Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rencana Kejutan



Di pesawat, Chen dan Asisten Dishi tak henti-hentinya tertawa mendengar penjelasan Aisyah dan Gwen tentang apa yang sudah mereka lakukan untuk Xia.


"Lihatlah, wajah dia begitu lucu engan lip warna merah menyala ini," tunjuk Gwen dengan potret Xia di ponselnya.


"Aku tidak pernah melihat kau memakai lipstik warna ini. Kapan kau pernah memakainya? Dan pasti akan terlihat menor sekali," tanya Chen menujuk lipstik di photo Xia. 


"Haha, mana ada aku pakai lipstik dengan warna merah menyala seperti ini. Ini sengaja aku beli memang untuk memberi kenangan pada gadis kecil itu."


Tak henti-hentinya mereka menertawakan Xia. Sesekali gadis nakal seperti Xia memang harus diberi pelajarna agar bisa menghormati orang yang lebih tua darinya. 


"Lalu, apa yang kalian katakan kepadanya, sehingga gadis seperti Xia ini mampu menurut?" lanjut Asisten DIshi. 


"Aku bilang kepadanya, jika dia tidak mau menurut, aku akan menikahkan kakakku dengan wanita pilihan kami. Lalu, dia mulai memberontak. Dengan mudahnya, kami mengatakan jika Kak Chen akan menuruti kami karena kami adalah adik kandungnya," jelas Aisyah. 


"Lalu …?" tanya Chen. 


"Dia mau menurut dengan kami kalau kami membantumu menikahi dirinya nanti ketika dewasa, Kak Chen. Mengerikan." tukas Gwen. 


Semenjak Xia tahu bahwa dirinya bukanlah adik kandung Chen, ia terus berusaha mendekati Chen dengan harap dirinya mampu menarik perhatian Chen seperti seorang adik angkat yang menikai kakaknya layaknya di drama, komik dan novel yang Xia tonton dan baca. 



Sesampainya di Bandara, Aisyah dan Gwen sengaja tidak memberikan kabar kepada orang tuanya bahwa mereka pulang hari itu bersama dengan Chen. 



Tepat 13 tahun lalu, Chen pernah datang di Kota itu untuk menemukan kebenaran tentang orang tuanya. Pemandangan di sekitar juga sudah berubah. Namun, perasaannya sama sekali tidak berubah. Jantung berdebar dan rasa ingin menangis kala menginjak tanah kelahirannya. 



"Kak," panggil Aisyah. "Ada apa?" tanya Gwen. 



"13 tahun lalu, aku datang ke sini bersama kakaknya Asisten Dishi. Lalu, kita bertiga bertemu di depan restoran A-ayah. Dan kini aku kembali lagi ke sini. Ayah, Ibu--" seorang Mafia dan pengusaha muda yang dingin  kini meneteskan air matanya menyebut nama kedua orang tuanya. 



Aisyah dan Gwen memeluk sang kakak. Momen hari itu, momen diamana yang sudah diimpikan oleh dua saudari kembar tersebut. Janji yang pernah mereka ucapkan kepada orang tuanya untuk membawa sang kakak pulang akhirnya terwujud. 



Sebelum kembali, mereka membelikan oleh-oleh dulu untuk keuda orang tuanya. Makanan yang di sukai, baju dan juga beberapa hadiah lainnya. Chen sangat semangat melakukan hal itu. 



Namun, ketika mereka keluar dari Mall, tak sengaja bertemu dengan Ayyana dan Airy. mereka juga ternyata baru saja berbelanja untuk kebutuhan persiapan pernikahan Rafa yang tinggal satu minggu lagi. 



"Ma, tunggu," ucap Ayyana merentangkan tangannya. 



"Apa, sih, Ay. Ini barang belanjaan makin berat malah kamu hentikan langkah Mama," kesal Airy. 



"Bukankah Aisyah dan Gwen sedang ke Tiongkok, ya? Main ke rumah Feng?"  tanya Ayyana.



Airy mengangguk pelan. "Terus mereka siapa?" tunjuk Ayanna kepada Aisyah dan Gwen yang saat itu tengah bersama Chen dan Asisten Dishi. Awalnya Airy kesal melihat dua keponakannya jalan dengan seorang pria. Namun, Airy terus menatap salah satu dari pria itu.



"Chen?" gumam Airy terus memastikan matanya. Kemudian tiba-tiba memberikan semua berlanjaannya kepada Ayyana dan berlari ke arah mereka. 



"Allahu Akbar, tadi bilang belanjaannya makin berat. Kenapa sekrang berlari bagaikan elastik girl?" umpat Ayyana. 




"Chen …." lirih Airy. 



Mendengar namanya dipanggil, Chen menoleh dan menatap Airy. Chen terkejut, terdiam dan tak bergerak dari tempat ia berdiri. Tatapan matanya terpaku kepada Airy yang mulai mendekatinya. 



"Aisyah, Gwen … kalian?"  ucap Airy dengan nafas terengah-engah. 



"Bibi, kau? Kau di sini? Apakah kau sedang bersama, I-ibuku?" tanya Chen dengan mata mencari-cari. 



Airy langsung mengenali Chen saat itu juga. Rambut ikal yang seperti Yusuf, mata biru yang seperti Rebecca. BIbir tipis sepert almarhumah Aisyah menurun pada Chen. Kelembutan suaranya juga terdengar seperti almarhum Rifky. Bukan hanya itu saja, bahkan suara langkah kaki Chen juga membuat hati Airy bergetar mengingat almarhum Rifky. 



"Mama, astaghfirullah. Huh, kenapa .. lari-larian, sih?" tanya Ayyana. "Kalian …?" Ayyana menujuk Aisyah dan Gwen. 



Memang tak ada lagi yang harus disembunyikan. Airy dan Ayyana sudah mengetahui Chen sudah kembali. Namun, mereka juga tak ingin merusak kejutan yang sudah dirancang oleh saudara kembar tiga itu. Akhirnya, mereka pulang lebih dulu untuk mempersiapkan kebutuhan pernikahan Rafa nantinya. 



Tapi sebelum berbisah, Airy memeluk Chen lebih dulu. 13 tahun lalu, Chen hadir sebagai anak lelaki kecil dengan bahasa yang sangat sopan memanggilnya dengan anda, bibi, dan juga memohon maaf. Kini, anak lelaki kecil itu datang kembali dengan wujud desawa yang tak banyak bicara dan hanya memancarkan senyuman di bibirnya. 



Waktu yang ditunggu telah tiba. Aisyah dan Gwen membawa Chen dan Asistennya pulang bersama. Mereka saling memgenggam tangan untuk memberikan kejutan. 


"Kak Chen, kau tunggu dulu di sini. Nanti aku biar Kak Aisyah dan Asistenmu yang mengangkatmu sampai depan rumah, oke?"


"Gwen!" sentak Aisyah dan Chen bersamaan. 


"Hih, kalian benar-benar tak menyayangiku. Asisten Dishi, bisakah kau menggantikan mereka menjadi kakakku?" keluh Gwen. 


Dibantu oleh Asisten Dishi, Aisyah dan Gwen berhasil memasukkan ke kardus kulkas yang baru saja mereka beli. Dimanakah kulkasnya? Chen mengirimnya ke pesantren untuk dapur di sana. 


Aisyah mulai mengetuk pintu dan mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum, Ayah, Ibu! Kami pulang!"


"Ayah, Mami! Aku pulang, aku lapar buruan buka pintunya!" sahut Gwen. 


Aisyah menatap Gwen, Gwen tersenyum dengan senyum bodohnya. Tak lama setelah itu, Yusuf dan Rebecca membuka pintunya seraya membalas salam dari kedua putrinya. "Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


"Loh, kalian sudah pulang? Katanya bakal pulang dua hari lagi?" ucap Rebecca. 


"Kita sudah rindu masakan Ayah, kita juga rindu pijitan kuat dari Ibu juga," jawab Aisyah. 


"Heleh, aku rindu dengan duit kalian aja, sih ...." sahut Gwen menambah ramai suasana. 


Yusuf mengetuk kening Gwen dengan pelan. Kemudian, menanyakan tentang siapa pria yang dibawa oleh kedua putrinya itu. 


"Oh, kenalin. Namanya Dishi, kami memanggilnya Asisten Dishi karena dia bekerja sebagai Asisten. Dia teman kami," ucap Aisyah memperkenalkan Asisten Dishi kepada orang tuanya. 


"Kita? Hahaha Kak Aisyah aja kali. Bawa-bawa nama kita, huhu," celetuk Gwen. 


Yusuf dan Rebecca menyambut kedatangan putrinya dengan baik. Tak ketinggalan juga menyambut Asisten Dishi dengan ramah. Begitu juga dengan Asisten Dishi yang memang gampang akrab dengan orang lain. Bahkan sampai mereka melupakan Chen yang masih terbungkus rapi kardus kulkas dengan diberi pita warna merah muda. 


"Sial, mereka melupakan aku!" umpat Chen.