Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Gwen Memang Beban Keluarga



Sesampainya di rumah Willy, mereka disambut oleh Willy dan istrinya yang tengah hamil besar. Meski Gwen hanya anak angkatnya, tetap saja Willy dan istrinya menyayanginya seperti anak sendiri. Mereka juga sering bertemu ketika Gwen libur sekolah dan kuliah dahulu. 


Hanya Willy yang selalu memanjakan Gwen dengan sepenuh hati. Maka dari itu, kedisiplinan yang di ajarkan oleh Aisyah dan keluarga pesantren lainnya selalu luntur dengan kemanjaan yang diberikan oleh Willy. 


"Nona muda, apakah itu dirimu. Kemari dan aku akan membuatmu gemuk di sini," sambut Willy.  


"Ayah angkat, aku sangat merindukanmu. Lihatlah siapa yang aku bawa ini! seru Gwen manarik lengan Pak Raza. 


Willy mengucapkan salam kepada Pak Raza sebagai penyambutan. Pak Raza menjadi heran karena Willy menyambutnya dengan salam seorang muslim. Willy mengatakan kepada Pak Raza bahwa dirinya juga seorang muslim sebelum menikah dengan Rebecca dalu. 


"MasyaAllah, unik asli! Ini keluarga model apaan, sih?" gumam Pak Raza takjub dengan keluarga besar Gwen. 


Sambutan itu berakhir di meja makan. Rupanya, istri Willy sudah mempersiapkan makanan juga untuk mereka. Gwen yang memang tak bisa jauh-jauh dari kata uang dan makanan, langsung mengambil piring dan tidak peduli lagi dengan Pak Raza yang masih kebingungan di rumah itu. 


"Siapa namamu tadi?" tanya Willy kepada Pak Raza. 


"Raza, guru pembimbing Gwen di kampus," jawab Pak Raza dengan senyuman tenangnya. 


"Oh, duduk dan makanlah dulu. Nanti, baru istirahat dan nyantai di kamar." ujar Willy mempersilahkan Pak Raza bergabung di meja makan. 


Melihat Gwen makan dengan lahap membuat istri Willy merasa senang. Gwen memang tidak pernah membandingkan siapapun dalam keluarga. Makanan yang enak harus dipuji enak, dan makanan yang kurang enak tetap ia makan dengan lahap. 


Usai makan, Willy menceritakan tentang dirinya yang bertemu dengan Chen malam sebelumnya. Willy juga mengatakan jika dirinya terkait hubungan bisnis dengan Chen dalam beberapa waktu ke depan. 


"Jadi Kakakku benar ada di negara ini?" tanya Gwen. 


"Serius, aku juga memiliki photonya. Apa kau ingin lihat? Dia tumbuh menjadi pria yang sangat rupawan," jelas Willy mengeluarkan ponselnya. " Dia juga masih membutuhkan waktu lama di negara ini. Jadi, kamu masih memiliki banyak waktu untuk menemukannya." imbuhnya. 


Namun, Gwen menolak melihat potret saudaranya yang telah lama tidak bertemu itu. Ia lebih memilih mendapat kejutan dari Allah, daripada harus melihat wajahnya lebih dulu. 


"Tidak, aku tidak ingin merusak kejutan Tuhan, Ayah!" tolak Gwen menahan dengan telapak tangannya. 


"Hm, apa yang kau ucapkan sama persis yang diucapkan oleh Chen. Baiklah, nikmati saja liburan dan perjalananmu di sini. Ayo, sebaiknya kalian istirahat dulu di kamar masing-masing." pinta Willy meminta istrinya menemani Gwen dan dirinya mengantar Pak Raza ke kamar yang sudah di sediakan. 


Pikiran Pak Raza masih bug. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya. Namun, dia tidak memiliki hasrat untuk mengetahuinya. Dia hanya menikmati alur hidup yang diatur Tuhan dan tak ingin berbuat macam-macam. 


"Kamu sudah berapa lama mengajar Gwen berapa lama?" tanya Willy.


"Belum lama ini, Pak," jawab Pak Raza. 


"Yang sabar hadapi dia. Sejak kecil, memang dia memiliki sifat yang rada-rada. Tapi, dibalik sifatnya yang mengada-ngada itu ... dia memiliki hati yang sangat baik," ungkap Willy. 


"Sejak kecil, hidupnya terlalu di kekang oleh Ibunya. Dia di tuntut menjadi sempurna, lalu ketika orang tuanya kembali bersama, Ibunya selalu membandingkannya dengan saudari kembarnya. Sikapnya yang bertolak belakang ini, hanya sebagai pengalihan kesepian dalam hatinya." lanjut Willy pergi meninggalkan Pak Raza di kamarnya. 




Malam telah tiba, seharian lebih Pak Raza istirahat dengan tenang. Gwen bepergian bersama Willy dan istrinya. Sementara dirinya menikmati waktu berharga tanpa Gwen di sampingnya. Ketika dirinya sedang sibuk mengerjakan pekerjaan sampingnya, telpon rumah berdering. 



Tring ....



Pak Raza bangkit, mengangkat telpon tersebut. Betapa terkejutnya dia, yang menelpon adalah Airy. 



"Hal--"



"Assallamu'alaikum. Kebetulan sekali kamu yang angkat Mas Raza, dimana Gwen?" suaranya begitu cetar di telinga, sehingga Pak Raza harus menjauhkan telpon rumah itu dari telinganya. 




"Wonten nopo, wonten nopo. Dimana Gwen?" tanyanya. 



"Gwen sedang jalan-jalan dengan Ayah tirinya, katanya, Bi--" jawab Pak Raza gugup. 



Airy marah besar. Ia mendapat kabar dari Rebecca dan pihak kampus kalau Gwen pergi ke luar negri bersama dengan Pak Raza. Airy dan Yusuf berhak marah, di samping tidak ada izin dari mereka, juga mereka pergi hanya berdua saja. Sebab, mereka tidak memiliki ikatan hubungan apapun. 



"Assallamu'alaikum, Pak Raza. Perkenalkan saya Ibunya Gwen. Nanti kalau anak itu sudah pulang, minta dia dan Ayah Willy untuk menghubungiku, ya. Terima kasih ...." Rebecca juga ikut turun tangan mengenai kaburnya Gwen. 



Pak Raza tertunduk lemas, ia di marahi oleh Airy, dan kedua orang tua Gwen bersamaan. Mentalnya down seketika. Ia hanya ingin menjalankan tugas dengan baik tanpa ada hambatan sedikitpun. Namun, yang ia dapat malah ghosting dari kelakuan Gwen. 



Tak lama kemudian, Gwen pun pulang sendirian. Dengan wajah tanpa dosa itu membuat Pak Raza semakin gemas dengan tingkah gadis berusia 22 tahun itu. Gwen belum masuk ke ruang keluarga, Pak Raza sudah menghampirinya dan menarik lengannya.



"Woy, apaan, sih?" sulut Gwen. 



"Dimana ponselmu?"



"Apa? Nitip telpon? Nggak ada pulsa, mahal!" ketus Gwen menepis tangan Pak Raza. 



Semakin gemas dengan melihat wajah Gwen, akhirnya Pak Raza mencari sendiri keberadaan ponsel milik Gwen yang ia taruh di saku paha kiri. Tangan Pak Raza mulai meraba dengan cepat, Gwen mulai su'udzon dan berteriak. 



"Hey, apa yang kamu lakukan, Pak Raza!" bentak Gwen menampar pipi Pak Raza dengan keras sampai memerah.



Pak Raza tidak memperdulikan tamparan itu dan terus mencarinya sampai ia mendapatkan ponsel itu. Segera ia mengaktifkan nomor negara itu di ponsel milik Gwen. Kembali Gwen memberontak dan ingin merebut ponselnya. Namun kali ini, Pak Raza sudah kehabisan akal, ia meraih tangan Gwen dan menguncinya kesamping sampai Gwen tidak bisa bergerak. 



Posisi saat itu, Gwen berada dalam pelukan Pak Raza, dan Pak Raza berusaha menelpon nomor Yusuf guna memberitahu jika nomor Gwen sudah bisa dihubungi. 



"Pak Raza, lepasin aku! Apa kau hendak memperkosaku karena di rumah hanya kita berdua, hah?" 



"Jika iya, kenapa tidak kau lakukan ketika di hotel, Pak Raza? Sakit, woy! Lepaskan aku!" 



Sekuat Gwen berteriak dan memberontak, itu tidak membuat Pak Raza iba. Ia terus mencoba menghubungi orang rumah agar mereka tidak terlalu khawatir dengan kenakalan Gwen selama ia bersamanya di Thailand.