
"Ternyata, kasih sayang Kak Chen kepada kami tak ada bedanya. Aku yang terlalu baper rupanya. Kak Aisyah maafkan aku." sesal Gwen dalam hati.
Tak lama kemudian, Gwen juga mendapat kabar bahwa calon Ibu mertuanya meninggal dunia sebelum pernikahannya terjadi. Mau tidak mau, Agam harus terbang ke Tiongkok pagi itu. Gwen semakin gelisah, ia takut pernikahannya akan gagal, karena adanya pernikahan itu juga untuk sang Umi.
"Maaf, saya belum bisa menjenguk kakakmu, Dek. Saya harus segera mengurus jenazah Umi dan pemakamannya. Ini mungkin butuh waktu lama, tolong bersabarlah sebentar, ya," ucap Agam dengan tutur kata yang meneduhkan.
"Umi … pernikahan kita …," Gwen mengkhawatirkan semuanya.
"Bismillahirrahmanirrahim, pernikahan kita tetap akan terlaksana. Kamu tenang saja, ya. Saya akan segera memberikan kamu kabar jika saya sudah bisa membawa jenazah Umi pulang, hm?" ucap Agam dengan senyumannya.
Gwen mengangguk pelan. Saat ini, selain keluarganya sendiri, Agam-lah yang menjadi sandaran baginya. Meski belum menikah, Gwen sudah mulai nyaman di dekat Agam.
"Kita akan terus berkabar, Dek. Saya tinggal dulu, jaga kesehatan, jaga pola makan juga, ya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Agam.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati, ya, Mas."
Menyembunyikan kesedihannya, Agam masih bisa tersenyum agar calon istrinya tidak merasa gelisah lagi. Agam berusaha membuat Gwen tidak semakin sedih sebab kemalangan yang menimpa kakaknya.
~Tuhan, aku memang gadis yang tidak sebaik Aisyah. Kenapa Engkau uji dia sebesar ini. Menjadi dokter anak adalah impiannya sejak kecil. Kenapa Engkau menghukumnya karena kesalahanku? Tuhan, inikah yang namanya dipaksa dewasa oleh keadaan? Di sadarkan oleh kenyataan? Kenapa Engkau menuruti keinginan kakakku yang mulai lelah menjadi dewasa dengan cara seperti ini? Ini menyakiti hatiku, Tuhan. Tolong, setidaknya buatlah ingatan kakakku kembali seperti sedia kala, Aamiin.~
Chen dan Yusuf berusaha membuat Aisyah mengingat segalanya dengan menunjukkan bukti nyata, foto dan video selama pertemuan mereka di Bangkok dan juga Tiongkok.
Meski belum mengingat sepenuhnya, Aisyah akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa Chen adalah saudara kandungnya. Sebab, bukti itu sangat nyata. Ada beberapa foto yang mampu Aisyah ingat kalau itu.
"Pria ini, siapa?" tanya Aisyah menunjuk potret Asisten Dishi yang sedang mencuci piring.
"Ha, foto ini kamu yang mengambilnya. Dia adalah Asisten Dishi. Dia adalah Asisten pribadiku, Ai. Selama kamu di Tiongkok, kamu sangat akrab dengannya. Bahkan, di sini saja … kamu dan dia juga sangat akrab, kau ingat dengannya?" tanya Chen penuh harap.
Aisyah terus mengamati potret Asisten Dishi dengan serius. Kemudian ia menggaruk kepalanya sembari berkata, "Kak, kamu bicara bahasa Inggrisnya terlalu cepat. Aku tidak mengerti."
"Astaga, Ai. Adikku, sayangku, cintaku. Huh, sabar, aku harus sabar. Tenang, aku harus tetap tenang. Rasanya aku ingin mencekik diriku sendiri!" umpat Chen gemas.
"Maaf, kak. Aku memang bodoh, seha--" ucapan Aisyah terhenti dengan telunjuk jari Chen.
"Jangan katakan hal buruk itu lagi. Selamanya, kau adikku yang paling cerdas. Hanya saja, ingatanmu sedang terganggu hari ini," ujar Chen dengan tegas.
"Bagaimana jika kita anggap, musibah ini adalah bentuk cutimu selama beberapa bulan ke depan?" tutur kata Chen memang sangat berbeda jika sedang bicara dengan kedua saudarinya dibandingkan dengan keluarga yang telah membesarkannya.
"Tapi jika aku tidak sembuh bagaimana? Bahkan aku tidak ingat siapa dirimu, meski kenyataannya kamu memang kakakku. Hiks, aku sungguh tidak berguna. Kenapa ingatanku harus hilang, Kak Chen. Sebenarnya, ingatan mana yang ingin Allah hapus dari pikiranku, Kak?"
Tangisan Aisyah membuat hati Chen semakin sakit. Ia sedih melihat saudarinya itu bersedih, menyalahkan dirinya sendiri seraya menepuk kepalanya terus-menerus.
"Ai, cukup!"
"Kau tau betapa sakitnya aku melihat kondisimu saat ini, hah? Aku seperti seorang kakak yang tak berguna!" bentak Chen membanting piring rumah sakit, ia juga menepuk dadanya sendiri dengan keras.
Tuar!
Suara terdengar jelas, membuat Yusuf dan Adam yang saat itu di sana menjadi kaget. Mereka berlari masuk ke ruang inap yang ditempati oleh Aisyah.
"Astaghfirullah hal'adzim, ada apa?" tanya Yusuf.
"Kak Chen kenapa bicaranya cepat sekali. Aku bahkan belum mengartikan arti dari ucapanmu," Aisyah menutupi telinganya.
"Kepalaku sakit buat mikir, Kak. Tolong bicaralah menggunakan bahasa yang aku pahami." tangis tak kesedihan Aisyah yang tak bersuara membuatnya tak berdaya.
Yusuf mencoba menenangkan Aisyah. Chen hanya bisa terdiam, mengepalkan tangannya dengan tatapan tajam mengarah ke saudarinya itu. Tak terasa, air matanya menetes. Kelopak matanya tak mampu membendungnya lagi.
Sungguh sweet sekali, seorang kakak bisa sangat mencintai adiknya seperti itu. Masa kecil yang terlewat membuat Chen sangat marah. Ia menggertakkan giginya, kemudian keluar dari ruangan itu.
"Sial!" umpatnya.
"Chen," sebut Adam.
"Minumlah dulu, Nak. Kalau mau menangis, ayo menangis lah. Keluarkan saja suaranya, nggak papa. Pasti sebak banget kan kalau di tahan seperti ini?" ucapan Yusuf membuat Aisyah menangis bersuara.
"Aku membuat Kak Chen marah, Ayah. Tolong, buat dia mengerti, Ayah. Aku sungguh ingin ingin mengingat semuanya, aku tidak tahu kemana kemampuan bahasa asingku, tapi aku sakit hati melihat Kak Chen kecewa seperti itu, Ayah." rengek Aisyah.
Yusuf memeluk putrinya dengan erat. Tak di sangka seorang putri yang selama ini terlihat begitu tangguh, bisa rapuh didepan kakaknya. Aisyah benar-benar berubah hari itu. Seperti gadis kecil yang ingin di perhatikan semua orang.
Adam menyusul Chen yang saat itu amat kesal. Bahkan, sampai vas bunga saja di tendang oleh Chen. Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Chen kala itu.
"Tuhan memang tak pernah adil kepadaku. Dia memisahkanku dengan keluarga kandungku dulu, lalu menjauhkan aku dengan keluarga Wang sampai ke Amerika. Belum lagi, saat ini Ai-ku melupakan aku. Begitu tak pantas kah aku hidup, Tuhan? gerutunya.
"Baiklah, jika ini mau-Mu … aku akan mengibarkan bendera peperangan. Ayo, kita lihat siapa yang akan memang!" Chen mengucap kata itu, karena dirinya belum memiliki keyakinan apapun.
Dirinya seorang agnostik, namun sering kali meragukan bahwa Allah atau Tuhan itu nyata. Chen hanya bisa menahan lukanya itu sendirian. Terdengar suara Adam dari balik dinding gedung rumah sakit itu. "Sabar, ini rumah sakit, Chen." ucap Adam.
Chen hanya ingin kesembuhan dari Aisyah. Mengingat kembali semua kenangan bersama dengannya di Bangkok dan Tiongkok dulu.
"Semua itu butuh proses. Kita harus menikmati proses itu dengan ikhlas. Jika dokter berkata demikian, pasti Aisyah bisa sembuh dan akan segera mengingatmu kembali. Jadi tolong, bersabarlah sebentar," tutur Adam.
"Proses? Ai akan lama sembuhnya jika berada di rumah sakit ini! Aku akan membawanya ke luar negri!" ketus Chen.
Adam tahu jika Chen merah karena Aisyah mengalami hilang ingatan sementara. Namun, Adam juga menolak jika Aisyah hendak di bawa ke luar negri. Adam berusaha membuat Chen tidak gegabah dengan mengambil sebuah tindakan.