Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Tiada Sarat Untuk Sebuah Kasih Sayang



Agam selesai dari kamar mandi. Saat ia keluar, ia dikejutkan oleh paha ayam yang dipegang oleh Gwen. 


"Wajahmu ragu, Mas. Kenapa?" tanya Gwen. 


Seperti biasa, Agam menundukkan pandangannya dan berusaha mencari cara agar tidak berlama-lama berdua dengan Gwen. 


"Tidak," jawab Agam. 


"Ck, Mas Agam mah gitu. Nggak pernah lihat aku kalau lagi bicara. Sejelek itu kah aku?" ucap Gwen sambil mengunyah paha ayamnya. 


"Bukan seperti itu, tapi memang adabnya begitu, Dek. Bisakah kamu makannya sambil duduk?" tutur Agam dengan suara yang meneduhkan. "Dek, kenapa kamu juga tidak bilang kalau kamu cucunya keluarga pesantren, dan Ayah kamu pemilik restoran itu?" lanjutnya. 


"Ohh ... suaranya, mantep weh kek air es jeruk!" seru Gwen. 


Gwen membela diri jika dirinya memang membicarakan kebenarannya. Sang Ayah tukang masak (pemilik restoran sekaligus koki), sang Ibu pedagang (ekspor-impor terbesar di dunia gelapnya). 


"Tapi kamu bilang, kakakmu seorang yang suka merawat orang. Saya pikir dia baby sitter, Dek ...," Agam masih senam jantung. 


"Mas ... dengarkan calon istrimu ini. Dugaan Mas Agam itu tidak salah, hanya kurang tepat saja, kok. Hayuk kita kembali ke keluarga di ruang tamu." ucap Gwen dengan senyuman manisnya. 


Sudah tak bisa mundur lagi, Agam hanya bisa berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi Gwen di masa depan nanti. Ia juga masih belum menyangka jika dirinya bisa menjadi bagian dari pesantren di mana dirinya juga pernah menuntut ilmu di sana waktu kecil dulu. 


Pernikahan sudah ditentukan akan berlangsung dalam waktu 2 minggu lagi. Keluarga besar Gwen juga akan memulai persiapan. Yusuf sendiri tidak meminta pernikahan mewah dari Agam. Ia hanya ingin dua keluarga berkumpul dan mengadakan syukuran di pesantren saja. 


"Lalu Chen dan Aisyah, kalian minta mahar apa? Kalian berdua akan dilangkahi Gwen nantinya. Kalian bisa tentukan malam ini juga," Raihan juga ikut andil dalam acara tersebut. 


Chen menatap Aisyah, kemudian Aisyah hanya mengedipkan matanya dengan anggukan pelan. "Paman, kami tidak meminta mahar apapun. Cukup Ustadz Agam menjamin masa depan adik kami ... kami berdua sudah anggap itu adalah mahar termahal kami. Bukan begitu, Kak Chen?" jawab Aisyah.


"Benar, kami harap ... Gwen bahagia dengan pernikahan ini. Semua persiapan pernikahan, kalian tidak usah cemas. Aku, Aisyah dan Asisten Dishi yang akan menghandle semuanya. Kalian cukup terima hasil saja dari kami," sahut Chen. 


"Serius kalian tidak minta mahar?" tanya Airy.


"Tidak Bibi, kami bukan beban keluarga seperti dia. Mahar apa yang akan kami minta, kami malah tidak tega Ustadz Agam akan memiliki beban ini!" seru Aisyah mengetuk kening adik bungsunya itu. 


Semua orang tertawa saat itu. Memang Aisyah ini sangat tegas dan paling dihormati oleh Gwen. Jadi, apapun yang terjadi kepada Gwen, memang Aisyah yang turun tangan. 


Di tengah malam, Aisyah duduk termenung di depan rumah dengan menikmati udara malam. Chen yang malam itu juga masih terjaga, mendekati dan menanyai adiknya yang paling bijaksana itu. 


"Hai," sapa Chen membawakan secangkir coklat panas untuk Aisyah. 


Chen menghela napas panjang. Mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja. Meski dirinya sedang berada di tengah suasana kebahagiaan keluarga, Chen sama sekali tidak meninggalkan pekerjaan yang ia tinggalkan di Tiongkok sana. 


"Kau membawa pulang pekerjaanmu?" tanya Aisyah. 


"Em," angguk Chen. 


"Wah, Tuan Muda Wang, kau sangat tampan mengenakan kaca mata itu. Bagaimana jika kau saja yang menjadi suamiku? Sepertinya aku mulai terpesona oleh wajah tampanmu ini, Tuan." goda Aisyah menarik kaca mata bundar milik saudara kembarnya itu. 


Mereka tertawa bersama dengan saling melontarkan candaan demi candaan. Bahkan, mereka juga bercerita tentang masa kecil masing-masing. Chen dan Aisyah terlihat akrab, sehingga membuat Yusuf enggan untuk menganggu kedua putra putrinya itu. Ia hanya berdiri di belakang jendela sembari mengucap syukur karena anak lelakinya telah kembali setelah 22 tahun menghilang. 


"Gwen akan menikah, apa kau tidak ingin menikah juga, Aisyah?" tanya Chen di sela-sela suasana malam itu. 


"Pernikahan itu adalah impian semua orang, Kak. Apalagi, menikah dalam agamaku juga bisa dikatakan ibadah. Siapa yang tak ingin memiliki keluarga sendiri?" jawab Aisyah. 


"Iyakah? Bisa ceritakan mengapa menikah itu adalah suatu ibadah?" tanya Chen lagi. 


"Pernikahan merupakan ibadah yang bertujuan untuk menjaga kehormatan diri dan terhindar dari hal-hal yang dilarang agama. Menikah juga dapat membuat kita lebih mudah untuk menundukkan pandangan sehingga lebih mudah terhindar dari zina, Kak." jelas Aisyah. 


Aisyah juga bukan hanya menjelaskan tentang menikah itu merupakan ibadah. Namun, Aisyah juga menjelaskan tentang zina kepada Chen. Sehingga membuat Chen mengingat sesuatu tentang hal yang pernah ia lakukan ketika di Amerika beberapa tahun yang lalu. Lebih tepatnya 5 tahun lalu, ketika dirinya mengalami kecelakaan yang sempat merenggut ingatannya.


"Sudahlah, kita bahas tentang Ibu dan Ayah. Bisakah kau menceritakan tentang pertemuan mereka lebih detail? Aku ingin mendengar kisah mereka, Aisyah." Chen sangat penasaran mengapa orang yang sangat teguh dalam menjunjung keyakinannya, mampu menikahi seorang Mafia kecil yang sudah membunuh banyak nyawa di usianya yang masih kecil kala itu. 


Mendengar kisah orang tuanya, membuat Chen semakin tertarik dengan keyakinan yang dianut oleh keluarganya. Ia juga ingin sekali mengenal lebih dekat keluarga pesantren yang lainnya. Chen sangat menghargai waktu, sambil mendengarkan kisah cinta orang tuanya dari mulut saudarinya, ia juga sambil mengerjakan desainnya bertujuan membuatkan sebuah perhiasan untuk kado pernikahan Gwen nanti. 


"Dari kisah Ibu dan Ayah, ini hasilku dalam berkarya. Bagaimana menurutmu, Ai?" tanya Chen menunjukkan hasil karyanya. 


"Cantik sekali, Kak. Tapi ... Ai?" 


"Ai adalah nama kesayanganmu dariku. Sulit sekali menyebut namamu, jadi malam ini ... aku akan memanggilmu dengan panggilan kesayangan itu. Apa kau keberatan?" 


Aisyah tersenyum, memperlihatkan kedua lesungnya seraya menggelengkan kepala. Tanda jika dirinya tidak keberatan jika dipanggil dengan sebutan 'Ai' oleh kakaknya. Aisyah juga bertanya untuk siapa perhiasan itu. Dengan lembut, Chen mengungkapkan jika perhiasan itu untuk adiknya yang baru saja naik pangkat menjadi Kakak Gwen. 


"Lalu, untukku?" tanya Aisyah. 


"Aku memiliki hadiah lain untukmu. Perhiasan juga ... tidak akan terlihat dalam tubuhmu, tubuhmu ini dibalut dengan kain yang lumayan longgar. Jadi, bisakah kau bersabar menunggu karyaku yang lain?"


Aisyah tertawa, ia hanya becanda dan saudaranya menganggapnya serius. Melihat Chen sedikit panik membuat Aisyah tak kuasa ingin menggodanya. Baginya, kepulangan Chen adalah kado terindah dalam hidupnya. Melihat kedua orang tuanya bahagia juga adalah bahagianya. Aisyah tak ingin apapun lagi selain kebersamaan dan keselamatan untuk keluarganya.