
Pertemuan antara Chen dengan Tuan Wil malam itu juga terlaksana. Rupanya, si Tuan Wil ini adalah Willy. Kaki tangan sekaligus ayah angkat dari saudaranya, Gwen.
"Tuan muda Wang, apakah anda tidak ingin melihat adik-adik anda yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik sekarang ini?" tanya Willy memberikan potret Aisyah dan juga Gwen.
"Hey, Paman. Aku keponakanmu, mengapa kau memanggilku dengan sebutan itu?" sahut Chen meneguk arak di tangannya.
"Tuan muda Wang, mau bagaimana juga … kau adalah pewaris pertama Tuan Wang. Aku tidak mau jika memanggilmu hanya dengan sebutan nama saja, itu akan menjadi sebuah penghinaan bagi Tuan Wang sendiri," jawab Willy.
"I don't want to see the portraits of my two sisters now, Tuan Wil," tolak Chen menutup foto mereka.
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin merusak kejutan Tuhan. Jadi, aku hanya ingin melihat mereka ketika aku menyadari jika mereka adalah kedua adikku." tukas Chen meneguk araknya kembali.
Setelah membahas Aisyah dan Gwen, mereka kembali membahas usaha yang hendak mereka jalankan di salah satu kota dimana tempat Aisyah tugas sekarang.
Takdir memang ingin mempertemukan mereka. Di sisi lain, seseorang yang akan memborong pembangunan tersebut rupanya adalah Rafa. Anak pertama dari Airy dan Adam yang baru saja mendapat job kembali menjadi pemborong.
"Tempat itu masih sangat alami. Tapi, seluruh penduduk dan negara mengizinkan kami untuk membangun bangunan ini di sana," ujar Willy memberikan proposal yang ia kerjakan.
"Kalau boleh tau, dari mana pemborong ini?" tanya Chen.
Willy sengaja tidak memberitahukan bahwa itu adalah Rafa, sepupunya. Sebab, jika Chen mengetahui itu, ia akan marah dan membatalkan bermitra dengan perusahaannya. Rencana, bangunan yang akan dibangun adalah sejenis puskesmas jika di Indonesia.
Chen ini hanya sebagai pendana saja. Ia juga akan mengunjungi daerah tersebut supaya bisa bertemu langsung dengan siapa Rafa sebenarnya.
***
Pagi yang cerah, Aisyah meminta seluruh Mee Noi untuk membantunya membersihkan gedung itu. Mee Noi sendiri yang mengerahkan penduduk desa untuk kerja bakti agar dinas kesehatan segera berdiri.
"Dokter, berapa lama kalian di sini?" tanya Mee Noi.
"Em, apa kamu belum membaca prosedur yang kami berikan? Kami akan di sini selama 4-5 hari saja. Ya, lebih paling juga seminggu. Kenapa?"
Mee Noi hanya menggeleng dan tersenyum saja. Rupanya, ia telah jatuh hati kepada Aisyah saat pertemuan pertamanya semalam.
"Tidak," jawabnya. "Semoga saja, misi dan tujuan Dokter serta teman-teman berhasil dan kembali dengan sehat, selamat." imbuhnya.
"Aamiin," batin Aisyah seraya tersenyum manis dihiasi lesung pipinya yang indah.
Selain obat-obatan kimia, Aisyah hendak mencoba memakai yang herbal. Aisyah meminta Aom untuk membantunya mencari tumbuhan esok hari setelah sehari itu mereka habiskan untuk membersihkan gedung dan sekitarnya.
"Herbal?" tanya Syamsir. "Tak cukup kah dengan obat yang kite bawa ni, ha?" imbuhnya.
"Iya, Syah. Kamu masih mau mencoba herbal? Apa kamu bisa membuatnya?" sahut Feng.
"Aku memang belum mahir, tapi Koko paling hebat dalam pengobatan herbal. Mengapa tidak mencobanya saja?" celetuk Aisyah.
Feng dan Syamsir saling berkontak mata. Mereka bingung, tak mengerti apa yang ada di pikiran Aisyah saat ini. "Adakah dia masih waras?" gumam Syamsir.
Memang seharusnya begitu, Aisyah berpikir jika mereka hanya akan hadir dalam jangka waktu itungan hari. Jika warga ketergantungan dengan obat kimia, maka mereka tak akan sembuh dalam pengobatannya. Maka dari itu, Aisyah ingin membuat obat herbal juga supaya warga tidak kesulitan mencari pengobatan, ataupun berobat sampai ke kota.
"Tapi, Dokter. Aku dengar, di kota yang tak jauh dari desa ini, akan didirikan rumah sakit baru. Apakah obata-obatan herbal masih perlu?" tanya Aom.
Aisyah tersenyum, ia menyentuh pundak Aom seraya berkat, "Dengar, tidak semua orang memiliki biaya untuk ke kota dan berobat di sana. Jangankan untuk membeli obat, aku rasa di sini juga akan keberatan dalam fasilitas pergi ke kotanya. Maka dari itu … tidak ada salahnya jika kita mengajarkan membuat obat-obatan herbal untuk mereka." tegas Aisyah.
"Seperti yang sudah-sudah, beberapa waktu lalu … di desa ini ada yang mengalami sakit parah,"
"Di sini kendaraan belum memadahi, butuh waktu lama untuk menuju ke terminal, lalu belum lagi ke rumah sakit. Jadi mereka kehabisan waktu dan akhirnya si pasien meninggal dunia di jalan. Apa yang diusulkan Dokter Ais ini, boleh juga." tukasnya.
Mee Noi memberikan harapan baru bagi Aisyah. Menjadikan dirinya semangat dalam bertugas di desa pelosok tersebut.
**
Di tempat lain, pagi menjelang siang Gwen dan Pak Raza pergi ke rumah Willy. Gwen terus saja mengoceh di sepanjang jalan karena Pak Raza enggan di ajak naik transportasi umum.
"Kenapa juga kita harus jalan kaki, sih?" protes Gwen.
"Biar sehat!" jawab Pak Raza singkat.
"Ya kan kita udah sehat. Lagian aku capek tau, Pak. Kakiku sakit banget--" keluh Gwen terus menempel di lengan Pak Raza.
Sambil melepas kepada Gwen yang terus menempel di lengannya, Pak Raza mempertanyakan di mana rumah Willy sebenarnya.
"Bentar lagi nyampe, jangan nyiksa aku gini, dong. Ayo naik taksi …," rengek Gwen.
"Tidak!" jawab Pak Raza.
"Ya kenapa? Biar sehat kan katamu, Pak. Tapi kita emang sehat, lalu untuk kesehatan apa lagi, hah?" tanya Gwen kesal. "Tunggu!" sambungnya menahan langkah Pak Raza.
"Ada apa?" tanya Pak Raza.
"Kesehatan itu, apakah untuk itu," tunjuk Gwen ke arah alat tempur masa depannya Pak Raza. Spontan Pak Raza mengalihkan tubuhnya.
"Jika memang untuk itu, kita bisa coba nanti setelah malam perta--"
"Taksi!" teriak Pak Raza memberhentikan taksi yang tengah mangkal di pinggir jalan.
Pak Raza selalu menghindari perkataan Gwen yang selalu mengada-ngada. Sebab, ia tak ingin masuk kedalam dunia Gwen yang hanya penuh dengan main-main.
Mereka akhirnya memutuskan untuk naik taksi dan segera ke rumah Willy agar bisa istirahat dengan tenang. Pak Raza dapat menahan hawa nafsu, dan Gwen otaknya agar benar sedikit.
"Pak Raza," panggil Gwen.
"Dalem," jawab Pak Raza dengan suara meneduhkan.
"Wah, MasyaAllah sekali suaranya. Hem, nanti kalau istri dari Ayah angkatku bertanya, siapa Pak Raza ini ... jawab saja kalau kamu calon suamiku, ya?" ujar Gwen.
"Nggak mau!" Pak Raza menolak.
"Dih, kok langsung nolak, sih? Tenang aja nanti aku bayar, kok,"
"Saya bilang nggak mau ya nggak mau. Saya tetap akan bilang kalau saya ini guru pembimbing kamu yang dipaksa untuk mengikuti kamu kesini dan kamu juga mengancam saya. Jika saya tidak menurut dengan kamu, saya akan di--" ucapan Pak Raza terputus ketika jari telunjuk Gwen menyentuh bibirnya.
"Jangan lemes, oke? Baiklah, sebaiknya memang jangan bilang calon suamiku!" sulut Gwen memalingkan wajahnya.
Lagi-lagi Pak Raza mengigit bawahnya. Ia hanya ingin menjalankan tugas dari Airy dengan baik dan benar saja. Tak ingin berlarut dalam masalah pribadi Gwen. Menurut pengalamannya, ia pernah jatuh cinta dengan anak didiknya dan itu hanya akan melukai hatinya sendiri.