Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
DEG!



"Kenapa sampai harus operasi? Bukankah delapan bulan juga usianya sudah cukup?" tanya Tama.


"Janin tidak mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi yang cukup, sehingga harus dilahirkan secepatnya," jawab dokter.


Yang lain sibuk dengan persiapan operasi. Selain Agam, yang lain harus menunggu di luar. Tama masih sangat tegang ketika mendengar Gwen harus operasi Caesar.


"Apakah ada kemungkinan lain untuk ibu hamil yang harus lahiran Caesar?" tanya Tama lagi masih belum paham.


"Proses persalinan tidak berjalan dengan baik atau ibu mengalami perdarahan ****** yang berlebihan juga biasa terjadi, Mas," jawab Aisyah.


"Preeklamsia!" sahut Feng.


"Apa itu?" tanya Tama lagi.


"Ibu mengalami kehamilan dengan tekanan darah tinggi," jawab Feng.


Persiapan awal yang akan dilakukan dokter pada pasien di ruang bedah adalah memberikan anastesi dan mengosongkan kandung kemih. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara pemasangan kateter.


Anastesi yang diberikan umumnya adalah anastesi epidural atau spinal yang hanya akan membuat tubuh bagian bawah mati rasa, namun pasien tetap terjaga. Namun perlu diingat, untuk beberapa kondisi, dokter mungkin akan memberikan anestesi umum, di mana Anda akan tertidur selama proses berlangsung. Konsultasikan dengan dokter mengenai jenis operasi yang paling sesuai dengan kondisi Anda


"Aduh aku semakin pusing," jawab Tama menepuk keningnya sendiri.


Sekitar 50 menitan, akhirnya terdengar suara bayi yang sangat keras. Suaranya mampu membuat hati tersentuh dan merinding. Gwen akhienya melahirkan setalah berjuang.


Namun, dibalik kebahagiaan itu, anggota keluarga mereka juga ada yang berpulang. Antara senang atau harus sedih karena 3 keliatga pergi, satu hadir di dunia.


"Bayi Gwen lahir, tempat di mana nenek dan juga paman dan bibinya meninggal. Kak Chen, dia belum sempat melihat keponakannya lahir," air mata Aisyah berderai.


"Ai, semua sudah takdir Allah. Ibu kamu kakak dan juga Kakak iparmu, bahkan sahabatmu juga, pergi dengan cara seperti itu. Itu semua sudah takdir mereka," ucap Tama.


"Aku yakin suamimu pasti akan segera ketemu dan mendapatkan kabar. Berdoa saja, jika dia memang baik-baik saja. Atau mungkin, dia terluka dan dirawat oleh seseorang, kita juga tidak tahu, 'kan?" imbuh Feng.


"Benar apa yang dikatakan oleh Feng. Suamimu tidak teridentifikasi dengan semua tulang-tulang atau jenazah lain yang ada di rumah sakit. Siapa tahu, suaminya sudah keluar sebelum ledakan itu dan dia selamat," sambung Tama membelai kepala adiknya.


"Aamiin," ucap Aisyah.


Keluarlah Agam dengan wajah yang sumringah dengan menggendong buah hatinya. Anak mereka berjenis kelamin perempuan. Lahir dengan sehat dan tidak ada kurang apapun.


"Ini anak kalian?" tanya Feng.


"Iya," jawab Gwen.


"Bagaimana keadaan, Gwen?" tanya Aisyah khawatir.


Jika Feng dan Tama bahagia menyambut keponakannya, Aisyah malah panik menanyakan adiknya. Saat itu, hanya Gwen adik yang bisa di ajak berbagi cerita. Adik bungsu mereka masih kecil dan itu saja selalu di rawat oleh Raihan dan Laila.


"Gwen belum sadarkan diri, dokter mengatakan bahwa dia mengalami pendarahan. Jika aku bisa, aku akam terus berada di sisinya. Mengatakan bahwa saat ini dia butuh ruang tersendiri," jawab Agam.


Aisyah semakin terpukul. Dia trauma akan kehilangan seseorang. Perlahan, kakinya menjauh dari ruang operasi dan berlari keluar. Mencari mushola dan masuk ke sana dengan menenangkan diri.


"Dia butuh waktu. Meskipun aku dan Aisyah bukanlah dokter bedah, tapi kita tahu komunikasi apapun yang memicu kematian atau gagalnya operasi sesar ini. Sebagai kita biarkan ia sendiri dulu," sahut Feng.


"Bicara tentang kematian, Feng. Lama-lama aku trauma akan kematian. Ini kita baru saja kehilangan kerabat kita. Jadi janganlah kita membahas kematian, sebaiknya kita menyambut saja kelahiran bayi ini," ujar Tama.


Sedangkan Agam hanya diam saja, dia selalu berdoa untuk keselamatan istrinya. Tak lama kemudian, perawat mengambil kembali anak mereka.


Aisyah di mushola, dia bersimpuh menghadap kiblat dan terus menatap kaligrafi Allah dan Muhammad di sana.


"Berapa orang lagi yang ingin Engkau ambil dariku, Ya Allah. Pertama, engkau mengambil Ibuku, kemudian kakakku, kakak iparku, juga sahabatku. Bahkan, aku pun belum mendengar kabar suamiku,"


"Kenapa sekarang membuat adikku harus menjalani takdir yang seperti ini? Apakah aku tidak pantas untuk bahagia?"


Aisyah menangis dan menyalahkan dirinya sendiri serta takdirnya. Ada seorang anak kecil yang datang menghampirinya. Anak kecil itu memberi tisu kepada Aisyah dengan senyuman polosnya.


"Kakak, gunakan ini untuk menghapus air matamu," ucap anak kecil tersebut.


"Terima kasih," ucap Aisyah dengan lirih.


"Tuhan mengambil ibumu, kakakmu, kakak iparmu, dan sahabat juga, 'kan? Lalu sekarang, adikmu dirawat juga. Kamu menyalahkan dirimu sendiri, apakah itu suatu hal yang diharuskan?" ujar anak itu.


"Apakah kamu pernah kehilangan salah satu dari keluargamu?" tanya Aisyah.


"Tuhan mengambil Ayahku ketika aku sedang sekolah di TK. Tak lama kemudian, Tuhan mengambil ibuku, lalu mengambil kakakku dan juga nenekku. Kemudian Tuhan memberiku penyakit parah," jawab anak itu.


"Sampai saat ini, aku belum pernah mengenal dunia luar lagi setelah masuk ke rumah sakit. Aku hidup dalam kesepian selama lima tahun," lanjutnya. "Usiaku saat ini 12 tahun. Aku bukan anak kecil lagi. Tapi, tubuhku memang seperti ini,"


"Ketika Natal, semua orang akan pulang dan menemui keluarga mereka masing-masing untuk merayakannya. Sedangkan aku, jangankan Natal, paskah, Imlek, tahun baru, aku tidak pernah keluar dari rumah sakit ini,"


"Kakak, seberat apapun ujianmu yang diberikan oleh Tuhanmu, percayalah … Jika ada hal indah yang Tuhan siapkan kepadamu nantinya. Hanya saja, Kakak harus berjuang untuk mendapatkan hal indah itu dari Tuhanmu,"


"Ingat, Tuhan tidak akan pernah jahat kepada setiap hambanya yang taat. Mungkin, Tuhan kita berbeda meski satu, tapi aku yakin cara kerja Tuhan kita sama. Hehe, bukan begitu, Kak?"


"Aku pamit dulu, semangat!"


Anak itu pergi bergitu saja. Aisyah kembali menatap kaligrafi Allah dan Muhammad yang ada di atas lengkungan tempat imam. Aoa yang dikatakan remaja tadi ada benarnya soal takdir. Tapi, kehilangan orang yang dicintai sekaligus, masih membuat Aisyah tidak mampu menerima itu.


*****


Tuan Jin dan Faaz memeriksa semua dokumen penting yang ada di koper kuning tersebut. Banyak sekali harta dan sertifikat lainnya yang berharga dengan peralihan nama Aisyah dan Gwen di sana.


"Apakah Chen sudah menyiapkan ini semua? Apakah dia tahu kalau dia akan meninggal?" gumam Faaz.


"Bahkan, suami Aisyah juga menitipkan banyak hal kepada saya. Akhirnya, dunia hitam seperti ini, perlahan akan hilang," sahut Tuan Jin.


"Selain kita maju untuk mengesahkan semua ini, kita harus pergi menemui Tuan Willy, Ayah tiri Gwen. Bagaimana cara menghubunginya?" Faas pun mulai bingung.


Mereka masih tidak enak hati jika bertanya kepada Yusuf. Pada akhirnya, mereka hanya menunggu waktu untuk berpikir bagaimana bisa menghubungi Willy nantinya.