
"LIhatlah, katanya dokter, tapi tak punya adab dalam menyetir!" bisik salah satu orang di sana.
"Benar, mana berhijab pula,"
"Aku yakin jika dia adalah anak orang kaya. Makanya semena-mena. Pasti mobilnya juga dari orang tuanya dan SIM-nya nembak. Aku yakin itu!"
Terkadang, memang kita tidak boleh mendengarkan apa kata orang lain. Sebab, orang lain tidak pernah tahu keadaan diri kita. Mereka hanya bicara sesuai dengan apa yang mereka lihat, maka itulah kebenarannya dan selalu bebas berargumen.
"Dia wanita yang berpendidikan, saya yakin ini hanya kecerobohannya saja."
Suara seorang pria yang tak asing di telinga Aisyah. Saat ia menoleh, memastikan jika dirinya tak salah menduga, dia adalah, "Pak Raza?"
"Dokter Aisyah, bagaimana keadaan kakek ini?" Pak Raza mendekati Aisyah dan bertanya dengan nada yang lembut disertai senyuman.
"Di-dia, dia hanya kaget saja. Tidak ada yang terluka … Pak Raza," jawab Aisyah memandang Raza yang saat itu sudah ada di sisinya.
Mata mereka saling memandang, sampai akhirnya Asisten Dishi berhasil menyusul dan menghampiri Aisyah. "Aisyah, kau tidak apa-apa?" teriaknya.
"Apa kau terluka?" tanyanya sembari melihat tubuh Aisyah dengan wajah yang panik.
Aisyah hanya menggeleng, keduanya meminta Aisyah untuk masuk ke mobil dan mengantar sang kakek ke rumahnya. Asisten Dishi juga menyapa Raza dengan ramah. Ia juga menceritakan jika Aisyah saat itu suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Eh, mau dibawa ke mana, kakeknya?" tanya salah satu dari orang-orang yang berkerumunan saat itu.
"Kami akan membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kemudian mengantarnya pulang, Pak," jawab Raza.
"Jangan mau kalau di ajak damai secara kekeluargaan, Pak, karena mereka ini bukanlah keluarga!" seru salah satu diantara kerumunan lagi.
Asisten Dishi menatap orang yang mengatakan hal itu. Kemudian meminta Raza memperingatkan orang-orang itu untuk tidak menyalahkan Aisyah lagi. Segera Raza memapah sang kakek yang menjadi korban Aisyah dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di sana, sang kakek diperiksa lebih lanjut lagi. Aisyah ditemani oleh Asisten Dishi duduk menunggu hasil pemeriksaan, sementara Raza mengurus sang kakek dan juga administrasinya. Aisyah masih terdiam, ucapan Gwen masih selalu menghantuinya.
"Aisyah, sebaiknya kamu minum dulu. Aku juga membawakan air minum untukmu," Asisten Dishi menyodorkan botol yang ia bawa dari rumah. "Setelah itu, makanlah dengan tenang dan jangan pikirkan yang lain lagi, oke?" imbuhnya.
Aisyah hanya menatap mata Asisten Dishi sebentar, lalu mengambil botol mineral itu, kemudian meminumnya. Namun, bibirnya masih rapat untuk tidak mengatakan sepatah katapun saat itu.
Setelah 30 menit, Raza kembali bersama kakek tersebut. Rupanya, kakek tersebut sudah tidak bisa mendengar lagi, penglihatannya juga sudah semakin menurun. Itu sebabnya, si kakek menyebrang sembarangan, bukan Aisyah yang salah. Namun, Aisyah mengakui kesalahannya karena dirinya memang melamun ketika menyetir tadi.
"Tuan, bagaimana keadaan kakek ini?" tanya Asisten Dishi.
"Beliau tidak apa-apa. Hanya kaget saja ketika mobil Dokter Aisyah sudah menyenggolnya sedikit," jawab Raza. "Hanya saja si kakek memiliki keterbatasan saat mendengar dan juga penglihatannya." lanjut Raza menjelaskan kondisi sang kakek.
Aisyah tetap datang ke puskesmas tempat ia bekerja, sementara mobilnya dipakai oleh Raza dan Asisten Dishi untuk mengantar si kakek yang menjadi korban Aisyah. Selama bekerja, Aisyah yang bisanya sellau menebar senyuman juga bercerita banyak hal, kala itu menjadi pendiam dan lebih banyak menghindari teman sejawatnya yang ada di puskesmas itu.
"Aisyah, kamu kenapa, sih? Ada masalah apa?" tanya Tiara, teman Aisyah yang menjadi perawat di puskesmas tersebut.
"Siapa? Aku? Biasa aja!" seru Aisyah.
"Aku dengar … adikmu mau menikah, benarkah? Seperti apa calon suaminya? Lalu orang mana?" lanjut Tiara.
Pertanyaan Tiara hanya diabaikan oleh Aisyah, ia lebih memilih tidur ketika jam istirahat tiba. Tiara merasa heran dengan sahabatnya itu. Sebab, jika Aisyah sudah mengacuhkan pertanyaan seseorang, maka hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku beliin kamu soto, ya. Biasanya kamu suka makan soto, 'kan?" Tiara adalah sahabat Aisyah sejak kecil, ia sudah tahu semuanya tentang keluarga Aisyah.
"Assallamu'alaikum!"
Suara salam seorang lelaki dengan mengetuk pintu ruangan. Suara itu adalah suara Raza dan juga diikuti oleh Asisten Dishi. Ditangan mereka, terdapat tiga bungkus plastik putih lumayan besar.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"
"Kalian ke sini lagi?" tanya Aisyah mengerutkan alisnya.
"Kami membawakan makanan untukmu makan siang. Aku dan Tuan Raza membelikan nasi yang di bungkus kertas. Kata Tuan Raza, kamu pasti suka dengan makanan inim" jawab Asisten Dishi dengan tatapan yang dalam untuk Aisyah.
"Astaga, dia pakai bahasa Inggris ngomongnya. Orang mana dia, ganteng amat dah!" bisik Tiara.
Melihat lirikan Aisyah, Tiara kemudian pamit dan membiarkan dua orang lelaki asing baginya itu untuk menghabiskan waktu bersama dengan Aisyah. Raza juga mengatakan jika masalah dengan sang kakek sudah selesai. Juga, uang untuk kebutuhan si kakek dari Aisyah sudah Raza berikan untuk beliau.
"Nasi padang? Banyak banget lauknya?" Aisyah membuka satu persatu dari bungkusan kertas minyak itu.
"Saya membeli ini semua karena Asisten Dishi yang memilih. Katanya kamu suka semuanya, Dokter!" seru Raza dengan menahan tawanya.
"Hey, kenapa jadi diriku? Aku memang memilih semua ini. Tak percaya saja kau membeli semua ini, Tuan Raza," ketus Asisten Dishi menyatukan tangannya, seolah-olah ia seperti seorang putri yang merajuk karena dimarahi sang Ayah.
Mereka berdua juga saling beradu mulut hanya karena makanan, sangat terlihat jika mereka sampai lupa umur, sudah tak pantas jika berdebat seperti itu. Tentu hal itu membuat Aisyah tertawa, kelucuan yang diciptakan oleh dua orang pria yang saat ini dekat dengannya memang membuatnya lupa jika dirinya sedang kesal.
"Lihatlah, aku melihat cahaya bulan dari bibirnya. Ayo, manis, sekarang makanlah karena kamu tidak sarapan dengan benar tadi pagi!" Asisten Dishi menyiapkan makanan, sementara Raza menyiapkan minuman untuk Aisyah.
Aisyah merasa diistimewakan lagi. Senyumnya perlahan pudar dan mengingat kembali kata-kata Gwen pagi tadi. "Kalian begini juga untungnya apa? Aku takut jika Gwen akan merasa jika aku terus yang mendapat perhatian banyak orang." dengus Aisyah sedih.
Asisten Dishi dan Raza saling menatap. Lalu, mereka mengatakan jika Aisyah tak seharusnya bicara seperti itu. Sebab, apa yang mereka lakukan tidak ada kaitannya dengan Gwen. Raza juga mengatakan jika dirinya tidak pernah membedakan perhatian untuk Aisyah dan Gwen. Jadi, tidak masalah baginya jika ia lebih memperhatikan Aisyah saat ini juga, sampai ia lupa jika hari itu ia memiliki janji dengan seseorang.