
"Semalam dia masih ketawa-ketawa denganku. Mengapa tiba-tiba menjadi sakit seperti ini? Mana dia masih tidur juga," Agam sangat mengkhawatirkannya istrinya.
Tidak ada gejala apapun, tiba-tiba saja istrinya sakit. Membuat Agam gelisah dan bingung mau bagaimana. Dia juga harus bekerja, tapi tidak tega meninggalkan istrinya di rumah sakit.
"Kak Chen … Kak Chen …,"
Gwen terus menyebut nama Chen dalam lelapnya. Matanya masih terpejam, keringat dingin mulai bercucuran kembali. Agam siaga menyediakan tisu dan juga sapu tangan untuk mengelap keringat istrinya.
"Apakah, istriku ini sedang merindukan kakaknya?" batin Agam merasa tidak tenang.
"Atau malah ads sesuatu yang terjadi? Sebaiknya aku telpon saja Tuan Jovan. Beliau kan asisten pribadinya,-"
Agam sudah menelpon Jovan berkali-kali, tetap saja telponnya tersambung, namun tidak ada jawaban. Agan mulai khawatir, ia pun memberanikan diri untuk menelpon Chen dengan nomor yang ada di kontak ponsel istrinya.
"Sama-sama tidak diangkat. Ada apa, ya?" gumam Agam.
"Aku ciba hubungi Aisyah saja bagaimana, ya? Ah, jangan! Dia ada suaminya, aku tidak enak jika menelponnya, pasti di dana juga masih gelap,"
Agam memutar-mutar ponselnya sendiri karena bingung. Sesekali, mengelap keringat sang istri yang terus deras membanjiri keningnya. Tak lama kemudian, ponsel Gwen berdering. Telpon dari kontak Jovan.
"Tuan Jovan, akhirnya anda menjawabku an__"
"Maaf, Tuan. Ini saya pelayan rumah ini. Tuan Jovan saat ini sedang sakit, jadi tidak bisa mengangkat telepon anda. Saya pikir, ada hal penting yang ingin Nona Lim tanyakan, makanya saya menelpon kembali,"
"Pelayan Mo? Um, boleh saya bertanya? Tuan Chen ada di mana, ya? Saya sudah menghubungi beliau, tapi tidak di jawab telepon saya," tanya Agam.
"Tuan Muda sedang tidak enak badan, Tuan. Suhu tubuhnya tinggi, tapi badannya dingin sekali sekarang. Sedang dalam perawatan--"
Mendengar jawaban pelayan Mo, kini Agam tahu mengapa tiba-tiba saja istrinya jatuh sakit. Ternyata, dia merasakan apa yang dirasakan oleh kakaknya.
"MasyaAllah, begitu besar ikatan batin diantara kalian berdua. Meskipun kalian kembar tiga, sejak kalian lahir, Aisyah memang berbeda. Mungkin sejak kecil, ketika kalian masih di luar sana, kalian juga pasti selalu merasakan apapun yang sama," ucap Agam.
"Sayang, aku benar-benar salut dengan kalian bertiga. Kalian itu sangat hebat. Kalian bertiga sama-sama kuat dalam ikatan batin kalian,"
"Jujur, kedua keluarga kita aslinya sudah dekat sejak dulu, Sayang. Tapi, insiden 16 tahun lalu, membuat dua keluarga kita menjadi jauh," ungkap Agam.
Mata Gwen memang terpejam. Tapi telinganya masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. "Apa yang terjadi?" tanya Gwen, dengan suaranya yang lemah.
"Sayang, kamu sudah terbangun? Tunggu sebentar, Mas akan panggilkan dokter dulu," Agam beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak perlu," ucap Gwen. "Aku terlalu pusing, jadi ketika membuka mata malah semakin pusing. Makanya aku tak merem saja lah. Lanjutkan cerita Mas tadi," Gwen memang tidak pernah serius meski dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.
"Cerita yang mana?" tanya Agam, memalingkan wajahnya.
Tangan Gwen meraih lengan suaminya dan mencubitnya dengan keras. "Jangan berlagak amnesia, Mas Agam! Tadi Mas bilang tentang kedekatan keluarga kita. ayo ceritakan! Aku sudah terlanjur kepo!" kesal Gwen.
Dua keluarga antara orang tua Agam dengan Yusuf sudah akrab sejak dulu. Diketahui, orang tua Agam, orang tua Ustadz Khalid sama-sama menjadi santri di daerah Jawa Timur bersama Raihan, paman Gwen.
Kejadian 16 tahun lalu itu, adalah kejadian kecelakaan dimana waktu itu kedua keluarga sedang mengadakan pertemuan. Circel Raihan, adalah circel Yusuf juga.
Waktu itu, ada sebuah pengajian akbar yang juga dihadiri banyak ulama. Dimana Aisyah (7) dan Puspa (6) sedang mengikuti kemana Yusuf pergi. Mereka sudah bersahabat sejak masuk taman kanak-kanak.
Setahun sebelum kejadian 16 tahun yang lalu, Aisyah, Puspa, Agam dan juga Ustadz Khalid pernah bertemu. Mereka sering bertemu di acara tabligh maupun acara resmi keagamaan lainnya. Merasa nyaman, Aisyah dan Puspa selalu mengikuti Agam (10) ustadz Khalid (14).
Mereka menjadi akrab dan selalu bermain bersama. Hingga, mereka dipertemukan kembali dalam seni bela diri. Itu sebabnya, bela diri yang Aisyah miliki, sama dengan bela diri yang Agam kuasai.
Selama satu tahun, mereka berempat selalu bersama. Hingga pernah Aisyah memiliki keinginan untuk menikah dengan Agam. Tapi, malah ketika dewasa, Aisyah menyukai Ustadz Khalid.
Tepat 16 tahun lalu, keempat anak itu pergi ke pantai. Mereka melihat mata hari terbenam. Sembari duduk di batu karam, mereka berempat bercerita tentang masa yang akan datang nantinya.
"Aku kalau sudah besar nanti, pengen jadi dokter. Biar seperti nenekku dulu. Aku ingin pergi ke Korea dan belajar di sana!" celetuk Aisyah, yang saat itu duduk di samping Agam.
"Alah, kenapa jadi dokter, sih? Mending kayak aku dong!" sahut Puspa.
"Memangnya kamu mau jadi apa, Dek?" tanya Ustadz Khalid kecil.
"Aku mau jadi pencuri!" dengan bangganya Puspa mengatakan bahwa dirinya akan menjadi pencuri.
"Astaghfirullah hal'adzim …," Ustadz Khalid, Agam dan Aisyah menyebut.
"Ada apa? Aku hanya ingin mencuri buah mangga bu rt saja. Kenapa buah mangga milik bu rt begitu lezat dibandingkan buah mangga di depan rumahku? Jadi, jika besar nanti, aku ingin sekali menjadi pencuri buah mangga bu rt!"
Semuanya pun menertawakan Puspa. Sejak kecil Puspa memang sudah sangat nakal sekali. Di tambah, setelah dia menginjak usia 8 tahun, bertemu dengan Gwen dan di ajari keburukan oleh Gwen. Itu sebabnya, ketika remaja, sang ayah mengirimnya ke sekolah tata krama di luar negri.
"Kalau Mas Khalid, mau jadi apa nanti kalau sudah dewasa?" tanya Puspa.
"Hish, masih saja tanya. Biar Aku tebak … Mas Khalid pasti mau jadi Ustadz, 'kan?" tebak Aisyah.
"Aamiin--"
"Kamu sendiri, Gam? Kamu mau jadi apa nanti?" tanya Ustadz Khalid kepada Agam.
Agam terdiam sebentar. Melihat pemandangan laut yang indah, kemudian menatap Aisyah. Dia juga menggenggam tangan Aisyah dengan berkata, "Aku ingin menjadi suaminya, Aisyah. Aisyah sangat cantik, baik, dan pandai membuat makanan. Itu sudah cukup mirip seperti Umi, jadi … aku ingin sekali, memiliki istri yang solehah seperti Aisyah. Aisyah juga pandai mengaji, aku suka!"
Aisyah langsung menepis tangan Agam. Aisyah menjadi marah saat itu. Tapi, melihat wajah Agam yang terkejut, Aisyah pun menjadi melunak.
"Baiklah, tunggu aku besar, kita akan menikah nantinya," jawab Aisyah dengan memutar matanya.
Namun siapa sangka, jika saat kecil Agam yang berinisiatif ingin menikah dengan Aisyah, malah dia menikah dengan saudari kembarnya. Itu sebabnya, ketika Agam melamar dulu, keluarga pesantren langsung menerimanya tanpa meneliti bibit bebet bobotnya lebih jelas lagi.