Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kejahilan Gwen



"Huh, huh, ada apa dengannya? Apa dia sudah gila? Pasti kepalanya terbentur, makanya dia gila!" Chen sampai terengah-engah karena berlari menghindari istrinya. 


Di saat Chen mengantar napas, datanglah direktur Liu. "Tuan, sepertinya Anda sedang tidak baik-baik saja. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, berharap Chen menerima bantuannya.


Setelah kembali cool, Chen menjawab dengan memalingkan mukanya. "Tidak perlu!" jawabnya, kemudian pergi begitu saja. 


"Sial! Kenapa Tuan Muda ini sangat susah di layani?" umpat direktur Liu kesal. "Lihat saja nanti, aku pasti akan membuat Tuan Muda yang satu ini, bertekuk lutut padaku!" serunya, mulai berkhayal. 


Selang beberapa menit, keluarlah Lin Aurora dari ruangan Chen dengan sampah yang di tentengnya. Lin berjalan dengan sedikit lesu karena memang sedang tidak semangat bekerja. "Office girl, si pembuat masalah. Mengapa kamu keluar dari ruangan Tuan Muda?" tanya direktur Liu penasaran. 


"Beres-beres," jawab Lin Aurora menunjukkan sampah di tangannya. 


"Sekian banyak office girl dan boy, kenapa harus kamu? Apakah tidak ada yang lain lagi? Melihatmu hanya membuat nasibku selalu sial saja!" ketus direktur Liu dengan sinis. 


Direktur Liu meninggalkan Lin Aurora begitu saja sembari bergumam jika dirinya ingin membuat Chen jatuh cinta padanya. "Kau pikir kau siapa? Bisa-bisanya berencana membuat suami orang jatuh cinta!" Lin Aurora bergeming, berjalan terburu-buru hendak membuang sampah. 


********


***


Gwen Kalina Lim, wanita yang tengah hamil tujuh bulan ini juga sedang dalam keadaan gelisah. Suaminya sedang pergi ke luar Kota selama tiga hari. Ia bersama dengan beberapa santrinya di rumah dengan perasaan menahan rindu terhadap suaminya. 


Saat itu musim hujan. Suara hujan yang turun deras di halaman rumahnya membuat Gwen Kalina Lim semakin merindukan suaminya. Datanglah seorang tamu yang tidak di undang dan tidak pernah Gwen harapkan. Yakni, Syifa. 


Syifa ini sangat sulit untuk melakukan kewarasan. Pikirannya hanya tertuju kepada Agam dan Agam saja. Padahal, sering kali Agam menghukumnya sampai pernah masuk penjara karena kejahatannya yang dilakukan terhadap Gwen. Tetap saja,Syifa tidak pernah belajar dari kesalahannya. 


"Assalamualaikum! Gwen, buka! Aku mau neduh!" teriaknya sembari menggedor pintu berkali-kali. 


Meski sudah berkali-kali Syifa mengetuk pintu, Gwen enggan membukakan pintu untuk gadis yang selalu membuat otaknya mendidih. Menangani Syifa, bagi Gwen adalah kesalahan paling terkonyol. Maka dari itu, Gwen lebih memilih cuek dan kembali menutup telinganya menggunakan headset. 


"Sial! Dia mengabaikanku!" Syifa mengumpat. 


"Gwen, buka!" teriaknya sembari menggedor-gedor pintu lagi. 


Tetap saja Gwen masih nyaman di kasurnya. Sembari mendengarkan musik dan mengusap perutnya, Gwen juga sedang asik memanjakan mata dengan menatap foto-foto makanan yang dikirim oleh Ayahnya. 


"Haih, Ayah ini. Seharusnya dia sudah istirahat di rumah. Kenapa juga masih, masak dan masak terus. Karyawannya kan juga udah banyak, kurang apa lagi coba?" 


Meski sudah berulang kali ketiga anaknya menginginkan Yusuf istirahat, tetap saja Yusuf tidak mau melakukan itu. Baginya, memasak adalah hobi yang membuatnya bahagia. Dengan memasak dan membuat resep baru, di nikmati berdua dengan sang istri akan membuat terciptanya kebahagiaan tersendiri. 


Apalagi, saat itu baby Rifky sudah ada yang mengurusnya. Ayyana sangat menyayangi adik kecilnya itu. Makanya, dia yang selalu merawat baby Rifky karena putranya sudah besar. 


Syifa masih berusaha untuk masuk. Tiada hari baginya menganggu Gwen. Masih tidak menyerah akan cintanya dan tidak terima jika Gwen akan memiliki anak dengan pria yang dicintainya. 


Setelah fitnah tentang bukti transferan Ustadz Khalid kepada Gwen, perlakuan Agam kepada Syifa juga sangat berbeda. Biasanya, agama Sehun menyapa dan juga mengajaknya mengobrol ketika Syifa main ke rumahnya. Tapi setelah kejadian itu, ketika Syifa datang, jangankan untuk menyapa. Bertemu saja, Agam selalu menghindar dari Syifa. 


Tak di bukakan pintu, Syifa tetap saja duduk di depan rumah. Sampai Gwen ketiduran, Syifa masih di luar ditemani hujan deras yang disertai angin kencang dan petir. Tiba dimana, Agam pulang bersama dengan beberapa santrinya. 


Saat itu, hujan sudah turun. Agam mengajak beberapa santrinya itu untuk ke rumahnya sebentar menghangatkan badan dan berbincang tentang pekerjaan. Ketika sampai di depan pintu, mereka melihat Syifa yang kedinginan sendirian. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"


"Ustadz Agam? Kamu sudah pulang?" sapa Syifa dengan menggigil. 


"Iya, kamu ngapain ke sini?" tanya Agam sedikit menjauh dan menjaga pandangannya.


Belum menjawab apapun, Syifa sudah pingsan lebih dulu. Beberapa santri menjadi ketar-ketir karena tidak ada yang mau menyentuh Syifa. Bukan apa-apa, hanya saja mereka sungkan dan takut berdosa jika menyentuh yang bukan mahramnya. 


"Haduh, dia pingsan.  Bagaimana dong?" 


"Ustadz, Anda saja yang memapahnya," 


"Tidak, ada istriku di dalam. Aku tidak mau sampai dia terluka, apa lagi kalian tahu sendiri jika istriku dan Syifa ... hah, kalian saja yang angkat. Aku akan bukakan pintunya," Agam pun tidak mau mengangkat. 


Bukan hilang kemanusiaan, hanya saja Syifa selalu memanfaatkan keadaan dan Agam malas untuk meladeninya. Agam selalu menghindarinya, namun Syifa tidak pernah sadar akan itu. Para santri pun mengangkat tubuh Syifa dan membawanya masuk. 


"Aku akan menemui istriku dulu. Salah satu dari kalian bisa panggilkan santriwati yang piket untuk membawakan minuman dan makanan untuk Syifa. Sekalian diminta datang untuk merawatnya,"perintah Agam. 


"Baik, Ustadz," ucap salah satu satri tersebut. 


Agam masuk ke kamarnya dan melihat sang istri tengah tertidur. Agam mengucapkan salam, bersih-bersih badan dulu dengan mandi dan mengganti pakaiannya. Kemudian baru membangunkan sang istri dengan satu kecupan di pipi. 


CUP!


"Assallamu'alaikum," salam Agam sembari melepas headset di telinga istrinya. 


"Sayang, bangun yuk. Sudah sore, loh. Kamu sudah salat ashar belum?" 


"Sayang ... bangun, yuk!" 


Dengan kelembutan sang suami, Gwen pun akhirnya terbangun. Agam mengucapkan salam lagi dan Gwen membalasnya dengan senyuman. Tak lupa Gwen juga mencium tangan suaminya. 


"Mas sudah pulang? Kok, aku tidak dengar Mas pulang, ya? Sudah wangi juga, sudah mandi, ya?" tanya Gwen menyentil dagu suaminya. 


"Kamu kan lagi hamil, jadi Mas juga harus jaga kebersihan diri. Kita tidak tahu apa yang menempel di pakaian kita ketika bepergian, 'kan?" 


Mereka malah mesra-mesraan, sampai lupa jika di luar sedang tidak baik-baik saja karena Syifa pingsan. Di saat mengobrol mesra, salah satu santri mengetuk pintu dan mengatakan jika Syifa sudah siuman. 


"Assallamu'alaikum, Ustadz. Maaf mengganggu sebentar. Saya hanya mau mengatakan jika Mbak Syifa sudah sadar. Saat ini sedang mencari Anda, Ustadz," ucapnya. 


Gwen menatap Agam. Teringat jika memang Syifa sejak hujan deras tadi sudah datang dan mengetuk pintu dengan keras. Hanya saja, Gwen tidak ingin menggubrisnya. "Aku pikir, dia akan menyerah dan pulang. Tidak kusangka jika dia tetap tinggal," ucap Gwen dengan suara lirih. 


Agam mengajak Gwen untuk keluar menemui Syifa. Bagaimana juga, Syifa sudah terlanjur masuk ke rumah. Jadi, sebagai tuan rumah, Gwen harus menemui tamunya. 


"Aku aslinya tidak ingin julid seperti pembaca Novel triplets last mission yang menggunakan fake aku yang mengatai authornya buruk. Tapi karena aku baik hati seperti authornya, jadi aku mau menemui Syifa," ujar Gwen, turun dari ranjangnya.