Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Membujuk



Gwen dan Aisyah masuk ke kamar yang ditempati Chen untuk istirahat. Mereka melihat kakaknya sedang sibuk di depan layar laptopnya. Menduga jika kakaknya tengah sibuk bekerja.


"Mau masuk kapan? Sepertinya dia sedang bekerja, deh!" bisik Aisyah.


"Benar juga. Nanti saja, atau bagaimana?" usul Gwen berbisik juga.


"Jika nanti, malah yang ada dia semakin merasa terabaikan. Tapi kalau saat ini ya ganggu juga, sih_"


Di saat kedua saudarinya sibuk berbisik. Chen menyadari keduanya ada di didepan pintu. Dengan berjalan tanpa suara, tiba-tiba saja Chen sudah ada di samping mereka. Chen sengaja tidak menegur kedua saudarinya yang sedang sibuk berdiskusi. Sesaat kedua saudarinya menoleh lagi ke dalam, mereka terkejut karena Chen sudah tidak ada lagi di atas ranjang.


"Waduh, dimana dia? Ngilang?" celetuk Gwen.


"Di kamar mandi mungkin. Kamar ini kan kamar mandinya ada di dalam," duga Aisyah.


"Haih, mana ada? Masa iya berjalan tanpa mengeluarkan suara. Harusnya kan srek, srek, srek gitu suara langkah kakinya," tebak Gwen.


"Kalian pikir aku apa?" kepala Chen tiba-tiba muncul dari sebeah pintu. Sehingga membuat kedua saudarinya terkejut sampai menjerit.


"Wey!"


"Astaghrirullah hal'adzim. Kak Chen!"


"Nggak lucu tau ngagetin kita begini. Kalau kami sampai jantungan dan kenapa-napa bagaimana?" kesal Gwen mengusap-usap dadanya.


"Eh, ya jangan kenapa-napa, dong! Serem ih! Astaghfirulah hal'adzim," sahut  Aisyah.


Seperti tak peduli dengan kagetnya kedua saudarinya, Chen malah memasang wajah datarnya. Aura dingin keluar dari tubuhnya yang tinggi itu. Membuat Aisyah dan Gwen seketika diam. "Kalian kenapa ke sini?" tanyanya dingin.


Bukan segera bicara, Aisyah dan Gwen malah saling menyenggol lengan untuk meminta salah satu dari mereka mengatakan tujuannya datang ke kamar Chen. Muak dengan tingkah konyol kedua saudarinya, Chen langsung menarik keduanya masuk ke kamar dan di dudukkan di ranjang.


"Katakan!" tegas Chen mengambil kursi kecil yang ada di depan meja rias.


Masih saja keduanaya saling menyenggol lengan, membuat Chen semakin kesal dibuatnya. "Kalian mau katakan sekarang, atau kubuat kalian tidak bisa bicara sungguhan, hah!" sentak Chen membuat Aisyah dan Gwen reflek mengucapkan kata maaf.


"Untuk apa kalian meminta maaf?" tanya Chen dengan ketus.


Aisyah mengalah. Ia pun memulai pembicaraan dan menjelaskan bahwa dirinya dan seluruh keluarga besar sangat menyayanginya. Jelas dari tatapan Chen, merasa tidak yakin dengan pernyataan yang Aisyah katakan.


"Kak, bukankah kamu selalu mempercayaiku? Kenapa sekarang begini?" tanya Aisyah dengan wajah manjanya. Membuat Chen tak kuasa ingin mencubit pipi gembul Aisyah yang sudah hampir tumpah karena balutan jilbabnya.


"Kaian bilang menyayangi aku, menghormati aku, membutuhkan aku dan selalu akan ada untukku. Tapi apa yang terjadi? Semua orang yang mengatakan itu, perlahan akan meninggalkan aku.Jadi, kenapa aku harus mempercayai ucapan tabu seperti itu?" ujar Chen membuang mukanya.


Gwen meraih tangan sang kakak, mengusapnya dengan pelan dan menggenggamnya. Menjelaskan bahwa yang dikatakannya tidak benar. Mendengar Gwen mengatakan itu, membuat Chen semakin marah,karena pada kenyataannya, Gwen telah meninggalkan dirinya dan pergi bersama pria lain,suaminya.


"Kamu memang mengatakan tidak akan meninggalkanmu, dengan arti tidak akan memutuskan ikatan persaudaraan kita. Tapi pernikahan ... semua orang juga mempikan itu,bukan? Hidup bersama dengan orang yang kita cintai, berbagi suka duka, membangun rumah tangga, memiliki anak. Semua itu juga demi keluarga, bukan?" jelas Aisyah.


"Kak, kami selalu mencintaimu sampai kapanpun. Kau kakak kami,kakak kandung kami, panutan kami dan tempat kami bersandar di saat Ayah dan Ibu kita hilang seperti ini. Mengapa kau merobohkan sandaran kami?" sahut Gwen kembali menggenggam tangan Chen yang sebelumnya Chen hempaskan.


Mereka menjelaskan secara perlahan kepada Chen. Memang tak adil baginya, namun akdir hidup memang seperti itu adanya. Pergi, datang, ketulusan, pengkhianatan,kasih sayang sudah menjadi bumbu dalam takdir semua umat manusia.


"Kak, jika kamu menikah, kami juga akan bahagia untukmu. Memiliki keluarga seperti istri, anak dan membahas masa depan, apa itu tidak asik? Itu sangat menyenangkah, kita jadi tau roda kehidupan, ayo ... jangan jalan ditempat saja.Kami tetap menjadi adikmu!" sambung Aisyah.


Berkali-kali Aisyah dan Gwen jelaskan mengenai kehidupan selayaknya. Akhirnya Chen mengerti. Tak terasa,air matanya mulai mengalir. Ia trauma akan kehilangan dan pengkhianatan, itu sebabnya diirnya sangat berat jika Aisyah menikah dalam waktu dekat.


"Aku harus apa setelah kalian sibuk sendiri-sendiri? Aku harus apa?" tanya Chen.


"Aku hanya bingung, tak ada lagi hasrat hidup. Selama ini, aku tetap bertahan hidup juga untuk kalian. Jika kalian sudah memiliki imam hidup masing-masing, aku harus bagaimana?" lanjutnya.


"Rifky masih kecil. Dia akan tinggal dan di rawat dengan keluarga di sini. Jika untuk ansuransinya, aku sudah memikirkannya. Tapi, setelah ini aku harus apa?"


"Aisyah, Gwen, kalian penyemangat hidupku. Aku tidak marah kalian menikah, aku tidak keberatan kalian menikah dengan siappaun karena kalian yang menjalaninya. Tapi, aku sama siapa sekarang? Tak enak hati juga jika aku selalu mengeluh kepada kalian dengan masalah sepele, aku juga mikir pasti kalian sedang mengurus suami kalian masing-masing,"


"Aku harus apa? Katakan padaku," tangkas Chen menyeka air matanya.


Tak kuasa, Aisyah dan Gwen langsung memeluk kakak tersayangnya. Mereka tidak menyangka jika kakaknya sampai berpikir sangat jauh. Pada kenyataannya, mereka tidak akan pernah mengabaikan setiap keluhan kakaknya.


Asisten Dishi tidak sengaja mendengar ungkapan hati Tuannya yang begitu mengharukan. Dia pun mengetuk pintu dan ingin masuk menemui Chen. Begitu juga dengan Agam yang sudah berada di belakangnya.


"Kau menguping?" desis Chen memalingkan wajahnya.


"Um, tidak Tuan. Hanya menyimak dari awal kejadian," jawab Asisten Dishi dengan menyengir.


"Kubunuh kau!" kesal Chen mengeluarkan pistolnya.


"Kak Chen!" seru Aisyah dan Gwen.


Kembali Chen memasukkan pistolnya ke saku. Asisten Dishi dan Agam ikut membujuk supaya Chen tidak lagi marah kepada kedua adiknya. Kekesalan yang dialami Chen juga bisa pahami. Lika liku perjalan Chen juga tidak sesederhana kehidupan kedua saudarinya. Asisten Dishi mengerti akan itu.


"Baiklah, aku tidak marah lagi. Tapi aku memiliki permintaan permanen dan tidak dapat diubah. Harus!" pinta Chen.


"Katakan, Tuan,"


"Aku ingin adikku tetap menjadi milikku meski dalam agama mereka akan menjadi milik suaminya. Aku tidak terima itu, aku baru bersama dengan mereka kurang dari satu tahun dan terpisah selama 22 tahun. Masa iya kalian yang enak-enakan memilikinya,"


Permintaan Chen malah membuat semuanya tertawa. Sungguh seperti anak-anak yang tidak ingin mainannya di rebut oleh orang lain. Untuk membuat suasana hati Chen baik, mereka berempat un menyetujui apa yang dipinta oleh sang Mafia sedikit gesrek ini.