Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Jovan Terluka



Di rumah Sachi, dia menjadi sudah tidur karena dibuat tidak enak hati dengan Lin Aurora dan atasannya sendiri. Namun jika diingat, Sachi memang kesal karena mereka berdebat di rumahnya, dan itu saja mereka berdebat hal yang tidak perlu didebatkan. 


"Mati aku! Aku mengusir atasanku sendiri. Ternyata Lin Aurora adalah istrinya Tuan muda Wang?"


"Apakah aku harus mencengkram kaki Budha agar aku tidak dapat masalah? Apakah aku harus ke gereja untuk meminta pengampunan? Ini Bos besar sendiri yang aku usir!"


Semalaman, Sachi tidak bisa terlelap karena wajah Lin Aurora dan Chen selalu terbayang di saat mereka terusir dari rumah Sachi. 


*****


***


Setelah mendrama di mobil, mereka turun dan masuk ke rumah. Beruntung pelayan Mo belum tidur, jadi ada yang membukakan pintu rumah. Pelayan Mo menyambut mereka dan menanyakan apakan mereka mau makan atau minum sekalian. 


Kompak, Chen dan Lin Aurora menjawab, "Tidak! Kami akan segara istirahat saja!" 


Pelayan Mo tersenyum mengerti. Pelayan Mo sudah bekerja di kediaman Wang sejak dirinya masih sangat muda. Jadi, tahu sekali karakter Chen yang begitu tidak tertarik dengan wanita dan kini tiba-tiba, mengkhawatirkan Lin Aurora, dengan bela-belain pulang malam menempuh waktu 4 jam untuk menjemput istrinya yang sedang menginap di rumah temannya. 


"Aku akan tidur dulu!"


Chen pergi begitu saja. Dengan cengengesan terhadap pelayanan Mo, Lin Aurora pergi juga menyusul Chen ke kamarnya. Ketika Chen hendak membuka pintu, Lin Aurora menabraknya dan membuat kunci kamsrmya terjatuh. 


CRING ….


"Oh Tuhan!" 


"Kenapa Engkau memberi istri sebodoh ini! Kau … huft, sabar Chen, sabar. Aku berharap semuanya segera berakhir," gumam Chen memungut kunci tersebut.


"Apa maksudnya dengan berakhir? Jangan bilang kalau kamu mau mengakhiri pernikahan kita," sahut Lin Aurora.


"Sok tau!" ketus Chen.


Setelah bersih-bersih diri, mereka tidur dengan saling membelakangi. Menyetir selama 4 jam memang sangat melelahkan. Membuat Chen langsung bisa tidur pulas dengan tenang. 


****


***


Semetara itu, Jovan sampai juga di kediaman Tuan Natt. Dengan usaha dan kecerdikannya, Jovan mampu menerobos masuk beberapa penjaga yang ada di gerbang utama kediaman Tuan Natt. 


"Aku dengar, penjagaan di rumah Tuan Natt begitu ketat sampai menyewa tenaga orang barat. Ini kenapa aku bisa begitu mudah menerobos, ya? Apakah ada jebakan?" gumam Jovan.


"Tidak peduli itu, aku harus bertemu dengan Lin Jiang malam ini juga!" 


Jovan mencari celah untuk bisa masuk ke kamar Lin Jiang. Hal itu bukan yang pertama kalinya. Jadi, Bagi Jovan tidak sulit untuk sampai ke kamar Lin Jiang. 


Melihat Lin Jiang sedang merenung, duduk di depan meja riasnya, membuat Jovan sedih. Jovan seperti tahu jika kekasih hatinya tidak menginginkan pernikahan itu juga.


Klek!


Suara gesekan jendela dengan kusennya terdengar, membuat lamunan Lin Jiang terpecah. "Jovan?" mengetahui Jovan datang, Lin Jiang langsung menghampirinya. "Apa yang kau lakukan di sini? Bsgaimana jika Ayahku tahu?" bisiknya. 


"Ini bukan yang pertama kalinya aku datang, bukan? Kenapa kamu sepanik ini?" tanya Jovan. Lin Jiang pun membantu Jovan masuk ke kamarnya. 


Mereka mulai memperdebatkan masalah. Jovan masih tidak terima karena Lin Jiang tiba-tiba memutuskan hubungan mereka. 


"Apa kau benar akan menikah besok?" tanya Jovan mencengkram erat kedua bahu Lin Jiang.


"Iya," jawab Lin Jiang.


"Kamu bohong! Aku tidak melihat dekorasi apapun di rumahmu. Kenapa kalau berbohong padaku, hah!" tanya Jovan mulai emosi 


"Aku menikah di gedung keluarga. Jika kau tidak percaya, kau bisa datang ke sana," jawab Lin Jiang dengan tatapan datarnya. 


"Kau tau, betapa hancurnya aku ketika kamu mengatakan ingin mengakhiri semuanya? Aku tidak tahu apa salahku, tidak ada balasan yang jelas, tapi jelas-jelas kau pergi meninggalkan aku," Jovan mulai berkaca-kaca matanya.


"Apakah aku hanyalah mainan bagimu? Apakah aku sampah? Apakah aku tidak berguna dalam hidupmu? Sehingga kau buang aku begitu saja, tanpa jelaskan apa yang salah pada diriku," lanjut Jovan.


"Aku mencintaimu ... Selama 10 tahun, setiap hari, setiap detik, aku hanya mencintaimu, Lin Jiang. Sudah sering kali aku katakan,  pertemuan kita di sekolah waktu itu,  aku sudah sangat mencintaimu. Apalagi saat ini?" 


"Apa cintaku padamu, hanyalah sebuah lelucon?" 


"CUKUP!" sentak Lin Jiang. 


Hati dan pikiran Lin Jiang sangat tertekan. Jika dirinya mengikuti kata hati, kata-kata orang yang dicintai, yakni Jovan, atau orang yang paling dia sayangi, yaitu Lin Aurora, akan binasa karena akan terbunuh oleh ayahnya sendiri. 


Demi melihat kedua orang yang ia sayangi hidup dengan aman, Lin Jiang lebih memilih mengikuti perkataan ayahnya dengan menikah bersama pria, yang belum pernah ia jumpai sama sekali. 


"Lin Jiang, jawab pertanyaanku! Kenapa kau diam saja, hah?" teriak Jovan.


"Ya!" jawab Lin Jiang. "Iya, kau benar!" lanjutnya. 


"Kau hanya mainan bagiku. Selama ini, aku mendekatimu dan menjadi kekasihmu, hanya untuk mencari informasi tentang keluargamu yang menyebalkan itu, Jovan," Lin Jiang menahan emosinya.


"Ternyata bukan kau saja yang bodoh, Jovan. Chen yang sulit di kendalikan, rupanya juga sangat bodoh!" sambung Lin Jiang.


"Hidup di dunia ini ... Jika kau terperdaya oleh cinta, apalagi kau jatuh cinta kepada musuhmu sendiri, maka kau akan tamat," 


"Aku, tidak pernah mencintaimu sama sekali. Sama sekali, Jovan!" 


Lin Jiang terus mengatakan bahwa dirinya membenci Jovan dan keluarganya. Guna, membuat Jovan membencinya dan segera melupakan cintanya. Lin Jiang juga mengatakan kepada Jovan, kedepannya untuk jauh berhati-hati dengan keluarga Natt. Sebab, keluarga Natt bekerja sama dengan Jackson Lim dan mantan Nyonya Wang. Dimana mereka memegang rahasia besar dari keluarga Wang dan keluarga Lim. 


"BOHONG!" Jovan mengelak. 


Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lin Jiang. 


"Jika benar kau tidak mencintaiku, kau tidak akan menghindari kontak mata dariku, Lin Jiang. Aku tau kau berbohong," Jovan mendekati wajah Lin Jiang. 


"Ayo, ikutlah bersamaku, aku akan membawamu ke tempat yang sangat jauh dan kita akan meninggalkan dunia hitam ini. Kita selayaknya orang-orang yang normal di luaran sana," Jovan mengulurkan tangannya. 


Lin Jiang menatap Jovan lekat-lekat. Kemudian, menepis tangan Jovan sembari berkata, "Dalam mimpimu!" dengusnya. 


"Aku sudah mengatakan jika aku tidak pernah mencintaimu, Jovan. Dimana kau mendapatkan rasa kepercayaan dirimu yang besar ini? Dasar tidak tahu malu!" ketus Lin Jiang mendorong tubuh Jovan.


"Katakan, apa yang harus aku buktikan supaya kau percaya bahwa aku tidak pernah mencintaimu," tatapan Lin Jiang tidak pernah hangat sejak Jovan datang. 


Jovan melihat ada belati di atas meja rias. Dia menunjuk belati tersebut dan meminta Lin Jiang untuk melukainya, sebagai bukti bahwa Lin Jiang benar-benar tidak mencintainya. 


Tanpa pikir panjang lagi, Lin Jiang mengambil belati tersebut dan mengarahkan ke bahu Jovan. 


"Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Jovan waspada. 


"Kau yang memintaku untuk membuktikan, bukan? Kenapa? Aoa kau takut?" desis Lin Jiang. 


Tanpa ragu lagi ...


Cruk!


Dua kali tusukan dilakukan oleh Lin Jiang kepada Jovan. Lin Jiang menusuk tidak terlalu dalam, mungkin Jovan hanya akan pingsan karena kehilangan darah dan racun yang ada di belatinya. 


"Terima kasih, atas 10 tahun terakhir ini. Kau telah memberiku warna kehidupan yang belum pernah aku rasakan dalam keluarga__"


Efek racun itu begitu hebat, Jovan langsung terkena racun yang terdapat di belatinya. Lin Jiang meminta pengawal pribadi Lin Aurora dulu untuk mengantar Jovan sampai ke kediaman Tuan Wang.


"Aku harap, setelah kejadian ini, aku tidak ingin mencintai seseorang lagi. Tapi aku selalu berdoa untukmu, supaya di kemudian hari kau mendapatkan wanita yang bisa mencintaimu dengan sepenuh hati." - Lin Jiang.