
"Gadis itu. Dia bukanlah gadis sembarang! Ketika aku mengeluarkan pedangku, dia bahkan berani mengacungkan belatinya kepadaku," kata Yu Liu penuh dengan aura dingin.
"Aku ingin gadis itu. Darahnya, pasti akan jauh lebih segar daripada gadis lain di desa ini," lanjutnya.
"Nona, bagaimana jika gadis itu sudah tidak perawan lagi? Maksud saya, dia adalah gadis kota. Kehidupan di kota sangatlah bebas dan …."
Sring~
Suara pedang dikeluarkan dari tempatnya, membuat pelayan Yu Liu langsung diam. Menandakan jika apa yang diinginkannya harus dipenuhi, atau pelayan tersebut akan mati di sana saat itu juga. "Baik, Nona. Saya akan melaksanakan tugas dadi Nona."
Setelah pelayan itu pergi, Yu Liu duduk di depan cermin riasnya yang antik. Memastikan kerut yang ada di kulit wajahnya tidak semakin jelas karena terlambat meminum darah gadis perawan hari itu.
"Mereka bertiga sangat kuat sekali. Racun yang aku tabur, adalah racun yang mematikan. Mereka memakan habis makanan itu, mengapa masih sehat sampai sekarang?" gumamnya.
"Pria yang satunya itu, membuatku terlena. Meski pria yang lainnya juga tak kalah tampan, tapi pria yang ini, begitu mempesona. Ada apa dia ingin menemuiku?"
Yu Liu berdandan dan berpakaian dengan rapi. Menyisir rambutnya, kemudian menghias rambut menggunakan banyak aksesoris kuno seperti seorang putri.
"Aku yakin, pria ini pasti tidak pernah memalingkan wajahnya dariku. Aku adalah wanita tercantik di desa ini, aku juga wanita berkuasa. Yakin, pasti pria itu akan jatuh hati padaku."
Waktu yang di pastikan telah tiba. Feng memberanikan diri untuk menemui Yu Liu dan membahas tentang menginap nanti malam. Petang itu, Feng dengan diiringi kekuatan kasih sayang untuk Aisyah, melangkah ke kamar Yu Liu dengan sedikit gugup.
"Siapa di luar?" mendengar suara Yu Liu saja sudah membuat Feng merinding.
"Tetap tenang, tenang saja. Jika dia mau menebas leherku, aku bisa ciptakan racun ini cukup ke wajahnya, hm!" batin Feng, kembali semangat.
Yu Liu mempersilahkan Feng untuk masuk. Dandan Yu Liu memang tidak pernah gagal untuk mengikat seorang lawan jenis. Namun, secantik apapun Yu Liu, rupanya tidak pernah membuat Feng tertarik. Gaun warna merah terang yang melekat di tubuh indah Yu Liu memang tidak bisa dihindarkan dari pandangan mata. "Haduh, mataku sakit sekali. Kenapa warnanya serba merah gini, sih?" batin Feng dengan senyum palsunya.
"Silahkan kamu duduk dulu," pinta Yu Liu mempersilahkan Feng duduk dengan keanggunannya.
Seperti layaknya gadis tiongkok kuno, Feng melihat tingkah Yu Liu ini mirip sekali dengan drama yang ia tonton bersama Tama sebelumnya. Ketika menuangkan teh saja, banyak teknik yang digunakan oleh Yu Liu.
"Silahkan--" ucap Yu Liu dengan lembut.
"Terima kasih," sahut Feng dengan senyuman terpaksa.
Sebelum berbincang, Feng menyeruput teh yang sudah dibuatkan oleh Yu Liu. Kali itu, teh yang diminum oleh Feng tidak ada obat ataupun sejenis racun lainnya. Murni karena Yu Liu tidak ingin sampai melukai pria yang telah membuatnya jatuh hati setelah sekian lama hatinya mati.
"Katakan, ada apa Tuan datang kemari. Apakah ada hal penting yang ingin Tuan katakan kepadaku?" tanya Yu Liu memulai pembicaraan.
"Nona, malam ini saya hanya ingin meminta izin untuk menginap. Apakah boleh, saya dan kedua saudara saya menginap semalam di kediaman Nona yang indah ini?" ucap Feng dengan tubuhnya yang ditegakkan.
"Ini wanita semakin ngeri saja. Makin di lihat, kenapa semakin tua saja. Benar nih wanita punya ilmu hitam. Menakutkan sekali, Tuhan tolong lindungi kegantengan dan keperjakaanku …."
Feng tidak ingin sampai melakukan yang macam-macam karena memang tidak mau kesalahan orang tuanya dia ulang kembali. Meski memang tujuannya menggoda Yu Liu sampai mau bersentuhan, tapi Feng selalu berharap jika dirinya tidak melewati batasannya.
"Siapa nama, Tuan?" tanya Yu Liu memecah khayalan buruk Feng.
"Feng," jawab Feng singkat.
"Feng? Hanya Feng saja?" lanjut Yu Liu penasaran.
"Fengying. Hanya itu, Nona. Ada apa? Apakah namaku sangat buruk, sehingga membuatmu enggan untuk mendengar namaku?" Feng mulai aksinya.
Beranjak dari tempat duduknya, mendekati Yu Liu dan duduk di sisi wanita itu. Feng menjalankan perannya dengan baik. Wajah tenang, tubuh tegap dan juga kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu tertata rapi. Seolah memang Feng tidak mengetahui rencana buruk Yu Liu yang hendak melenyapkan kedua saudaranya.
"Nona, mengapa anda memasang wajah jutek yang seperti itu? Maaf jika saya lancang, tapi wajah anda ini ...." Feng mencoba menyentuh pipi dari Yu Liu.
"Amit-amit. Tuhan, Engkau maha mengetahui, bukan? Aku melakukan ini demi keluarga," sambungnya dalam hati.
Glek! Glek!
Feng terus menelan ludah karena gugup. Namun, hebatnya ia mampu mengendalikan kegugupannya itu. Sesaat Feng hendak menyentuh pipi Yu Liu, wanita itu ternyata malah mulai duluan dengan menggiring Feng ke ranjang.
"Kemarilah, kita akan lebih nyaman jika membicarakan sesuatu penting di sini," Yu Liu menepuk-nepuk pelan ranjangnya.
"Haduh, apa lagi ini? Kenapa begini? Kek anu ... Cowo yang suka nyenengin tante-tante gitu nggak, sih?" batin Feng.
Tak ingin merusak rencana, Feng pasrah saja akan diapakan oleh Yu Liu hari itu. Petang yang sangat menegangkan bagi Feng, Yu Liu rupanya wanita yang begitu agresif. Baru saja Feng duduk, dadanya sudah di rabanya dengan tangan mulusnya itu.
"Apakah, dua saudaramu itu ... Memang saudara? Bukan teman yang kau ajak untuk menjemput Zhu Tong?" tanya Yu Liu, bicara persis di telinga Feng dan menghembuskan napasnya.
"Siapa Zhu Tong?" tanya Feng. "Keep kalem Feng, kalem aja, kalem--" sambungnya dalam hati.
"Orang yang saat ini duduk di kursi roda, aku memberi nama Zhi Tong. Dia kehilangan ingatannya, kemudian tidak bisa berdiri, mau bagaimana lagi? Aku harus bermurah hati, bukan?" jelas Yu Liu, tangannya menjamah dada Feng dari luar kemejanya.
"Ahh ... Zhu Tong yang anda maksud, dia adalah sepupuku. Anak dari kakak ibuku. Jika saudara laki-lakiku yang lain itu, dia juga dari kakak ibuku. Kemudian saudariku, dia satu ibu beda ayah dengan Zhu Tong itu. Nama aslinya, Dishi, Nona," terang Feng.
"Aku tidak peduli apapun itu. Bagaimana jika malam ini, kau menemaniku di sini. Aku akan pastikan, ketiga saudaramu itu akan aman, jika kau mau menemaniku malam ini," kembali, wanita itu bicara dengan bernapas di telinga Feng.
Meski wanita itu jauh lebih tua darinya, lalu Feng juga tidak menyukainya, yang namanya naluri laki-laki normal pasti tetap akan berdiri jamurnya jika ada hembusan napas di telinganya. Di mana telinga itu, bagi Feng adalah Indra yang juga sangat sensitif.