
"Saya ke toilet dulu, kamu jangan kemana-mana!" Pak Raza meninggalkan Gwen di luar toilet.
"Hati-hati, jangan salah pilih toilet, Guru pembimbing!" teriak Gwen dengan tawa mengejek.
Ketika Gwen membalikkan badannya, tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang lelaki berpostur tinggi. Tasnya terjatuh, dan lelaki itu malah menyalahkannya.
"Aw," jerit Gwen.
"Aduh, tas kamu ini isinya apa? Bisakah kau berjalan dengan melihat jalan? Dimana matamu? Kau mengotori bajuku!" bentak lelaki itu.
"Woy!" teriak Gwen. Tatapan matanya sangat tajam dengan tangan mengepal mengarah wajah lelaki itu.
Namun, hal tak terduga terjadi. Lelaki itu adalah Chen, Chen Yuan Wang, kakak kandungnya yang selama ini ia cari. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak saling mengenal karena sebelumnya memang belum pernah melihat wajahnya satu sama lain.
"Cowok ini, cowok yang pagi tadi buka, sih?" gumam Gwen dalam hati.
"Lihat, bajuku kotor. Aku akan ada pertemuan malam ini, dan kau mengotori bajuku? Katakan, kau ingin mati dengan cara seperti apa?" kesal Chen merapikan bajunya.
Mereka mulai saling bertengkar. Chen yang tak terima bajunya kotor, lalu Gwen yang tak terima dengan tawaran cara mengakhiri hidup dari Chen. Bagi Gwen, perkelahian adalah kebanggaannya, ia menantang Chen untuk beradu dengannya.
"Maaf, Tuan. Sebaiknya kita segera pergi, Tuan Wil sudah menunggu kita," Asisten Dishi mereka pertengkaran mereka.
"Kau lolos kali ini. Lihat saja, jika aku bertemu denganmu lagi, tak ada lain kali, aku akan membunuhmu saat itu juga. Paham?" hardik Chen meninggalkannya.
Bahu Chen menyenggol bahu Gwen. Saat itu juga mereka merasakan ada sesuatu di hati mereka. Air mata mulai menetes di pipi masing-masing tanpa sebab.
Sementara itu, Gwen juga bingung kenapa dirinya meneteskan air mata. Padahal, ia sedang mengalami emosi kemarahan yang tak terkendali.
"Maaf lama, tadi aku sa--" ucapan Pak Raza terputus ketika melihat air mata yang mengalir di pipi Gwen.
"Hey, kamu menangis? Ada apa? Ada yang memerasmu, mengejekmu karena kamu kecil, atau kamu di rampok?" pertanyaan Pak Raza malah semakin membuat Gwen kesal.
"Woy lah! Seorang putri mafia mana mungkin diperas, diejek bahkan di rampok. Ya kali, lain kali nebak yang berkelas dikit ngapa, Pak Raza!"
Kesal, Gwen pun berjalan dengan cepat dan duduk di sebuah kursi yang ada didepan sebuah toko buku. Ia mengeluarkan belatinya dan membunuh tikus yang saat itu keluar dari sebuah lubang.
Dengan satu bidikan, belati itu mengenai tepat di perut tikus itu. Seketika, tikus itu mati di tempat. Terdapat racun pada belati milik Gwen itu.
"Astaghfirullah hal'adzim," sebut Pak Raza terkejut.
"Pastikan tikusnya masih di situ. Aku akan beli alkohol dulu untuk mencuci belatiku," tegas Gwen, ia pergi ke sebuah apotek yang ada di dekat sana.
Pak Raza terdiam, ia tidak mengerti lagi dengan sikap Gwen. Terkadang, Gwen terlihat sangat manis dimatanya, terkadang juga Gwen terlihat menyeramkan dipikirannya.
"Sebenarnya, aku terlihat di keluarga jenis apa ini?" gumam Pak Raza. "Satu lagi sebagai Dokter galak banget, satunya lagi katanya putri mafia? Aku makin penasaran dengan keluarga ini." lanjutnya.
Tak lama kemudian, Gwen kembali membawa dua botol alkohol dan juga air mineral untuk mencuci belatinya. Sementara Pak Raza masih diam seribu bahasa mengamati Gwen dengan tatapan yang dalam.
Typo buanyak amat di novel ini. Maaf, ya.