Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Hero Takut Jarum Suntik



Chen menunda bertemu dengan Gwen. Ia malah menghabiskan waktu bersama Puspa dan Abi Darwin yang sedari datang terus menekuk wajahnya. Abi Darwin ini cemburu melihat putrinya terlalu perhatian dengan Chen. Beliau merasa jika Puspa akan sepenuhnya milik Chen dan tidak lagi memperhatikan dirinya. 


Setelah puas bercengkrama, Abi Darwin mengajak Puspa pulang. Esok hari baru Abi Darwin memperbolehkan Puspa datang kembali. 


"Tuan," panggil Ustadz Khalid. 


"Haih, jangan panggil aku Tuan. Panggil saja Chen, usiaku jauh lebih darimu, 'kan? Apa bisa panggil Bro saja, sesuka hatimulah!" 


"Baiklah, jadi … Dek Puspa itu~" 


"Stop! Jangan panggil dia Dek. itu terlalu manis di dengar. Hanya aku yang boleh memanggilnya dengan sebutan manis itu, paham?" sulut Chen. 


Butuh waktu lama untuk dokter memeriksa Gwen. Luka Gwen lebih parah dibandingkan dengan luka yang Chen alami. Gwen juga memiliki luka goresan di wajah, luka di tangan dan juga di lengannya. Gamis putih bersih itu berlumuran darah miliknya. Teringat kejadian lalu, saat dirinya menikah. Aisyah juga mengalami kejadian buruk. 


Dengan diantar Ustadz Khalid, Chen menemui Agam yang terus beristighfar, caranya untuk menenangkan diri. Chen tahu apa yang Agam rasakan, ia pernah dalam posisi itu saat menunggu Aisyah terluka saat pernikahan Agam dan Gwen. 


"Tenanglah, Gwen wanita yang kuat. Aku yakin, dia mampu bertahan dan akan bangun untuk merecoh hidupmu lagi," ucap Chen. 


"Agam, semuanya akan baik-baik saja. Sebentar lagi dokter pasti akan keluar memberikan kabar baik," sahut Ustadz Khalid. 


Agam menghela napas panjang. "Tuan Chen, istriku memang wanita yang kuat. Saya tidak pernah memungkiri itu. Tapi, dia adalah hidupku sekarang, kulitnya tergores sedikit saja sudah membuat hatiku terluka. Apalagi~" 


Agam tiba-tiba pingsan. Chen yang sebelumnya terlihat sok lemas dan tak berdaya di atas kuris roda mendadak sehat kembali mengangkat tubuh Agam ke kursi roda miliknya sebelumnya. "Ustadz, cepat kau panggil dokter!" perintah Chen. 


"Baik, kamu tunggu di sini dulu," ucap Ustadz Khalid. 


"Hih, aku akan membawanya ke UGD, untuk apa aku tetap di sini?" sulut Chen. 


"Ya, sebelum ke UGD kan seharusnya manggil dokter. Bagaimana bisa kamu membawa masuk begitu saja?" sahut Ustadz Khalid. 


"Iya juga. Lalu, bagaimana? Masa iya aku menunggu di sini seperti orang hilang? Nggak mau ah!" seru Chen. 


Mereka malah berdiskusi lama. Bukannya segera membawa Agam ke dokter, mereka malah mendiskusikan bagaimana cara membawa Agam dan dokter bersamaan ke UGD. Diskusi mereka sungguh kelamaan, sampai-sampai dokter yang memeriksa Gwen sudah keluar. 


"Keluarga Nyonya Gwen?" panggil dokter. 


"Oh, itu dokter!" seru Chen. 


"Ayo kita bicara dengannya. Siapa tau bisa memeriksa Agam," usul Ustadz Khalid. 


"Ide bagus!" puji Chen kepada Ustadz Khalid. 


Chen dan Ustadz Khalid mendekati dokter tersebut dan memintanya untuk memeriksa Agam. "Dokter, ayo segera periksa dia. Dia pingsan begitu saja," pinta Chen dengan menunjuk Agam yang masih pingsan duduk di kursi roda. 


"Tapi Nyonya Gwen ...," 


"Sudahlah, itu nanti saja. Sekarang yang paling penting ini, yang pingsan dulu!" sahut Ustadz Khalid. 


Dokter dibuat bingung oleh Chen dan Ustadz Khalid ini, dan pada akhirnya dokter memeriksa Agam di ruang sebelah. Seperti yang dikatakan dokter, Agam hanya kelelahan dan dehidrasi saja. Ada magg yang tidak ia perhatikan, sehingga membuatnya pingsan di saat asam lambungnya naik. 


Setelah sekian lama, akhirnya Agam terbangun juga. Saat ia membuka matanya, Gwen sudah duduk di depannya sampai naik ke tempat tidur pasien, dimana Agam berbaring di sana. 


"Heh, lihatlah. Pangeranku sudah bangun!" seru Gwen dengan senyum sumringah. 


"Alhamdulillah kamu baik-baik saja, Dek. Kamu tahu, Mas sangat khawatir dengan keadaan kamu saat itu. Mas han--" 


"Stt, aku baik-baik saja. Lihatlah, aku sudah bisa duduk di depanmu, bukan? Mas Agam ini yang apa-apaan. Sudah tau punya riwayat magg, masih saja bandel buat jaga kesehatan!" sahut Gwen sebelum Agam menyelesaikan masalah kekhawatirannya. 


"Maaf, ya ...," ucap Agam. 


"Maafin aku juga karena sudah buat Mas khawatir," sahut Gwen sembari membentangkan tangannya. 


Mereka berpelukan sambil menggoyang-goyangkan badannya ke kanan-kiri. Membuat Chen dan Ustadz Khalid memasang wajah datar karena seolah mereka tidak dianggap ada di sana. 


"Kalian tega begituan di depan kami?" desis Chen. 


Agam dan Gwen melepaskan pelukannya. Mereka menoleh kearah Chen dan Ustadz Khalid yang sudah melipat tangannya dengan mimik wajah serius. 


"Sudah tau kita suami istri, kenapa kalian masih ada di sini?" Gwen enggan ada di posisi yang salah, sehingga ia menggunakan kartu Identitas sebagai istri Agam untuk membela diri. 


"Kau yang memanggil kami, bodoh!" Chen menyentil kening Gwen dengan kencang sampai Gwen hampir terjungkal. 


"Aw sakit, Mas Agam~" Gwen mengadu. 


"Tuan, kenapa Anda menyakiti istri saya?" Agam bahkan sudah mulai menjadi budak cinta putri Mafia berambut pirang itu. 


"Tunjukkan, dimana yang sakit, Dek?" tanya Agam dengan lembut, serta mengusap kening Gwen dengan kasih sayangnya. 


"Ck, dah lah! Ayo pulang, Ustadz. Sebaiknya kita urus hal lain. Tak kuasa hati ini melihat mereka bermesraan seperti ini!" Chen menarik tangan Ustadz Khalid dan membawanya keluar. 


Chen membawa Ustadz Khalid untuk membayar semua tagihan rumah sakit. Ustadz Khalid menjelaskan jika Chen belum boleh pulang sampai hasil rontgen-nya keluar. 


"Heh, mana bisa begitu? Aku Chen Yuan Wang, bahkan menahan peluru saja tubuhku mampu, kenapa ini harus me--"


"Bro, kamu terluka di bagian kepala. Ada baiknya jika kamu mematuhi anjuran dokter," tutur Ustadz Khalid. 


"Ustadz dengarkan aku!" Chen sampai mencengkram erat kedua bahu Ustadz Khalid.


"Mungkin usiaku memang masih muda. Aku tampan, gagah dan pemberani," lanjutnya dengan mendongakkan kepalanya.


"Iya, Bro. Kamu superhero, lanjutkan!" sela Ustadz Khalid melepas cengkraman Chen secara perlahan.


"Oke, terima kasih atas pujianmu. Tapi pekerjaanku ini masih banyak, Bro. Aku ada beberapa perusahaan yang masih harus aku tangani sendiri. Asisten pribadiku, di luar negri. Asisten keduaku, aku kirim ke Afrika. Lalu sepupuku, dia belum bisa menangani masalah pekerjaan ini sendirian," jelas Chen panjang kali lebar. 


"Lantas?" tanya Ustadz Khalid. "Ayo Sus, suntik dia," perintah Ustadz Khalid. 


Sudah ada beberapa suster yang membawa obat penenang untuk Chen supaya bisa beristirahat sampai kondisinya benar-benar membaik. 


"Kau mengkhianatiku?" protes Chen. 


"Kebaikan, semuanya demi kebaikan. Ayo istirahatlah, nanti kita bicarakan lagi masalah pekerjaanmu itu, oke?" jawab Ustadz Khalid menepuk-nepuk pundak Chen. 


"Aku takut jarum suntik, bodoh!" sentak Chen. 


Chen terkulai lemas. Chen terlalu bersemangat dalam melakukan suatu hal. Ustadz Khalid melakukan itu memang demi kebaikan Chen sendiri. Sampai dirinya mampu membereskan masalah di pesantren, ia akan tenang jika Chen, Agam dan Gwen berada di rumah sakit. Apa yang akan Ustadz Khalid lakukan?