Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kisah Malam Gwen dan Pak Raza.



Semalaman, Pak Raza sampai tak nyenyak dalam tidurnya. Ia terus kepikiran dengan ucapan Gwen yang hendak mencari kakaknya dan menemukan keduanya. 


"Apa ini, aku seharusnya tidak perlu tau silsilah keluarga orang lain. Tapi--" gumamnya dalam hati. Pak Raza hanya ingin fokus dengan pekerjaannya saja. 


"Sudahlah, sini aku ceritakan!" seru Gwen terbangun. Seolah dia tahu, jika pembimbingnya saat ini tengah gelisah dengan masalahnya. 


Gwen menceritakan dari awal kelahiran sampai perpisahan itu terjadi. Kemudian, menceritakan bagaimana perjuangan dirinya menemui Ayah dan saudarinya ke Jogja. Belum lagi, pertama dan terakhir kalinya ia bertemu dengan Chen, saudara kembarnya di Kota yang sama. 


"Jadi selama 13 tahun, kalian belum bertemu lagi?" tanya Pak Raza semakin penasaran. 


Gwen menggeleng.


"Aku dengar, Kakakku ada di Kota ini juga. Makanya, aku bersikeras untuk ke mari, supaya kami bisa bertemu dan keluarga kami berkumpul lagi," ucap Gwen. 


Gwen menceritakan tentang kehidupan Mafia kepada Pak Raza. Tentu saja Pak Raza tidak percaya adanya gangster tersebut. Ia menganggap jika gangster itu hanya ada di novel, komik atau hanya film saja. 


"Masa? Aku kira Mafia itu hanya sebuah cerita di film saja," ujar Pak Raza. 


"Hih, itu beneran ada. Tapi, yg paling banyak adanya di negri sakura. Kapan-kapan, aku ajak Pak Raza kenalan sama mafia-mafia itu deh!" seru Gwen. 


"Eh, nggak ah! Ngapain aku kenalan sama mereka?"


Gwen duduk di tepi ranjangnya, ia menegaskan bahwa tidak semua gangster itu jahat. Akan tetapi, Pak Raza tetap tidak percaya. Sebab, dalam fakta juga Mafia itu bisnis gelap yang sering beriringan dengan kekerasan. 


Di saat Pak Raza hendak ke kamar mandi, tak sengaja kakinya terbelit selimut dan terjatuh mengenai Gwen. Posisi itu tepat sekali Pak Raza ada di atas dan Gwen berada di bawah. 


Wajah mereka begitu dekat, suara jantung masing-masing juga terdengar sangat jelas. Mata mereka saling menatap dengan nafas yang memburu. 


"Pak, aku baik-baik saja, jadi kami bisa berdiri sekarang," ucap Gwen lirih. 


Kornea mata indah yang dimiliki Gwen mampu menarik perhatian Pak Raza. Warna perpaduan antara kornea ibunya dan ayahnya membuat warnanya terlihat cantik. 


Pak Raza tersadar, ia melihat tangan nakal Gwen yang sedang mengusap lembut lengannya. Segera ia bangkit dan mengucapkan maaf. 


"Maaf, saya--" 


"Stt, itu biasa terjadi, Pak Raza. Yang penting, dedek kecil milik Pak Raza tidak bangun, 'kan?" Gwen beranjak mendekati Pak Raza. "Soalnya, aku merasakan ada yang bergerak bawah tadi," sambungnya. 


Pak Raza langsung berlari ke kamar mandi, lalu melihat ke dalam sangkarnya. Memastikan dedek kecil bertopinya tidak bangun. 


"Kenapa aku se mesum ini? Haruskah aku tidur di kamar mandi?" gumam Pak Raza menutup kembali celananya. 


"Haih, ini memalukan!" umpatnya. 


Gwen penasaran dengan Pak Raza yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia berinisiatif mengetuk pintu dan meminta Pak Raza untuk segera tidur. 


Tok ... tik ... tok. 


Suara ketikan pintu membuat Pak Raza semakin gugup. Dirinya lelaki normal, berdua saja dalam satu kamar dengan seorang wanita. Membuatnya semakin resah dengan kelakuan Gwen yang selalu mengada-ngada. 


"Pak Raza, apa kamu tidur di dalam?" teriak Gwen. 


"T-tidak!"


"S-saya sedang buang air. Ada apa? Kamu mau cebokin saya?" jawab Pak Raza melawan kegugupannya. 


"Wah, mau sekali. Sekalian kan bisa lihat apa yang bergerak tadi." teriak Gwen lagi. 


Malam itu menjadi malam yang memalukan bagi Pak Raza. Setelah selesai, Pak Raza langsung ke ranjangnya dan mencoba untuk tidur. Masih ada hari dimana ia akan selalu bersama dengan gadis yang selalu membuatnya kesal. Ia mulai memejamkan mata dan berdoa supaya semuanya segera berakhir.