Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kisah Masa Kecil 2



"Jadi, Mas Agam pernah ingin menikah dengan Kak Aisyah?" tanya Gwen dengan muka memelas.


"I-itu, itu hanya bualan masa kecil saja, Lagipula, ketika remaja, dia menyukai Mas Khalid juga, 'kan?" sahut Agam panik.


Gwen menunduk. Jika dirinya adalah Gwen yang dulu, pasti akan merasa cemburu karena semuanya menyukai Aisyah.


"Sayang, itu hanya bualan masa kecil. Lagi pula sekarang Mas sudah menikah denganmu, Aisyah juga menikah dengan Tuan Dishi, Mas Khalid kembali ke Malaysia, lalu Puspa? Dia juga sudah menikah," terang Agam.


"Kami sudah memiliki kehidupan masing-masing, Sayang," lanjut Agam.


Gwen tertunduk lesu. Dia baru kepikiran sesuatu tantang kecelakaan yang dialami kakaknya sebelum dirinya akan menikah dulu.


"Jadi, itu mengapa Kak Aisyah ingat kepada Mas Agam, waktu dia amnesia sekitar kurang lebih dua tahun lalu? Itu karena kalian pernah dekat, bukan?" Gwen paham akan itu.


Masih ada yang membuat Gwen bingung. Ketika dirinya mengenalkan Agam kepada Puspa dan juga Aisyah, keduanya malah sama sekali tidak ingat apapun. Mereka berdua seolah benar-benar baru mengenal Agam, tapi tidak dengan Ustadz Khalid.


"Tolong beri aku penjelasan. Mengapa, ketika kita bertemu di Bandara, dan juga aku memperkenalkan Mas Agam dengan Puspa sebelum kita menikah dulu, mereka berdua seolah-olah tidak pernah mengenal kamu lho, Mas!" lanjut Gwen.


"Apa jangan-jangan, kalian juga membohongi aku? Sandiwara gitu, pura-pura tidak mengenal?" Gwen sudah negatif thinking saja.


Agam menggeleng. Ada kejadian setelah mereka berempat pulang dari tepi pantai. Waktu itu, sudah hampir mau maghrib, Ustadz Khalid mengajak ketiganya kembali secepatnya karena Ayahnya juga sudah memanggilnya.


Ketika hendak berdiri, kaki Puspa menginjak tepi batu karang dan terpeleset. Puspa terjebur ke laut, Aisyah reflek menolongnya, kemudian di susul oleh Agam yang ingin menolong Aisyah.


Mereka bertiga terjun ke pantai, yang dimana itu bagian lumayan dalam. Ustadz Khalid panik, dia segera meminta tolong kepada orang dewasa yang ada di sana dan juga memanggil orang tuanya. Jika dipikir, akan mustahil anak kecil akan selamat setelah terjun ke air yang begitu dalam.


Namun, takdir memang belum menginginkan ketiganya tiada. Puspa di temukan masih menyangkut di karang dengan setengah tubuhnya yang sudah masuk ke air. Dia menangis sekeras-kerasnya dan berdoa sampai semua orang yang mencarinya bisa menemukannya.


"Anak yang satunya tersangkut, ayo segera selamatkan dia! Yang lainnya, cari dua anak lainnya lagi!"


Puspa masih trauma, dia masih belum bisa ditanyai lebih lanjut lagi. Pak Darwin membawanya pulang lebih dulu malam itu. Benar, sampai malam, Aisyah dan Agam belum juga di temukan. Hingga memanggil Tim SAR dan juga dengan bantuan doa tahlil memanggil nama Aisyah dan Agam supaya kembali.


Semua doa para ulama di sana panjatkan untuk memohon welas asih Sang Ilahi, agar Aisyah dan Agam segera di temukan. Yusuf sudah menangis sejadi-jadinya. Meski terlihat lapang dada, tetap saja batinnya menangis karena Aisyah adalah harta yang sangat berharga baginya.


Sampai tengah malam, Aisyah dan Agam masih belum ditemukan. Gabungan Tim SAR dan juga penjaga pantai berkeliling dimana mereka terjebur sore tadi. Hingga akhirnya, mereka mengurangi personil karena cuaca pantai di malam hari, pasti akan besar ombaknya.


"Biarkan aku mencari putriku," Yusuf sudah tidak bisa menahannya lagi. Hatinya begitu sakit ketika putrinya belum juga ditemukan.


"Yusuf, kita harus sabar. Serahkan semuanya kepada Allah, di sini kita serahkan kepada petugas. Lihatlah, air laut juga sudah mulai pasang, kita jangan menambah beban petugas lagi," Raihan mencoba membuat Yusuf tenang.


Hingga tepat tengah malam, ada seorang nelayan yang menemukan Aisyah dan Agam tergeletak di pinggir pantai, dimana itu jauh dari tempat mereka terjatuh. Mereka di temukan bergandeng tangan. Bahkan ketika nelayan hendak mengangkat tubuh mereka, genggaman tangan Agam tak bisa dilepaskan.


"Ada dua anak kecil yang tergelatak di sana!"


"Dua anak kecil yang tenggelam sudah muncul di tepi pantai!"


"Mayat, ada mayat!"


Nelayan itu panik, mengira jika Agam dan Aisyah sudah menjadi jenazah kala beliau menemukannya. Para relawan dan Yusuf yang mendengar itu langsung berlari menuju lokasi.


"Aisyah!"


Yusuf berteriak memanggil nama putrinya. Memeluknya dengan sekuat-kuatnya, membelai wajahnya dan terus mencium keningnya. Kebetulan saja, saat itu Aminah dan juga Raditya ikut di sana. Aminah memeriksa tubuh Aisyah dan juga Agam.


"Alhamdulillah, ya Allah. Mereka berdua masih hidup. Kita harus segera bawa mereka kerumah sakit," Aminah sampai menangis haru, mengucap syukur atas keselamatan keponakannya.


Aminah dan Raditya mengigat sang putra yang mereka tinggal di rumah. Namun, ketika mereka hendak di bawa kerumah sakit, tangan keduanya tidak bisa di lepas.


"Meraka bergandeng tangan. Itu sebabnya, keudanya ditemukan masih bersama, masyaAllah. Ini adalah keagungan dari Allah. Kita berdoa, dan memanggil adik kakak kawah mereka berdua, supaya bisa melepaskan tangan mereka," ucap salah satu ulama yang ada di sana.


Mereka mulai berdoa, dan tak lama kemudian genggaman tangan mereka pun akhirnya bisa terlepas. Sesampainya di rumah sakit, Aisyah akan memiliki memori yang hilang. Sebab, ketika dirinya terjatuh, dokter menduga kepalanya terbentur batu karang atau benda keras lainnya. Sementara Agam, sehat-sehat saja. Hanya masih sedikit trauma.


Sejak saat itu, Puspa dan Aisyah tidak pernah dibawa ke pantai lagi. Mereka juga melupakan kejadian itu, karena trauma. Padahal, Puspa sama sekali tidak terluka. Hanya saja, ketika melihat pantai, Puspa mengingat kembali kejadian waktu itu meski samar-samar.


Aisyah masih mengingat siapa keluarga dan siapa dirinya. Hanya saja, memori tentang berlibur di pantai, belum ia ingat sampai saat ini menjadi istri dari Dishi. Setelah kejadian itu, Agam dibawa oleh Ibunya ke Malaysia dan ketika remaja melanjutkan pendidikannya di Kairo.


"Setidaknya, itu kisah yang pernah Mas Khalid dan juga beberapa orang yang menceritakan kejadian malam itu kepada Mas. Sejak Mas dibawa pergi ke luar negri, Mas jarang pulang,"


"Mas pulang dan bertemu lagi dengan Aisyah dan kamu waktu di pernikahan Mas Khalid saja. Lalu, kita bertemu lagi di Bandara, itu saja Mas benar-benar belum paham jika Aisyah itu, adalah orang yang sama dengan teman masa kecil," jelas Agam.


Gwen baru tahu jika kehidupan saudari kembarnya jauh lebih menyedihkan darinya. Seolah, Aisyah memang dilahirkan selalu terluka dan terus terluka.


"Ternyata, perpisahan orang tua membuat hidup anak-anaknya menderita. Aku sendiri dibesarkan oleh Ayah sambungku. Setiap hari hanya ada pelajaran membunuh, memanipulasi, dan juga harus akan perebutan wilayah,"


"Masa kecilku sama dengan Mami, dimana tanganku dipenuhi dengan dosa dan noda darah karena membunuh orang,"


"Kak Chen, dia memang menjadi putra mahkota. Tapi hidupnya tidak pernah tenang karena dia tahu, orang tuanya yang telah merawatnya adalah orang yang telah memisahkan dirinya dengan orang tua kandungnya,"


"Lalu Kak Aisyah, dia berusaha menjadi tiga anak sekaligus, untuk membuat ayah kami tidak merasa kesepian. Dia di dewasakan oleh keadaan, di mana ayah yang jarang sekali bersamanya karena selalu merindukan Mami. Dimana Mami, malah egois, tanpa memikirkan kita semua,"


"Aku tidak ingin seperti Mami, Mas. Huaa …."


Tangis Gwen semakin pecah kala mengingat bagaimana perjuangannya kembali ke Jogja dan sempat menyamar menjadi anak laki-laki supaya bisa dekat dengan Ayah dan saudari kandungnya.