Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Misi Baru



"Di samping aku menemukan, Ilkay. Aku juga menemukan sesuatu dipenjara bawah tanah," ungkap Aisyah ragu.


"Apa itu?" tanya Asisten Dishi.


"Seorang wanita yang mengaku sebagai adikmu," 


Asisten Dishi langsung menghentikan mobilnya. Sampai mengejutkan Ilkay dan hampir saja membuat Ilkay jatuh. 


"Astaghfirullah hal'adzim," ucap Aisyah juga terkejut.


Seketika raut wajah Asisten Dishi yang sebelumnya hangat, berubah menjadi raut wajah orang sedang marah. Kemudian, ia pun bertanya, "Siapa nama wanita itu?" 


"Aku tidak tau, dia hanya mengatakan bahwa dia adalah adikmu," jawab Aisyah.


"Apa lagi yang dia katakan," desis Asisten Dishi.


"Hey, aku bilang dia hanya mengatakan kalau dia itu adalah adikmu. Kenapa kamu jadi begitu? Loh, mau marah, mau marah sama aku?" Aisyah malah lebih galak.


Seketika, kembali raut wajah Asisten Dishi berubah. Kemudian menghela napas panjang, meminta maaf kepada Aisyah. Mereka benar-benar terlihat sangat sweet ketika sedang dalam posisi seperti itu. 


"Baiklah, aku salah. Aku minta maaf. Tidak seharusnya tadi aku berekspresi berlebihan seperti itu, maafkan aku, ya …," ucap Asisten Dishi dengan lembut. 


"Iya, aku juga minta maaf," sahut Aisyah. 


"Aku akan menjelaskan tentang bagaimana kisah hidupku. Benar, aku memiliki adik sepupu perempuan dan aku pernah mengatakan itu kepadamu, 'kan?" ungkap Asisten Dishi.


"Dan dia sudah tiada ketika melahirkan anaknya. Lalu, anaknya itu ada di rumah singgah milik keluarga Wang yang diberikan atas nama kamu,"


"Tapi ada seseorang dalam keluarga kami yang melakukan pengkhianatan beberapa tahun lalu. Dia dipenjara oleh Nyonya kedua. Mungkin yang kamu temui itu adalah dia. Tapi, perlu kamu ketahui, dia bukan adik maupun Kakakku," tukas Asisten Dishi dengan nada bicara yang lembut. 


Aisyah mengangguk paham. Ia tak akan lagi menanyakan yang seharusnya memang tak ia tanyakan. 


"Malam nanti aku akan terbang ke Amerika untuk mengurus semuanya tentang, Ilkay. Segera aku akan dapatkan hak asuh itu, atas nama keluargamu," lanjut Asisten Dishi. 


"Berjanjilah kepadaku, tepat dihari pernikahan Gwen … Kau akan hadir membawa surat itu dan aku akan segera mengumumkan Ilkay, bahwa Ilkay adalah bagian dari keluarga Handika dan juga Jazeera," harap Aisyah. 


Jika saja dinding keyakinan ini tidak terlalu tinggi. Asisten Dishi pasti sudah mengatakan apa yang dia rasakan selama bersama dengan Aisyah. 


"Dia cinta pertamaku. Tapi aku sulit untuk menggapainya," gumam Asisten Dishi dalam hati. 


Sampailah mereka di kediaman keluarga Hao dan Aisyah menceritakan siapa Ilkay sebenarnya kepada Feng. Hati Feng mungkin tidak selembut Aisyah, tapi Ilkay adalah putra dari sepupunya. Tentu saja Feng akan menjaganya dan baik sampai waktu yang ditentukan Aisyah telah tiba nanti. 


"Jadi, apa bisa kita saat ini?" tanya Feng. 


"Koh, bisa nggak selama aku pulang, Koko ajarin Ilkay bahasa Indonesia. Selama hidupnya, dia berada dalam penjara bawah tanah. Tidak ada yang mengajarinya tentang sopan santun juga," Aisyah sangat berharap penuh agar Feng mau mendidik Ilkay ketika dirinya pulang nanti. 


"Mama," panggil Ilkay saat Aisyah hendak pergi. 


Hati Aisyah begitu rapuh ketika ingin meninggalkan Ilkay ke Jogja. Mereka memang baru di pertemukan dalam waktu 24 jam. Tapi, dalam waktu sesingkat itu keduanya sudah mampu menjalin ikatan batin seperti ikatan seorang anak dan ibu. 


"Ilkay, saat ini, Mama harus pergi, Nak. Nanti kita bertemu lagi," ucap Aisyah diiringi dengan isyarat. 


Ilkay menggeleng, kemudian memeluk Aisyah. Feng dapat melihat semua itu, lalu ikut memeluk keduanya. Dari kejauhan, Asisten Dishi melihat Feng memeluk Aisyah. Membuatnya kesal karena mereka. 


"Aku janji aku akan menjaga Ilkay dengan baik. Juga mendidiknya sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Kamu masih berumur 22 tahun, tapi aura keibuanmu tidak dapat diragukan lagi, Aisyah," puji Feng. 


"Aku titip Ilkay, Koh. Dia putraku, cinta keduaku setelah Ayahku. Sampai bertemu lagi dalam empat hari ke depan, Ilkay," ucap Aisyah membelai kepala Ilkay.


Tutur kata Aisyah mampu Ilkay terima dengan baik. Perpisahan itu tak akan pernah Ilkay lupakan. Anak itu mengingat ketika untuk pertama kalinya ada yang tersenyum dengan tulus dengannya. Aisyah juga memandikan Ilkay dengan sentuhan yang lembut. Lima tahun di rawat wanita yang mengaku adiknya Asisten Dishi, tak dapat membuat Ilkay menjadi seorang anak yang beruntung. 


Namun, belum 24 jam di rawat oleh Aisyah, Ilkay merasa adalah anak paling bahagia di bumi. Itu sebabnya Ilkay sangat berat melepaskan tangan Aisyah dalam perpisahan itu. Begitu juga dengan Aisyah yang segera pergi masuk ke mobil dan menangis sejadi-jadinya di dalam. 


Disusul lah oleh Asisten Dishi. "Aisyah, jika memang kamu tidak bisa meninggalkannya, aku akan membantumu membawa Ilkay ke Jogja," ucap Asisten Dishi. 


"Itu tindakan tidak terpuji, Dishi. Bagimu, bagi Kak Chen dan juga keluarga Ibu adalah hal biasa. Tapi, itu bukan hal yang harusnya dilakukan. Aku akan menunggumu selesai mengurus hak asuk Ilkay," ucap Aisyah mencoba tenang. 


"Aku jatuh cinta dengan mata anak itu. Matanya bulat seperti Gwen. Tapi wajah yang bersinar itu, mengingatkan aku dengan Ayahku. Dia bagaikan cinta keduaku setelah Ayah dan Kakakku di keluargaku," ungkap Aisyah. 


Bagaimana tidak membuat Asisten Dishi jatuh cinta kepada Aisyah. Dalam hidupnya, ia belum pernah menemui wanita setulus Aisyah. Aisyah berusaha menjadi lebih baik agar bisa adil dalam mengasihi semua orang, terutama kepada Gwen saudari kembarnya. 


"Wanita sepertimu, pantas mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dariku. Aku akan membawa perasaanku ini dalam diamku, Aisyah," gumam Asisten Dishi. 




Di sisi lain, Gwen sedang duduk sendirian di balik jendela kamarnya. Menatap banyak ibu-ibu yang sudah mulai datang nyumbang dalam pernikahannya. Permintaan Gwen adalah yang paling sederhana, tapi Agam memberikan semuanya dengan ikhlas dengan memberikan pernikahan terbaik dalam hidup Gwen. 



"Ada apa dengan hatiku, pikiranku dan perasaanku? Aku terus saja merasa gelisah. Apa aku kelaparan?" gumam Gwen. 



"Aku terus memikirkan Kak Aisyah sejak pagi. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya? Haih, pingitan ini membuat batinku tersiksa," gerutunya. 



"Assallamu'alaikum," salam Puspa. 



"Wa'alaikumsallam, Puspa. Kamu sudah datang sepagi ini. Ada apa?" tanya Gwen. 



Puspa datang membawakan kabar gembira untuk Gwen. Ia mengatakan bahwa Aisyah dan Chen akan kembali sore nanti. Namun, rupanya ikatan batin itu tak hanya Aisyah yang memiliki dengan Ilkay. Gwen bahkan berharap mereka tak hanya pulang berdua saja. 



"Ada apa? Bukankah memang mereka akan pulang hanya berdua?" ujar Puspa dengan nada lembutnya. 



"Entah kenapa … aku merasa ada seseorang lagi yang datang menghadiri pernikahanku. Tapi, aku tidak tahu dia siapa," celetuk Gwen mengusap wajahnya karena bingung.