Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Sampul Tak Seindah Isinya



"Sepertinya mereka memang tidak mau menemui kita," ucap Xia lirih. 


"Kita pulang saja." Feng menyerah.


Tak ada penolakan dari Tama dan Xia, mereka bertiga berbalik arah dan ingin melangkah pulang. Ketika itu, ada seorang anak kecil dan seorang kakek, yang diperkirakan usianya sudah sekitar 70 tahunan, menyambut kedatangan mereka. 


"Kalian mau kemana? Selamat datang di desa kami," sambutnya. 


Feng, Tama dan juga Xia menoleh, terkejut dengan adanya anak kecil dan seorang kakek di belakang mereka. Mereka juga waspada, takutnya orang yang mereka temui itu adalah orang jahat, meski sebenarnya anak kecil dan kakek yang sudah berusia sekitar 70 tahunan. 


"Um, apakah … Anda tinggal di desa ini?" tanya Feng. 


"Feng, sebaiknya kita pergi saja. Pasti suami Aisyah ada di tempat lain. Ayo, jangan ambil langkah yang beresiko,"


Mereka kembali melangkah pergi, sekali lagi dihentikan oleh kakek tua yang memintanya untuk tinggal sementara. "Kalian sudah mau pergi? Kalian istirahat saja sebentar. Dilihat, kalian ini baru saja melakukan perjalanan jauh." Ucap kakek itu.


Kembali, langkah mereka terhenti. Feng memberi kode supaya lebih waspada lagi kepada Tama dan Xia. Ketiganya menatap kakek tua dan anak kecil itu dengan tatapan waspada. 


"Kami hanya mencari keluarga kami yang hilang saja. Jika anda pernah melihatnya ... tolong katakan kepada kami," Feng memberikan foto Dishi kepada kakek tua itu. 


"Kakek, kakak ini yang ada di dalam itu, bukan? Kakak sakit ini juga tidak bisa berjalan!" seru anak kecil yang mendampingi kakek tua tersebut. 


"Apa?" 


"Apakah benar orang ini ada di desa ini?" tanya Feng. 


Kakek itu mengangguk. Wajah mencurigakan kakek itu membuat Tama sulit untuk percaya. Namun, jika memang Dishi ada di desa tersebut, itu adalah sebuah kabar baik karena bisa mengembalikan senyum Aisyah nantinya. 


"Kemarilah, ikut bersamaku masuk desa. Kalian aku ijinkan masuk__" kakek itu mempersilahkan Feng, Tama dan juga Xia untuk masuk ke desa. 


"Apa serius, kita mau ikut dengan kakek ini?" bisik Tama. 


"Ini adalah satu-satunya cara, supaya kita bisa tahu Dishi ada di sini atau tidak. Ini sudah satu bulan lebih, Dishi harus segera pulang," jawab Feng. 


"Kakak, hati-hati di depan ada kubangan air," Xia menahan lengan Tama. 


Beruntung saja Tama tidak menginjak kubangan itu. Jika saja sampai menginjak, pasti nanti celananya akan basa dan kotor. Xia dan Tama saling menatap. Sementara Feng sudah berjalan lebih dulu. 


"Apa kakak tidak apa-apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Xia polos. 


Tama menepis tangan Xia. "Menggelikan! sangat menggelikan! Aku sudah sering kali mengatakan padamu ... jangan pernah menyentuhku!" ketusnya, kemudian berjalan lebih dulu. 


"Apa salahku? Aku hanya membantunya saja. Dasar aneh!" Xia menggerutu. 


Mereka berjalan sepanjang 500 dari gapura usang yang  ada di pinggir jalan. Setelah itu, barulah mereka sampai di pedesaan yang ternyata begitu sangat indah. Banyak bunga berwarna-warni yang tertanam di sana. Ada danau sungai kecil yang di atasnya ada jembatan penghubung masuk ke desa. 


"Apakah ketika aku berteriak tadi, suaranya sampai di sini? Ini sangat jauh sekali, loh!" seru Feng berbisik kepada Tama. 


"Mungkin ada penjaga di depan gapura sana. Mana mungkin suaramu terdengar sampai sini. Lihatlah, masih ada suara sungai yang akan membuat suaramu tidak terdengar," sahut Tama. 


"Ahh ... pantas saja, hahaha." kata Feng baru paham. 


Kakek itu membawa mereka bertiga melewati jembatan. Di sungai yang jernih dan mengalir sedikit lambat itu, mereka bertiga bisa melhat banyak ikan di sana. Benar-benar pemandangan yang sangat indah, yang jarang mereka temui di kota besar. 


"Ini rumah dari orang yang kalian cari itu. Kalian bisa mengetuk pintunya dan nanti akan ada orang yang menyambut kalian. Kami permisi dulu," Kakek itu pergi begitu saja. 


"Kakek, kakek!" 


"Kakek, kita masih perlu bantuan kakek!" teriak Xia. 


"Ada apa ini? Aku hanya takut terjebak saja kita di desa ini. Bagaimana jika keindahan desa ini hanya ilusi saja? Persis seperti yang ada di drama kerajaan Tiongkok yang masih aku tonton karena masih on going?" sahut Tama bertanya kepada Feng. 


"Buang pikiran burukmu itu. Ini akibatnya kamu selalu menonton drama kolosal. Aku memintamu belajar bahasa Mandarin itu ya dari guru bahasa. Tapi kenapa malah sok pintar menonton drama seperti itu,hah!" ketus Feng. 


"Kalian berdua ini apakah tidak bisa tenang? Ayo cepat ketuk pintunya, dan kita lihat apakah Asisten Dishi ada di dalam atau tidak." Xia sampai kesal karena Tama dan Feng terlihat tidak serius dalam menjalankan misi mereka. 


Tok ... tok ... tok .....


Feng mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Namun, sama sekali tidak ada yang membukakan pintu. Jika di lihat-lihat, memang rumah yang mereka ketuk pintunya itu adalah rumah paling besar yang ada di desa tersebut. Dari bangunannya saja sudah sangat jelas jika pemilik rumah itu adalah orang kaya. 


"Tidak ada yang membukakan pintu.  Bagaimana ini?" tanya Feng. 


"Coba kau ketuk sekali lagi," jawab Tama. 


Belum sempat mengetuk lagi, pintu sudah di buka. Terdapat dua pria yang ada di balik pintu dengan pakaian yang sama. Tama langsung bisa menebak jika dua pria itu adalah pelayan di rumah tersebut. "Dua pria ini pasti pelayan atau penjaga di rumah ini," bisiknya kepada Feng. 


"Jangan mulai. Kau diam saja, biarkan aku yang bertindak!" ketus Feng, mendorong sedikit wajah Tama. 


Salah satu dari dua pria itu pun bertanya, "Apa kalian yang di bawa masuk oleh Xao Lie dan kakek Wei Long?" 


Feng, Tama dan juga Xia saling menatap bingung. 


"Siapa Xao Lie dan kakek Wei Long? Kami tidak mengenalnya," ucap Xia dengan lantang. "Bahkan kami ha--" ucapan Xia terhenti karena dibungkam oleh Tama. 


"Apa itu nama dari anak kecil dan kakek yang menyambut kami di gapura dan mengantar kami sampai kemari?" tanya Feng kepada dua pria itu. 


Dua pria itu hanya mengangguk, kemudian mempersilahkan mereka masuk. Xia langsung menampik tangan Tama dan memasang wajah kesal. Selalu saja mereka tidak pernah akur, padahal  tinggal bersama. 


"Aku membencimu!" desis Xia, masuk lebih dulu dengan mendorong kecil Tama. 


"Aku lebih membencimu. Dasar beban, menyebalkan dan cerewet sekali!" Tama dibuat kesal. Dia selalu saja mengumpat terhadap Xia karena memang Xia selalu bersikap kurang baik kepada Tama. 


Ketika masuk, kembali mereka bertiga dibuat takjub oleh isi rumah tersebut. Rumah yang begitu luas, terdapat taman bunga dan kolam kecil. Persis seperti yang ada di drama kolosal yang di tonton oleh Tama. 


Apakah memang Dishi ada di rumah tersebut? Di desa terpencil?