
Dishi menghela napas. Kemudian menggenggam tangan istrinya yang dingin. Ia menjelaskan, jika kematian seseorang tak harus membuatnya berduka selamanya.
"Badannya mungkin hancur, tapi tidak dengan namanya. Ilkay selalu ada di hatimu. Ingat, Sayang … tugas Ilkay sudah selesai di dunia. Tugas kita belum, jalan kita masih harus kita lalui, kamu harus bisa ikhlas," tuturnya.
"Ilkay anakku, kepergiannya tentu saja membuatku sedih dan terluka. Tapi, aku akan semakin terluka jika melihatmu seperti ini. Aku sudah gagal menjaga putraku, aku menyalahkan diriku sendiri akan itu. Tolong, Ai … Jangan biarkan aku gagal juga untuk menjaga dan membahagiakan dirimu," air mata Dishi tak terasa menetes membasahi pipinya.
Melihat air mata yang menetes di pipi suaminya, Aisyah langsung menyekanya. Baru ia tersadar, jika air matanya untuk Ilkay, hanya akan memberatkan langkah Ilkay menuju alam kubur saja.
"Kenapa kamu menangis, suamiku. Aku sungguh minta maaf telah membuatmu sedih. Tapi tolong, jangan pernah meneteskan air matamu hanya untuk keegoisanku," Aisyah mengusap air mata suaminya.
"Aku akan pikirkan lagi masalah ujian. Tapi jangan lagi kamu menangis untukku, hm?" sambung Aisyah.
Dishi mencium kening Aisyah dengan lembut. Kemudian membuka makanan yang ia bawa dan mulai menyuapi istrinya. Meski tidak makan banyak, Dishi senang jika Aisyah tidak mengabaikan kesehatannya.
Usai makan, sudah saatnya membawa Ilkay pulang. Yue, Hamdan, Gu dan Mayshita serta Ayden bersiap untuk mengantar. Sementara Dishi membawa Aisyah pulang ke apartemen. Dilanjutkan, Leo mengantar pulang Bora, sahabat Aisyah.
Akibat kelelahan, Aisyah sampai tertidur di mobil. Dishi tidak tega membangunkannya, ia pun segera memarkirkan mobilnya dan menggendong Aisyah sampai ke apartemennya.
Keadaan memang membuat semua orang lelah, meski Dishi juga sangat lelah, ia tidak mengeluh dengan semuanya. Cintanya dengan Aisyah sangat dalam, cintanya kepada Tuhannya juga sangat tinggi. Itu sebabnya, Dishi berperilaku sabar untuk bisa menguatkan Aisyah.
Perlahan, Dishi merebahkan tubuh Aisyah, melepaskan sepatunya dan segera ke kamar mandi mengambil lap serta air hangat untuk membersihkan kaki Aisyah. Dengan telaten, Dishi juga mengelap tangan Aisyah.
Saat hendak membuka kancing baju Aisyah, tangan Dishi terhenti. "Tidak! Aku belum izin untuk membukanya, lebih baik tetap memakai ini saja."
Usai membersihkan tangan dan kaki sang istri, Dishi kemudian membersihkan diri sendiri dengan mandi menggunakan air hangat. Merendam tubuhnya dan melepaskan semua beban yang ada pada pikirannya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja …," tak di sangka, kelelahan itu membuat Dishi terlelap di bak mandinya.
Malam mencengangkan yang dirasakan Gwen dan semua keluarga di Jogja. Chen belum juga sadarkan diri. Keadaannya menjadi memburuk. Tak ada gejala apapun, Gwen tiba-tiba lemas dan pingsan.
"Dek, astaghfirullah hal'adzim. Dek, Gwen!" Agam panik ketika istrinya pingsan.
Disampingnya, ada Agam dan Raihan yang sedang menunggu Chen di luar. Tak ada wanita lain dari keluarga yang bisa Agam mintai tolong. "Paman Adam, bisa tolong saya? Gwen pingsan."
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa bisa? Apa dia belum makan, atau kelelahan juga?" tanya Raihan.
"Adam, kamu gendong dia. Paman akan panggilkan suster atau dokter. Bawa dia ke unit dulu," ucap Adam berlari segera.
Raihan juga akan bicara dengan yang menunggu di dalam jika Gwen pingsan dan saat itu langsung dibawa oleh Agam ke unit gawat darurat. "Kok, bisa? Kenapa dia?" tanya Rebecca.
"Barusan aku juga dapat kabar, jika Aisyah mengalami demam. Apa ini? Mereka kembar, apakah harus bersamaan begini sakitnya?" sahut Airy.
"Aisyah juga? Padahal dia harus ujian. Ya Allah, ada apa dengan anak-anakku?" Rebecca sangat gelisah mendengar putra-putrinya sakit secara bersamaan.
Beruntung saja, Baby Rifky masih sehat wal'afiat di rumah bersama bersama Lin Aurora dan Ayyana. Gwen pingsan karena kelelahan saja, memang tidak ada gejala apapun karena sebelumnya Gwen selalu sehat. Makan teratur dam tidak pernah punya beban pikiran selama ia hamil.
"Ini ikatan batin antara Gwen, Chen dan Aisyah. Mereka sama-sama tumbang di saat salah satu dari mereka ada yang sakit," ucap Raihan.
"Apakah Kak Aisyah juga sakit, Paman?" tanya Agam.
Raihan mengangguk. "Dia hanya demam, tapi hari ini adalah hari ujian dia. Semoga saja, Allah selalu memberikan hal yang terbaik bagi kita semua, aamiin." tuturnya dengan lirih.
Keesokan harinya di Korea, Aisyah terbangun dengan kepala yang masih pusing. Aisyah mendapati ada kompresan di keningnya. Ketika ia menoleh ke meja samping ranjang, ia menemukan sepucuk surat dari suaminya.
"Bangun, salat subuh sendiri, ya. Tadi aku sudah bangunin kamu, tapi kamu tidak kunjung bangun. Jadi, aku salat duluan, aku lagi siapin makanan enak buat kamu. Gih, bersih-bersih, Sayang."
FLASHBACK sebentar semalam.
Aisyah tidak tahu saja. Semalam setelah Dishi selesai mandi, Dishi melihat kening Aisyah yang terus mengeluarkan keringat, padahal cuaca sedang dingin. "Ai, berkeringat?" gumamnya.
Dishi pun memeriksa kening istrinya, menyentuh perlahan supaya tidak membangunkannya. Demam tinggi menyerang sang istri, segera ia memberikan pertolongan pertama. Memberinya pereda panas dan juga mengompres tangan serta kening Aisyah.
Semalam juga Dishi tidak dapat tidur karena harus rutin dua jam sekali memeriksa suhu tubuh sang istri. Di saat demam tinggi, hanya nama Ilkay yang di sebut oleh Aisyah, menandakan jika Aisyah benar-benar terpukul atas meninggalnya Ilkay.
"Ilkay, Mama … Mama di sini,"
"Kenapa Ilkay … kenapa mau meninggalkan, Mama?"
Terus saja Ilkay yang keluar dari bibir Aisyah. Membuat Dishi semakin tidak tega padanya. "Bahkan suhu tubuhnya sudah setinggi ini, dia masih tidak mau dibawa ke rumah sakit," gumam Dishi.
"Sayang, kita kerumah sakit, yuk. Kamu demam loh, aku takut kamu kenapa-napa. Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Dishi.
"Hm? Ada apa?" Aisyah terbangun.
"Kita ke rumah sakit," ajak Dishi lagi.
Namun, Aisyah menolak dan hanya ingin tiduran di kamar saja. Dishi sudah hilang akal lagi dalam membujuk sang istri. Hanya Bora, sahabat Aisyah yang bisa membantunya mengatasi demam tinggi yang dialami Aisyah.
"Gampang saja, Oppa buka baju, pastikan tidak ada sehelai benangpun di tubuh Oppa. Kemudian, buka baju Aisyah sama dengan Oppa membuka baju. Tanpa sehelai benang, itu artinya tutup gunung kembar juga harus di buka. Lalu, Oppa peluk erat serta bisikkan hal yang bisa membuat Aisyah tenang, dijamin manjur!"
"Kau gila? Itu jika Aisyah mengigil, ini tidak Bora!" pipi Dishi memerah karena malu.
"Haih, di coba saja dulu. Aku akan menyembah pantaat mu jika memang cara yang aku usulkan gagal. Dia istrimu, kau suaminya, kenapa masih malu-malu, lakukan saja! selamat mencoba~"
Sebelum melaksanakan cara yang diusulkan oleh Bora, Dishi memikirkannya matang-matang. Ia hanya tidak tega jika harus menanggalkan pakaian Aisyah jika belum mendapat izin darinya, meski Aisyah sudah menjadi istri sahnya.
"Tak ada cara lain. Cara Bora ini harus aku lakukan!" gumam Dishi menyemangati diri.
"Sayang, maafkan aku, aku harus tidak sopan padamu …,"
Perlahan, Dishi membuka kancing baju sang istri. Ia memejamkan matanya supaya tidak melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.
Setelah membuka baju Aisyah, ia pun membuka bajunya sendiri. Dipeluk lah sang istri, kemudian melepas tutup gunung salju yang dimaksud oleh Bora. Pelukan itu membuat Aisyah nyaman, tanpa sadar Aisyah membalas memeluk Dishi.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Dishi berdebar kencang. Dia pria normal, yang merasakan lekuk tubuh seorang istri menempel padanya, pasti akan merasa tegang. Namun, Dishi menyampingkan hasratnya, karena situasi memang tidak aman baginya.
Begitulah malam yang dilalui Aisyah dan Dishi kala demam menjadi dinding dalam tidur mereka.