Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Selepas Masalah



Di kamar, Chen masih memikirkan bagaimana cara menemukan orang tuanya. Sampai ia terlupa, jika esok hari harus menemui putri dari Tuan Natt, melakukan kencan buta. 


"Di mana mereka? Kenapa tiba-tiba menghilang, Tuan?" tanya Chen melalui telpon. 


"Tuan Muda Wang. Orang tuamu pasti baik-baik saja. Tapi, kerusakan rumah kasih ini sangat parah. Beberapa anak-anak juga terluka karena ledakan itu. Bagaimana jika saya mentransfer anak-anak ini ke yayasan lain?" usul Willy. 


"Tuan, anda bisa bicarakan dengan Tuan Chris dan Gwen. Mereka juga berhak mengetahui, aku … Aku tidak ada hak untuk ikut andil dalam kekayaan dan urusan keluarga Lim. Kuharap Tuan tahu maksudku," jawab Chen. 


"Aku tunggu kabar selanjutnya. Kedua orang tuaku harus di temukan secepatnya. Kasihan Adik bungsuku masih memerlukan mereka." tukas Chen, menutup telponnya.


Terlalu melelahkan hidup sebagai seorang Chen. Di usianya yang masih sangat muda, harus menjadi pria hebat bagi keluarganya. Sejak kecil didewasakan oleh keadaan. Terpisah dengan orang tua kandungnya dan memiliki putra, namun tak bisa di panggil sebagai seorang Ayah. 


"Huh," lenguh Chen. 


"Setelah mandi, badanku terasa sangat segar. Istirahat dan besok terbang ke Australia. Besok aku ak--" Chen sudah terlelap, ia kelelahan dengan misi penyelamatan adiknya. 


Akan tetapi, Jackson Lim dan juga Cindy berhasil kabur. Hal itu membuatnya sedikit kesal. Ketegangan berakhir malam itu, hanya saja, berganti menjadi malam yang sunyi. Semua penghuni rumah sedang memikirkan dirinya sendiri. 


Malam yang sunyi itu, Rifky tidur bersama dengan Aisyah dan juga Ilkay di sisinya. Esok hari, setelah semuanya tenang, Aisyah akan membawa Rifky kembali ke Australia bersama dengan Asisten Dishi dan Chen. Begitu juga dengan Ilkay. 


Mengapa ke Australia? Karena saat itu, Rifky masih menjadi warga negara sana. Ia lahir di tanah Australia dan akan memiliki kewarganegaraan ganda sampai dirinya berusia 17 tahun. 


"Rifky ini sangat mirip dengan kakek yang belum pernah aku temui. Apakah itu sebabnya namanya Rifky, karena dia mirip dengan kakek Rifky?" gumam Aisyah mengelus-elus kening adik bungsunya yg masih berusia beberapa hari. 


"Haih, Ayah, Ibu. Kalian di mana, kasihan Rifky masih butuh ASI," Aisyah kembali melantunkan sholawat untuk adik dan putranya. Kemudian, ia sendiri ikut tertidur. 


Meski Agam dan Gwen sudah tidak ada masalah lagi. Tapi Agam sepertinya masih sedikit cuek. Biasanya, ia akan memeluk Gwen dan melantukan sholawat terlebih dulu sebelum dia tidur. Tapi malam itu, Agam hanya mengusap rambut istrinya dan tidur membelakanginya. 



Pagi hari setelah salat subuh berjama'ah. Para wanita saling bantu membantu memasak untuk sarapan. Mereka terbiasa sarapan mengonsumsi nasi dan teh hangat. Jadi, harus masak lauk, sayur dan camilan lainnya.



Sementara Ilkay dan Rifky sedang bersama dengan Nyonya Wang. Mereka terlihat nyaman di dekat Nyonya Wang yang sangat baik hati itu. 



"Xia, apa rencanamu setelah ini? Bukankah, Nyonya Wang sudah tidak mengurungmu? Apakah kau ingin sekolah lagi?" tanya Gwen. 



"Em, aku ngikut apa saja yang Ayah dan Kak Chen ingin lakukan untukku. Kali ini, aku tidak lagi membantah perintah mereka," jawab Xia sembari membantu mengupas bawang. 



"Kamu benar-benar mulai berubah. Semoga saja kamu bisa menjadi lebih baik lagi, ya. Semangat!" sahut Aisyah. 



Xia terdiam. Ia tak menyangka jika kedua gadis yang selalu ia musuhi akan menerimanya dengan baik. "Apa, kalian tidak marah padaku? Kenapa kalian mendukungku? Bukankah aku sudah jahat pada kalian berdua?" tanyanya. 



"Masa lalu, biarlah berlalu. Lebih baik, kita jalani saja apa yang ada sekarang. Jangan pikirkan lagi, ayo segera bereskan. Takutnya malah nggak sampai waktunya untuk sarapan," tutur Gwen mengusap rambut lurus Xia. 



Aisyah terkejut mendengar Gwen berkata lembut seperti itu. Sudah lama, dirinya tidak menghabiskan waktu bersama saudarinya. Melihatnya begitu dewasa cara berpikirnya, membuat Aisyah bangga. 



"Gwen, ini kamu? MasyaAllah, kamu benar-benar sudah berubah. Kakak bangga sekali melihatmu seperti ini," ucap Aisyah menggenggam tangan Gwen. 



"Ini semua juga berkat, Kak Aisyah. Kak Aisyah juga sabar membimbing aku. Semua yang Kak Aisyah katakan, benar ketika aku sudah menikah. Semuanya benar, Kak. Makasih banget~" 



Mereka berdua saking berpelukan. Tak lupa, Gwen juga menarik Xia untuk di peluk bersama. Xia menangis, terharu karena Aisyah dan Gwen yang selalu ia musuhi, membalas kejahatannya dengan hangatnya kasih sayang. 



"Kenapa aku tidak baik kepada mereka sejak dulu? Andai saja, Ibu tidak memintaku memusuhi mereka, mereka pasti akan menyayangiku seperti ini. Kak Chen, dia juga pasti akan menyayangi diriku juga," gumam Xia dalam hati. 



"Kak Gwen, Kak Aisyah. Boleh aku bertanya?" lanjut Xia melepaskan pelukannya. 



"Katakan," ucap Gwen dengan senyuman. 



"Apa aku boleh menjadi adik kalian? Lalu Rifky menjadi adikku dan Ilkay menjadi keponakan aku juga? Terus, orang tua kalian menjadi orang tuaku? Aku ingin semua itu," ujar Xia sedikit semangat. 



Aisyah dan Gwen tercengang. Mereka saling memandang satu sama lain. Karena Aisyah dan Gwen tidak menyangka jika Xia meminta hal seperti itu. 




"Hey, kamu yakin hanya minta ini?" tanya Aisyah. 



Xia mengangguk. "Aku tak sadar diri. Maafkan aku, jangan bahas ini lagi, oke? Mari kita selesaikan semua ini." 



Gwen dan Aisyah saling memandang, kemudian mereka memeluk Xia dan mengatakan, "Kami kakak kamu sejak awal. Apa kamu tidak menganggap kami?" ucap keduanya bersamaan. 



"Apa? Kalian menerimaku sebagai adik kalian? Kalian tidak keberatan? Apa aku sudah menjadi adik kalian?" 



Aisyah dan Gwen mengangguk. "Hore! Aku memiliki dua kakak perempuan!" sorak Xia, gembira. 



Sejauh itu, Aisyah dan Gwen tidak pernah memiliki dendam kepada Xia. Mereka juga tidak pernah menganggap Xia sebagai orang lain. Melihat Xia senang, itu yang mereka harapkan. Sebab, Xia masih bisa dididik dengan baik, dari didikan sebelumnya. 



1 jam kemudian, sarapan telah siap. Semuanya duduk bersama di meja makan yang di susun memanjang di ruang tengah dan makan di bawah. Tuan Wang yang selama itu tidak pernah makan di bawah, saat itu dengan tenang menemani anak-anaknya sarapan bersama. 



"Ayah, coba semur ayam ini. Aku yang memasaknya," ujar Aisyah menyajikan semur Ayam buatannya.



"Ah, setelah memakan ayam buatan Kak Aisyah. Alangkah baiknya, Ayah juga mencoba telur yang aku dadar. Aku baru saja bisa memasak, Ayah harus mencobanya," sahut Gwen tak ingin kalah. 



"Hahaha, lihatlah kedua putriku ini. Semuanya ingin melayani Ayahnya dengan baik. Tak apa, pagi ini Ayah akan makan semua yang kalian masak. Ayo, kalian juga harus makan yang banyak," ujar Tuan Wang senang. 



Melihat Tuan Wang menerima masakan yang di masak Gwen dan Aisyah, Xia merasa sedih karena Tuan Wang sama sekali tidak menganggapnya ada di sana. Ia duduk di paling ujung di samping Jovan dan sama sekali tak terlihat oleh Tuan Wang  karena Xia masih takut dengan kemarahan Tuan Wang. 



Jovan melihat ketakutan Xia. Ia juga menyadari jika Xia juga ingin di puji oleh Tuan Wang. Dengan sengaja, Jovan bertanya dengan keras, siapa yang memasak telur puyuh yang ia makan. Kebetulan juga, Tuan Wang juga sedang menyantap telur puyuh kuah yang Xia masak. 



"Eh, telur ini sangat lezat. Siapa yang memasak?" tanya Jovan. 



Pertanyaan Jovan membuat semua orang menatapnya. Kemudian, Tuan Wang juga mempertanyakan hal yang sama. 



"Oh, itu masakan Xia. Tak kusangka, dia pandai memasak. Beberapa menu di sini atas resep Xia juga, terima kasih, Xia," celetuk Gwen menambah porsi makannya. 



Selain Tuan Wang, semua memuji makanan yanga Xia masak, termasuk Chen. Sebelumnya, Chen selalu menghindari Xia, tapi berkat aksi beraninya kemarin, membuatnya merubah pandangannya kepada gadis berusia 14 tahun itu. 



"Ini enak, terima kasih, Xia," ucapnya dengan lahap. "Ah, iya. Minggu depan, aku akan mengirimmu ke sekolah asrama internasional. Segara bersiap, aku sendiri yang akan mengantarmu ke sana nanti," lanjutnya, sembari mengambilkan lauk untuk Ilkay. 



Semua orang menjadi diam mendengar ucapan Chen, kecuali Gwen yang masih sibuk makan. Seorang Gwen memang malas mencampuri urusan yang lain, yang terpenting dirinya kenyang dan tidak merugikan orang lain. 



"Chen, kau ingin mengirimnya?" tanya Tuan Wang. 



"Kenapa, Ayah? Apa tindakan aku salah? Ibunya kabur, aku takut dia akan kembali dan mempengaruhi Xia lagi," ujar Chen. 



"Tapi, dia--"



"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Aku selesai, aku akan ke kamar dulu, permisi," Chen pergi begitu saja. 



Rupanya, Chen masih kesal dengan Tuan Wang karena menyetujui kencan buta untuknya. Belum lagi, dirinya sibuk mencari kedua orang tuanya yang belum ada kabar. Siang sebelum ke Australia, Chen harus menemui putri dari Tuan Besar Natt untuk melakukan kencan buta bersamanya. Apakah Chen bersedia menikahinya?