
"Ya Allah, kenapa aku …,"
Agam berusaha mengingat waktu semalam. Beruntung ia masih sempat salat subuh, tapi tidak mendapati istrinya ada di rumah. Setelah pulang dari masjid, ia baru menghubungi nomor istrinya. Tetap saja tidak ada jawaban karena nomornya tidak aktif.
"Allahu akbar, dimana dia sebenarnya?"
Ketika ia kembali ke kamar, terlintas melihat secarik kertas di meja samping ranjang. Penasaran, Agam pun mengambil kertas itu dan membukanya.
Setelah membaca dan membaca, raut wajahnya menjadi masam kemudian memejamkan matanya dan beristigfar sembari menyebut nama lengkap istrinya.
"Astaghfirullah hal'adzim. Gwen Kalina Lim binti Yusuf Ali! Ini anak harus aku--" ucapan Agam terhenti kala dirinya menerima telpon dari klien yang hendak membeli bibit tanamannya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, Pak. Tapi nanti yang ngirim santri saya, ya. Hari ini sampai beberapa hari ke depan, kemungkinan saya ada urusan keluarga yang tidak bisa di tinggalkan,"
"Iya, mohon maaf, ya, Pak. Setelah urusan saya selesai, saya akan kabari. Tapi bibit yang Bapak pesan sudah saya siapkan semua, tinggal nanti santri saya yang kirim,"
"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘶𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘦𝘳, 𝘺𝘢. 𝘞𝘢𝘴𝘴𝘢𝘭𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮, 𝘜𝘴𝘵𝘢𝘥𝘻!"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh." tukas Agam mematikan ponsel nya
Agam segera bersiap ke pesantren, menemui santri yang biasanya membantu dirinya menangani pengiriman bibit dan juga ternak. Dengan wajah yang masih masam, Agam berjalan menuju pesantren, sampai-sampai santri putri takut ingin menyapa.
"Assalamu'alaikum, Fajri, Dimas. Tolong kemari sebentar!" panggilnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, njeh, Ustadz,"
"Ada apa, ya?"
"Fajri, tolong kami belikan saya tiket ke Tiongkok, yang tiga jam lagi berangkat, ya. Saya tak siap-siap dulu," perintah Agam.
"Tiongkok luas, Ustadz. Bahkan Hongkong saja masuk ke Tiongkok. Jadi, tujuannya kemana?" tanya Fajri.
"Beijing!" tegas Agam sedikit emosi.
Bagaimana tidak emosi jika istrinya pergi tanpa pamit, memberinya obat tidur dan bahkan perginya di situasi bahaya. Agam juga meminta alamat yang pasti dimana rumah Gwen berada di Tiongkok sana kepada Puspa.
Akan tetapi, yang Puspa tau hanyalah rumah Chen. Jadi ia memberikan alamat rumah Chen supaya Agam bisa bertanya ketika sampai di sana.
"Uang ini mau aku pakai buat beli pot plastik sama benih. Ya Allah, Gwen! Jika kamu pulang ke rumah Ayah mah nggak papa. Tapi ini … Astaghfirullah hal'adzim. Sabar, sabar, ingat pesan Ayahnya Gwen, Agam--"
Sebelum berangkat menyusul sang istri, Agam pergi dulu ke ladang dan juga peternakan. Ia memastikan semuanya aman terkendali sendirinya dirinya kembali nanti.
"Lihat bagaimana aku akan menghukummu, istriku yang katanya imut!" kesal Agam sembari menyetir mobilnya pergi ke ladang.
*
Esok hari di rumah Chen, ia bersiap menuju ke rumah lama kediaman keluarga Lim supaya bisa membantu Gwen mendapatkan adik dan juga anaknya kembali.
"Chen, mau kemana?" tanya Tuan Wang, yang saat itu tengah duduk di ruang tamu bersama dengan Tuang Besar Natt.
"Aku mau ke kediaman lama keluarga Lim. Ada sedikit urusan, ada apa, Ayah?" tanya Chen dengan wajah angkuhnya.
Terpaksa, Chen harus patuh. Ia duduk tepat di depan Tuan Besar Natt. Misi kali itu bukanlah misi berat jadinya jika Gwen ada di kediaman keluarga Lim. Chen memberikan kode kepada Jovan untuk menunggunya di mobil.
"Ada apa, Tuan Besar?" tanta Chen dengan menegakkan badannya.
Sebelum berbicara, Tuan Besar Natt bertepuk tangan. Memuji kehebatan Chen yang dalam waktu dekat sudah bisa bangkit sesaat saham besar di perusahaan cabangnya dicabut.
"Hebat! Hebat sekali!" puji Tuan Besar Natt.
"Terima kasih," ucap Chen dengan aura dingin.
"Tuan Wang, karena hubungan kita kembali membaik, bagaimana jika kita lanjutkan perjodohan anak-anak kita? Bukankah, itu sangat baik? Aku tidak akan memaksa lagi, tapi Chen, tolong temui putriku sekali ini saja, kau pasti akan berubah pikiran nantinya, bagaimana?"
Tuan Besar Natt ini masih saja mendesak Chen supaya mau menikah dengan putri satu-satunya. Chen terdiam saat itu. Baginya, kembali membuka hati itu sangatlah sulit, tapi tiada salahnya jika semuanya harus di coba lebih dulu.
"Tapi, Tuan.. Bukankah memang sejak awal, putrimu ini tidak mau menikah denganku? Buktinya, dia selalu saja kabur di saat Tuan dan Ayahku merencanakan pertemuan?" tanya Chen sembari mengambil teh hijau yang baru saja 1disajikan oleh pelayanan Mo.
"Ah, hahaha. Dia masih anak-anak. Jadi, sangat sulit untuk mengikatnya, Chen. Tapi, jika kamu mau memberinya kesempatan sekali lagi, maka aku akan berusaha menyakinkan dia," tawar Tuan Besar Natt.
Seketika, Chen mengingat akan Puspa. Hatinya masih sakit, membuatnya bersikap seperti dulu lagi. Chen yang acuh tak acuh, sombong dan juga angkuh.
"Ck, sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik, Tuan. Anda hanya akan menyiksa putri Anda sendiri jika menikahkannya denganku," celetuk Chen memejamkan matanya menikmati teh hijau miliknya.
"Tidak begitu. Kau pria yang baik, putriku pasti akan bahagia. Bagaimana, apa kamu akan mencobanya?" Tuan Besar Natt masih saja memaksa.
Suasana hatinya sedang kacau dengan sakitnya di khianati. Tanpa berpikir panjang, Chen pun menerima tawaran dari Tuan Besar Natt dengan mudah.
"Baik, Tuan atur saja semuanya. Jadwal bisa dikirim lewat sepupuku atau asisten pribadiku. Dia baru kembali, aku permisi ada hal yang harus aku lakukan," Chen pergi begitu saja.
"Asisten Dishi, ayo berangkat!" lanjutnya dengan meninggalkan kartu nama Asistennya.
"Baik, Tuan!"
"Ada apa dengan Chen? Aku berusaha membantunya jika dia menolak perjodohan ini. Tapi dia … menerima kencan buta? Apakah dia sehat?" gumam Tuan Wang dalam hati.
Berangkat lagi mereka menuju kediaman lama. Misi kedua ini bukanlah misi berat, namun mencari kedua orang tuanya lah yang berat bagi Chen. Sudah banyak orang yang ia kerahkan, tetap saja belum mendapatkan informasinya.
"Jovan, bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang orang tuaku?" tanya Chen.
Jovan menggeleng. "Lalu, Asisten Dishi …?" lanjut Chen.
"Maaf, Tuan. Belum juga. Kita harus meminta Tuan Willy atau Nona Gwen memerintahkan orangnya, dengan begitu pencarian tidak hanya ada di satu Kota saja," usul Asisten Dishi.
"Tuan, apakah Anda bisa ke kediaman lama hanya berdua? Saya harus mencari Nona Aisyah, Tuan? Saya tidak rela jika dia berlama-lama dengan Raza!" cetus Asisten Dishi cemburu.
"Hadeh, di situasi begini bisa-bisanya kau cemburu?" sahut Jovan.
"Sudahlah, kamu cari saja Aisyah. Aku akan membantu Gwen di sana. Sebab, aku yakin jika Aisyah hanya akan di permainkan oleh Jackson Lim dan juga Ibu angkatku. Terlebih lagi si guru pembimbing pengkhianat itu! Aku benci dia!" sulit Chen.
Jovan menurunkan Asisten Dishi dan segera Asisten Dishi menuju perbatasan. Ternyata, perbatasan yang di maksud Feng itu adalah perbatasan yang sama. Feng juga ada di sekitar perbatasan itu Feng bukanlah di tugaskan oleh negara, melainkan kakeknya telah mengurungnya di sana supaya Feng tidak lagi dekat-dekat dengan Chen dan juga Aisyah. (Hadeh politik)