Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Dunia Hitam Berakhir



Tak sengaja, Anthea masuk dan melihat adiknya sedang menangis di pojok depan almari. "Aisyah!" segera Anthea berlari menghampirinya.


"Ya Allah, Aisyah. Kamu kenapa di sini?" Anthea membantu Aisyah berdiri dan menghapus air mata adiknya itu. 


"Aku tidak akan memintamu untuk bersabar, karena aku tidak tahu sakitnya kehilangan orang yang kamu cintai, Aisyah. Tapi aku mohon, kamu jangan seperti ini," Anthea sampai bingung menangani Aisyah.


Tak kuat bagi Aisyah menghadapi cobaan yang begitu berat. Tak sanggup baginya untuk melewati semuanya sendirian dengan menjaga Ayah dan adiknya sekaligus. Meski sama halnya dengan Agam yang di rasakan, tapi takdir Gwen memang sudah selesai. Berbeda dengan Dishi yang belum ada kabarnya. 


Anthea memeluk erat adiknya dan terus menguatkan batinnya. Aisyah sampai tak mampu mengatakan apapun kepada Anthea. Yang ada hanya tangis, suara tangisan dan juga tangisan saja.


"Sudah, ya. Jangan seperti ini lagi. Ayo, segera ganti pakaian kamu dan mengantar Ibu, kedua kakakmu dan juga adikmu ke peristirahatan terakhir," ucap Anthea. 


"Mereka akan di makamkan di makam keluarga. Ayo, jika kamu mau ikut, segera keluar. Jika tidak, kamu istirahatlah di sini," ucap Anthea. 


Tak ingin sampai melewatkan hari terakhir bersama dengan Ibu, kakak, kakak ipar dan adiknya, Aisyah pun segera bersiap diri untuk segera ikut ke makam. 


Semua warga sangat antusias sekali dalam ikut mengantarkan keempat jenazah anggota pesantren ke tempat peristirahatan terakhirnya. Santri laki-laki juga sudah bersiap untuk membawa jenazah. 


Bagaikan ada gasnya. Ketika jenazah keempat dari anggota pesantren itu diangkat, langsung cepat di bawa ke makam. Langkah pengiring jenazah juga sangat cepat, seolah Rebecca, Chen, Lin Aurora dan juga Gwen sudah tidak sabar untuk tidur selamanya di rumah barunya. 


Laillahaillallah ... Lailllahaillallah ....  


Langkah cepat itu seolah memang mereka berempat sudah cukup ilmu untuk di bawa bertemu dengan malaikat ke alam kubur. Banyak dari langkah warga yang ikut mengiringi sampai terbata-bata dan tertinggal. 


"Haduh, cepat sekali. Aku sampai tertinggal,"


"Sama, aku juga. Amalan apa ya yang di amalkan oleh Bu Rebecca dan anak-anaknya? Padahal jika di pikir, mereka bukan ahli agama," 


"Menantunya juga sangat cantik sekali. Ketika di mandikan, tidak seperti jenazah yang sudah berusia 2 harian. Malah seperti orang yang baru meninggal," 


"Wajah Gwen, si anak nakal dulu itu. Tau to kalian? Dia juga wangi tubuhnya. Darah nifasnya juga langsung mampet," 


Semua orang penasaran dengan amal baik dari seorang Rebecca serta dua anak Mafia nya. Diketahui memang mereka sering membunuh orang sebelumnya. Namun, jenazah mereka sama sekali tidak terlihat seperti korban ledakan ataupun korban kebakaran. 


Rebecca, Chen dan juga Lin Aurora memang ada bagian tubuh yang terluka. Bahkan, salah satu dari kaki mereka juga ada yang patah. Tapi, jenazahnya masih bersih dan tidak terlihat mulai membusuk padahal sudah 2 hari lamanya mereka meninggal. 


Setelah di masukkan ke liang kubur, Yusuf mengadzani keempat dari istri, kedua anaknya dan juga menantunya yang masing-masing di lubang kubur yang berbeda. Tangis Yusuf pecah ketika mengadzani istrinya. 


Teringat masa indah dimana Rebecca selalu mengekor dirinya kala kecil dulu. Meski pernah berpisah selama 9 tahun karena bercerai, tetap saja cinta Yusuf kepada Rebecca tidak pernah pudar. 


Seperti jantung berdetak, sungguh berat bagi Yusuf untuk melantunkan adzan terakhir untuk sang istri. Mereka berjanji akan pulang bersama dan masih harus membesarkan putra bungsu mereka yang masih bayi. 


Suara gemetar adzan itu membuat Aisyah kembali menangis. Ibu, kakak dan juga adiknya belum lama berkumpul bersama. Aisyah harus kembali hidup bersama Ayahnya tanpa kehadiran ketiganya lagi. 


Beruntung ada keluarga lain yang di sisi Aisyah. Sehingga mampu menangkap Aisyah kala Aisyah pingsan. 


Pemakaman selesai. Setelah berdoa, Yusuf masih tinggal beberapa menit di sana. Memanjatkan doa kembali dan berpamitan untuk melanjutkan hidupnya. 


Sementara itu, Aisyah sudah di bawa ke mobil oleh Tama dan Ayden. Feng sendiri bergiliran untuk menjaga bayi Gwen yang masih di rumah sakit. Di sisi makam Gwen, Agam masih tertunduk lemas di sana. 


"Sayang, setiap hari Jumat nanti, Mas akan membawa putri kita untuk datang mengunjungi kamu," ucap Agam. 


"Mas akan mencoba bertahan demi kamu. Hanya kamu istri yang Mas mau. InsyaAllah, kita akan berjumpa lagi nanti," lanjut Agam. 


"Mas akan jaga Putri kita dengan sebaik-baiknya. Kamu tenang saja, terima kasih atas satu tahun lebih ini, kamu telah mewarnai hidup Mas, Sayang. Maafkan Mas jika Mas belum bisa menjadi suami yang terbaik untuk kamu,"


"Tapi Mas janji. Mas akan berusaha menjadi Ayah yang baik bagi putri kita. Terima kasih, karena kamu tidak benar-benar meninggalkan Mas sendiri. Meski jika kembali di tawari, Mas ingin kamu tetap ada di sisi Mas, Sayang," 


"Gwen Kalina Lim, Mas hadiahi kamu setiap lima kali sehari doa yang indah. Mas pulang dulu, ya. Mas harus jagain putri kita yang masih di rumah sakit, assalamualaikum, Sayang--" 


Langkah berat Agam memang tak bisa tidak untuk berjalan. Agam juga harus tetap melanjutkan hidup. Cinta yang singkat, semua yang juga serba mendadak waktu pernikahan dulu, membuat Agam begitu merindukan istri nakalnya. 


Bagi Agam, dia sudah ikhlas Gwen pergi. Hanya saja, dalam setiap waktunya bersama dengan sang istri, adalah waktu yang sangat berharga. Dia merindukan istrinya, meski baru saja beranjak dari makam istri tercinta. 


"Ayah, ayo kita pulang--" ajak Agam kepada Yusuf. 


Yusuf juga beranjak dari sisi makam istri dan anak serta menantunya. Langkah berat itu tetap Yusuf jalani. Masih ada dua anak lagi yang membutuhkan bahunya di rumah. 


"Seminggu ini, saya akan menetap sini. Nanti, jika cucu Ayah sudah keluar dari rumah sakit, saya akan pikirkan lagi untuk kembali ke pesantren saya," ujar Agam.


"Lalu, bagaimana pekerjaan kamu? Kamu juga harus bekerja, bukan?" tanya Yusuf.


"Ayah jangan pikirkan itu. Selagi masih bisa ke handle, pasti pekerjaan saya juga akan berjalan dengan lancar," jawab Agam. 


Yusuf dan Agam begitu berdada lebar. Mereka ikhlas akan kepergian istri mereka. Berbeda dengan Aisyah yang dalam satu hari sudah pingsan selama 4x. Hal itu membuat Aisyah menjadi lemas. 


"Ai, kamu harus makan. Faaz dan teman kamu itu sedang berangkat ke Tiongkok. Mereka pasti akan menemukan informasi tentang suamimu. Kamu makan, ya--" bujuk Ayden. 


"Aku tidak lapar," jawab Aisyah. 


"Ai, jangan seperti ini. Rifky masih butuh kamu, loh. Ingat pesan yang Ibu kamu dan juga kakak kamu berikan? Mereka ingin kamu menjaga semuanya, 'kan?" sahut Tama. 


"Mereka pergi begitu saja. Tidak mengatakan apapun kepadaku. Jangan sok tau!" jawab Aisyah dengan nada datarnya. "Kalian keluar, aku ingin sendiri!" usirnya. 


Awalnya, Tama tidak ingin meninggalkan Aisyah sendiri. Namun, Ayden memaksa Tama untuk menuruti apa yang dikatakan oleh Aisyah. Memang akan baik jika membiarkan Aisyah sendiri sebentar.