Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Setelah Drama



Sesampainya di rumah, mereka sudah disambut oleh orang tuanya di teras. Rebecca bertanya-tanya, mengapa Gwen yang membawa koper milik Aisyah saat itu. Kesalahan Rebecca terulang lagi, ia langsung memeluk Aisyah dan menanyakan keadaannya, sedangkan ia masih memiliki putri yang lainnya.


"Aisyah, kamu kenapa? Seperti lemas dan tidak bertenaga, apa kamu sakit?" tanya Rebecca memeluk Aisyah.


"Assallamu'alaikum, Bu, Ayah." Aisyah menyalami kedua orang tuanya.


Berbeda dengan sang istri, Yusuf langsung meminta koper Aisyah yang ada ditangan Gwen seraya menanyakan kabar kedua putrinya, mengapa pulangnya terlambat.


"Mi, aku anakmu juga. Kenapa yang ditanyai hanya Kak Aisyah? Kenapa Mami nggak bisa adil seperti Ayah, sih? Kesel deh!" Gwen langsung masuk ke rumah dan berlari menuju kamarnya tanpa menyalami Ibunya lebih dulu.


Aisyah dan Yusuf menatap Rebecca. Mereka juga menyayangkan sikap Rebecca tersebut. Mengingat Gwen memang selalu sensitif dengan Ibunya, Aisyah meminta Rebecca untuk tidak mengutamakan dirinya lebih dulu daripada Gwen.


"Aku lelah, sebaiknya Ibu hampiri Gwen. Ayah, bisakah Ayah membantuku, tolong …," ucap Aisyah manja dengan Yusuf.


"Apapun akan Ayah lakukan untukmu, Nak." Yusuf membantu membawakan koper milik Aisyah ke kamarnya.


Rebecca hanya diam dan kemudian menyusul keluarganya masuk. Menyiapkan makanan untuk kedua putrinya yang baru saja pulang dari Thailand. Terlintas dalam benaknya ingin menanyakan kabar Willy kepada Gwen, ia pun masuk ke kamar Gwen.


Sungguh pemandangan yang indah. Gwen bukan sedang rebahan, melainkan ia menyambung belajarnya di meja belajar. Terlihat sekali keseriusan Gwen saat itu. Rebecca mengurungkan niatnya untuk bertanya dan kembali ke dapur membuatkan camilan untuk Gwen.


Sementara itu, Gwen yang sedang asik belajar teringat akan Pak Raza ketika Pak Raza memasang wajah tampannya dikala ia sedang marah.


"Anjir, apaan dah. Kenapa juga aku terus-terusan inget wajah guru itu," sulutnya.


"Aku harus konsen, aku harus lulus tahun ini dan berangkat ke Tiongkok menyusul kakakku. Aku harus semangat, aku calon jutawan, aku calon jutawan, haha--"


Gwen menyemangati dirinya sendiri. Ia tak berharap jatuh cinta dan mencintai seorang pria dalam waktu mudanya. Harapan dan impiannya belum tercapai, ia tak ingin menikah muda ataupun jatuh cinta dengan Pak Raza meski dirinya telah jatuh hati kepada guru pembimbingnya itu.


Tok, tok, tok.


Suara pintu di ketuk. Rebecca membawakan camilan serta jus buah untuk Gwen supaya semangat dalam belajarnya. Rebecca duduk di samping Gwen, lalu mengamatinya dengan jelas. Gwen sangat mirip dengannya. Jika kelakuannya mirip, Rebecca juga tak bisa menyalahkan putri bungsunya begitu saja.


"Ada apa? Mau membandingkan aku dengan Kak Aisyah? Sana, pergi ke kamar putri kesayangan Mami. Dia tertembak dua kali saat di Thailand," ujar Gwen masih kesal dengan Rebecca.


"Apa, Aisyah tertembak? Kok, bisa?" Rebecca mulai panik.


"Kampret, keceplosan pula. Haih, dasar ya. Kecemburuan memang selalu berakhir duka." celetuknya dalam hati.


Gwen tak bisa berbohong, meski ia sedikit nakal dan suka semaunya sendiri, Gwen jarang sekali bisa berbohong. Ia menceritakan bahwa Aisyah tertembak karena melindunginya dari serangan musuh. Gwen tidak menceritakan pertemuannya dengan Chen karena ia udah berjanji.


Namun, alasan lain tertembaknya Aisyah, Gwen mengarang cerita jika itu tembakan dari musuh keluarga Lim yang masih tersisa. Gwen terpaksa mengarang kisah itu, karena janjinya kepada Chen yang tak bisa ia katakan kepada Rebecca saat itu.


~~


Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu terus berputar. Luka pada lengan Aisyah yang sebelumnya telah diketahui orang tuanya juga sudah mengering. Gwen dan Pak Raza juga selalu menghabiskan waktu untuk belajar bersama.


Sekitar 3 bulan berlalu, Aisyah mendapat cuti untuk melanjutkan studinya menjadi dokter spesialis, sedangkan Gwen mampu lulus dengan nilai yang memuaskan bagi keluarganya. Misi yang sebelumnya tertunda. Aisyah dan Gwen berencana liburan ke Tiongkok dengan mengajak Pak Raza sekalian.


"Apa? Kamu ingin menyuruh saya meninggalkan ibuku sendirian di rumah lagi?" keluh Raza.


"Ayolah, ini hanya beberapa hari saja. Anggap saja ini hadiah dariku karena sudah membantuku lulus dengan hasil yang emejing ini," desak Gwen.


"Tidak, saya tidak mau. Gaji dari Bibimu saja sudah lebih dari cukup. Saya tidak akan pergi denganmu meski saat ini liburannya ke Tiongkok," tolak Raza.


"Ayolah Pak Raza. Ibumu akan ditemani oleh salah satu santri dari ponpes. Tenang saja, aku dan Kak Aisyah yang akan menanggung biaya hidupmu nanti selama di sana." Gwen terus memaksa.


Selama tiga bulan, Pak Raza belum merasakan apapun juga terhadap Gwen. Hanya sebatas sayang karena mereka sering bertemu. Sementara Gwen, perasaannya semakin tumbuh karena kebersamaan itu. Apakah cinta Gwen hanya sepihak? Kuapok.


Mereka sedang di cafe, menunggu Aisyah yang sebentar lagi akan keluar dari puskesmas dimana ia ditugaskan. Tak lama kemudian memang Aisyah datang, dengan tas besarnya yang berisikan alat medisnya.


"Assallamu'alaikum, maaf jika kalian menunggu lama. Tadi ada pasien mendadak pas pergantian jam. Jadi, ya beginilah …," salam Aisyah duduk di antara Gwen dan juga Raza.


"Wa'alaikumsallam, tidak apa-apa, kita juga baru 1 jam di sini," jawab Raza memasang wajah kesalnya.


"Eh, sudah satu jam? Ya Allah, maafkan aku ya Pak Raza, Gwen. Ak--" ucapan Aisyah terpotong ketika makanan datang.


Rupanya, Gwen juga sudah memesankan kakaknya itu makanan kesukaannya. Gwen sedang bahagia dengan nilainya. Akhirnya setelah sekian tahun mengejar ilmu, baru kali itu ia bisa lulus dengan mudah berkat bimbingan Raza yang tak pernah menyerah membimbingnya.


"Bagaimana, Pak Raza. Kamu mau kan ikut kita ke Tiongkok?" tanya Aisyah.


"Jangan tanya lagi deh, Kak. Dia terus saja menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan ibunya," sahut Gwen.


"MasyaAllah, benar begitu, Pak Raza? Tapi, kami sangat berharap jika Pak Raza bisa ikut bersama kami ke Tiongkok." harap Aisyah.


Raza berkata bahwa dirinya akan memikirkannya lagi. Sebab, tak mudah baginya untuk meninggalkan ibunya sendiri di rumah. Sebelumnya, ketika ia meninggalkan Ibunya ke Thailand, orang yang di suruh oleh Ayahnya berhasil membuat Ibunya terluka dan terus mengancam dengan mengatasnamakan dirinya.


Rahasia keluarga Raza belum ia ungkapkan kepada Gwen karena tak ingin mengganggu konsentrasi Gwen kala itu. Ibu Reza juga sangat menyukai Gwen, beliau juga tak ingin Gwen mengetahui bagaimana sifat Ayahnya Reza selama ini.


Sejak pulang dari Thailand, mereka bertiga menjadi semakin dekat. Jika tidak ada jadwal membimbing Gwen, Raza juga sering menghabiskan waktu bersama Aisyah di puskesmas. Mereka bertiga juga sering jalan bersama di waktu senggang. Apakah mereka terlibat cinta segitiga?