
"Pak, anda tidak bisa berdebat dengannya. Jika tidak mau rugi, sebaiknya Bapak menghindari bertanya kepadanya," sahut Jaki, teman Gwen sejak sekolah menengah atas.
Mereka berdua tos di depan Pak Raza. Jaki dan Gwen memang mahasiswa paling abadi di kelas bisnis tersebut. Masih dengan kesabaran Pak Raza menantang kerugian apa yang akan ia alami jika bertanya dan memerintah Gwen.
***
"Jika Bapak memang meminta saya untuk membuka materi, baiklah! Kalau begitu, beri dulu saya uang 200 ribu, saya akan melakukan itu," ucap Gwen.
"200 ribu? Kenapa?"
"Jawabannya hanya satu, nggak ada yang gratis di dunia ini, Pak!" seru Gwen.
Pak Raza mengingat apa yang sudah Pak Jarwo katakan kepadanya, "Pak Raza, nanti Bapak jangan kaget. Ada satu mahasiswi yang mata duitan. Tapi, dia aslinya cerdas, cuma satu pelajaran saja. Yakni cara berbisnis. Tidak hal lain. Jadi … harap maklum!"
"Apa ini mahasiswinya?" gumam Pak Raza dalam hati.
Tangan Gwen masih mengadah mengharapkan uang Rp200.000 dari Pak Raza, dosen barunya. Namun, Pak Raza malah kembali duduk di kursinya tanpa mempedulikan Gwen.
"Huh, kere! Bomat, yang penting aku makan dulu!" umpat Gwen melanjutkan makannya.
Tak berselang lama, Pak Raza mendekatinya lagi dan memberikan dua uang lembaran seratus ribuan di meja Gwen.
"Really?" tanya Gwen menyentuh uang tersebut.
Tanpa banyak bicara, Pak Raza menunjuk ke depan dan meminta Gwen membuka materi. Pak Raza memang mampu dibuat kagum oleh Gwen, namun tetap saja. Ia akan mengalami kebangkrutan jika terus mencari masalah dengan Gwen.
"Kerjakan!" tegas Pak Raza.
"150 ribu, baru saya kerjakan di sini juga!" seru Gwen tanpa rasa malu.
Tanpa ragu lagi, Pak Raza menambah uang yang Gwen inginkan. Tentu saja Gwen suka menepati janjinya. Ia menjelaskan dan mengerjakan tugasnya dengan baik.
"Bagus, siapa namamu?" lanjut Pak Raza.
"50 ribu, dah murah itu. Nanti saya akan beritahu nama lengkap saya. Oh bukan, 20 ribu saja sudah cukup,"celetuk Gwen tanpa rasa malu.
Semua mahasiswa dan mahasiswi tertawa mendengar celoteh Gwen yang sangat mata duitan. Semua orang dan pihak kampus juga tahu, siapa Gwen ini sebenarnya. Namun, memang pada dasarnya Gwen adalah gadis yang peritungan.
"Cukup, Gwen! Cukup!" bentak Anita.
"Lanjutkan!" sahut Pak Raza menambah yang lembaran dua puluh ribuan sesuai dengan yang diinginkan Gwen.
Gwen menjulurkan lidahnya dan mengangkat jari tengahnya kepada Anita. Anita merasa kesal, tentu saja ia merasa kesal karena Anita tertarik dengan Pak Raza.
"Nama saya, Gwen Kalina Lim. Panggil saja Gwen yang manis dan baik hati," ucap Gwen menaikkan kerah jaket denimnya.
Pak Raza beranjak dari kursinya, memberikan uang berjumlah 370 ribu kepada Gwen. Dengan senang hati, Gwen mengambilnya dan segera memasukkannya kedalam saku. Kemudian kembali duduk tanpa rasa bersalah.
"Baiklah, kamu keluar dari kelas saya. Saya harap, dikelas berikutnya ... kamu jangan mengulangi hal seperti ini lagi, ya." perintah Pak Raza.
"Wait, aku di depak?" tanya Gwen.
"Keluar sekarang juga," Pak Raza sampai membukakan pintu kelas untuk Gwen.
Dengan emosi, Gwen meraih tasnya dan keluar dengan cepat dari kelas tersebut. Tak sengaja ia menjatuhkan dompetnya di depan Pak Raza. Saat Pak Raza hendak mengejar, Gwen sudah tak terlihat lagi di lorong kelas.
Apakah dompet bisa membuat kisah diantara mereka? Apa malah memperburuk keadaan?