Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Lin Aurora Mulai Lelah Menyembunyikan Identitas



"Bagaimana? Apakah kamu mau ikut bersamaku? Mungkin, itu solusi yang terbaik?" Tuan Zi begitu berusaha mendapatkan perhatian dari Lin Aurora.


"Astaga, kau ini. Dia ini sebenarnya sudah me--" hampir saja Jovan keceplosan. Beruntung Lin Aurora langsung menutup mulutnya dan mengiyakan tawaran Tuan Zi. 


"Aku ikut bersamamu, Kak Zi. Biarkan saja dia sendirian! Aku kesal padamnya!" seru Lin Aurora mendorong bibir Jovan sampai hampir saja Jovan terjengkang. 


"Kamu … kamu, Lin! Lin Aurora!" teriak Jovan.


Namun, Lin Aurora sudah masuk ke mobilnya Tuan Zi. Jovan terus saja mengumpat karena pasti Chen akan marah jika tahu istrinya berangkat bekerja dengan pria lain. 


"Lihat bagaimana cara aku membereskanmu, Tuan Zi!" 


"Benar-benar kalian membuatku marah saja!" 


Jovan terus meneriaki orang yang sudah berlalu dari hadapannya. Ketika ia menoleh ke sisi barat, dia melihat Chen sedang mengamatinya dari dalam mobil dengan tatapan mematikan.


"Hash, sial! Mengapa dia ada di sana?" Jovan mulai menggerutu. 


Terlihat, Chen mengangkat ponselnya. Entah apa yang dilakukannya. Tapi, Jovan merasa ada yang tidak enak dengan aura yang dipancarkan oleh Chen.


Kling ....


Sebuah notif terdengar indah di telinga dari ponsel Jovan. 


"Hash, benar-benar ... tiga ratus dollarku. Dia bukan manusia, tapi iblis! Bisa-bisanya dia meraih uangku. Dasar penjajah!" umpat Jovan.


Jovan kesal karena Chen memotong uang miliknya sebesar tiga ratus dollar. Dimana Jovan memang jarang sekali membelanjakan uangnya. Dia terus menabung, karena suka dengan nominal uangnya di rekening banknya. 


Tak lama kemudian, Chen menelponnya. Masih dengan tatapan yang datar, dia meminta Jovan untuk kembali ke kantor bersamanya. 


"Tapi istrimu bagaimana? Kau lihat sendiri kan dia Kabir dengan pria lain," nada bicara Jovan masih terdengar kesal. 


"Biarkan saja. Mereka juga tidak akan melakukan apapun. Dua jam lagi, kita akan bertemu dengan kolega penting. Jika tidak hadir tepat waktu, kita akan rugi besar," jelas Chen. 


"Hm, baiklah. Aku akan berangkat sekarang juga. Kau pergi saja dulu." jawab Jovan.


Chen menutup ponselnya, menaikkan kaca mobilnya karena sebelumnya di buka olehnya. Tak selang beberapa detik, mobil Chen melaju ke arah perusahaan yang lain miliknya. Disusullah oleh Jovan menggunakan jenis mobil yang sama. 


Apa yang dikatakan oleh Chen memang benar. Istrinya tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama. Ketika sudah sampai di dekat kantor, Lin Aurora meminta Tuan Zi untuk menghentikan mobilnya. Jaraknya masih sekitar 500 meter dari kantor. Lin Aurora tidak peduli jika dirinya harus berjalan kaki. 


"Kak Zi, kamu ... tolong turunkan aku di depan halte saja," pintanya. 


"Ada apa memangnya? Kita sebentar lagi sampai. Kenapa harus turun di halte?" tanya Tuan Zi. 


"Ini tidak baik jika kita berangkat ke kantor bersama seperti ini. Yang ada, malah nanti akan menimbulkan gosip yang tidak benar," jawab Lin Aurora bersiap untuk turun.


"Iya, tapi kan kita memang sudah dekat sejak awal. Wajar saja jika mengira kita ini dekat, Nona Lin," sahut Tuan Zi.  


"Masalahnya, aku tidak suka dengan gosip apapun yang ada di kantor mengenai diriku, Kak Zi!" tegas LIn Aurora. "Lagipula, ada hati yang harus aku jaga. Aku tidak ingin menimbulkan perselisihan antara aku dan dia," lanjutnya,  siap membuka pintu.


"Terima kasih atas tumpangannya." 


Mendengar ucapan Lin Aurora jika ada hati yang harus dia jaga, Tuan Zi merasa terluka. DIa penasaran dengan orang yang dijaga oleh Lin Aurora sampai seperti itu. "Apakah dia sudah memiliki kekasih?" gumamnya.


"Tapi selama ini, dia selalu menutup diri dari laki-laki untuk dijadikannya seorang pacar. Kenapa sekarang ada hati yang dia jaga?" 


Tuan Zi, menjadi pemasaran. Dia pun segera menyalakan mobilnya dan segera ke kantor. Ketika melintasi Lin Aurora di jalan, ia terlihat menunduk dan tidak bersemangat. Membuat Tuan Zi semakin penasaran dengan permasalahan apa yang sedang dialami oleh Lin Aurora.


Lin Aurora mulai tidak nyaman jika terus-menerus menyembunyikan identitasnya sebagai seorang istri pemilik perusahaan. Dia ingin bisa memeluk dan menggandeng Chen di muka umum tanpa harus mengenal jarak jika dirinya adalah seorang office girl dan Chen sebagai atasannya.


********


***


Setelah seharian itu, Chen dan Jovan tidak pulang. Dia memang sedang menjalani perjalanan bisnis lagi ke luar Kota. Seperti biasa, Jovan yang mengabari Lin Aurora jika mereka sedang pergi dan ada pekerjaan mendadak. 


"Jadi, kau tidak bisa menjemputku?" tanya Lin Aurora. 


"Maafkan aku. Ini proyek besar. Chen sedang mengejar proyek ini ... sebenarnya juga untukmu. Dia akan mendirikan mall di Busan atas namamu sendiri," jawab Jovan. 


"Benarkan? Apakah kamu tidak salah mendengar, Jovan? Dia ... Dia akan memberikanku hadiah sebesar itu?"  tanya Lin Aurora mulai girang. 


"Tentu saja. Dia jika sudah baik kepada orang, apalagi keluarganya, tidak akan tanggung-tanggung lagi memberikan apa yang dia mau, meski harus menguras seluruh hartanya. Beruntung dirimu bisa menikah dengannya," terang Jovan.  


"Asha!" sorak Lin Aurora. "Tapi, kapan kalian akan pulang?" lanjut Lin Aurora bertanya. 


"Besok adalah hari pernikahan kakakku, Jovan. Apa kau tidak ingin hadir?" dengan lirih Lin Aurora tetap mengingatkan jika besok adalah hari pernikahan kakaknya dengan pria lain.


"Aku akan mengkonfirmasi lagi nanti. Untuk pernikahan kakakmu, Chen mengizinkan kamu pulang sehari saja. Tapi, Chen tidak mau kau sampai terluka, seperti sebelumnya. Jika kau pulang ke rumah Ayahmu, pasti kau kembali dengan tubuh yang dipenuhi luka. Lin, Chen tidak ingin kamu sampai terluka lagi, berhati-hatilah dan segera pulang setelah acara pernikahan selesai." tutur Jovan, menutup teleponnya. 


Lin Aurora terdiam. Meski Chen tidak mengatakannya sendiri. Tetap saja, Chen sangat mengkhawatirkannya. Tuan Natt memang sangat kejam. Kepada putrinya sendiri saja, dia sangat kejam, apalagi kepada orang lain. 


Meski begitu, Lin Aurora harus tetap pulang. Bagaimanapun juga, kakaknya, Lin Jiang akan menikah. Dulu, ketika dirinya menikah secara agama di Jogjakarta, Lin Jiang menyempatkan waktunya untuk datang. Kini, giliran Lin Aurora yang mendampingi kakaknya. 


Ketika memikirkan sesuatu, Sachi datang ke dapur dan menegurnya. Lin Aurora sampai terkejut karena suara langkah Sachi tidak terdengar. 


"Hei," Sachi menepuk bahu Lin Aurora.


"Aaaa, kau membuatku terkejut saja, Sachi! Bisakah kau masuk dengan mengetuk pintu dulu?" Lin Aurora sampai melompat berdiri dari tempat duduknya. 


"Hah? Apa yang sedang kau lamunkan, Lin? Sampai kau terkejut begitu?" tanya Sachi. 


"Tidak ada! Aku hanya lelah saja," jawab Lin Aurora kembali duduk.


"Hm, ayo kita bersiap untuk pulang. Sebentar lagi waktunya pulang. Bagaimana jika kita makan hotpot dulu?" ajak Sachi.


"Ayo, Lin. Hari ini aku ulang tahun, apa kau tidak mau menemaniku makan meski hanya makan hotpot saja? Tenang saja, tidak ada minuman!" lanjut Sachi mengangkat dua jarinya. 


Lin Aurora mengangguk. Dia merasa, jika pulang lebih awal juga untuk apa? Chen pergi ke luar kota, Jovan pun menemaninya. Kedua mertuanya masih belum pulang dari luar Negeri. Maka dari itu, Lin Aurora pun menyanggupi ajakan Sachi makan hotpot menemani sahabatnya.