
Meski waktu yang berbeda, malam di Tiongkok sangat berbeda dengan malam di Korea. Menginap di pegunungan, membuat Chen kedinginan. Tidak ada pemanas ruangan di penginapan itu. Membuat Chen sulit untuk tidur.
Chen grusa-grusu, membuat Lin Aurora sulit untuk memejamkan matanya. dia melihat Chen terus menggerakkan kakinya. "Kamu kedinginan?" tanyanya.
"Tidak," jawab Chen.
"Jika kedinginan, aku bisa bantu, loh!" bisik Lin Aurora lagi.
Chen melirik kearah istrinya. "Tidak!" jawabnya lagi, kali itu dengan nada ketusnya.
"Ck, menyabalkan! Begadang lah kau sampai pagi!" Lin Aurora sudah kesal.
**
*
Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Lin Aurora terbangun karena sulit tidur sejak malam akibat Chen terus saja bergerak di ranjang. Ia berusaha menghubungi orang rumah lagi, untuk mengatakan bahwa dirinya pergi bersama dengan Chen. Namun, tetap saja tidak ada yang meresponnya. Terlintas untuk menghubungi Lin Jiang dan hendak menanyakan tentang putusnya hubungan dia dengan Jovan. Hal itu juga Lin Aurora urungkan karena sudah merasuk ke urusan pribadi.
"Kau terbangun?"
Suara Chen membuat Lin Aurora terkejut. Ia sampai melompat dari ranjang hanya memastikan jika Chen benar-benar belum tidur sejak semalam.
"Chen … Kamu membuatku terkejut saja! Apa kamu tidak tidur sejak semalam?" Lin Aurora sampai mengusap-usap dadanya.
"Lah, aku membuatmu terkejut bagaimana? Bukankah aku juga bertanya dengan halus, ya? Lalu, dimana posisi aku mengejutkanmu?" elak Chen.
"Aku kira kamu sudah tidur," ujar Lin Aurora kembali merebahkan tubuhnya.
"Jujur, udaranya sangat dingin. Selimut juga cuma satu, ini juga kasur cuma satu lapis. Di area pegunungan sepeti ini, harusnya dapat fasilitas yang lebih dari ini," protes Chen.
Chen memang tidak kuat berada di udara yang begitu dingin. Sekalipun dia mampu menahan dingin, harus mengenakan pakaian yang super tebal dan berlapis-lapis.
Saat itu, Lin Aurora hendak menawarkan sebuah pelukan. Awalnya ingin menggoda Chen, tapi tiba-tiba lampunya mati. Reflek Lin Aurora menjerit, ia takut pada kegelapan, hanya alasan saja. Tak lama setelah itu, hujan turun sangat deras disertai petir. Menambah Lin Aurora semakin histeris.
"Aaaaaa!" teriak Lin Aurora memeluk Chen.
"Ada apa?" tanya Chen konyol. "Kau ini kenapa harus berteriak? Hanya hujan dan suara petir, bukankah di perbatasan lebih dari ini menakutkannya?" Chen tidak bisa di bodohi.
"Tapi aku benar-benar taku, Chen. Serius sumpah__" manjanya Lin Aurora.
Chen langsung menenangkan istri manjanya itu. Dia juga memeluknya agar istrinya bisa jauh lebih tenang lagi. Akan ada masalah nanti, jika Tuan Zi mendengar jeritan dari Lin Aurora dan mengacaukan insiden mati listrik iyu. Chen meraih selimut yang sebelumnya ia gunakan untuk membalut kakinya. Kemudian menyelimuti dirinya bersama dengan istrinya.
"Sudahlah, aku ada di sini, tenang, ya …." ucap Chen mengusap-usap baju istrinya dengan lembut.
"Kamu enak bicara tenang saja, lah aku paling takut sama kegelapan. Apalagi ini hujannya deras sekali," jawab Lin Aurora berakting dengan gemetar. "Huh, padahal cuma hujan begini," batinnya meremehkan.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu, Lin!"
Penginapan itu bangunannya sangat kuno. Banyak sekali furnitur luar yang terbuat dari bambu. Jika hujan deras seperti itu, percikan airnya akan jauh lebih keras di dengarnya. Sehingga Chen tidak bisa mendengar apa yang istrinya katakan.
"Apa kau tuli? Aku tidak bisa mendengar perkataan dirimu tadi," lanjut Chen.
"Tidak masalah, lupakan saja!" seru Lin Aurora.
"Haduh, kenapa Chen itu jika dari dekat terlihat begitu tampan, sih?" gumam Lin Aurora dalam hati, sembari menatap suaminya.
"Kamu ngomong apa barusan?" tanya Chen sekali lagi.
"Em …."
Chen menoleh ke arah wajah istrinya, dan tidak sengaja Lin Aurora mengecup pipi Chen. Mereka saling menatap, karena terlihat sangat gelap, wajah Lin Aurora sampai tidak kelihatan.
"Ternyata kamu hanya mau mencuri-curi kesempatan, ya?" bisik Chen. "Kenapa kamu mengecup pipiku?" lanjutnya dengan menoel dagu istrinya.
Lin Aurora mengggeleng cepat. Mengelak jika dirinya memanfaatkan keadaan. Namun, tidak dapat di pungkiri lagi, jika Lin Aurora suka dengan situasi seperti itu.
Chen menyentuh bibir Lin Aurora menggunakan jarinya dengan lembut. Darah Lin Aurora kembali berdesir, ia menerima sentuhan lembut sampai mencengkram selimutnya dan kakinya mengkerut. Tiba-tiba saja, Chen menyapu habis bibir tipis istrinya dengan hasrat yang memburu.
Sedangkan Lin Aurora yang sudah dimabuk cinta, ia tak bisa menolak apa yang dilakukan suaminya kepadanya. Malah ia menyambut sapuan bibir itu dengan penuh hasrat juga, meski dirinya belum mahir dalam penyapuan.
Kini, tangan Chen mulai nakal masuk kedalam pakaian Lin Aurora dan menyentuh semua miliknya. Hujan semakin deras, petir yang menyambar, ditambah mati listrik membuat keduanya susah untuk dihentikan, nafsu dan setan sudah menguasai emosinya. Padahal, seharusnya tidak masuk dalam musim hujan.
Perlahan demi perlahan, sentuhan demi sentuhan, Chen lakukan dengan lembut agar Lin Aurora semakin tak terkendali.
Mereka melakukan hubungan yang memang seharusnya sudah mereka lakukan setelah menikah di Jogja.
"Kamu manis sekali,"
Chen memeluknya dengan erat, membelai lembut punggung Lin Aurora yang sudah tak berbusana meski dalam selimut. Namun, ketika sudah mulai bersatu, situ lampu pun menyala.
"Lin?"
Chen tersadar, mereka sudah tanpa busana saat itu. Segera Chen meraih bajunya dan memakainya. Ia menyesal apa yang sudah ia lakukan kepada Lin Aurora. Sebab, Chen menjalani itu bukan atas kemauannya sendiri karena tugas seorang suami. Hanya terbuai oleh heningnya malam dan suasana hujan yang membuatnya berpikiran liar.
"Lin, aku … aku benar-benar minta maaf. Aku … astaga apa yang aku lakukan!" Chen terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Kita sudah menjadi suami istri. Bukankah melakukan itu adalah hal wajar, ya?" tanya Lin Aurora merasa kecewa.
"Aku ingin melakukan itu jika hatiku berkehendak. Menganggapmu sebagai istri, bukan sebagai wanita malam," gumam Chen.
Lin Aurora menggenggam tangan suaminya. Kemudian membeli menyelimuti tubuh suaminya dengan dirinya memeluk Chen.
"Apakah selama ini, kamu tidak pernah menganggapku sebagai istri?" lanjut Lin Aurora bertanya.
"Mana bisa? Aku ingin menghindari pun tetap saja tidak bisa. Kau tetap menjadi istriku!" jawab Chen dengan ketus.
Lin Aurora menggenggam erat tangan suaminya, "Kalau begitu, kenapa kau tidak pernah melaksanakan kewajibanmu?" bisiknya.
"Itu karena kita masih belum sama-sama siap. Makanya aku menghormati keputusanmu," sahut Chen membuang muka.
"Jika malam ini kita lanjutkan ... bagaimana? Bukankah, kau tadi sudah ... atau kamu yang memang tidak mampu melakukan itu?" Lin Aurora sengaja memancing emosi Chen.
Bukannya emosi, Chen malah ingin membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan 'itu'. Chen pun berbalik, kini dirinya yang berada di atas. Kemudian merebahkan tubuh Lin Aurora dengan sedikit kasar. Mereka pun .....
(Haduh, author meradang)