
"Kamu tahu, kamu adik paling bodoh yang pernah aku miliki, Lin Aurora," ujar Lin Jiang.
"Kakak, aku adalah wanita yang sudah bersuami. Jadi hidupku ini sepenuhnya adalah milik suami. Jika bukan aku yang membelanya, lalu siapa lagi?" ujar Lin Aurora.
"Tapi aku dengar, setelah Ayah meminta 30% dari perusahaan glory word … Tuan muda Wang itu berubah sikap kepadamu. Apakah itu benar? Jika benar, kenapa kamu masih bertahan dengannya? Kenapa kamu tidak mengikuti saja peraturan Ayah untuk membalaskan dendam keluarga kita kepadanya?" Lin Jiang mulai mempengaruhi Lin Aurora.
Lin Jiang bukan benci dengan Chen. Hanya saja, ia tidak tega melihat adiknya terus menderita selama menikah dengan Chen.
"Kenapa, kenapa dan selalu kenapa. Kakak, hidup kita ini sudah ada yang mengatur. Takdir kita bahkan tidak bisa kita ubah dengan tangan kita sendiri, meski kita sudah berusaha. Hanya sang Pencipta kita lah yang bisa menentukan," tutur Lin Aurora.
Lin Jiang tidak ingin berdebat lagi dengan adiknya. Ia segera memberikan obat kepada Lin Aurora untuk dibawa ke kediaman Wang. Malam semakin larut, Lin Jiang sendiri yang mengantar Lin Aurora sampai di depan gerbang kediaman Tuan Wang. Memastikan jika Lin Aurora tidak dalam masalah apapun, Lin Jiang pun ikut masuk ke rumah tersebut.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Wang. Saya mohon maaf tadi telah mengajak Lin Aurora pulang ke rumah tanpa izin dari kalian. Ada suatu hal yang perlu kami selesaikan di rumah. Jadi, mohon jangan kalian marahi Lin Aurora, karena kesalahan saya ini Tuan, Nyonya," ucap Lin Jiang.
"Nona Lin Jiang, memang benar apa yang terdengar tentang dirimu. Gadis yang memiliki adab tinggi, ketegasan, kedisiplinan dan juga kesantunan yang baik. Kami menerima permohonan maaf kamu, dan terima kasih sudah mengantarkan menantu kami pulang dengan selamat," sahut Tuan Wang dengan lembut.
Nyonya Wang menggandeng tangan Lin Aurora dan mengantarnya ke kamarnya. Melihat perlakuan baik keluarga Wang, membuat Lin Jiang jadi tahu mengapa adiknya menolak peraturan Ayahnya dan memilih mengkhianati keluarganya sendiri.
"Tuan, jika malam ini Anda tidak sibuk atau belum mengantuk, bisakah kita bicara berdua saja?" tanya Lin Jiang.
Tatapan wajah serius Lin Jiang membuat Tuan Wang penasaran dengan apa yang hendak di sampaikannya. Tanpa curiga, Tuan Wang mengajak Lin Jiang ke pinggir rumah yang tidak ada seorang pun akan ke sana malam itu.
"Katakan, di sini tidak ada orang satupun yang akan mendengar pembicaraan kita," ucap Tuan Wang.
"Hari ini, Lin Aurora pulang ke rumah untuk menentang Ayahnya sendiri. Dia menolak untuk melanjutkan misi yang Ayah kami berikan padanya dan memilih menghianati keluarga untuk membela suaminya," ungkap Lin Jiang.
"Ayah menghukum Lin Aurora dengan 10 kali cambukan untuk pengkhianatannya itu. Mohon bantuan Tuan Wang, jangan menyulitkan Lin Aurora. Tanyakan semua rencana yang Ayah kami buat untuk menghancurkan Anda kepadanya. Dia pasti akan menjawab dengan jujur. Tuan, adikku itu sangat naif. Dia pasti akan memilih suaminya daripada Ayahnya. Setelah ini, saya tidak akan pernah membocorkan apapun misi dari keluarga saya sendiri. Tuan Wang bisa mengirim mata-mata kembali ke kediaman kami. Dan aku pastikan, mata-mata anda akan selamat," jelas Lin Jiang panjang kali lebar.
"Kenapa kamu mengatakan semuanya? Bukankah ini sama saja kau juga berkhianat dengan Ayahmu?" tanya Tuan Wang. "Atau trik apa yang ingin kau lakukan demi membuat kami lengah?" lanjutnya.
"Anda boleh berpikiran apapun tentang saya, itu adalah Anda. Tapi saya melakukan ini hanya demi adik saya, Lin Aurora. Saya juga tidak pernah membenarkan apa yang ayah saya lakukan. Itu sangat tidak baik dan akan berdampak buruk. Hanya saja, dia masih Ayah kandung saya, jadi saya mengormatinya meski saya sendiri masih memiliki dendam pribadi dengan Ayah saya. Permisi dan selamat malam!"
Lin Jiang pergi begitu saja. Tuan Wang memang pernah menjadi orang terkejam di masa lalu. Namun, sikap kejamnya itu berubah ketika Chen hadir dalam hidupnya. Membuatnya lebih sensitif jika menyangkut masalah hubungan anak dan orang tua.
Di depan kamar Chen, Nyonya Wang berhenti dan menunjukkan kamar Chen yang baru. Kamar itu adalah kamar lama Aisyah yang sudah di renovasi untuk kamar Chen dan Lin Aurora di masa depan. Sementara itu, kamar Aisyah di pindah ke kamar lama Chen.
"Nyonya, Lin sangat takut. Bagaimana jika Chen masih marah pada Lin?" bisik Lin Aurora.
"Dan iya, mulai sekarang, kamu bisa memanggilku dengan sebutan Ibu. Jangan Nyonya lagi, itu tidak akan masuk," lanjut Nyonya Wang dengan senyuman manisnya itu.
Lin Aurora mengangguk. Kemudian, perlahan membuka pintu. Berjalan berhati-hati dan segara naik ke ranjang. Perlahan, ia merebahkan tubuhnya, dan memiringkan tubuhnya, menghindari tekanan pada lukanya.
Meski sudah sangat hati-hati, Chen tahu jika Lin Aurora masuk dan naik ke ranjangnya. Tak ingin berdebat, Chen pun melanjutkan tidurnya hingga pagi.
*
Tengah malam, Chen terbangun karena mendapat pesan singkat dari Dishi yang berhasil menjalankan pekerjaannya dengan baik selama di Korea.
"Dishi ini, dia memang orang yang paling bisa aku percaya. Jika tidak ada dia, entah bagaimana aku akan mengembangkan semua bisnis keluarga ini," gumamnya dalam hati.
Ketika Chen ingin tidur kembali, ia menoleh ke arah Lin Aurora. Tersadar, pandangannya tertuju ke punggung wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
"Dia pakai baju yang sudah luntur? Ck, benar-benar … tapi ini warnanya seperti masih--"
Chen melihat ke kasur dan menemukan noda merah yang sama dengan noda di baju Lin Aurora. Ia menyentuh noda mereka itu yang di sprei kasurnya.
"Masih basah? Apakah bisa datang bulan? Jika datang bulan tidak akan ke punggung, bukan?" gumam Chen dalam hati.
Chen mencium bau noda tersebut. Bau anyir itu jelas darah. Darah itu masih segar, sebelum Lin Aurora miring membelakangi dirinya, memang sebelumnya telentang. Mungkin lukanya tertekan dan mengeluarkan darah lagi.
Chen menyalakan lampu dan mengambil gunting. Dengan paksa, Chen membangunkan Lin Aurora dengan membuatnya tengkurap sampai Lin Aurora terbangun karena terkejut.
"Ada apa?" tanya Lin Aurora terkejut.
Tanpa menjawab, Chen langsung merobek baju Lin Aurora menggunakan gunting.
"Chen, apa yang kau lakukan?" Lin Aurora mencoba meronta.
Namun, tenaga memang kalah besar dari Chen. Lin Aurora tak dapat bergerak sama sekali dan berhasil Chen merobek bajunya. Chen melihat bungkusan perban di punggung Lin Aurora dengan noda darah. Ia pun kembali merobek perban itu dengan pelan meski masih kasar.
"SAKIT!" teriak Lin Aurora.