
"Kau menamparku?"
Melihat sekilas mata Chen yang seperti kecewa membuat Puspa sedih. Ia tidak sengaja melakukan itu, hanya reflek karena dirinya harus pulang ke Jogja.
Terlintas dalam benak Puspa ingin Aisyah menjemputnya ke sana. Baru saja terlintas dalam pikirannya, Aisyah mengirimkan pesan pada Puspa dengan memberinya semangat dalam bekerja.
[Aku dengar kamu kerja di perusahaan milik Kak Chen. Semangat, Puspa. Aku yakin kamu pasti bisa. Ingat, jika kamu dapat menyenangkan hati Kak Chen, kamu akan bisa cepat kembali ke Jogja. Terima kasih, berkasnya sudah aku Terima] -, pesan dari Aisyah.
"Menyenangkan hatinya? Bagaimana caranya?" gumam Puspa dalam hati.
"Aku akan pergi memanggil taksi," Chen pergi begitu saja kalau pintu lift sudah terbuka. Ia pergi dengan rasa kecewa.
Puspa mengikuti langkah Chen di belakangnya. Memberanikan diri menyentuh lengan Chen dengan berbalut jas hitam yang membuatnya terlihat gagah.
"Aku sudah dewasa. Aku sudah begitu banyak belajar, aku tau mana yang diperbolehkan dan dilarang dalam agama. Jadi, saat ini, aku harus benar-benar mandiri!" Puspa menegaskan dirinya sendiri.
"Ada apa? Setelah menampar, kau mau apa lagi?" tanya Chen sinis.
"Maaf, saya menampar Tuan tadi reflek saja. Tuan tiba-tiba mengangkat saya. Dan anu, itu … Saya, ingin--" ucapan Puspa terhenti dengan menarik-narik jas lengan Chen seperti anak kecil yang ingin minta jajan.
Chen menatap kebawah, ke lengan yang ditarik oleh Puspa. Kemudian, berbalik badan dan kini saling menghadap. "Katakan dengan jelas apa maumu?"
"Pengen diantar pulang oleh Anda, Tuan Chen," ucap Puspa lirih.
Tuing … Tuing…
Chen menyeringai. Antena pancaran cinta telah memancar, sinyal getaran hati telah bergetar. Jantung Chen berdebar hebat melihat wajah imut Puspa yang bisa membuat dinginnya gumpalan es di freezer hatinya mencair.
"Um, kenapa mendadak?" tanya Chen masih meninggikan gengsinya.
"Saya tidak punya uang untuk membayar taksi mupun bus," jawab Puspa menundukkan kepalanya.
"Jika kamu bisa bicara manja, maka aku akan mempertimbangkannya," celetuk Chen mendongakkan kepalanya, menandakan bahwa dirinya sedang bersikap angkuh saat itu.
"Bermanja?" gumam Puspa.
Puspa mulai berpikir, manja yang dimaksud Chen itu yang seperti apa. Dengan polosnya, ia pun mengirim pesan kepada Aisyah, dan bertanya bagaimana cara bicara manja dengan Chen.
"Kau mau apa?" tanya Chen.
"Bertanya kepada Aisyah cara bermanja dengan Tuan itu ... bagaimana?" jawab Puspa polos.
Chen merebut ponsel milk Puspa, melihat pesan itu sudah terkirim kepada adiknya, membuatnya malu sendiri karena di bawah pesan itu ada nama dirinya.
"Kenapa harus bertanya seperti ini? Mana nanyanya cara bermanja dengan kakakmu pula!" seru Chen.
"Iya, salahnya dimana?" tanya Puspa kembali.
Kling!
Pesan balasan telah masuk. Puspa langsung merebut ponselnya kembali dan akan menemukan jawabannya.
[Heh, Astaghfirullah, untuk apa bermanja? Setahun aku, kakakku bukan tipe pria yang suka wanita manja deh. Kecuali aku dan Gwen saja, ada apa dengannya?]
[Tapi, jika memang dia menginginkan dirimu seperti itu, gampang saja. Kamu bicara dengannya dengan pelan dan merayu, jangan lupa belakang kalimat harus di tambahin kata mohon, selamat mencoba] -, rupanya Aisyah pun ikut serta menjodohkan Puspa dengan kakaknya, Chen.
"Tapi, yang aku tau … Puspa naksir dengan Mas Tama. Hadeh, rumit sekali kisah cinta mah!" imbuhnya.
Sampai di waktu Puspa melakukan apa yang Chen ingatkan. Tidak lupa, Puspa mengucapkan basmalah dahulu sebelum melakukannya.
"Huh, ehem …,"
"Tuan, saya ingin Tuan mengantar saya pulang. Saya tidak mengenal siapapun di sini, hanya Tuan yang saya kenal dan dekat dengan saya. Bisakah Tuan mengantar saya, mohon …," ucap Puspa berhasil dengan suara manja dan kedipan mata yang lucu.
Meski dalam hatinya gemas, Chen masih menahan keangkuhannya dengan hanya menjawab, "Baiklah."
"Terima kasih, Tuan Chen," sambung Puspa kembali dengan suara manja dan tingkah yang menggemaskan. Apalagi, jilbab pasmina yang dipakai Puspa membuatnya kelihatan chubby dan imut.
"Uhh, kenapa dia menggemaskan seperti anak kucing? Dia bukan lagi ulat ijo. Teringin rasanya mencubit pipinya yang hampir mah tumpah itu. Sayangnya, Tuhannya melarangku menyentuhnya." batin Chen tersiksa melihat betapa menggemaskan seorang Puspa.
Adegan itu di lihat oleh Fei, membuatnya semakin panas karena cinta butanya. Fei merasa jika dirinya semakin jauh dengan Chen karena kehadiran Puspa disisi Chen. Padahal, ia sudah sangat senang kala bisa menggantikan posisi Asisten Dishi di samping Chen.
"Tuan, kenapa Anda tidak pernah melihatku?"
"Apa yang Tuan lihat dari gadis itu?"
Fei menyeka air matanya. Ia menyemangati diri sendiri, dan masih akan berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya, yakni memiliki Chen sepenuhnya hatinya.
Ketika di mobil, Puspa terus saja mengamati luka yang ada di tangannya. Dirinya juga sangat berharap bisa tetap betah tinggal di negara yang belum pernah dikunjungi sama sekali. Bertekad agar dirinya bisa pulang ke Jogja menggunakan uang hasil keringatnya sendiri, seperti apa yang diperintahkan oleh Abi-nya.
Chen mengamati Puspa yang kala itu menatap tangannya sembari menangis. "Apa sakitnya sangat terasa, sehingga sampai menangis seperti itu?" tanyanya dengan tatapan wajah sinis.
"Tidak, Tuan," jawab Puspa singkat.
"Lantas, air mata itu … air apa? Air hujan?" tanya Chen lagi.
Puspa tersenyum saat Chen mengatakan air hujan. Namun, Chen sendiri malah tidak merasa bahwa ucapannya mengandung komedi bagi Puspa.
Tujuan bapak-bapak mereka ini tidak muluk-muluk. Hanya ingin keduanya dapat sama-sama belajar dalam mengambil keputusan. Sebelumnya, Puspa memang terlihat anggun dan kalem. Itu terlihat ketika ia pertama kali bertemu dengan Chen.
Makin mengenal Puspa, Chen merasa jika Puspa sedikit memiliki kemiripan sifat dengan Gwen yang manja, sedikit lebih kalem seperti Aisyah. Benar saja, mereka bertiga tumbuh bersama layaknya anak kembar tiga.
"Loh, bukannya ini bukan jalan menuju rumah Tuan, ya?" tanya Puspa menyadari sesuatu karena mobil Chen tidak berbelok arah ke mansion.
"Aku lapar. Sejak sarapan sampai selesai rapat tadi, aku sudah menghabiskan banyak tenaga, jadi aku lapar sekarang," jawab Chen.
"Oh …,"
Puspa kembali memainkan ponselnya. Sesekali melirik ke arah Chen. Menanyai hatinya dengan pasti. Jika dirinya tidak lagi merindukan Tama ketika bersama dengan Chen.
"Sejak aku bersama dengan dia … di otakku sama sekali tidak ada nama maupun wajah Mas Tama. Apa benar aku telah jatuh cinta padanya?"
"Dengan pria angkuh seperti dia? Apa aku masih waras? Ya Rabb, meski dia keturunan dengan latar keluarga yang islami, tapi dia …,"
Puspa terus bergelut dengan hatinya. Memang Chen selalu angkuh padanya. Tetapi, di sisi lain, banyak sekali sifat Chen yang baik kepadanya.
Akankah kapal mereka berlabuh? Hati mereka masih jalan ditempat.