Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Aisyah Terluka Lagi.



"Apa? Chen sudah bertemu dengan kedua saudari kembarnya?" Cindy tak bisa menerima kenyataan itu. "Bagaimana bisa? Dan sejak kapan Chen menyadari jika dirinya masih memiliki keluarga kandung?"


"Nyonya pertama, Tuan Muda sudah tahu sejak dirinya pergi ke Amerika," jawab salah satu orangnya. 


"Apa? Selama itu dan aku tidak pernah mengetahuinya?" sulut Cindy. "Tak ada gunanya juga jika aku mengatakan ini kepada Tuan Wang. Sebab, memang saat ini Suamiku itu lebih mencintai Chen daripada aku sebagai istrinya. Apalagi ada istri mudanya itu, sungguh mengesalkan!"


Selama Cindy melahirkan anak perempuannya dan Tuan Wang memutuskan menikah lagi, memang dia kehilangan kepercayaan dari Tuan Wang sendiri. Pasalnya, jika memang Chen menemukan keluarga kandungnya, Tuan Wang tidak akan pernah mempermasalahkannya. 


Tuan Wang tetap akan percaya jika Chen, selamanya tetap menjadi putra satu-satunya baginya. Sementara itu, Cindy masih tak terima dengan pengkhianatan yang dilakukan Chen terhadapnya. 


"Bunuh mereka bertiga!" perintah Cindy. 


"Apa? Mami ingin membunuh kakakku? Tidak! Dia kakakku, Mi. Kau tidak boleh membunuhnya, atau Ayah akan marah denganmu nanti! Pikirkan semuanya dengan baik-baik, Mi." 


Gadis berusia 13 itu rupanya sangat menyayangi kakaknya, meski Chen sendiri tak ingin mengakuinya. Namanya Xia Hee Wang, gadis bermata belo dengan kulit putih ini selalu menyebut dirinya adik kesayangan Chen. Ia juga jatuh cinta dengan Chen di saat usianya menginjak 11 tahun. (Btw aku lupa dah pernah kasih nama ke anaknya Cindy apa belum, yang pasti aku lupa. Jadi, gak usah flasback ok)


"Mami, aku mencintainya. Aku tak ingin Mami melenyapkan nyawanya begitu saja. Aku ingin menikah dengannya, Mi …." rengek Xia. 


Tetap saja, Cindy tak akan membiarkan kesempatan emas menjodohkan Chen dengan putrinya hanya karena harta. Tak melihat jika usia mereka juga terpaut cukup jauh. Xia sendiri tak pernah diinginkan oleh Chen, itu sebabnya Chen memilih untuk tinggal di luar negri. 


_


Rombongan Aisyah kemalaman sampai kota. Perjalanan mereka terhenti di kota di mana itu adalah tujuan utama Chen dan Asisten Dishi. Chen menyarankan agar mereka menginap di penginapan dan melanjutkan perjalanan esok hari. 


"Wah, tidak bisa. Aku harus segera sampai kota. Baru saja … aku mendapat kabar kakak iparku melahirkan dan tidak ada keluarga yang mampu menemaninya," Aom merasa sedih tak bisa ikut dalam perjalanan itu. 


"Kita hanya semalam di sini. Bukankah, seharusnya penyuluhan kalian juga masih sisa 2 hari? Kita bisa gunakan kesempatan itu untuk berlibur, bukan?" ujar Chen. 


"Kita harus melapor dulu. Tenang saja, kalian nikmati masa berkumpul kalian … biar aku dan perawat Aom yang ke kota untuk laporan. Percayalah, kami tidak akan mencurangi laporan ini." usul Syamsir. 


Tetap saja Aisyah menolak. Itu juga tanggung jawabnya, maka mereka harus sama-sama menyerahkan laporan tersebut. Feng memiliki ide cemerlang untuk meminta Aisyah dan Gwen mengabiskan sisa waktu mereka di negara itu. Feng lah yang akan mengambil alih pekerjaan Aisyah untuk memberikan laporan tersebut dengan alasan Aisyah terluka. 


"Tidak bisa, Ko. Ini adalah tanggung jawabku," Aisyah masa kini memang sama dengan Aisyah masa neneknya dahulu yang selalu mementingkan tanggung jawab. 


"Kak Chen, sebaiknya memang malam ini kita harus sampai Kota. Besok dan sisa waktu lainnya … kita gunakan untuk berlibur sebentar di sini, bagaimana?" usul Aisyah. 


"Apapun itu … aku setuju saja. Asal Pak Raza selalu ada di sampingku. Biarlah aku ikut mobil mereka, kalian kalau mau sayang-sayangan ya udah sana. Ayo, Pak Raza, kita masuk mobil!" sahut Gwen dengan kekesalannya. 


Gwen menggandeng lengan Pak Raza dengan keras. Akhirnya, mereka tetap melanjutkan perjalanannya. Ketika di persimpangan jalan, ada satu mobil yang menghalangi perjalanan mereka. 


"Kenapa berhenti, Pak Sopir?" tanya Gwen. 


"Mobil depan berhenti, Nona!"


Gwen menggertakkan gigi, "Ada apa lagi, sih? Drama banget deh!" kesalnya. 


Tak selang berapa lama, Asisten Dishi, Feng dan juga Chen keluar dari mobil itu. Gwen merasa ada yang tidak beres dengan mereka. Ia pun ikut turun dan menghampiri mereka. 


"Gwen, kamu mau kemana?" tanya Pak Raza. 


"Kita harus segera ke sana, Pak. Pasti ada sesuatu ...," 


"Heleh, itu kan orangmu, Chen," kata Gwen menunjuk simbol pin yang di pakai oleh orang-orang tersebut. 


"Bukan, mereka suruhannya Ibu angkatku. Mereka pemberontak, jadi ... sebaiknya Aisyah tetap di dalam mobil dan jangan sampai terluka sedikitpun!" tegas Chen.


"Lalu, bagaimana dengan keadaanku? Apa kau tak pernah mengkawatirkan keselamatanku juga, Kakak Chen?" tanya Gwen. 


"Kau keturunan dari keluarga Lim, bukan? Kau juga pemegang belati keluarga itu, kau juga memiliki ilmu bela diri yang bagus. Apakah kau akan terluka konyol di sini?" 


Ucapan Chen rupanya diambil hati oleh Gwen. Ia merasa, saudaranya itu lebih peduli dengan Aisyah dibandingkan dirinya. Sifat iri yang Gwen miliki begitu besar kepada Aisyah. Sebab, sejak kecil dirinya selalu merasa tak pernah diinginkan oleh siapapun di dunia ini. 


Tanpa berpikir panjang lagi, Gwen mengeluarkan belatinya. Hanya butuh beberapa menit saja, ia mampu melenyapkan nyawa sekitar 8 orang yang ada di depannya dalam waktu singkat. Emosinya tak bisa dikendalikan lagi, belatinya dilumuri banyak darah malam itu. 


Pak Raza dan semuanya yang tak pernah melihat Gwen seperti itu merasa takut dengannya. Kemudian, Gwen mendekati Chen dan berbisik, "Aku memang memiliki seni bela diri yang baik. Tapi, apakah kau tahu, Kak Chen?"


"Hatiku, tubuhku, juga bisa terluka ketika orang lain lebih memperdulikan saudariku dan tidak pernah memperdulikan diriku. Kami sama-sama perempuan, kami sama-sama lemah dalam perasaan, tapi tidak ada seorangpun dari keluarga yang--"


Gwen menarik nafas panjang. Kemudian menyambung ucapannya, "Lawan sudah tumbang, sebaiknya kita segera melanjutkan per ...," 


Dor! 


Satu tembakan telah di luncurkan oleh salah satu dari pemberontak itu. Dua diantara mereka telah berhasil selamat dan kabur. Rupanya, Aisyah lagi-lagi menghalang peluru itu untuk Gwen dan Chen yang saat itu berdiri berdampingan. 


"Aisyah!" teriak seorang lelaki dari kejauhan. 


"Kak Aisyah, kamu--" Gwen memeluk Aisyah yang saat itu hampir jatuh. 


"Kata siapa tak ada keluarga yang menyayangimu? Aku sangat sayang kepadamu adik kecilku yang nakal, em? Aku sakit hati jika kau tak melihat kasih sayangku, jangan pernah lagi bilang kalau tidak ada yang pernah menyayangimu, ya?" ujar Aisyah menahan luka. 


"Aisyah! Kamu nggak papa?" tanya lelaki itu lagi mengambil alih pelukan Gwen. 


Lelaki itu adalah Rafa, ia memang sedang ada proyek di daerah sana. Rafa meminta Feng untuk membawa Syamsir dan Aom ke kota lebih dahulu. Feng merasa aman meninggalkan Aisyah jika sudah ada Rafa bersamanya. 


"Asisten Dishi, kau kembali ke Tiongkok dan laporkan kejadian ini kepada Ayahku. Aku akan tetap berada di sini menemani kedua saudariku. Cepat kembali dan segera bawa kabar baik kepadaku!" perintah Chen.


"Baik, Tuan."


Dengan segera mungkin, Feng dengan ditemani oleh teman Rafa mengantar Syamsir, Aom dan juga sang supir ke kota. Mereka akan menyerahkan laporan terlebih dahulu dan Feng akan kembali secepatnya. 


"Bang Rafa di sini?" tanya Gwen. 


"Iya, kebetulan Abang ada kerja di sini. Ayo, kita bawa Aisyah ke rumah sewa Abang. Tak jauh dari sini tempatnya." jawab Rafa menggendong Aisyah yang saat itu sudah pingsan. 


Semua orang menjadi hening. Sejatinya, Gwen tidak pernah marah dengan siapapun. Ia hanya kesal semua orang lebih menyayangi Aisyah. Hal yang sangat Gwen benci adalah, Aisyah selalu mengorbankan hidupnya untuk dirinya. Aisyah selalu menebus kasih sayang yang kurang diberikan Rebecca untuk dirinya.


Kasih sayang Gwen sebenarnya sama seperti Aisyah menyayangi dirinya. Tetap saja, Gwen tidak pernah berharap jika hal buruk terjadi kepada saudari kembarnya itu.


Jadi, sifat iri Gwen tak ada sebab pastinya. Memang anak kembar kebanyakan seperti ini kawan. Lucu ye.