
"Wah, ternyata memang seperti drama yang aku tonton. Dari luar terlihat biasa saja. Bahkan jika kita melihat gapuranya saja, tidak mungkin jika di dalamnya akan ada tempat seindah ini," gumam Tama takjub.
"Tonton terus saja dramamu itu!" Feng sampai menepuk kening Tama karena muak dengan tingkah Tama.
Mereka di bawa ke ruangan yang mungkin adalah ruang tamu oleh dia pria tadi. Mengapa Feng, Tama dan Xia menganggap ruangan itu adalah ruang tamu? Sebab, banyak kursi dan meja di sana. Rumah itu persis sekali seperti rumah jaman dulu yang dimiliki oleh seorang pejabat tinggi. Bangunan juga masih sangat kokoh, dengan perkiraan harganya sangat mahal.
"Silahkan duduk, saya akan panggilkan dulu majikan kami,"
Mereka bertiga pun duduk sembari melihat-lihat ke seluruh ruangan. Diman ruangan itu terdapat banyak sekali seni yang sangat indah dan tentunya harga pasti sangat mahal.
Tak lama kemudian, datanglah seseorang yang duduk di atas kursi roda. Ya, memang dia adalah Dishi. Dengan luka bekas luka di wajah, yang membuat wajah tampannya sedikit tertutup dengan luka gores tersebut.
"Kalian sedang mencari orang?" tanya Dishi, menemui mereka.
"Asisten Dishi?" Xia memanggil.
Feng, Tama dan Xia pun berdiri. Mereka seolah tidak percaya karena sudah menemukan Dishi hanya dengan waktu kurang dari dua bulan. Xia langsung berlari ke arah Dishi, hendak memeluknya. Sayangnya, wanita yang berdiri di belakang Dishi menghalanginya dengan pedang panjang. Seketika, Xia juga mengeluarkan belatinya karena reflek.
Dishi memutar matanya, kecewa karena Xia masih belum berubah dari sikap gegabahnya. Tak ada cara lain, Dishi pun pura-pura tidak mengingat mereka. "Kalian siapa?" tanyanya.
"Ha?" Xia heran.
"Apa kau tidak ingat kami? Ah, lupakan jika kau tidak ingat denganku. Tapi, bukankah kau kenal lama dengan Feng?" sahut Tama.
"Kak Tama, bisakah bicara dengan bahasa yang orang sini mengerti? Kenapa harus menggunakan bahasa negaramu!" protes Xia.
"Dia paham bahasa yang aku pakai. Jadi aku pikir juga dia masih mengerti, hanya 8 Minggu ilang, masa iya lupa," Tama menggerutu.
Feng melihat tanda yang Dishi berikan. Feng tahu jika Dishi hanya berpura-pura tidak mengenalnya. Tanda selanjutnya, Dishi ingin segera di bawa pergi dari desa tersebut. Dishi mengatakan, jika desa tersebut bukanlah desa yang indah seperti yang terlihat.
"Xia, turunkan senjataku," ucap Feng, dengan nada bicara yang serius.
Perlahan, Xia menurunkan belatinya dengan patuh. "Minta maaf kepada Nona dan Tuan ini, karena kamu sudah bertindak gegabah," lanjut Feng.
"Tapi, kak--"
"Xia ...."
Xia menunduk, kemudian membungkuk meminta maaf. Wanita yang ada di belakang Xia itu sangat cantik, berkulit putih bersih dan wajah sedikit tegas.
"Nona, maafkan adik saya. Usianya baru menginjak 15 tahun, jadi masih membutuhkan banyak bimbingan," ucap Feng dengan lembut.
"Kalian duduk dulu." Kata wanita itu.
Kursi roda Dishi di dorong oleh wanita itu mendekat ke meja. Kemudian meninggalkannya sebentar untuk meminta pelayan melayani mereka. Setelah wanita itu pergi, Tama dan Xia langsung mendekat ke arah Dishi.
"Apa kau lupa denganku? Aku Tama, kakak sepupu iparmu!" seru Tama, seraya berbisik.
"Asisten Dishi, ini aku Xia. Apa kau tidak ingat? Kau boleh tidak mengingat kakak bodoh ini, tapi kau harus mengingatku, aku selalu mengikutimu sejak kecil, bukan? Aku Xia Wa--"
"Cukup, aku tidak mengenal kalian. Bagaimana kalian bisa mengarang cerita seperti itu?" Dishi menyela Xia, karena hampir saja Xia mengungkap identitas dirinya.
Kembali, tangan Dishi memberi isyarat kepada.Feng untuk lebih berhati-hati. Terutama untuk Xia, yang belum bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Xia, dia sakit. Kecelakaan itu begitu besar, mungkin saja dia terbentur atau apa ... jadi tidak ingat dengan kita. Bisakah kamu lebih tenang sedikit, kurangi bicaramu dan tindakan konyolmu itu, paham!" tegas Feng.
"Ada apa dengan Feng? Biasanya dia selalu membela Xia meski pembelaannya ngawur. Kenapa sekarang ...." batin Tama dipenuhi rasa curiga.
Xia pun meminta maaf dengan suara lirih. Dengan wajahnya yang murung, Xia kembali ke tempat duduknya. Merasa tak tega, Tama pun hanya mengusap kepala Xia dengan lembut.
"Kalian siapa, dan siapa yang kalian cari. Untuk apa juga kalian masuk ke desa ini. Apakah kalian tidak tahu tempat apa ini?" tanya Dishi dengan sandiwaranya.
"Apa kau yakin tidak ingat kami?" tanya Feng, juga ikut bersandiwara.
Dishi menggeleng. Feng masih bingung bagaimana cara membawa Dishi keluar dari desa itu. Aksesnya juga sangat jauh dari jalan raya. Belum lagi, mereka datang kesana juga dengan berjalan kaki.
"Hari ini juga, aku harus membawa Dishi keluar. Tapi bagaimana caranya? Jika aku sendiri yang membawa, tidak masalah. Tapi Tama dan Xia ikut serta, bagaimana bisa aku bergerak?" batin Feng, bingung sendiri.
Tidak lama kemudian, wanita yang sebelumnya keluar mendorong kursi roda Dishi keluar bersama dengan beberapa pelayannya dengan membawa jamuan untuk Feng, Tama dan juga Xia.
"Maaf kalian harus menunggu lama. Desa kami sebelumnya tidak pernah menerima tamu, jadi kami masih bingung hendak menjamu kalian menggunakan menu apa," ucap wanita tersebut.
"Kakak, bisakah kau mengembalikan kakakku? Dia adalah kakakku juga, kami tumbuh bersama. Sebelumnya, aku sekolah di luar negeri, aku sedang menempuh pendidikanku, dan mendengar bahwa kakakku mengalami kecelakaan. Aku sudah mencarinya selama 8 Minggu, tapi ... sekarang aku sudah menemukan kakakku, bisakah kakak cantik memperbolehkan aku membawa kakakku pulang?" Xia mulai mengeluarkan jurus wajah dan suara imutnya.
"Jadi dia kakakmu?" tanya wanita itu.
Xia menganggu semangat dengan senyuman manis di wajahnya.
"Tapi dia hilang ingatan, bagaimana bisa dia mengingat jika kau adalah adiknya. Biarkan saja dia di sini bersamaku," jawab wanita itu.
"Rubah sialan!" umpat Xia dalam hati.
Tak ada cara lain, Xia pun akhirnya pura-pura menangis di depan semua orang. Bahkan dia menunjukkan foto dirinya sedang bersama Dishi yang sudah ia edit, dengan memotong foto Chen di dalamnya.
"Lihatlah, aku dan dia memang adik kakak. Mengapa anda tidak percaya? Kami juga punya keluarga di rumah yang masih menunggu. Kak Tama, dia merebut kakak lelakiku, Hua ...."
Xia sampai mengelap ingusnya ke tangan Tama. Membuat Tama sedikit kesal dan langsung menepisnya dengan pelan. "Apa ini? Dia sengaja mengelap ingusnya ke tanganku? Menjijikkan!" kesalnya dalam hati.
Wanita itu tetap tidak mau memberikan izin mereka membawa Dishi meski bukti memang sudah mengatakan bahwa Dishi adalah orang yang mereka cari.
"Aku akan bicara berdua dulu dengannya. Kalian nikmati saja dulu hidangan yang sudah aku siapkan, permisi."
Dengan cepat, wanita itu membawa Dishi kembali masuk. Sementara itu, Feng tetap meminta Tama dan Xia untuk memakan apapun dari hidangan yang wanita itu siapkan.