
"Ini waktunya kita cari tau, siapa Chaterine ini, Ai," ucap Dishi.
"Benar, aku tidak ingin Ilkay direbut olehnya. Ilkay adalah anakku!" sahut Aisyah tak terima.
"Sayang, jangan pernah berpikir seperti itu. Ilkay anak kita. Selamanya akan menjadi anak kita, hm?" ucap Dishi dengan lembut.
Ia tak tega melihat istrinya selalu berpikir Ilkay akan diambil kembali oleh Chaterine. Meski ia tahu, itu tidak akan mungkin terjadi. Dishi malah terbuai dengan wajah manis istrinya, dengan begitu, ia pun mengecup bibir Aisyah untuk yang pertama kali.
Cup!
"Ternyata, bibir rasanya manis seperti ini, ya?" gumam Dishi dalam hati. Kembali Dishi mengecup bibir Aisyah, kali itu, ia memejamkan matanya dan mulai menikmatinya.
Kecupan itu lama-lama menjadi sebuah ciuman. Sampai mereka tersadar jika masih di dalam mobil dan harus menjemput Ilkay di kelasnya. Dengan begitu, mereka akan tahu siapa Chaterine itu.
"Kamu yang sabar, percaya dan serahkan semuanya kepada Allah. Ilkay, akan baik-baik saja dan akan selalu menjadi milik kita sebelum ia dewasa nanti, hm?" tutur Dishi.
Aisyah mengangguk. Hatinya menjadi sejuk, menikah di awal dengan Dishi tidak ada yang buruk. Dishi mampu menenangkan hati dan pikirannya di saat dirinya menghadapi masalah.
"Kita melangkah dengan pelan-pelan sana. Lalu, melihat dari luar, seperti apa guru Ilkay ini, oke?" bisik Dishi.
"Iya," jawab Aisyah.
Langkah keduanya menjadi sedikit lambat saat hampir sampai di ruang khusus les piano. Ilkay mengikuti semua les musik di tempat tersebut. Dishi dan Aisyah mengintip dari sebuah kaca yang ada di pintu.
Betapa terkejutnya mereka, bahwa apa yang dipikirkannya menjadi sebuah kenyataan. Chaterine yang mereka duga, adalah benar Chaterine yang sama, Ibu kandungnya Ilkay.
"Dishi--" Aisyah mulai panik lagi.
"Stt, istighfar. Kamu harus tenang, ini masih di tempat les, kita tunggu saja Chaterine ini keluar, lalu kita tangkap," bisik Dishi menenangkan istrinya.
Mereka kembali secepatnya ke mobil. Membuat rencana supaya bisa menangkap Chaterine dan menanyakan mengapa Dia datang kembali.
"Jika Ilkay sudah tahu, Chaterine adalah Ibunya bagaimana?" tanya Aisyah.
"Biarkan saja tau. Putra kita adalah anak yang cerdas, dia pasti akan memilih kita sebagai orang tuanya," jawab Dishi.
"Jika memang Ilkay mau kembali dengan Ibunya, bagaimana?" lanjut Aisyah bertanya.
"Semuanya serahkan kepada Ilkay. Tapi, aku merasa itu semua tidak mungkin, Ai. Orang pertama yang mengulurkan tangannya kalau Ilkay berada dalam kegelapan adalah kamu. Orang yang memberinya kehidupan yang layak adalah kamu," tegas Dishi.
"Kamu ingat, saat dia tahu bahwa Tuan adalah ayah kandungnya. Apakah dia juga langsung mau tinggal dan di akui oleh Tuan? Tidak, 'kan? Dia lebih memilihmu, Ai. Kau ibunya, untuk apa dia membutuhkan yang lainnya lagi?" sambung Dishi meyakinkan Aisyah kembali.
Dishi memeluk Aisyah, menenangkannya dan melantunkan shalawat agar hati Aisyah menjadi tenang. Ternyata, Dishi tak main-main dalam mendalami ilmu agama. Ia mampu menyejukkan hati istrinya dengan shalawat Nabi yang ia ketahui.
"Terima kasih, kamu selalu ada untukku, Dishi, Ayahnya Ilkay," ucap Aisyah mempererat perlukannya.
"Terima kasih juga, kamu telah menerimaku dengan segala kekuranganku. Aku mencintaimu, Ai. Sangat mencintaimu,"
Mereka pun berciuman kembali. Jantung berdebar hebat, dan sepertinya mereka jatuh cinta kembali, dari ke sekian kalinya. Ciuman tang masih kaku itu, membuat keduanya tetap menjadi canggung setelahnya. Namun, Dishi menjadikan kecanggungan itu me jadi sebuah candaan.
"Kita sudah berciuman, apakah kita boleh lebih intim lagi?" goda Dishi.
"Dalam mimpimu!" tepis Aisyah, wajahnya memerah dan hampir saja terbakar.
"Hey, kenapa wajah cantikmu ini menjadi merah? Suhu di luar mulai dingin, loh! Ingat, ini bulan Desember, sebentar lagi akan ada Natal dan salju di negri ini," Dishi terus saja menggoda Aisyah.
Aisyah sampai tersipu malu, dikala Dishi menggodanya. Sampai pada akhirnya, Ilkay keluar dari kelasnya, dengan wajah yang murung. "Assalamu'alaikum, Ayah, Mama," salamnya.
"Eh, kenapa anak Mama murung seperti ini. Apakah, guru baru memarahimu?" tanya Aisyah.
Ilkay duduk di kursi belakang, menundukkan wajahnya dsn terus diam. Dishi meminta Aisyah untuk tidak menanyakannya lagi. "Kita tanyain saja di rumah," bisiknya kepada Aisyah.
Selama perjalanan pulang, Ilkay terlihat lesu. Sebelumnya anak berusia 6 tahun ini selalu terlihat ceria dalam segala hal. Namun, hari itu memang terlihat berbeda.
Sesampainya di rumah, Ilkay hanya makan sedikit juga. Kemudian kembali ke kamarnya dan mulai mengurung diri.
"Allahu Akbar, ini sudah mau Isya', setelah salat maghrib, dia mengurung diri di kamar lagi, Dishi!" ujar Aisyah.
"Ai, kamu harus sabar. Setelah Isya', kita tanyai lagi, ayo sebaiknya kita salat dulu. Lalu, menyiapkan makan malam untuknya," ajak Dishi dengan lembut.
Setelah keduanya salat berjama'ah, Aisyah dan Dishi mendatangi Ilkay di kamarnya. Rupanya, Ilkay sedang salat sendiri dan hampir selesai. Ilkay sudah di tahap berdoa malam itu.
"Ya Allah, kenapa semuanya menjadi kacau? Ibu adalah Mama Aisyah. Kenapa Guru Chaterine memaksaku untuk memanggilnya Ibu juga? Kay tidak mau!" doa nya.
"Lalu, mengapa Guru Chaterine juga mengatakan hal buruk tentang Ayah dan Mama? Kay tidak terima itu, Ya Allah! Kay sayang sekaki Ayah dan Mama," imbuhnya sembari menangis.
Kini, Aisyah tahu apa yang membuat putranya bersedih. Yakni, Chaterine mulai mengungkapkan jati dirinya sebagai Ibunya Ilkay.
Tok, tok, tok.
Aisyah mengetuk pintu kamar Ilkay. Aisyah meminta Ilkay untuk segera keluar, makan malam bersama.
"Ayo, sudah waktunya malam malam. Lalu belajar, dan tidur lebih awal," ucap Aisyah dengan lembut.
"Iya, Ma!" melihat Aisyah, membuat Ilkay jauh lebih aman. Ia bergegas merapikan sajadahnya dan keluar untuk malam malam bersama orang tuanya.
Saat makan, Ilkay benar-benar menjadi pendiam. Selalunya, ia mengomentari masakan Ayahnya, karena lidahnya yang sensitif akan rasa.
"Ilkay, apakah kamu tidak ingin meninggalkan komentar untuk masakan Ayah malam ini?" tanya Dishi memecah heningnya suasana makan malam itu.
"Ilkay tidak mau belajar musik lagi. Ayah, Mama, bolehkah Ilkay kembali ke Jogja? Ilkay mau di pesantren saja!" serunya tiba-tiba.
Sebelum pulang dari les musik, Chaterine mengatakan bahwa dirinya adalah Ibu kandung dari Ilkay. Chaterine membenarkan jika Ilkay telah di ambil okeh Cindy sejak Ilkay masih bayi merah.
"Karena Ibu sangat menyayangimu, maka dengan terpaksa Ibu menyerahkan kamu ke pada Nyonya Wang," jelas Chaterine.
"Nak, percayalah. Di saat itu, Ibu juga sangat tersiksa karena berpisah denganmu," lanjutnya.
"Orang tuamu yang saat ini adalah orang yang jahat. Mereka tahu, jika Ibu ini adalah Ibu kandungmu, tapi mereka tidak mengatakannya padamu,"
"Apakah mereka pantas menjadi orang tuamu?"
Chaterine terus memprovokasi Ilkay untuk membenci kedua orang tuanya. Namun, Ilkay tak ingin mempercayai itu. Ia lebih memilih diam, dan mencermati semua mimik wajah kebohongan yang ada pada wajah Ibunya Chaterine.
"Ibuku hanya Mama Aisyah, Ayahku hanya Ayah Dishi! Selain itu, aku bukan milik siapapun! Kenapa guru mengintimidasiku seperti ini!" kesal Ilkay.
"Nak, Ayahmu adalah seorang Tuan Muda yang kaya raya. Jika kamu kembali bersama Ibu, mari kita dapatkan hati Ayahmu dan kita akan hidup bahagia," ucap Chaterine.
"Aku sudah bahagia dengan Ayah dan Mamaku. Jika Ayah kandungku adakah seorang yang hebat, tapi Ayah angkatku adalah pria yang baik dan bertanggung jawab!" jawab Ilkay.
"Kamu masih kecil, kamu tau apa tentang tanggung jawab, Nak? Ikut bersama Ibu, ya?"
Chaterine terus membicarakan keburukan Aisyah dan Dishi. Membuat Ilkay kesal dan keluar lebih awal di jam lesnya. Itu sebabnya, saat keluar, Ilkay terlihat murung. Apakah Aisyah mewujudkan keinginan Ilkay yang ingin masuk ke pesantren?