
Sembari menunggu kabar dari Tuan Jin dan juga Faaz yang mengharuskan mereka berangkat ke Tiongkok, Tama dan Ayden juga tidak tinggal diam. Mereka membantu menangani pekerjaan mudah yang Tuan Jin berikan.
"Haduh, ini dunia bisnis. Mana aku paham," ucap Ayden.
"Heh, kita berdua bukankah pembisnis? Mana mungkin kita tidak bisa. Kita baca-baca dulu saja, jika memang tidak paham, nanti kita baru bertanya kepada Tuan Jin itu," sahut Tama.
Soal bisnis Chen, sementara akan dilanjutkan oleh Tama dan Ayden. Dimana memang mereka juga merambah ke dunia bisnis. Sementara menunggu mental Aisyah kembali baik-baik saja, Bora juga akan membuatkan surat izin kepada pihak kampus untuk memundurkan jadwal magang Aisyah di rumah sakit yang sudah terpilih.
"Jadi, selama Aisyah belum kembali seperti sedia kala hatinya, kita yang akan bolak balik ke Tiongkok, nih?" tanya Tama.
"Ya bagaimana lagi? Ini sudah kewajiban kita sebagai saudara harus saling membantu, bukan?" jawab Ayden. "Lagi pula, usaha milik Chen dan juga Gwen, bisa menjadi biaya hidup di masa depan untuk putrinya Gwen dan juga si baby Rifky," lanjutnya.
"Jadi sebisa mungkin kita yang masih sanggang dia masih sehat harus membantu 2 bayi itu," Ayden memang bisa berpikir lebih dewasa.
Tama adalah kakak kesayangan Gwen. Dimana memang Tama yang selalu memanjakan Gwen di saat Chen dan Aisyah sibuk dengan uruannya masing-masing. Dia juga akan menjadikan putri semata wayangnya Gwen menjadi keponakan yang paling dia sayangi saat itu.
Di usianya yang mau menginjak 24 tahun, Tama, Faaz, Feng dan juga Ayden memang belum mau menikah. Mereka masih fokus meniti karir dan fokus dengan keluarganya masing-masing.
Setelah semalaman mempelajari tentang bisnis yang di jalani Chen dan Gwen di Tiongkok, akhirnya Tama dan juga Ayden paham dengan bisnis itu. Tak ada hal yang menyimpang, bisnis itu berjalan dengan baik-baik saja.
"Dimana ada letak ke-mafiaannya di dalam bisnis ini? Yang aku pelajari, tidak ada hal yang buruk dalam bisnis ini. Kenapa apa antara Chen, Bibi Rebecca dan juga Gwen, menyebut bahwa mereka ini adalah seorang mafia?" tanya Ayden.
"Sebab, mereka memang berlatar belakang Mafia sejak dulu," sahut Feng, datang menyapa Tama dan Ayden.
Feng pun menjelaskan apa arti sebutan mafia untuk ketiga orang yang baru saja pergi untuk selama-lamanya itu. Semasa muda, Rebecca bukan hanya membunuh orang saja dengan status musuh. Rebecca akan merampas harta milik orang lain dengan licik untuk membuat orang lain tersebut bangkrut dengan usahanya.
Cara kerja Chen juga waktu masih bekerja di perusahaan milik Tuan Wang, selaku ayah angkatnya, juga tidak bersih. Dia memperkerjakan orang dengan upah yang tidak sesuai hanya untuk memperkaya diri.
Begitu juga dengan Gwen masa lalu. Dimana dia juga pernah membunuh orang karena tuntutan dari ibunya dan bisnis gelapnya. Namun, and Rebecca, Chen dan juga Gwen, mereka kembali ke jalan yang benar setelah bertemu dengan Yusuf, Aisyah dan juga Agam.
Mereka hidup berdampingan dengan orang yang sholehah dan Sholeh, maka dari itu, Tuhan memanggil mereka kembali di saat mereka sudah berjalan di jalan kebenaran dan meninggalkan dunia hitamnya.
"Perusahaan yang di tanpas oleh Kakekku, aku juga akan usahakan supaya bisa kembali ke nama Aisyah. Tuan Jin, temannya Aisyah memberiku ini sebagai bukti," lanjut Feng menunjukkan dokumen penting yang Chen tinggalkan melalu Dishi.
"Aku menduga jika kematian Chen, istrinya dan juga Bibi Rebecca adalah murni atas kerja tangan Tuhan. Bukan hanya hal terencana yang di lakukan oleh Jackson Lim dan rekannya," ungkap Feng.
"Maksudnya?" kembali Tama dan Feng bertanya secara bersamaan.
"Chen sudah meneruskan wasiat untuk Aisyah dan juga Paman Yusuf. Semua harta yang dimiliki oleh Chen akan diberikan kepada Aisyah dan juga Rifky. Bahkan juga sudah mengalihkan pemegang saham untuk saat ini. Yakni, Aisyah dan suaminya Gwen, Ustadz Agam," Feng menbuka dokumen tersebut.
Semua harta yang dimiliki dan di gapai oleh Tuan Wang juga Chen, beralih nama menjadi milik Aisyah dan Agam. Di dalam sana, bahkan nama Rifky dan Dishi juga ada. Bayi yang belum lahir juga sudah di tulis di surat wasiat Chen tersebut dengan jelas.
"MasyaAllah, apakah Chen sudah memiliki firasat jika dirinya hendak pergi?" ujar Tama.
"Umur memang tidak ada yang tahu. Tapi surat wasiat dari Chen ini, benar-benar membuatku patah hati. Begitu besarnya rasa percaya Chen kepada adiknya dan juga adik iparnya. Jika dipikir, kita mungkin belum bisa menjadi seperti Chen yang penyayang dengan keluarganya sendiri," sahut Ayden.
"Ada harta milik Chen yang di rampas oleh Kakekku. Doakan aku, supaya aku dilancarkan dalam menembus harta tersebut," ucap Feng dengab suara yang terdengar gemetar.
Mereka bertiga pun bersatu dan bekerja sama untuk membuat senyum Aisyah kembali. Bahkan, Faaz dan Tuan Jin juga menyempatkan waktunya ke Tiongkok untuk mencari informasi tentang Dishi. Tanpa berpamitan dengan Aisyah, Faaz dan Tuan Jin, dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain, bekerja sama untuk membuat senyum Aisyah kembali.
Willy dan istrinya juga datang langsung dari Thailand. Mereka juga merasa kehilangan akan kepergian Gwen. Apalagi Willy, mengingat tentang Rebecca yang sudah dia kenal sejak ia kecil.
Rebecca dan Willy selalu bersama ketika masih kecil. Menjaga amanah Tuan besar Lim untuk menjaga Rebecca, Willy merasa bersalah karena tidak tuntas dalam melaksanakan kewajibannya. Dia pun menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Nona, sekaligus mantan istrinya.
"Aku benar-benar terbuai dengan kehidupanku sendiri. Tuan Yusuf, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf karena tidak berada di saat kalian dalam musibah, kau berhak menghukumku, Tuan--" sesal Willy.
"Berdirilah. Aku sudah mengikhlaskan istri, kedua anakku dan juga menantuku pergi. Kamu tidak boleh seperti ini Willy, jangan sesali apa yang tidak perlu disesali lagi," tutur Yusuf.
"Saat ini mereka hanya butuh doa dari kita semua yang masih hidup. Tersenyumlah, karena hidup akan terus berlanjut meski orang yang kita sayang telah pergi lebih dulu," tukas Yusuf sembari menepuk-nepuk punggung Willy.
Ikhlas, sabar, dan juga baik hati. Itu adalah sifat yang dimiliki oleh Yusuf. Sejak kecil ia telah ditinggalkan oleh ibunya. Kemudian ketika remaja, Yusuf juga ditinggal oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Kemudian harus hidup mandiri di luar negeri sendiri karena tidak ingin merepotkan kedua kakaknya.
Yusuf mendapatkan cinta pertamanya dan mendapati cobaan yang begitu besar. Diuji lagi putranya hilang karena diculik oleh orang dari masa lalu. Tak hanya sampai disitu saja, rumah tangganya juga diuji sampai terjadinya perpisahan dan harus berpisah dengan 1 putrinya lagi selama 9 tahun. Dibandingkan dengan Aisyah putrinya, Yusuf adalah orang yang paling sabar dalam menjalani hidupnya.