
Usai makan siang bersama, Aisyah menanyakan kapan Raza kembali dari Malaysia. Sebab, waktu yang dipakai kunjungan Raza ke Malaysia juga hanya sebentar dalam hitungan hari saja.
"Bagaimana Pak Raza bisa sampai di sini? Bukankah kamu di Malaysia setelah pulang dari Tiongkok?" tanya Aisyah.
Raza hanya mengangguk, kemudian menyambung makannya. Ada hal yang ia sembunyikan kalau itu. "Lalu, bagaimana kabar Ibu?" sambung Aisyah.
Tangan Raza terhenti. Menelan makanannya dengan pelan. Matanya mulai berpaling, memperlihatkan dengan jelas jika ada yang tidak baik-baik saja.
"Pak Raza … ada apa?" tanya Aisyah kembali. Sementara itu, Asisten Dishi sibuk melihat keduanya dan lahap menakan makanannya.
"Ibu … Ibu sudah meninggal, Dokter. Beliau meninggal ketika kami sampai di Malaysia selama dua hari," jawab Raza tersenyum dengan paksa.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un. Sakit apa, Ibu?"
Raza tidak menceritakan lebih detailnya. Ia hanya mengatakan bahwa Ibunya meninggal karena serangan jantung. Menjadi anak satu-satunya bagi sangat Ibu memang berat bagi Raza menjalani kehidupannya.
"Kita sama, aku juga sudah tidak memiliki keluarga lagi. Hanya saja--" ucapan Asisten Dishi terputus karena ia tak ingin mengingat masa lalunya yang kelam juga.
Aisyah tersenyum, ia tak akan bertanya lebih dalam lagi karena itu sudah menyangkut hal pribadi bagi kedua pria yang ada di depannya itu. Mood Aisyah sudah kembali baik, ia tak lagi kesal ataupun kepikiran dengan kata-kata Gwen pagi tadi.
Setelah makan siang, Aisyah meminta keduanya untuk pulang lebih dulu. Ia ingin melanjutkan pekerjaannya di puskesmas. Asisten Dishi menolak untuk pulang, namun Aisyah akan marah kepadanya jika dirinya tak ingin kembali lebih dulu. Sementara itu, Raza juga pamit hendak melanjutkan janji yang tertundanya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, ya ..." pamit Raza.
"Hati-hati, ya, Pak Raza. Terima kasih sudah membantu saya tadi," ucap Aisyah.
"Em, lain kali panggil saja dengan sebutan nama saya, ya. 'Kan saya bukan lagi guru pembimbingnya Gwen. Jika susah memanggil saya dengan nama saya, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan Mas." pinta Raza sebelum ia pulang.
Bagi Aisyah, menjadi dokter adalah pilihannya. Ia dapat melupakan masalahnya jika sudah berada di puskesmas dan bertemu dengan pasiennya. Aisyah juga ingin memberi Gwen pengajaran supaya Gwen mampu bersikap dewasa. Aisyah memiliki rencana bersama Asisten Dishi untuk tidak mempedulikan Gwen untuk sementara waktu.
~_~
Waktu bekerja telah usai, Aisyah membereskan semua peralatannya. Ia juga mulai bersiap akan pulang. Teringat jika ada seseorang yang sedari tadi menunggunya di balik tirai tempat Aisyah istirahat. Seseorang itu rupanya tengah tertidur pulas dengan pose wajah yang lucu seperti bayi saat tidur.
"Haih, wajahnya seperti anaknya Kak Anthea saat tidur. Kasihan juga sejak tadi nungguin aku kerja. Pasti dia jenuh sampai ketiduran." gumam Aisyah dalam hati.
Melihat Asisten Dishi yang begitu lucu, Asisten Dishi ter-ingin sekali mengerjainya. "Oho, Kak Chen, kau ada di sini?" ucap Aisyah sedikit keras suaranya membuat Asisten Dishi terkejut dan terbangun dari tidurnya.
Wajah tampan itu membuat Aisyah tertawa terpingkal-pingkal. Rambut yang acak-acakan menambah imut wajah sang Asisten. Aisyah semakin keras tertawanya kala Asisten Dishi langsung berdiri dengan wajah kebingungan.
"Haha ... lihatlah wajahmu, Dishi. Wajahmu ini imut sekali, aku tak kuat ingin tertawanya ...." ejek Aisyah.
"Kau menggodaku, Aisyah? Beraninya kau. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu nanti, ya!" seru Asisten Dishi mengejar Aisyah.
Mereka terlibat kejar-kejaran di dalam ruangan itu. Bersama dengan Asisten Dishi memang bisa membuat Aisyah tertawa lepas. Selama ini, ia hidup dalam ketegangan dalam hidupnya. Susah untuk tertawa lepas karena tidak memiliki sahabat atau seseorang yang satu frekuensi.
"Aisyah, aku pusing sekali. Aku memiliki darah rendah," keluh Asisten Dishi menyandarkan dirinya di tembok dekat meja Aisyah.
Mungkin, keduanya sudah terbuai dengan canda tawa mereka. Reflek, Asisten Dishi memeluk Aisyah saat Aisyah menghampirinya. Pelukan Asisten Dishi seakan menghentikan waktu saat itu. Mata mereka saling menatap, angin sejuk seolah masuk ke ruangan tersebut seraya suara biola merdu mengiringi pelukan mereka.
Kring....
Suara ponsel Aisyah menyadarkan lamunannya. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Asisten Dishi dan meraih ponselnya, memeriksa siapa yang saat itu menelponnya.
"Gwen?" gumam Aisyah.
Aisyah dan Asisten Dishi sepakat untuk tidak memanjakan Gwen lagi. Aisyah sengaja tidak mengangkat telpon tersebut dan segera mengajak Asisten Dishi pulang.
"Ma-maaf yang tadi ... Aku benar-benar hilang kendali," sesal Asisten Dishi mengusap-usap kepalanya.
Sudah sering kali Aisyah memperhatikan. Jika Asisten Dishi mengusap kepalanya, pasti ia baru saja melakukan kesalahan. Baik itu kesalahan besar maupun kecil. Aisyah tersenyum ikhlas dan memperingatinya dengan lembut.
"Lain kali, jangan seperti ini lagi, ya. Hargai aku sebagai wanita, dan hargai agamaku. Mungkin memang kita jangan terlalu dekat atau sampai berduaan seperti ini," tutur Aisyah lembur.
"Maaf, Dishi. Bukan maksud--" belum juga Aisyah mengakhiri ucapannya, Asisten Dishi sudah memutusnya. "Aku sungguh minta maaf, Aisyah." ucapnya.
"Tegur aku jika aku melakukan kesalahan lagi. Aku terbawa suasana. Maafkan aku," raut wajah penyesalan sangat terlihat jelas. Aisyah memaklumi hal itu.
"Sudahlah, mari kita pulang!"
Sebelum ke rumah, mereka memutuskan untuk berbelanja kebutuhan rumah yang sudah habis. Aisyah juga membelikan ibunya susu hamil dan beberapa buah agar Ibunya selalu sehat.
Mereka bak pasangan muda yang baru saja menikah. Berbelanja bersama sambil bergurau. Apalagi, Asisten Dishi juga tidak jaim menunjukkan sifat humorisnya yang selama ini terpendam.
Ketika mereka asih bergurau, mereka tak sengaja melihat Raza bersama seorang wanita berparas cantik nan seksi. "Siapa wanita itu?" batin Aisyah penuh tanda tanya.
"Itu bukannya, Tuan Raza, ya? Dengan siapa dia?" tanya Asisten Dishi.
"Entahlah, mungkin kekasihnya. Mari, kita belanja lagi. Masih ada banyak yang harus kita beli!" seru Aisyah tak ingin tahu masalah pribadi orang lain.
Ketika mereka hendak berpapasan, Raza memberi kode kepada Aisyah dan Asisten Dishi untuk tidak menyapanya dengan satu kedipan mata. Aisyah melihat jika Raza begitu dingin perlakuannya terhadap wanita itu.
"Kenapa dia tidak mau di sapa, ya?" gumam Aisyah.
"Sudahlah, itu menjadi urusannya. Sebaiknya, kita jangan ganggu dia. Mungkin saja, Tuan Raza sedang kencan buta." sahut Asisten Dishi.
"Kencan buta? Maksudnya perjodohan?" batin Aisyah masih saja ingin tahu. "Kenapa aku sakit hati, ya? Aku nyaman dengan Asisten Dishi, tapi ...."
"Aisyah, ayo!"
Lamunan Aisyah tersadar dengan teriakan Asisten Dishi. Aisyah tak tahu dengan hatinya saat ini, sejak bersama dengan Raza selama tiga bulan, memang ia mengangumi sosok Raza karena hampir mirip sikapnya dengan Ustadz Khalid dan juga sabarnya sama dengan sabarnya Ayahnya.
Namun, di sisi lain, ia juga merasa nyaman bersama dengan Asisten Dishi, yang ditakutkan Aisyah akhirnya terjadi juga. Ia takut jatuh cinta karena dirinya mudah mengagumi seseorang dengan hati dan sifat yang baik seperti Ayahnya dahulu.