
"Bu, siapa? Katakan saja, aku terus mencarimu, mengkhawatirkan dirimu. Lalu, setalah bertemu, apa kau tidak mau cerita padaku?" desak Chen.
"Rumah lama, rumah milik kakek Jimmy ada yang bakar tepat dini hari. Ibu tidak tau siapa itu, tapi yang pasti … Ibu me dengar suara Rifky menangis dibawa oleh seseorang," ungkap Rebecca.
"Saat itu, Ayahmu masih terjaga. Dia langsung membangunkan anak-anaka asuh Ibu. Ibu melihat ada seseorang di kamar lama Kakek Jimmy, Ibu mengejar orang itu. Tapi sayang, Ibu dipukul dari belakang. Setelah Ibu terbangun, Ibu sudah ada di rumah kecil di tepi kota. Ayahmu dan Paman Willy ada di samping Ibu saat itu," jelas Rebecca.
Chen mengatakan jika Willy juga ikut pencarian, namun tidak menemukan mereka. Rebecca memang meminta Willy untuk tidak memberitahu keberadaannya sampai dirinya memang sudah benar-benar pulih. Tentang penculikan, Rebecca dan Yusuf percaya kepada ketiga putra-putrinya bisa menyelamatkan adiknya dari Jackson Lim dan juga Cindy.
"Jadi, dalangnya adalah …,"
"Benar, ibu angkatmu dan juga adik angkat ibu. Mereka mencari sebuah harta terpendam keluarga Lim dan hendak membunuh ibu. Beruntung, ketika ibu pingsan, Ayahmu masuk dan membawa ibu keluar meski ada luka bakar di kaki ibu," jawab Rebecca.
"Lalu, luka ini? Ini bukan luka bakar, melainkan luka sayatan. Bagaimana ini bisa terjadi? Sebab, pada saat itu, kedua orang jahat itu sedang sibuk bersamaku dan Gwen," lanjut Chen.
Rebecca terdiam sebentar. Tak seharusnya ia mengatakan kenyataan itu. Namun, Chen harus mengetahui kebenaran pahit tersebut. "Ini dari keluarga besar Natt, calon mertuamu," jawab Rebecca.
"Apa? Aw sakit," rintih Chen, saat itu langsung beranjak kala mendengar keluarga Lin Aurora lah yang menyebabkan wanita terhebatnya terluka.
Meski dalang utama adalah Tuan Besar Natt untuk membuatnya terbunuh, Rebecca tetap tak ingin Chen melibatkan Lin Aurora dalam masalah itu. Sebab, Tuan Besar Natt juga tidak tahu jika ibu kandung Chen adalah Rebecca, cucu Mafia paling ditakuti pada masanya.
"Jangan sampai kamu melampiaskan dendam kepada Lin Aurora. Dia tidak terlibat dalam dunia hitam ini. Dia gadis yang sangat baik," tutur Rebecca.
"Jika orang itu adalah Jackson Lim, aku masih bisa percaya. Tapi, Tuan Besar Natt? Ada apa dengannya? Apakah Ibu mengenalnya?" Chen semakin penasaran.
Kisah perseteruan antara keluarga Lim, Wang, Hao dan Natt terjadi di tahun pertama Tuan Lim, kakeknya Rebecca, mengumumkan bahwa Rebecca adalah pewarisnya.
Ada perdebatan besar, karena Rebecca bukanlah keturunan kandung dari keluarga Lim. Ketiga keluarga itu bekerja sama untuk menggulingkan Tuan Lim dari bisnis. Namun, malah berbalik kepada ketiga keluarga karena adanya orang dalam yang suka mengadu domba.
Terpecahnya persatuan ketiga keluarga melawan Tuan Lim berdampak besar pada penghasilan mereka. Dari waktu itu, mereka saling membantai, saling merebut kekuasaan dan merebut harta curian. Kemudian, Tuan Lim mendidik Rebecca dengan sangat ketat.
Di usia Rebecca yang ke sembilan tahun, ia sudah mampu membunuh banyak orang dengan strateginya, ditemani oleh belati kecil yang diberi Tuan Lim.
Dengan trik Rebecca juga, istri pertama Tuan Hao, Ibu tiri Yue, meninggal dunia karena melindungi Tuan Hao yang awalnya menjadi targetnya. Kemudian, karena Rebecca juga, Tuan Wang tidak bisa memiliki keturunan, kehilangan wanita yang dicintainya sampai dirinya melakukan sterilisasi pada kelaminnya.
"Bayangkan, di usia segitu, Ibu menjadi iblis yang sangat menakutkan. Otak Ibu di penuhi dengan dendam karena tuntutan kakek Ling, istri dari kakek Lim,"
"Begitu kotornya tangan Ibu ini. Makanya Ibu banyak menuai karma di masa tua. Jika bukan karena Ayahmu, Ibu tidak tau jadi apa sekarang,"
"Dari sana, Ibu yakin jika Ayahmu memang dikirim untuk Ibu. Tapi, masa lalu buruk ibu selalu menghantui. Dengan sabar, Ayahmu menanggung beban masa lalu Ibu dengan tenang,"
"Ayahmu sangat berarti bagi Ibu. Maka dari itu, ketika Ibu angkatmu memberi Ibu pilihan ketika terungkap dia yang menculikmu, Ibu lebih memilih berpisah dengan Ayahmu daripada harus menukarkan kamu dengan Ayahmu,"
"Maafkan keegoisan Ibu, Chen. Gara-gara Ibu tidak mau menukarmu dengan Ayahmu, kau jadi menderita sampai saat ini,"
Tangis Rebecca pecah malam itu. Hal yang selalu ia pendam, kini telah diungkapkan kepada anak sulungnya. Chen pun memeluk ibunya, memintanya untuk tenang dan jauhkan pikiran dari rasa bersalahnya.
"Ibu, aku sama sekali tidak pernah membencimu. Aku sangat menyayangimu, mencintaimu. Jangan merasa bersalah lagi padaku, aku senang ibu memilih berpisah dengan Ayah daripada harus menukarku,"
"Jika waktu itu Ibu menukarku dengan Ayah, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. Masih ada Gwen dan Aisyah juga kan waktu itu. Ibu tidak salah mengambil tindakan, dengan memisahkan diri dengan Ayah, dan membawa masing-masing dari kedua saudariku, aku sudah merasa kalian sangat adil padaku," Chen menghibur Ibunya. Ia tak bisa melihat wanita terhebatnya meneteskan air mata untuknya.
Mereka pun berpelukan kembali. Rebecca berpesan kepada Chen agar tidak menceritakan masalah musibah hilangnya dirinya dan Yusuf kepada kedua saudarinya.
"Terutama Gwen. Dia sedang hamil, emosinya juga dari dulu. Ibu takut--"
"Ibu tenang saja. Gwen dan Aisyah sudah bahagia dengan keluarganya, tak perlu lagi dibebani dengan masalah seperti ini. Cukup ibu selalu katakan kepadaku," sela Chen.
"Aku anak Ibu juga. Sejak kecil, Gwen dan Aisyah sudah menemanimu. Jadi, izinkan aku menemanimu mulai saat ini, Ibu." tukasnya memeluk Rebecca kembali.
Dari balik tirai, rupanya Yusuf mendengar percakapan antara Ibu dan anak lelakinya itu. Yusuf mengucap syukur, ternyata Chen tidak mempermasalahkan masa lalu ibunya.
"Ibu tenang saja, aku akan tetap memperlakukan Lin Aurora dengan baik. Seperti Ayah memperlakukan Ibu, begitu juga denganku. Ya … meski aku tidak memiliki sifat murah hati Ayah, tapi aku akan tetap berusaha," ujar Chen.
"Jadilah dirimu sendiri. Pria, memang sudah seharusnya menghargai seorang wanita. Memuliakan istri, sama saja memuliakan ibunya," tutur Rebecca.
"Tapi, nanti Ayah Wang akan datang. Apakah, ibu … hm, aku akan atur semuanya. Ibu istirahatlah dulu, waktu sudah larut juga, 'kan?"
Chen mengantar Ibunya sampai ke depan pintu kamar. Kemudian kembali ke kamarnya sendiri dengan langkah tertatih-tatih. Setelah mendengar kisah yang diceritakan oleh Ibunya, Chen akhirnya bisa tidur nyenyak.
Semua pertanyaannya yang ia simpan sejak kecil, sudah terjawab semua dengan kisah yang Ibunya ceritakan tersebut. Tak hanya mengerti kisah lampau, Chen juga mendapatkan petunjuk dan fakta baru tentang Tuan Besar Natt, calon mertuanya.
"Tuan Besar Natt, aku tidak menyangka dia akan mengorbankan putrinya hanya demi membalas dendam." gumam Chen dalam hati, sebelum ia terlelap.