
Rencana hanya seminggu di Amerika, Dishi malah membutuhkan waktu sampai 18 hari di sana. Dirinya sibuk mencarikan asrama yang jauh lebih baik lagi untum Xia. Belum juga mengubah semua aset yang Chen berikan kepada Xia dengan atas nama Xia sendiri. Dimana itu hanya akan digunakan ketika Xia berusia 18 tahun, dan jika Xia belum memenuhi umur segitu, maka harus meminta persetujuan dari Tama terlebih dahulu.
Tepat di hari ke 19, Dishi akhirnya mampu menjalankan semuanya dengan mudah. Fokusnya menyempurnakan langkah perusahaan di Tiongkok dari Amerika, membuahkan hasil yang memuaskan.
"Alhamdulillah, akhirnya semua stabil dalam waktu tiga hari ini. Aku bisa pulang ke Korea menemui istriku," gumam Dishi, membereskan beberapa berkas yang sudah ia tanda tangani.
Tok … Tok … Tok….
Suara pintu di ketuk. Dishi mempersilahkan siapapun orang yang mengetuk pintu tersebut. Seorang wanita dengan pakaian kantornya yang sedikit ketat, seksi dan sampai buah peach-nya mengembang.
"Perkenalkan diri, lalu katakan apa yang kamu inginkan," ucap Dishi, belum menatap wanita tersebut.
"Tuan, saya sudah di sisi anda selama seminggu terakhir, apa Tuan tidak mengenali saya?" ucap wanita itu.
Tangan Dishi terhenti, pasangan matanya perlahan menatap siapa wanita itu. Setelah di rasa cukup melihatnya, Dishi langsung memalingkan wajah dan melanjutkan kesibukannya.
"Maaf, saya tidak memahami siapa dirimu. Selama saya di sini, saya tidak memandang siapapun juga kecuali asisten saya," kata Dishi.
"Sial! Orang Asia ini rupanya sangat susah di senangi!" umpat wanita tersebut.
"Ada apa? Mengapa kamu datang ke ruangan saya?" lanjut Dishi.
"Oh, saya dengar hari ini anda akan mengambil cuti. Bisakah saya mengantar anda jalan-jalan sebentar menikmati kota ini?" wanita itu berusaha keras.
"Maaf, tapi saya tumbuh besar di sini. Jadi tidak perlu melihat-lihat pemandangan lagi. Jika tidak ada yang dikatakan lagi, pintu keluar ada di sana," tegas Dishi, menunjuk pintu.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu jika seperti itu__" wanita itu pergi dengan mengepalkan tangannya.
Jangankan berpaling dari Aisyah, bersama dengan Yu Liu yang super menggoda saja Dishi sama sekali tidak tertarik. Apalagi dengan wanita yang bekerja menjadi sekertaris di perusahaannya sendiri.
Wanita itu terus saja menggerutu, dirinya ingin sekali mendekati Dishi karena memang status Dishi belum pernah ia publish ke perusahaan yang ada di sana. Meski begitu, bukan Dishi tidak mau mempublikasikan, hanya saja menjaga Aisyah tetap aman, adalah salah satu alasannya mengapa dirinya tidak pernah menyinggung statusnya.
Sebelum melakukan penerbangan jauh ke Korea, Dishi menemui Xia terlebih dahulu di asrama khusus putri itu. Dishi tidak ingin Xia kecewa ketika membutuhkan dirinya, tapi ternyata ia sudah pulang tanpa berpamitan.
Di ruang pertemuan, Xia yang masih mengenakan sragam sekolahnya menghampiri Dishi. Selama 17 hari di asrama, Xia juga sudah menunjukkan perubahan yang positif. Ia menjadi siswi yang memiliki ketenangan dan bicara dengan baik tanpa merengek dan protes dalam bentuk apapun sebelum lawan bicaranya selesai bicara.
"Xia, kau masih belajar?" tanya Dishi berdiri menyambut kedatangan Xia.
"Duduk saja, aku akan duduk di sini. Sebenarnya, untuk apa kau menemuiku di waktu jam pelajaran? Bukankah baru satu tiga hari yang lalu kau menemuiku?" tanya Xia, duduk dengan anggun.
Dishi memberikan buku rekening milik Xia yang sudah disiapkan untuknya oleh Chen setelah Xia berusia 12 tahun lalu. "Ini buku rekening, untuk kamu membeli kebutuhan selama sekolah. Setiap sebulan sekali, aku akan mentransfer uang ke rekening ini. Di dalamnya sudah ada uang yang lumayan cukup untuk kebutuhanmu selama 3 tahun," ungkapnya.
"Maksudnya apa? Kau sudah mau pulang? Menemui istrimu?" tanya Xia.
Dishi mengangguk.
"Keperluan sekolah sudah langsung aku transfer ke sekolah. Ini untuk kebutuhanmu sendiri. Amanah Tuan Chen, harus aku lakukan. Aku tidak mungkin bisa mengunjungimu seminggu sekali lagi. Jadi, tolong terima ini,"
Bentuk dari menghormati pemberian orang lain, Xia pun akhirnya menerima buku rekening tersebut. Xia akhirnya harus benar-benar sendiri menghadapi hidup.
"Jika ada apapun juga, kau harus tetap menghubungiku, Tama ataupun Feng, ya. Kita akan selalu ada untukmu, Xia. Tetap semangat belajarnya, aku ingin melihatmu sukses dengan cita-cita yang kamu inginkan itu." lanjut Dishi menyentuh bahu Xia.
Tak terasa, air mata Xia menetes. Kepergian Cindy, Ibunya, Tuan Wang dan juga Chen memang membuatnya terluka. Tapi, setelah mendapat kasih sayang dari ketiga pria yang selalu ada untuknya, rasanya berat sekali dirasa oleh gadis remaja itu.
"Aku mengerti, selamat jalan dan selamat bertemu kembali suatu hari nanti …. Kak Dishi," lirih Xia.
Mendengar sebutan kakak dari mulut Xia, membuat Dishi tersentuh. Sejak dulu, Xia memanggilnya dengan sebutan asisten. Dimana itu selalu memberikan sebuah peringatan, jika Dishi memang hanya seorang asisten bagi Chen Yuan Wang.
"Kau … Memanggilku, kakak?" tanya Dishi memastikan.
Xia menatap mata Dishi. Matanya berkaca-kaca dan kemudian mengangguk dengan tetesan air matanya yang membasahi pipi. Hanya mengigit bibir, kemudian kembali mengangguk.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang kau memanggilku dengan sebutan kakak? Apa aku sebelumnya tak layak menjadi kakakmu?" Dishi menyentuh pipi Xia dengan lembut.
"Aku sadar, aku yang tidak layak menjadi adik bagimu. Itu sebabnya aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan itu. Tapi, mulai hari ini aku berjanji akan selalu memanggilmu dengan sebutan kakak," Xia akhirnya bisa bicara.
"Dari sekian kerabat Ayah Wang yang ada, mereka sama sekali tidak peduli padaku. Kata aku masih hidup atau sudah mati, bolehkah sama sekali tidak pernah menanyakan tentang aku. Hanya kau yang selalu ada untukku dan selalu menerima aku dalam setiap … setiap …,"
Ucapan Xia terhenti karena begitu sesaknya ia mengingat kepahitan hidupnya yang sejak dulu seakan tidak pernah diharapkan kehadirannya. Dishi memeluk dengan erat tubuh remaja itu dengan kasih sayangnya.
"Jangan pernah menengok kebelakang lagi jika itu membuat hatimu terluka. Tataplah masa depan, fokus dengan belajarmu, jangan pernah gagal seperti ibumu dan juga ayah kandungmu, Xia. Kau harus menjadi dirimu yang sesungguhnya. Aku yakin, kamu pasti jauh akan lebih hebat dari Tuan Chen." kembali Dishi memberikan cahaya semangat untuk Xia.
Xia membalas pelukan Dishi, kemudian menangis tersedu-sedu karena orang yang paling berarti setelah semuanya meninggalkannya, akan pergi jauh darinya.
"Jujur sekali, Aku sedih Kak akan pulang secepat ini. Tapi di sisi lain, istrimu sudah menantimu sangat lama. Jadi, pulanglah dan segera memberiku keponakan yang lucu, hm?" ujar Xia dengan senyumannya.
"Aku ingin menjadi bibi dari anakmu nanti. Bisakah kau dan istrimu memberiku itu? Aku akan mengajarinya naik sepeda nanti," lanjut Xia.
"Apa kau bisa naik sepeda? Bahkan kau saja tidak bisa duduk di jok belakang sepeda. Untuk apa kau mengajarinya?" ujar Dishi menoleh hidung Xia.
"Baiklah, aku akan mengajarinya menjadi seorang ilmuan sepertiku. Aku janji akan menjadi yang terbaik, kak. Datanglah di saat kau senggang, selalu ingat aku dan jangan putus hubungan denganku. Katakan kepada istrimu, kalau aku sudah berubah, aku ingin di sayangi oleh semua orang juga__"
Mereka kembali berpelukan. Dishi sangat bersyukur Xia sudah berubah menjadi jauh lebih baik lagi. Pelajaran yang mampu diambil Xia adalah, lebih banyak mengucap syukur karena apa yang dimilikinya saat ini, belum tentu semua orang bisa memilikinya.
Sejak kecil, Xia terobsesi dengan Chen karena hasutan Ibunya yang mau membuatnya menikah dengan Chen kelak. Lalu, ibunya juga selalu mengajarkan tentang dendam, pembalasan, kekerasan, pembunuhan, kekuasan dan juga hal buruk lainnya sebagai manusia egois. Itu sebabnya, Xia menjadi anak nakal dan jahat yang tak pernah disukai oleh siapapun, termasuk di sekolah asramanya dulu.
Kakak-kakak, lihat komentar aku di bawah, di kolom komentar, ya....