
"Apa katamu!!"
"Aku tidak setuju!"
Feng langsung menolak ide gila dari Tama. Xia pun sampai menganga mendengarnya. Tama kembali meyakinkan Feng lagi dengan sejuta rayuannya.
"Hanya pura-pura saja. Setelah itu, kita kabur bersama, bagaimana?" bujuk Tama.
"Kau sendiri yang mengatakan jika wanita itu gila. Kau tega mengorbankan sepupumu sendiri? Memang kau ya!" kesal Feng tidak terima usul sepupunya itu.
"Feng, dia menyukaimu. Siapa tahu dengan membuatnya senang, kita semua bisa dengan mudah kabur dari sini membawa Dishi sekalian," lanjut Tama.
Feng masih enggan menanggapi ide dari Tama. Bagaimanapun juga, tidak mudah baginya untuk melakukan hal seperti itu. Dishi pun akhirnya mulai angkat bicara. Dia sampai memohon kepada Feng untuk mempertimbangkan lagi ide dari Tama.
"Hei, aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan kedua orang tuaku di waktu lalu. Jika aku kebablasan bagaimana? Selamanya akan terikat dengan wanita sialan itu? Tidak mau!" tolak Feng lagi.
"Kakak, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dalam ide gila ini. Bahkan aku juga tidak tahu tiga macam apa ini. Tapi ada baiknya, jika kakak mengikuti ide dari Kak Tama," sahut Xia.
"Bocah, jangan ikut campur!" tegur Tama dan Feng bersamaan.
Meong~
Xia langsung mengkerut. Kedua kakaknya malah berdebat hal yang tidak ia pahami. Akhirnya, Xia pun hanya bisa rebahan saja dan menikmati kegaduhan itu. Setelah bicara panjang lebar dan menjelaskan intinya, Tama kembali meyakinkan Feng untuk melakukan idenya.
"Feng, ayolah. Kau pikir saja sekarang, mau bagaimana lagi caranya, supaya kita bisa membawa badan sendiri dan juga Dishi yang tidak bisa berjalan ini keluar dari desa yang aneh ini?" papar Tama.
"Sial, sandiwaranya lebih baik dariku. Ini antara penghinaan dan penghayatan. Jadinya begini." Batin Dishi.
Setelah Tama mengatakan itu semua demi Aisyah, Feng pun langsung menyetujui ide gila dari Tama. Di mana, Feng harus mendekati Yu Liu dan mengajaknya kencan nanti malam. Sementara itu, Tama dan Xia akan mempersiapkan rencana kaburnya nanti.
"Huh, aku setuju karena ini demi Ai. Wanita seperti apa Yu Liu ini. Mengapa kau sampai ada ide gila seperti ini, Tama!" meski setuju, Feng masih saja bergumam tidak jelas.
"Haha, makan tuh nenek-nenek. Setelah lolos nanti, aku akan menjadi orang pertama yang akan tertawa di saat kau kencani nenek-nenek__"
Bahkan dari batin saja, Tama sudah tertawa sampai terpingkal-pingkal. Mengingat Xia masih belum mengetahui jika Dishi hanya bersandiwara, Dishi pun mengatakan, "Apakah kalian memang keluargaku?" tanyanya lirih, karena ada seseorang juga yang lewat di depan kamar mereka.
"Astaga, Asisten Dishi, kau ini memang hilang ingatan, kah?" tanya Xia, beranjak dari ranjangnya.
Dishi memberi isyarat kepada Feng, jika ada seseorang berada di depan kamar mereka. Tama juga paham dengan apa yang Dishi ungkapkan meski melalu bahasa isyarat mata dan jari telunjuk saja.
"Xia, sudah kukatakan, bukan? Dia mengalami kecelakaan besar. Jika tidak ingat apapun, kau jangan memaksa," tutur Feng.
"Cih, aku hanya bertanya. Untuk apa kakak berkata seperti itu. Mengapa juga kau sangat lembut padaku, Kak Feng?" ketus Xia.
"Xia ...."
Melihat tatapan Tama yang tajam sembari menyebut namanya, membuat Xia menjadi menunduk dan diam. Sebelumnya, memang Xia ini selalu berdebat dengan Tama dan Feng hanya karena masalah sepele. Tapi karena memang di tempat asing itu dirinya sudah berjanji untuk patuh, akhirnya Xia hanya bisa diam saja.
"Tidak perlu repot-repot, aku sendiri yang akan menemui Nona Yu. Tidak logis saja jika kau mewakili kami untuk merepotkan menginap semalam di sini," sahut Feng.
Setelah itu, seseorang yang sebelumnya menguping mereka juga pergi begitu saja. Tak lama, Dishi juga kembali ke kamarnya. Feng dan Tama pun duduk kembali ke ranjangnya masing-masing dan masih terus berpikir, bagaimana cara keluar.
"Tama, apa Dishi ...." ucapan Feng terhenti kala Tama langsung mengangguk. Dia paham betul, jika Tama pasti sudah mengetahui jika Dishi hanya bersandiwara demi melindungi dirinya.
"Di sini tidak ada jaringan, bagaimana aku bisa menghubungi Ai?" gumam Tama.
"Sebaiknya, kita jangan beritahu siapapun dulu jika kita telah menemukan Dishi. Aku akan mengirim lokasi kita kepada orangku. Mereka akan menunggu kita dari kejauhan gapura desa ini." Feng masih bisa menggunakan akalnya untuk mencari ide lain.
Sementara di kamarnya, Dishi mengaktifkan ponselnya kembali. Menatap wajah sang istri yang terpasang di layar utamanya. Mata indah, dengan bibir mungilnya membuat Dishi ingin sekali memandang sang istri secara langsung.
"Aku merindukanmu, cintaku. Aku sangat merindukan dirimu," batin Dishi. "Apa kabar kamu, cantik. Maafkan aku yang belum bisa pulang untuk bertemu denganmu__"
Di malam ledakan itu, tiga menit sebelum ada ledakan, Chen mendorong tubuh Dishi menjauh dari ruangan tersebut. Ada barang juga yang telah Chen selipkan ke tangan Dishi untuk diberikan kepada calon keponakannya nanti. Setelah memastikan Dishi mendekati pintu keluar lain, Chen kembali ke dalam dan menyelamatkan sang Ibu. Belum juga bisa menyelamatkan sang ibu, gedung sudah meledak dan Dishi pun terkena ledakan itu juga.
Kaki dan punggungnya mengalami luka bakar, wajahnya terluka karena perkelahian dan juga terkena serpihan kaca yang ada di ruangan tersebut. Setelah pingsan selama 20 menit, akhirnya Dishi mampu bertahan dan berusaha menyelamatkan diri.
Berjalan mendekati pintu keluar lain, di mana dirinya menjatuhkan ponsel miliknya di sana yang ditemukan oleh Feng. Kemudian, dia masih berjuang berjalan mencari pertolongan. Namun, malah terjatuh ke sungai dan hanyut sampai ke sungai dekat desa yang saat itu ia tinggali bersama wanita cantik yang kejam.
"Beruntung saja, ketika aku hanyut, aku masih hidup. Allah memang sangat menyayangiku, aku di beri waktu untuk memperbaiki diri dan membuat Ai-ku tersenyum kembali," batin Dishi.
"Haih, di sini tidak ada jaringan. Aku begitu merindukan istriku. Sedang apa dia saat ini?"
***
Di tempat lain, seseorang yang sebelumnya menguping di kemar yang ditempati oleh Feng, Tama dan juga Xia, melaporkan informasinya kepada Yu Liu. Pembicaraan yang ia dengar hanyalah Feng ingin bicara dengannya masalah menginap.
"Apa? Pria tampan itu ingin menemuiku? Dia ingin menginap?" tanya Yu Liu.
"Benar, Nona,"
"Lalu, bagaimana dengan keadaan dua dari mereka bertiga? Apakah mereka sudah mati perlahan, atau lemas karena sekarat?" sambung Yu Liu.
"Menjawab Nona, yang saya lihat ... mereka masih terlihat baik-baik saja dan memiliki tubuh yang bugar,"
"Apa?" teriak Yu Liu.
"Apa kau sudah memastikan itu? Pria yang satunya dan gadis kecil itu, masih hidup?" suara Yu Liu mulai bergetar karena kesal.
"Benar, Nona.
Yu Liu mengepalkan tangannya. Ia sendiri telah melihat makanan yang ia hidangkan untuk tamunya sudah habis tersisa sedikit saja. Membuatnya bingung, mengapa tamunya bisa terhindar dari racun yang ia racik sendiri.