Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ngidam Telur Puyuh



"Benarkah? Mas Tama mau datang?" Gwen begitu girang. 


"Iya, Mas Tama-mu akan datang. Tapi, katanya akan sedikit terlambat karena masih ada pengiriman," jawab Agam. 


"Asha!"


Senyum Gwen, seketika membuat rasa kesal Agam runtuh. Agam memeluk sangat istri penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Gwen yang senang karena Tama akan datang. 


Usai makan siang, Agam kembali berangkat bekerja. Masih banyak pekerjaan yang telah menantinya. Agam berpesan kepada Gwen, untuk tidak menghiraukan Syifa ketika nanti datang lagi. 


"Dengar apa yang Mas bilang, 'kan?" tanya Agam. 


"Iya, Mas. Denger kok aku," jawab Gwen. 


"Apa coba?" 


"Kalau si ulat bulu datang lagi, diharapkan aku tidak terpancing emosi dan jangan sampai dia tau kalau aku hamil," ungkap Gwen. 


"Lalu?" sambung Agam. 


"Jangan dihiraukan, karena pada dasarnya, percaya pada pasangan itu jauh lebih baik daripada percaya dengan omongan orang lain yang belum tentu benar," lanjut Gwen


"Alhamdulillah, Mas berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum," pamit Agam. 


"Wa'alaikumsallam, hati-hati!" ucap Gwen seraya mencium tangan suaminya. 


Namun, Gwen juga bertanya dalam hati. Orang lain yang baik, tentunya akan memberikan informasi yang baik. Begitu juga dengan hubungan yang terkadang sudah tak ada lagi rasa percaya. Pasti hanya akan saling menyakiti. 


"Hih, aku mikir apaan dah! Beban aja! Mending buat desain, mayan dapat duit," gumamnya, masuk ke rumahnya. 


Semenjak hamil, Chen meminta Gwen untuk fokus dengan desain yang akan di luncurkan untuk pameran. Itu akan membuat Gwen sibuk dengan dunianya, dibanding sibuk dengan Syifa yang hadir kembali tanpa ada kejelasan. 


"Aku harus menggambar apa, ya? Temanya musim semi, jadi harus gambar antara bunga atau hewan gitu," Gwen mulai berpikir. 


Tak lama kemudian, Gwen menginginkan sesuatu yang tiba-tiba muncul dipikirannya. Ia segera menelpon Agam yang mungkin baru saja tiba di tempat ia kerja. 


"Assalamu'alaikum, Mas, udah sampai?" tanya Gwen.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, nih Mas baru sampai. Ada apa, Dek?" 


"Um, aku pengen sate telur puyuh angkringan. Mas bisa beliin, nggak? Sekarang tapi--" kata Gwen. 


"Ha? Sekarang? Mana ada warung angkringan yang buka di jam 1 siang, Sayang," ucap Agam heran. 


"Ya … Aku mau itu. Pokoknya beli di angkringan, nggak boleh beli di pasar atau di warung biasa. Harus di angkringan! Assalamu'alaikum!" Gwen langsung menutup teleponnya. "Hih, udah dibilang sekarang, masih aja ngeyel!. Mas Agam nyebelin!" umpatnya. 


Di sisi Agam, ia sedang bingung harus mencari dimana makanan yang dimaksud istrinya. Di sekitar Jogja, angkringan akan buka sekitar jam empat sore. 


"Astaghfirullah hal'dzim," sebut Agam, dengan menepuk keningnya sendiri. 


"Harus cari dimana? Angkringan mana ada yang buka di jam segini?" gumamnya dengan kepala yang mulai pusing.


Sebelum mencari apa yang istrinya inginkan, Agam meminta beberapa santri yang menjadi karyawannya untuk menjaga toko hari itu sampai tutup. 


"Loh, Ustadz mau kemana?" tanya salah satu santri. 


"Saya mau cari angkringan yang sudah buka," jawab Agam, nampak tertekan. 


"Ha? Allahu Akbar, mana ada angkringan jam segini buka, Ustadz?" 


Beberapa santri di sana ikut mencari tahu angkringan mana yang sudah buka. Agam segera pergi sebelum Gwen mulai menelponnya lagi. Mulai dari tempat biasa yang ia kunjungi, sampai ke berbagai tempat, tetap saja Agam tidak menemukan apa yang dicarinya. 


"Sudah hampir ashar, sebaiknya aku bersiap shalat dulu. Tak cari mushola atau masjid dulu lah," gumamnya. 


Di Jogja, ashar di jam setengah empat. Masih ada waktu lagi, sampai angkringan buka. Ia terus mencari lewat sosial media, dimana dirinya harus mencari angkringan yang sudah buka. 


"Assalamu'alaikum, maaf Mas. Saya mau ambil sandal saya," seorang remaja mengagetkan Agam yang sedang sibuk dengan ponselnya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Oh, iya. Maaf, nggeh Mas," ucap Agam gugup. Bagaimana tidak gugup jika Gwen telah mengirim pesan sebanyak 50 kali dan panggilan tak terjawab sebanyak 20 kali. 


Remaja itu menduga jika Agam sedang dalam keadaan tidak baik. Ia pun bertanya, "Ada apa, Mas? Kok, seperti sedang ada masalah begitu. Maaf kalau saya ikut campur,"


Agam hanya tersenyum. Kemudian berpikir sejenak, mendapatkan ide untuk bertanya dimana rumah penjual angkringan di dekat masjid tersebut yang biasa mangkal di depan masjid. 


"Loh, Mas nanyain angkringan di jam segini. Mana belum ada yang buka, Mas," ujar remaja itu. 


"Istri saya ngidam sate telur puyuh. Istri saya itu juga minta kalau saya harus beli di angkringan, bukan di pasar atau warung biasa," jelas Agam. 


"Hoalah, nuruti istri ngidam to? Gampang itu, Mas. Ayo, ikut saya ke rumah. Kebetulan, yang sering jualan di depan masjid ini, ya bapak saya, hahaha," kata remaja itu, seraya tertawa renyah. 


"Beneran? Bapak Masnya yang jualan to?" tanya Agam, sedikit bercahaya wajahnya, karena menemukan cahaya ilahi. 


"Tentu, Mas. Kebetulan rumah saya juga ndak jauh kok dari sini. Hanya di belakang masjid ini saja!" seru remaja itu. 


Sekilas, wajah yang baru saja disinari oleh cahaya ilahi itu kembali redup. Teringat akan peringatan uang Gwen berikan untuk membelinya di angkringan. 


"MasyaAllah, saya baru ingat!" 


"Apa itu, Mas?" tanya remaja itu. 


"Istri saya berpesan, kalau saya tidak boleh beli yang bukan dari angkringan. Bagaimana dong? Bapaknya Mas, buka dari jam berapa, sih?" ungkap Agam.


"Mas, tak kasih tau. Mas beli di bapak saya, dengan beli di angkringan itu sama saja. Sama-sama beli dari penjual angkringan. Tetap Mas-nya benar!" jelas remaja itu. 


"Kuy, ke rumah!" ajak remaja itu dengan semangat. 


Tak ada lagi alasan untuk menolak. Apa yang dikatakan remaja itu ada benarnya. Daripada menunggu sampai satu jam, Agam nantinya akan beli di orang yang sama. Agam pun menurut dan mengikuti langkah remaja yang mengajak ke rumahnya. 


Memang tak jauh dari masjid yang sebelumnya Agam untuk shalat. Rumah remaja itu persis di belakang masjid dan ada gerobak angkringan di depan rumahnya. 


"Nah, itu gubuk orang tua saya, Mas. Lalu, itu gerobak angkringannya. Nggak bohong to saya? Ayo, kita temui bapak dan emak. Beliau pasti sedang siapa-siapa buat dagang nanti." 


Remaja itu mengucapkan salam sebelum dekat dengan pintu rumah. Terdengar sahutan salam pria dan wanita dari dalam sana. 


"Wa'alaikumsallam, wes bali koe, Nang?" teriak seorang wanita. (Sudah pulang kamu, Nak. (nang, itu anak lanang, anak laki-laki) 


"Sudah, Buk. Buk, kesini to. Ada tamu yang mau bicara penting!" ucap remaja itu sembari cengegesan. 


"Penting opo?" sahut Ibunya. 


"Halah wes, pokokke penting! Kesini sebentar lah!" 


Tak lama kemudian, kedua orang tua dari remaja itu keluar. Masih terlihat berantakan karena memang belum mandi, setelah masak untuk berdagang nanti. 


Agam berkenalan dengan kedua orang tua dari remaja itu dan menceritakan apa yang ia alami. Istri yang ngidam dan ngeyel terus untuk dibelikan sate telur puyuh sampai mengirim pesan sebanyak 70 kali itu saat itu. 


Selain mendapat telur puyuh gratis, Agam juga mendapat ilmu baru dari kedua orang tua remaja itu untuk memuliakan istrinya di kala sedang hamil. (Ngaku yang dulu pas hamil manja bener ama suami)