Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Njungkel Ning Sawah



Pagi usai sholat subuh, Chen menemani Adam ke pasar untuk membeli beberapa bahan yang habis di restoran. Keduanya sangat kompak mengenakan hoodie yang sama. Terlihat seperti kakak adik, bukan lagi ayah dan anak.  Yusuf juga mengajarkan bagaimana cara memilah sayuran serta buah-buahan yang bagus. 


"Aku jadi ingin sekali membuka restoran sepertimu, Yah," celetuk Chen. 


"Buka saja, Ayah akan senang jika usaha Ayah ada yang mengembangkannya, meski kamu berdiri dengan usahamu sendiri," jawab Yusuf. 


"Tapi, aku ingin membangun restoran itu untuk jaminan masa tua kau dan Ibu. Ya, meski harta kalian banyak, tapi setidaknya aku bisa berbakti kepada kalian," seru Chen. 


"MasyaAllah tabbarakallah, itu sangat mulia sekali. Terima kasih, ya," ucap Yusuf dengan bangga. 


Sembari memilah sayuran dan buah-buahan, Yusuf juga tak lupa dengan bangga mengenalkan Chen sebagai putra tertuanya. Banyak hal positif yang YUsuf katakan dari putranya itu. Semua orang juga ikut bahagia sang putra tertua telah kembali setelah 22 tahun menghilang. 


"Oh, iya. Bagaimana hasil dari pencarian info tentang masa lalumu sekitar lima tahun lalu?" tanya Yusuf. 


"Asistenku berhasil memberi info tentang kecelakaan itu dan dimana alamat kekasih lamaku dulu. Tapi, semua itu belum pasti, Ayah. Rahasia yang di simpan oleh Ayah angkatku, susah untuk diretas," jelas Chen serius. 


"Semoga saja akan ada hasil yang memuaskan. Ayah hanya berharap, supaya masa lalumu itu tidak terlalu berat untuk kamu pertanggung jawabkan, Nak," tutur Yusuf. 


Chen juga pamit untuk pulang ke Tiongkok sebentar kepada Yusuf. Sudah lama ia meninggalkan pekerjaannya di sana. Yusuf tentu mendukung apa yang dilakukan putranya. Meski belum merasa akrab, baik Yusuf dan Chen sama-sama memiliki keinginan bisa menjadi pasangan anak dan Ayah yang baik. 


"Chen, kau pulang saja dulu. Ayah masih harus ke tempat bahan makanan dari laut. Kamu naik ojek saja, mereka akan mengantarmu tepat sampai depan rumah," ujar Yusuf. 


"Baiklah, Ayah. Maafkan aku belum bisa membantumu, aku akan menghubungimu nanti ketika aku sampai ke Tiongkok," kata Chen mencium tangan sang Ayah. 


"Santailah, hati-hati di jalan, ya. Ma__" 


Ucapan Yusuf terhenti ketika Puspa menghampirinya. Puspa mengucapkan salam dan menyapa Yusuf dengan ramah. Ayah Puspa adalah sahabat Adam, jadi juga dekat dengan Yusuf juga. Puspa juga menawarkan tumpangan kepada Chen, karena kebetulan setelah ia dari pasar, ia ada janji masak bersama dengan Aisyah dan Gwen. 


"Benar, Chen. Kamu bisa membonceng Puspa. Dia ini anak dari sahabat Ayah, teman masa kecil kedua saudarimu juga. Sudahlah, Ayah pamit dulu, ya. Mari Puspa, Assallamu'alaikum," pamit Yusuf meninggalkan keduanya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"


"Ayo, Tuan Wang. Saya akan mengantarmu pulang," ajak Puspa. 


"Tidak!" tolak Chen. 


"Kenapa akhy … oh, kenapa Tuan selalu saja begini dengan saya? Saya kan berniat baik, Tuan," lanjut Puspa.


Setelah lama Chen berpikir, akhirnya ia mau ikut Puspa pulang. Dengan wajahnya yang jutek, Chen naik ke motor Puspa, kemudian Puspa meminta Chen untuk berpegangan. 


"Ini bukan negaraku, jadi aku tak ada surat izin naik motor. Aku harus sabar!" seru Chen dalam hati. 


"Tuan, aku dengar dari Gwen, hari ini Anda akan pulang ke Tiongkok, benarkah?" tanya Puspa. 


"Hm,"


"Lalu, kapan Anda akan kembali?" lanjut Puspa. 


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Kau fokuslah menyetir, atau kita akan jatuh nanti," ketus Chen. 


Apa yang diucapkan Chen akhirnya terjadi. Saat mereka masuk gang dari jalan raya besar, tepat di tengah-tengah jalan setapak yang kanan-kirinya persawahan. Demi menghindari ibu-ibu yang jalan lawan arah, Puspa harus banting setir sampai mereka harus jatuh di sawah yang baru saja di tanami padi. 


"Hey, apa kau gila? Bisakah kau menyetir dengan benar?" protes Chen. "Apa surat izinmu hasil menyuap?" lanjutnya. 


Segera Puspa mematikan motornya. Mereka terjatuh sampai kedua wajahnya penuh dengan lumpur karena wajah mereka jatuh lebih dulu. 


"Innalillahi, dadaku sakit sekali," rintih Puspa berusaha mengangkat motornya. 


"Sudahlah, motormu biar aku yang ganti rugi. Sekarang berdirilah dengan benar, kita pulang jalan kaki saja," seru Chen mengulurkan tangannya. 


Puspa memperhatikan tangan Chen, tak mungkin baginya meraih dan bersentuhan langsung dengan kulit pria yang bukan mahramnya. 


"Haish, sebentar," Chen membuka hoodienya, kemudian menggulung menjadi gulungan panjang. 


"Aku tarik, kau pegang ujung hoodie ini. Dengan begini, kita tidak akan bersentuhan, 'kan?" ujarnya. 


Tentu saja hal itu membuat Puspa tersentuh. Tak lupa, Puspa juga mengucapkan maaf dan terima kasih. Mereka akhirnya pulang dengan tubuh yang penuh dengan lumpur. 


Semua orang yang lewat menjadi tertawa melihat keduanya. Sampai-sampai, mereka berdua diteriaki oleh pemilik sawah yang baru saja ditanami padi itu. Masih dengan bergandengan hoodie, Chen menarik Puspa untuk segera lari. 


Semua orang menjadi tertawa melihatnya. Apalagi, sang pemilik sawah sambil mengarahkan sabit ke arah mereka. 


"Kenapa kita lari, Tuan? Seharusnya kita minta maaf, kan kita yang salah," ucap Puspa masih saja mau diajak lari. 


"Tunggu sampai kita bersihkan diri. Atau aku akan kehilangan muka jika seperti ini," tegas Chen. 


"Lalu, motor saya?" lanjut Puspa.


"Gampang, itu buat pemilik sawah itu saja. Aku akan membelikanmu yang baru nanti sebelum aku pulang ke Tiongkok," jawab Chen dengan entengnya. "Apakah kau siput? Larimu sangat lambat sekali!"


Sesampainya mereka di depan rumah, segara keduanya saling bergantian menyiramkan air ke masing-masing tubuhnya. Setelah Chen menyiramkan air ke arah Puspa, kini giliran Puspa menyiramkan air ke tubuh Chen. 


"Sisi sini, aku rasa lumpurnya masuk ke telingaku," ujar Chen menunjukkan telinganya. 


"Tidak, tidak ada lumpur di telingamu, Tuan. Saya rasa karena rambut Tuan yang sudah mulai panjang, jadi serasa geli gitu," sahut Puspa. 


"Begitukah?"


Puspa mengangguk.


"Baiklah, sekarang yang lengan sini kau siram. Besarin dulu airnya!" 


"Iya, Tuan …."


Rebecca, Aisyah, Gwen dan Asisten Dishi melihat keduanya sampai tertawa. Mereka juga mengabadikan momen itu lewat ponsel mereka masing-masing. Jarang sekali Chen mau berinteraksi dengan orang asing seperti Puspa yang baru ia kenal. 


"Sudah bersih, sebaiknya kita masuk dari pintu belakang atau kita akan membuat lantai licin. Ibuku sedang hamil, aku khawatir dengannya," masih saja Chen ketus ketika bicara dengan Puspa. 


Puspa hanya mengangguk setuju, ia juga mau-mau saja mengikuti Chen dari belakang. Membuat Gwen semakin heboh tertawanya. Aisyah menyiapkan baju ganti untuk sahabat masa kecilnya itu. Semangat Asisten Dishi menyiapkan pakaian untuk Tuan-nya. 


"Kalian dari mana, sih? Bisa-bisanya penuh lumpur seperti itu?" tanya Rebecca. 


Usai ganti baju, Chen duduk bersama Ibu dan Asisten pribadinya. Rebecca membantu Chen mengemasi data-data penting yanga akan ia bawa. Sementara Puspa tengah memasak bersama dengan si saudari kembar.