat pertemuan mereka, Puspa juga bersikap sama seperti saat itu. 



"Katakan apa yang ingin kamu katakan di sini saja, bisakah?" kata Chen dengan sikap dingin. 



"Baiklah, Tuan Chen, saya hanya--"



Belum juga Puspa mengatakan apa yang hendak ia katakan, Gwen mendapat telepon dari Willy di Australia. Mengatakan bahwa adiknya telah di culik oleh seseorang yang di urus oleh Cindy. 



"Apa Ayah bilang? Rifky di culik dan kedua orang tuaku hilang?" teriak Gwen. 



"Utus Paman Chris menjemput ke sini. Aku akan bersiap untuk menemukan adikku kembali," perintah Gwen kepada Willy, Ayah angkatnya. 



Di saat yang bersamaan, Chen juga mendapat telepon dari Asistennya. Menerima kabar jika Ilkay telah di culik oleh  Raza yang merupakan anak angkat dari Jackson Lim. 



"Apa? Ilkay di bawa pergi oleh Raza? Apa hubungannya Raza dengan Jackson Lim? Asisten Dishi, jika kau bicara yang tidak-tidak, aku tidak akan segan lagi untuk mengakhiri hidupmu!" cetus Chen. 



"Apa-apaan ini? Ilkay dan adik kalian di culik? Oleh Jackson Lim?" sahut Jovan. 



"Kurang ajar!" teriak Chen sembari memukul tembok. "Shh, sakit ini--" kembali Chen merasakan sakit yang tak terkira. 



Penyakitnya akan kambuh jika Chen kembali mendapat pukulan dari kabar buruk. Ia hampir pingsan lagi, beruntung dengan sigap Jovan dan Agam langsung menangkap tubuh lemahnya. 



"Kita harus kemana dulu? Aku harus menyelamatkan yang mana dulu? Hah! Kenapa Tuhan tidak pernah adil begini padaku!" teriak Chen menahan sakit di dadanya. 



"Chen, kamu harus tenang dulu. Kita pikirkan cara yang baik untuk menyelamatkan putramu, adikmu dan mencari orang tuamu. Kau harus tenang," tutur Jovan menuntun Chen ke sofa. 




"Puspa, sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu. Hm, jika semuanya sudah membaik, kamu bisa datang lagi untuk bicara dengan Chen," punya Agam mendekati Puspa. 



"Iya, Ustadz. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum," tatapan mata Puspa terus tertuju kepada pria berusia 23 tahun yang pernah dan akan selalu ada di dalam hatinya itu. 



Melihat kondisi Chen yang seperti itu membuat hati Puspa ikut teriris. Perlahan, langkah Puspa menjauh dan pulang dengan membawa penyesalan. "Maafkan aku, Chen." ucapnya dalam hati. 



\*\*\*\*\*



"Kondisimu belum sehat betul, Chen. Kau tunggu saja di sini, biarkan aku dan orang kita yang mengambil kembali Ilkay dan adikmu," Jovan begitu sangat mengkhawatirkan keadaan sepupunya. 



"Tidak! Orang tuaku juga menghilang, bagaimana bisa aku tenang duduk manis di sini. Aku akan ke Australia lebih dulu, setelah menyelesaikan ini, aku akan kembali ke Tiongkok," Chen masih saja keras kepala. 



"Aku ikut! Aku juga ingin mencari Ayah dan Mami, adikku dan keponakanku, tolong bawa aku bersama kalian," timpal Gwen dengan suara yang mulai gemetar. 



Chen menjawab dengan tegas, " Kau bisa pergi atau tidak, itu hanya bisa melalui izin dari suamimu, Gwen,"



"Keluarga kandungmu sekarang, bukan lagu tanggung jawabmu. Saat ini, kau sudah menikah, dan surgamu ada pada suamimu," lanjut Chen dengan suara tertahan menahan sakit. 



Bahkan Chen mengetahui semua hal itu. Ia mempelajari agama yang percaya oleh keluarganya dan Puspa. Supaya kelak bisa menjadi pasangan yang pantas untuk Puspa. Namun, takdir malah berkata lain. 



"Mas Agam," lirih Gwen. 



"Mas bukannya egois, Dek. Mas tidak bisa membiarkan dirimu sendiri kembali ke dunia hitam itu. Mas tidak akan pernah ridha jika kamu sampai nekat pergi, maafkan keegoisan Mas ini," jawab Agam juga dalam kebingungan.



"Mas!" 



"Kenapa begini, orang tuaku, adikku dalam bahaya kenapa kamu begini...," 



"Maafkan Mas, Dek. Tuan Chen biarlah Anda tetap di sini, demi kesehatan juga. Untuk Tuan Jovan, sebaiknya Anda memerintahkan semua orang kepercayaan Anda untuk menyelidiki kebenarannya dulu. Kita tidak boleh gegabah,"  tegas Agam. 



Apa yang dikatakan Agam, memang ada benarnya. Meski istrinya marah dengannya, Agam tetap tidak mengubah keputusan memberikan izin kepada Gwen untuk pergi ke luar negeri. 



"Aku benci sama Mas Agam!" sentak Gwen, berlari ke kamarnya. 



Blam! 



Pintu dibanting keras oleh Gwen. 



"Chen, apa yang dia katakan oleh iparmu ada benarnya juga. Kau harus fokus dengan kesehatanmu ini. Aku akan meminta orang kita untuk membantu Asistenmu mencari putra dan adikmu," lanjut Jovan. 



Namun apa daya, Chen tetap menolak usulan dari sepupu dan iparnya. Ia tetap akan pergi ke Australia untuk menemukan adik dan kedua orang tuanya. 



Kembali Chen mendapat telepon dari Willy. Ayah angkat adiknya itu mengatakan bahwa saat itu Rifky, yang diculik oleh Jackson Lim Cindy sudah dibawa ke Tiongkok dan di satukan dengan Ilkay. 



Penjahat saat itu ada tiga orang. Jackson Lim ingin membunuh Rebecca, Cindy ingin melenyapkan semua keturunan Rebecca dan Yusuf, sementara Raza menjadi jalan cepat untuk membawa Ilkay kepada Ibu kandungnya. 



"Sial, mereka membawa adikku ke Tiongkok bersama dengan putraku. Jovan, tolong kamu telepon Ayahku, untuk mencari solusi tentang semua ini," 



"Perintah sayap kanan mencari kedua orang tuaku saat ini juga!" tegas Chen dengan mengepalkan tangannya. 



Akan tetapi, Chen tidak mau diam saja di rumah. Ia kembali ke Tiongkok dengan harap bisa membalas apa yang Jackson Lim dan juga Cindy lakukan pada keluarganya. 



\*



Di Korea, Raza memberi keringanan kepada Aisyah untuk bisa datang sendiri ke markas Jackson Lim yang ada di Tiongkok untuk menjemput Ilkay. Raza juga memberikan langkah agara Aisyah bisa datang kepadanya. 



"Apa? Kenapa kamu menculik anakku, Kak? Apa salah anakku?" bentak Aisyah melalui teleponnya. 



"Aku tidak peduli apa yang kamu katakan, Ai. Aku hanya ingin kamu datang sendiri tanpa membawa Asisten rendahan itu ke mari, atau anakmu ini akan~" ucapan Raza terpotong. Membuat Aisyah semakin gelisah. 



"Iya, aku akan datang sendiri!  Tolong jangan sakiti putraku, Kumohon, Kak Raza...." mohon Aisyah. 



Aisyah dan Asisten Dishi memikirkan rencana lain. Tak mungkin Asisten Dishi membiarkan Aisyah datang sendirian. Ia meminta Aisyah untuk ikut dengan orang yang akan menjemputnya, dirinya akan menyusul dan mengutus orangnya mengikuti Aisyah dari jauh. 



Apakah mereka berhasil menyelamatkan Ilkay dan Rifky? Lalu, di mana bilangnya kedua orang tua si kembar tiga?