
Aisyah berjalan menuju tempat dimana Feng, Agam dan Tama berada. Dia masih berpikir, siapa anak yang baru saja menemuinya di waktu tengah malam seperti itu.
"Ini jamnya, kan, bener?" gumamnya. "Tadi serius orang? Dia memang memakai pakaian rumah sakit, sih. Tapi ini waktu sudah tengah malam,"
"Bisa-bisanya anak segitu, sedang sakit, kluyuran tangah malam?"
Aisyah menghentikan langkahnya. Dia pun melihat ada lampu emergency ambulans yang menyala. Rasa ingin tahunya ternyata tinggi juga. Aisyah pun mendekat ke arah ambulans tersebut.
"Sus, ada yang meninggal, kah?" Aisyah langsung bisa menebaknya.
"Benar, anak kecil sekitar usia 11-12 tahunan. Lihat, dia sebatang kara. Jadi, ya prosesnya lama. Meninggal hampir 1 jam, baru diketahui oleh perawat yang lainnya," jelas perawat tersebut.
"Meninggal 1 jam? Baru diketahui?" tanya Aisyah lagi.
Perawat itu mengangguk.
"Innalilahi, kasihan sekali. Saya mau lihat, dong!" Aisyah masih penasaran.
Ketika melihat siapa yang meninggal itu, langsung membuat Aisyah terkejut. Wajahnya mejadi pucat pasi setelah mengetahui jenazah siapa yang dilihatnya.
"I-itu …,"
"Itu, bukankah … Anak yang tadi bicara denganku?" mata Aisyah sampai melotot melihat jenazah gadis kecil berusia 11 tahun itu.
"Ada apa? Apakah anda mengenal anak ini? Anak ini sebatang kara, jadi akan dikembalikan ke tempat tinggalnya yang lama supaya bisa dimakamkan," perawat itu malah menegaskan lagi jika anak itu adalah sebatang kara.
"Um, ini sungguhan meninggal sudah satu jam yang lalu? Bukan karena kelelahan karena keluar di jam segini gitu?" tanya Aisyah lagi.
"Misalnya, dia kecapean main seperti itu?" lanjutnya masih berharap jika yang ia temui beberapa menit lalu adalah anak itu.
"Anak ini sudah 3 hari kritis. Mana mungkin bisa lari-larian kecapekan. Memang, dulu selalu begitu. Dia kabur-kaburan dari bangsalnya, tapi sudah 3 hari ini, dia mengalami kritis," jelas perawat itu.
DEG!
Jantung berdegup kencang, tubuh Aisyah langsung lemas. Dia kembali dengan langkah sempoyongan dan masih tidak menyangka jika yang menemuinya di mushola bukanlah manusia sungguhan. Gadis kecil itu meninggal 1 jam yang lalu, sedangkan menemui Aisyah di mushola sekitar 30 menit yang lalu.
"Jangan heran Aisyah, ini rumah sakit, jangan heran. Jantung aman, jantung aman, bulu kuduk jangan berdiri," Aisyah terus bergumam sembari bersholawat sepajanga perjalanan menuju ruang tunggu dan menemui sepupu-sepupunya.
Sesampainya di sana, Aisyah langsung duduk tenang dengan tatapan matanya yang terus menatap ke depan.
"Kamu kenapa?" tegur Tama.
"Santai, aman. Tidak apa-apa," jawab Aisyah.
"Jawaban apa, sih? Ada apa, Ai?" sahut Feng.
"Kubilang tidak ada apa-apa, yang artinya tidak apa-apa. Kenapa masih saja bertanya!" Aisyah meninggikan nada bicaranya.
"Ya, biasa saja jawabnya--"
Baik Feng maupun Tama pun heran dengan Aisyah. Tidak lama setelah itu, Agam keluar dari ruangan dan meminta Aisyah untuk masuk, karena Gwen sudah siuman dan terus mencarinya.
"Aisyah kamu masuk kedalam, karena istriku terus saja mencarimu sejak dia siuman tadi," ujar Agam dengan suara lirih.
Aisyah segera masuk dan menemui Gwen. Tubuh yang sebelumnya selalu energik, saat ini tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Gwen terlihat sangat pucat, yang mengalami pendarahan hebat ketika menjalani operasi sesar. Beruntung sekali, pihak rumah sakit masih memiliki stok golongan darah yang dimiliki oleh Gwen.
"Gwen, kamu sudah siuman? Katakan gimana Yang sakit aku akan memijat untukmu," ucap Aisyah. Tampak jelas kali kekhawatiran yang ada pada wajah Aisyah.
Gwen tersenyum tipis. Kemudian mengangkat tangannya hendak meraih dan menggenggam tangan kakaknya yang ada di sampingnya.
"Iya, ini aku,"
"Kakak bisa genggam tangan aku lebih erat enggak? Aku kedinginan, kak. Semua tubuhku terasa dingin sekali, apakah aku akan meninggal?" tiba-tiba saja Gwen mengatakan itu.
"Kamu bisa tidak, sehari atau semenit, sedetik saja jangan bahas tentang kematian? Aku ini trauma Gwen, ibu, kakak dan juga kakak ipar kita besok jenazahanya baru sampai," ujar Aisyah mulai berkaca-kaca matanya.
"Kita juga kehilangan sahabat sejak kecil kita. Jila badan kamu terasa dingin, itu wajar. kamu baru saja selesai melakukan operasi sesar," lanjut Aisyah.
Gwen menggeleng.
"Aku melihat ada bayangan putih di depan mataku, tepat di atas kepalaku ini, kak. Ini pasti akan menjemputku, 'kan?" kata Gwen dengan suara yang sudah lemah.
"Mana ada? Tidak, tidak ada bayangan putih seperti itu. Siapa yang akan menjemputmu, nggak ada! Gwen, kamu akan disini sama aku!" Aisyah mulai berpikir negatif.
"Aku percaya kalau ke Aisyah bisa menjadi kakak yang hebat bagi Rifky adik kita, dan juga ibu yang baik, ibu kedua bagi putriku," celetuk Gwen. "Aku titip putriku kepadamu, Kak Aisyah, terima kasih untuk 14 tahun ini, kamu mwnjadi hadiah yang paling indah dalam hidup aku,"
"Kak Aisyah …,"
"Aku, tidak berharap kamu menggantikan posisiku di hati Mas Agam. Tapi aku sangat berharap, kakak menjauhkan masakan dari wanita yang jahat itu, Syifa. Semoga asisten Dishi, segera ada kabar tentangnya,"
"Kak Aisyah, tolong jaga ayah dan sayangi dia dengan penuh cinta,"
"Mas Agam," panggil Gwen.
"Iya, Sayang. Mas ada di sini," jawab Agam yang sudah bwrada di sisi istrinya.
"Mas Agam bisa bimbing aku pergi? Kalian berdua mau bimbing aku pergi, 'kan? Bayangan putih ini masih menungguku, ikhlasin aku pergi, ya--"
Sungguh berat menjadi Agam dan juga Aisyah. Dengan suara yang berat dan perlahan, mereka berdua membimbing Gwen mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Aisyah dan Agam melihat senyum indah di bibir Gwen dan kemudian Gwen pun menutup matanya. Aisyah segera memeriksa tubuhku dan sudah tidak mendapati nafas serta detak jantung dalam tubuh adiknya.
"Tidak, tidak, tidak, Gwen bangun,"
"Jangan tinggalkan aku!"
"Gwen …,"
"Ko Feng!"
"Mas Tama!"
"Gwen jangan tinggalkan aku! Gwen bangun! Aku mggak mau merawat anakmu, bangun Gwen! Dia anakmu, bukan anakku!"
"Gwen bangun!"
Feng dan Tama langsung masuk. Segera Feng memeriksa Gwen juga dan memang Gwen sudah pergi untuk selama-lamanya. Dalam dua hari, Aisyah kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Tama mengabari orang rumah dan mereka semakin syok mendengarnya, terutama Yusuf. Hanya tingga Aisyah dan Rifky saja yang masih bersamanya. Kini, istri dan kedua anak kembarnya telah pergi bersama.
Tuhan sangat adil, sepasang anak pergi bersama Ibu, dan sepasang lagi tetap tinggal bersama sang Ayah. Jiwa telah meninggalkan raga, tapi cinta tidak pernah lekang di telan waktu meski raga pun sudah tak utuh lagi.
Malam itu juga, jenazah Gwen di bawa pulang dan akan dimakamkan bersama dengan jenazah kakak dan ibunya yang akan datang esok hari. Sementara anaknya, masih dalam perawatan dengan di temani Tama di sana.
Feng, Aisyah dan Agam ikut pulang mengantar Gwen meski dalam keadaan sudah tidak bernapas.
Maafkan typo. InsyAllah nanti akan up lagi. Nggak lucu jika sudah berderai, tapi berhenti di tengah jalan.