
"Kamu sering kali minta di turunkan di sini. Apakah tidak jauh dari rumahmu. Aku rasa … di daerah sini, perumahan masih sekitar 1 km," tanya Tuan Zi.
"Um, iya. Sa-saya ada … ada pekerjaan lain di daerah sini. Makanya saya tidak pulang dulu," jawab Lin Aurora berbohong.
Tuan Zi melihat toko itu begitu lengkap dari luar. Tanpa minta izin, Tuan Zi menarik tangan Lin Aurora masuk ke toko tersebut dan ingin mentraktirnya.
"Apa-apaan?"
"Cih, dia membawa istriku masuk ke toko? Benar-benar tidak bisa di biarkan!" kesal Chen.
Chen keluar dari mobilnya. Lalu menyusul mereka dengan masuk ke toko. Tidak lupa Chen memakai topi dan masker supaya Lin Aurora tidak mengenalinya. Tuan Zi menanyakan beberapa pertanyaan kepada Lin Aurora dan Chen siap untuk mendengarnya.
"Kalau boleh tahu ... kamu tinggal dengan siapa saja di rumah? Sepertinya, semenjak kita saling mengenal, kita belum pernah membicarakan keluarga kita masing-masing," tanya Tuan Zi.
"Haduh, aku harus jawab apa ini? Bagaimana jika aku ketahuan berbohong? Ayo Lin, oh Lin Aurora pikirkan baik-baik jawabannya!" batin Lin Aurora semakin tidak tenang.
Muncul ide gila Lin Aurora, mengatakan jika dirinya tinggal sendirian karena dirinya tidak memliki keluarga lain selain kakaknya. Chen mendengar itu, dan dia kesal sendiri.
"Saya tinggal sendirian," jawab Lin Aurora tanpa gugup.
"Apa kamu tidak memiliki keluarga lain? Um, misalnya di lain tempat gitu?" lanjut Tuan Zi.
"Sa-saya ... Memiliki seorang kakak laki-laki yang tinggal di luar negeri bersama istrinya. Tapi dia jarang pulang karena memang jarak kami sangat jauh. Um, meski begitu, kakak laki-laki saya selalu mengirim uang untuk saya setiap bulannya. Itu sebabnya, meski saya tidak menerima gaji, saya masih bisa menghidupi diri saya sendiri," jawab Lin Aurora mengarang.
Tuan Zi mengangguk-angguk, seolah dia paham situasi kehidupan Lin Aurora yang keras. Tidak memiliki orang tua dan hanya tinggal sendiri adalah hal yang sama yang di lalui oleh Tuan Zi dalam kesehariannya.
"Apa? Dia bilang apa? Dasar wanita ini. Jelas-jelas Dia memiliki suami yang serba bisa dan tanpa sepertiku. Dia memiliki Ayah kandung yang kejam dan juga memiliki dua sepasang mertua yang sangat menyayanginya. Kenapa dia tidak mau mengakuinya? Lihat saja nanti aku akan mengurus mau di rumah!" sulut Chen dalam hati.
Masih berjalan memilah belanjaan, Lin Aurora dan Tuan Zi terus mengobrol. Sementara Chen, dia ada di rak sebelah untuk menguping pembicaraan istrinya dengan pria lain.
"Kalau boleh tahu, seperti apa wajah kakak laki-lakimu?" tanya Tuan Zi. "Kamu cantik begini, pasti kakak kamu juga terlihat tampan," lanjutnya.
Seketika raut wajah Lin Aurora merubah. Bagaimana tidak? Sebab Ia tidak memiliki kakak laki-laki yang akrab dengannya dan memiliki foto bersamanya.
"Tamat riwayatku! Aku harus jawab apa? Masa iya harus kubilang privasi?" batin Lin Aurora memutar-mutar ponselnya.
Dengan sikapnya dan pemikirannya yang tenang, Lin Aurora baru saja mendapatkan ide cemerlang. Dia pun menunjukkan foto Dishi, dimana Dishi sedang berfoto dengan Aisyah di rumahnya. Foto itu ada, ketika mereka meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan Lin Aurora bersama Chen.
"Lihatlah, ini adalah kakak laki-lakiku dan kakak iparku. Nama kakakku Dishi, dan istrinya namanya Aisyah. Jangan tanya mengapa kakak iparku memakai penutup kepala, dia seorang Muslimah," jelas Lin Aurora menunjukkan Poto Dishi dan Aisyah.
"Kurang ajar! Dia mengakui Ai-ku dan Dishi sebagai saudaranya, tapi tidak denganku? Benar-benar, awas saja kau Lin Aurora!" kesal Chen meremash-remashh Snack yang ada di depannya. (Sengaja aku tambahin h biar gak kena sensor)
"Wah, kakak laki-laki dan juga kakak iparmu terlihat sangat menawan. Tapi kenapa wajahmu dengan kakak laki-lakimu ini sangat berbeda, ya?" lanjut Tuan Zi lagi mengamati foto tersebut.
Lin Aurora menjawab, jika meraka memang tidak satu Ayah, melainkan satu Ibu. Itu sebabnya, wajah keduanya tidak begitu mirip. Meski tidak mirip, Lin Aurora tetap menyayangi Dishi karena Dishi juga menyayanginya. Itu yang Lin Aurora katakan.
"Tapi lihatlah, kakakmu terlihat bahagia sekali bersama dengan istrinya. Pasti mereka saling mencintai. Oh, iya! Dimana mereka tinggal?" Tuan Zi tidak berhenti menanyakan sesuatu kepada Lin Aurora.
"Astaga, pria ini! Aku akan membunuhnya jika dia lengah nanti. Mulutnya sangat menyebalkan!"
Chen kesal sendiri sampai dia menabrak seorang anak kecil dan membuat anak kecil itu menangis. Chen berusaha membuat anak kecil itu diam. Sayangnya, sang Ibu yang tidak terima melihat anaknya di buat menangis oleh Chen, beliau memukuli Chen terus menerus.
"Aduh, saya minta maaf!"
"Maaf, benar-benar tidak sengaja, Nyonya,"
"Saya tidak sengaja!"
Ibu dari anak itu terus memukulinya. Sampai Lin Aurora dan Tuan Zi mendekatinya. "Ada apa ini?" tanya Lin Aurora.
"Remaja nakal ini, membuat anakku menangis dan hanya meminta maaf tanpa mengganti rugi," Ibu itu bahkan menarik telinga Chen.
"Remaja apanya?" protes Chen.
Meski menggunakan topi dan juga masker, Lin Aurora dapat mengenali suara suaminya sendiri. Dia langsung tanggap dan menjauh sedikit dari Tuan Zi.
"Chen? Dia ... Dia kenapa ada di sini?" Lin Aurora bertanya-tanya dalam hati. "Tidak! Ini tidak benar! Dia pasti akan salah paham karena aku jalan dengan Tuan Zi," lanjutnya ketar-ketir.
Lin Aurora meminta Tuan Zi untuk mengatasi Ibu dan anak tersebut. "Tuan Zi, mohon bantuannya. Saya akan membawa remaja nakal ini keluar dan menasihatinya. Anda tolong urus Ibu ini, bisa? Saya minta tolong__" bahkan Lin Aurora sampai memohon.
Mendengar permohonan Lin Aurora, Tuan Zi pun menyetujuinya. Tuan Zi mengajak Ibu dan anak itu berdiskusi, sementara Lin Aurora mengajak Chen keluar. Sesampainya di luar, Chen langsung membuka maskernya.
"Chen, kenapa kamu sampai di sini?" tanya Lin Aurora panik. "Pakai maskermu lagi, jika Tuan Zi tau--"
"Jika dia sampai tahu, memangnya kenapa?" sela Chen, dia benar-benar terlihat sangat kesal. "Aku bisa mengatakan jika aku hanya kebetulan lewat, atau bisa jadi ... aku sedang mengikuti seorang gadis yang mengaku tinggal sendirian dan memiliki kakak yang tinggal di luar negeri bersama istrinya," lanjut Chen dengan suara yang sudah berbeda.
BAM!!
Chen merajuk. Lin Aurora merasa bersalah akan itu dan mengakui kesalahannya. Akan tetapi, Lin Aurora mengatakan jika saat itu bukan waktu yang tepat untuk memperdebatkan apa yang Lin Aurora katakan kepada Tuan Zi.
"Masuk dulu ke mobil. Setelah ini aku akan menyusulmu," pinta Lin Aurora.
"Tidak perlu menyusul! Aku akan pulang sendiri," cetus Chen kembali memakai maskernya dan berjalan menuju mobilnya.
Setelah itu, Chen meninggalkan Lin Aurora yang masih kebingungan di depan toko tersebut. Lin Aurora kembali masuk dan memastikan jika urusan Tuan Zi dengan Ibu dan anak yang sebelumnya berseteru dengan Chen, sudah mencapai titik terang.