Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Racun Xia



Perkelahian antara penjaga dan juga Chen serta Jovan tak mampu di hindari. Mereka sibuk berkelahi dan Gwen sudah hampir sampai di kamar Jackson Lim. 


"Xia, ini kamar Ibumu dengan Jackson Lim. Aku akan masuk, kau cari dimana keponakan dan adikku berada, bisa?" ucap Gwen serius. 


"Bisa, aku akan lakukan itu untukmu, Kak. Sebelum itu, berikan ini dulu kepada mereka, ini racun yang selalu Ibuku … Ah, bukan! Wanita itu selalu memberikan racun ini dalam liontin kalung yang aku pakai," Xia melepas kalung itu, memberikan kepada Gwen. 


"Racun apa ini?" tanya Gwen curiga. 


"Itu bukan sembarang racun. Racun ini tidak mematikan, tapi jika ini di suntikkan di nadi seseorang, maka setiap dua minggu sekali, seseorang itu akan merasa kesakitan. Kakak bisa memakainya untuk mereka berdua, lalu biarkan mereka kabur,"


Tak heran jika Xia sangat cerdas. Semenjak ia jatuh hati kepada kakaknya sendiri, dia selalu belajar dengan giat untuk menjadi yang terbaik. Sayang, hasutan Cindy membuatnya terlihat seperti orang jahat.


Tok, tok, tok. 


"Selamat pagi, Paman. Selamat pagi, mantan Nyonya Wang," sapa Gwen sembari mengetuk pintu. 


"Kamu…?" Cindy benar-benar kesal dibuatnya. Gwen sangat suka bermain dengan Cindy yang seluruh gampang terpancing emosi. 


"Cepat cabut belatimu, atau aku akan menghancurkannya!" perintah Jackson Lim. 


"Uwu, jadi takut. Paman, kamu jangan galak-galak dong kepadaku yang imut ini, hm?" goda Gwen. 


"Persetanan apa ini, Gwen!" teriak Cindy. 


"Cindy! Diamlah!" bentak Jackson Lim. 


Memang tak perselisihan diantara Jackson Lim dan juga Gwen. Musuhnya hanya Rebecca saja. Sementara Cindy, ia memusuhi semua keluarga yang menjadi keluarga Rebecca maupun Yusuf. 


Gwen mendekati Jackson Lim dan perlahan mulai mencabut belati miliknya yang masih menancap di lengannya. "Bertahan, Paman. Ini tidak akan sakit jika kau mampu menahannya. Tapi, jika memang sangat sakit sehingga membuatmu lemah, maka kau boleh berteriak," 


Ucapan Gwen malah semakin membuat Cindy dan Jackson Lim kesal. Mereka menilai Gwen ini sulit diajak serius. Perlahan, Gwen menarik belatinya. Darah mengalir begitu saja, sesaat belati itu terlepas dari kulit Jackson Lim. Bersamaan pula, Gwen menyuntikkan racun yang Xia berikan. 


"Heh, aku dapat suntikan ini dari mana? Oh, aku dapat dari author. Tenang saja, ini dunia halu, jadi apa sih yang tidak mungkin," gumam Gwen dalam hati. Masih bingung mengapa ia memiliki suntikan di dalam sakunya. 


Semua itu pemberian Xia. Xia lah yang membantu aksinya agar lancar. "Aduh, apa yang kau suntikan ini!" sentak Jackson Lim. 


"Allahu Ya Rabb, ini hanya penawaran agar racun yang di belatiku tidak menyebar, Paman. Tenang saja, aku tak sejahat dirimu, oke? Rileks," celetuk Gwen menyembunyikan senyum jahatnya. 


Setelah selesai dengan Jackson Lim. Gwen mendekati Cindy. "Mantan Nyonya Wang, jika kamu menjadi orang baik, maka kamu tidak akan kesulitan seperti ini," ucapnya. 


"Punya penyakit hati, dendam dan juga iri itu tidak baik. Akan merugikan diri sendiri, apa mantan Nyonya Wang ini, enggan bertaubat?" lanjutnya dengan langkah semakin mendekati Cindy. 


"Cuh!" Cindy meludah. "Ini semua salah Ibumu, dia merebut pria yang aku cintai. Jadi, apa salahnya jika aku memperjuangkan cintaku?" ketusnya.


"Heleh, cinta, cinta, cinta. Pangan opo! Sudahlah, lupakan Ayahku yang tampan itu. Carilah yang baru, supaya kamu bisa hidup tenang, mantan Nyonya Wang_" perlahan tapi pasti, Gwen menyuntikan cairan tersebut ke lengan Cindy yang tengah lengah. 


"Shh, sakit!" Cindy menepis tangan Gwen. Namun, racun itu telah masuk semuanya. Cindy terlambat menepisnya. "Ups, sudah habis. Selamat menikmati racun itu, ya~" ucap Gwen dengan tenang, melambaikan tangannya meninggalkan keduanya. 


Jackson Lim baru tersadar setelah mencium bekas racun tersebut dari lengannya. Ia mengenali racun itu, termasuk Cindy. Racun itu dibuat oleh Cindy untuk melindungi putrinya jika suatu saat mendapatkan masalah. Akan tetapi, penawar racun itu hanya Xia yang memilikinya.


"Ini adalah racun. Racun milik Xia, hanya Xia yang memiliki penawarnya," jawab Cindy juga mulai merasakan efeknya. 


"Kalian berdua santai saja di sini. Nikmati liburan kalian berdua bersama, oke? Aku mau ambil Ilkay dan Rifky dulu, tata~" ejek Gwen dengan melambaikan tangannya dengan gemulai. 


Brak!


Pintu di banting dengan keras oleh Gwen. "Bunuh mereka semua. Jangan sisakan satupun untuk hidup. Bunuh juga anak Becca yang bersama dengan Raza. Apapun yang ingin anak itu (Raza) lakukan, aku tidak peduli!" perintahnya. 


"Kau ingin membunuh mereka? Anakku bersama mereka Jackson!" teriak Cindy tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Jackson Lim.


"Aku tidak peduli. Dia bahkan memihak dengan mereka, Cindy!" Jackson Lim benar-benar marah karena Gwen. "Buka matamu lebar-lebar! Putrimu sendiri telah mengkhianati dirimu. Karena hadirnya dia, kau tidak lagi dihormati sebagai Nyonya Wang. Apa kau lupa itu, hah!" Jackson Lim menggertak Cindy agar tidak lupa dengan tujuan awal mereka. 


Apa yang dikatakan Jackson Lim membuat Cindy mengerti. Jackson Lim juga mengingatkan akan rencana awal mereka mengapa sampai bekerja sama sejauh itu. 


"Jika putrimu mati, kita akan lebih mudah mendapatkan penawar racun sialan ini. Apa kau tidak ingin melihat musuhmu tumbang?" papar Jackson Lim dengan senyuman jahatnya. 


Mereka berdua menyerahkan semua orang yang masih ada di belakang kediaman keluarga Lim itu. Sementara keduanya berusaha kabur tanpa mempedulikan lagi tawanan yang meraka tawan. 


"Sial, orang ini semakin banyak, Jovan. Aku tak tahu apa Gwen dan Xia sudah membawa Ilkay dan juga Rifky keluar," desis Chen menyiapkan beberapa peluru di tangannya. 


Jovan menerka jika Gwen dan Xia tetap bisa membawa Ilkay dan Rifky pergi dari rumah itu. Jovan mengungkapkan, jika sudah waktunya Chen menembak semua orang. 


Duar! 


Duar! 


Duar! 


Demi janji yang pernah Chen buat dengan Puspa untuk tidak membunuh orang, Chen hanya menembak mereka di bagian kakinya saja. Kemudian meminta anak buah Gwen yang baru datang untuk segera mengamankan semuanya. 


"Bawa mereka ke tahanan dan segera obati luka mereka!" perintah Chen. 


"Baik, Tuan!"


"Kau tidak membunuh mereka?" tanya Jovan heran. 


Chen memalingkan wajahnya. Lalu, menjawab dengan lirih, "Aku tidak ingin membunuh lagi," jawabnya. "Mari, kita ke atas!" lanjutnya dengan memberikan pistolnya kepada Jovan. 


"Hm," 


Jovan merasa jika sepupunya itu telah banyak berubah. Benar jika Chen kembali bersikap dingin. Hanya saja, perubahan positifnya semakin banyak. Diketahui, Chen telah menemukan beberapa guru untuk ia belajar mengikuti keyakinan seluruh keluarga kandungnya. 


Mereka naik ke atas, beberapa pelayanan membantu orang yang di miliki Chen untuk menggotong semua orangnya Jackson Lim yang terluka. Sementara Chen dan Jovan, menyusul Gwen dan Xia ke kamar atas. 


Next kita ke Aisyah dulu.