Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Asisten Dishi



Sesampainya di kediaman nanti klasik milik Tuan Wang, mereka telah disambut baik oleh Nyonya kedua di keluarga itu. Nyonya kedua sangat ramah, tidak dengan Cindy dan anak perempuannya. Mereka memasang wajah masam yang membuat Gwen saja ingin menendangnya jauh-jauh.


"Dih, mukanya pengen ane tonjok! Terutama tuh emak anak satu, gitu amat wajahnya!" seru Gwen dalam hati. 


"Apa itu kedua adik Kakak? Tidak, akulah adiknya, siapa mereka? Mereka tidak ada bersama Kak Chen selama ini, jadi Kakak hanya milikku!" dengus Xia dalam hati. 


Tatapan Gwen dan Xia menandakan simbol peperangan batin diantara keduanya. Gwen sangat tidak menyukai keberadaan Xia, begitu juga dengan Xia yang membenci Gwen dan Aisyah.


Tuan Wang dan Nyonya kedua menyambut mereka bertiga dengan ramah. Tuan Wang yang selama ini terkenal sekali dengan kekejamannya di dunia hitam, bahkan beliau mampu tersenyum kepada Gwen dan Aisyah. 


Usai berbagi kamar, istirahat sebentar, mereka memutuskan untuk berbincang di ruang tengah. Tuan Wang meminta Aisyah dan Gwen berhenti memanggilnya Tuan, dan segera memanggilnya Ayah juga, seperti Chen memanggil dirinya. 


"Tuan, maaf jika kami lancang. Bukan maksud kami menolak, tapi kan Tuan ini Ayah-nya Kak Chen. Bagaimana mungkin, kami bisa menyebut anda dengan sebutan ayah," ucap Aisyah dengan tutur lembutnya. 


"Kalian adik kandung dari putraku, bukan? Maka, adik dari putraku ya tentunya adalah putriku juga. Aku akan jauh lebih senang jika kalian bisa memanggilku dengan sebutan Ayah, dan begitu juga memanggil Nyonya kedua dengan sebutan Ibu," pinta Tuan Wang sendiri. 


"Apa? Tuan Wang, kenapa anda seperti ini? Kenapa dengan mereka, anda mau di panggil dengan sebutan Ayah, sedangkan dengan putriku … bahkan anda menolak mengakuinya," protes Cindy. 


"Ya karena Xia bukanlah putri kandungku. Aisyah dan Gwen adalah adik dari putraku, maka dari itu, mereka adalah putri-putriku juga, bukan? Dimana letak kesalahanku?" tegas Tuan Wang. 


"Mampus! Ngadi-ngadi, sih, lu. Kena karma kan lu. Nenek lampir!" umpat Gwen dalam hati.


Setelah drama Cindy dan pertemuan itu, malamnya Chen mengajak Aisyah, Gwen dan juga Rasa ke restoran bertemu dengan Feng. Lelah dan letih tak mereka rasakan, karena kerinduan yang terdalam menyelimutinya. Sementara itu, Xia yang tak ingin sang kakak direbut, ia membuntuti mereka sampai ke restoran dimana mereka melakukan perjanjian dengan Feng. 


"Heh, ngapa nih bocil ngikut dimari?" keluh Gwen. 


"Tau nih, dia bisa bahasa Inggris nggak, sih?" sahut Aisyah. 


"Entah," jawab Chen singkat. 


"Aku tau kalian mengumpat karena aku. Katakan, apa yang kalian katakan dalam bahasa Inggris! Kalian kira aku ini bodoh, hah!" sulut Xia. 


Namun, semua orang mengabaikannya. Benar-benar mengabaikan sampai Aisyah yang lembut hatinya, sama sekali tidak menghiraukannya. 


Sesampainya di restoran, Feng ternyata sudah memesan makanan untuk mereka. Malam itu, Feng sengaja bertukar shift dengan rekannya, agar bisa datang menemui sepupunya. 


"Koko!" teriak Gwen. 


Dari kejauhan, Feng melambaikan tangannya. Segera Gwen berlari ke meja yang sudah dipesan oleh Feng. 


"Eh, Pak Raza. Ternyata juga ikut, toh. Bertemu lagi kita," sambut Feng menyalami Raza. 


"Alhamdulillah, diberi kesempatan lagi bisa bertemu dengan Pak Dokter," jawab Raza dengan senyuman ramahnya.


"Selama malam semuanya. Selamat malam Tuan, maaf saya terlambat," sapanya. 


"Ini … serius Asisten Dishi?" tanya Aisyah. 


"Salam, eh, Assallamu'alaikum dokter Aisyah," suara lembut Asisten Dishi rupanya mampu mengalihkan dunia Aisyah. 


"Wa'alaikum, Asisten Dishi." jawab Aisyah.


Aisyah pun oleng dari Raza kepada Asisten Dishi. Memang sejak awal juga, Aisyah selalunya cocok dengan Asisten Dishi. Asisten Dishi sangat lembut dan perhatian kepada Aisyah saat mereka masih di Thailand tiga bulan lalu. 


"Duduk, aku sudah memesan makanan untuk kalian semua." Feng menyambut tamunya dengan hangat kecuali kepada Xia. 


Benar-benar saat  itu Xia diabaikan oleh semua orang. Hubungan antara Feng dan juga Chen juga membaik. Mereka tak lagi dalam dendam apapun, karena orang tua Feng selalu mengatakan jika Chen adalah saudaranya. "Pandanglah Chen itu sebagai anak dari Paman Yusuf yang sholeh, bukan dari keluarga Wang yang selalu membuat keonaran kepada keluarga Han." petuah yang dikatakan oleh Hamdan dan Yue setelah Feng mengatakan bahwa Chen telah kembali dan menemukan keluarga kandungnya. 


Aisyah, Asisten Dishi dan juga Reza sedang bertukar pikiran. Sementara anak gadis bungsu yang nakal masih terpikirkan akan lamaran seorang ustad pagi tadi. Ia terus menatap layar ponselnya, berharap jika Agam tidak sedang bercanda dengannya. 


Namun, tak lama kemudian, Agam mengirim pesan dan ingin bertemu dengannya esok hari. Serta membahas rencana bertemunya Gwen dengan Ibu dan adik perempuan Agam di rumah sakit ternama di Beijing. 


"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabbarokatuh. Dek, maaf ya, saya baru hubungi kamu. Seharian ini saya sibuk mengurus Ibu. Jika besok tidak ada halangan, mari kita bertemu dan berkenalan degan Ibu dan adik saya. Bisakah? Saya harap saya tidak terlalu memaksamu, Dek. Saya tunggu jawaban kamu, ya."


"Buset, dia manggil ane dengan sebutan, dek? Seromatis itu kah dia?" gumam Gwen dalam hati. 


Melihat Gwen senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya membuat Aisyah menebak jika itu adalah pesan dari Agam, ustadz milenial yang tiba-tiba melamar adiknya. Sengaja Aisyah tak ingin membahas karena takut merusak suasana pertemuan persaudaraan itu. 


Kejadian selanjutnya membuat semua orang terpana. Saat pelayan membawa makanan pesanan Feng, Xia sengaja mengulurkan kakinya agar pelayan itu jatuh. Mangkuk dengan kuah panas yang dibawa pelayan itu sudah Xia pikirkan akan jatuh mengenai Aisyah. Dengan itu, Xia akan puas membuat Aisyah kesakitan. 


"Awas, dokter!" teriak Asisten Dishi menghalangi kuah panas itu menggunakan punggungnya. 


Reflek, Feng menodongkan pistol, Gwen dan Chen menodongkan belatinya juga kepada pelayan tersebut. Pelayang itu sampai ketakutan hingga kakinya lemas tak berdaya. Asisten Dishi mencoba menahan sakitnya dari kuah panas tersebut. 


"T-Tuan, Nona, saya salah, tapi Nona ini dengan sengaja menjulurkan kakinya. Saya, S-saya salah, tolong jangan bunuh saya." pelayan itu menunjuk Xia. Chen dan Gwen menatap Xia dengan tatapan mematikan.


Bagaimana tidak lemas sang pelayan. Satu pistol dan dua belati tengah diarahkan ke kepalanya dan lehernya. Sang Manager restoran datang dan menangani semuanya. Sementara itu, Aisyah membawa Asisten Dishi ke toilet agar Asisten Dishi bisa ganti baju. 


"Tunggu, aku yang akan obati dia. Kamu, duduk dan makanlah. Mari Asisten Dsihi!" seru Feng menarik lengan Asisten Dishi. Feng lakukan itu, karena memang tidak seharunya Aisyah yang melakukannya selagi dirinya ada di sana. 


Aisyah menurut saja. Chen marah dengan Xia. Takut Chen berbuat nekat, akhirnya Raza mengajak Chen untuk keluar sebentar. Mereka berbincang mengatasi maslah Xia ini supaya tidak ada kejadian untuk yang kedua kali. Juga berbicara baik-baik dengan Manager restoran. 


Lalu, apa yang dilakukan oleh Gwen dan Aisyah di saat semua meninggalkan mereka bersama Xia? Oh, Asisten Dishi keren banget.