
"Ayanna, Abi minta tolong kirimkan ini ke alamat Bang Rafa, ya? Dia akan pulang sebentar lagi soalnya," ucap Adam kepada Ayanna.
Hanya Ayanna yang tetap tinggal bersama orang tuanya, Adam dan Airy. Sedangkan Anthea mengenyam ilmu sampai ke Tarim sudah hampir 5 tahunan. Kemudian, sejak kecil juga, Rafa selalu didik dengan agama yang kuat. Rafa sejak masih remaja sudah masuk ke pesantren dan jarang pulang kecuali hari raya dan hari penting lainnya.
"Ndug,"
"Iya, Bi?" tanya Ayanna.
"Siapa anak lelaki yang bersama dengan Aisyah? Kenapa Abi merasa tidak asing dengannya, ya?" tanya Adam dengan penuh kecurigaan.
"Aisyah bilang, kalau dia anak jalanan. Dia kabur dari rumah karena Ibunya menikah lagi. Katanya sih mau cari ayah kandungnya. Tapi ya itu, dia bandel banget, masa kalau ada orang yang menjelaskan kebaikan, dia nyolot tiada henti, Bi," jelas Ayanna.
"Ada yang janggal nggak sih dengan anak itu? Melihat dia dan Mamamu bertengkar, seperti--" ucapan Adam terputus karena Airy datang.
Usai mengaji, jam 9 malam Aisyah mengajak Gwen pulang ke rumahnya. Aisyah terus saja memandangi Gwen dengan tatapan mencurigai. Bukan maksud mencurigai, melainkan Aisyah lebih ke arah heran karena Gwen sama sekali tidak mengenal agama.
"Rifky,"
"Em?"
"Aku mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan tersinggung, ya. Dan sebelumnya aku juga minta maaf, sih. Ka--"
"Jadi nanya, nggak?" potong Gwen.
Aisyah mengangguk, kemudian meminta Gwen untuk duduk di depan gapura pesantren. "Kamu tidak pernah diajari agama oleh orang tua?"
"Em, kalau kamu non muslim … apakah kamu tidak pernah beribadah di greja, pura, klenteng atau ke wihara gitu?" tanya Aisyah.
"Sebenarnya, Ibuku selalu mengajariku tentang agama. Ibuku muslim, aku yang selalu kabur saat Ibuku memberiku pengajaran," jawab Gwen.
"Apa alasanmu kabur?" tanya Aisyah.
"Aku terlalu menaruh dendam dengan Ibuku. Gara-gara keegoisan Ibuku, aku berpisah dengan saudari dan ayah kandungku. Aku sangat membenci Ibuku, makanya apa yang dia ajarkan kepadaku, aku selalu anggap itu angin lalu,"
"Karena bagaimanapun juga, ibuku bisa mengajar tapi tidak bisa memakai ilmu itu. Jadi aku rasa, semua itu hanya percuma karena Ibuku tidak memakai ilmu agamanya dengan benar." penjelasan Gwen memang ada benarnya dan banyak salahnya.
Aisyah memberi sedikit pengetahuan tentang pentingnya ilmu fiqih kepada Gwen. Sebab, ilmu fiqih merupakan sebaik-baik ilmu yang bisa membimbing kita kepada kebaikan dan ketaqwaan,dan juga sebagai jalan petunjuk sebagai benteng yang bisa menyelamatkan kita dari segala kesulitan.
Menguasai ilmu fiqih merupakan satu keutamaan bagi seseorang karena dengannya ia dapat mengetahui apa yang harus dan tidak boleh dilakukan, apa yang sebaiknya diutamakan dan ditinggalkan. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, yang kemudian membimbing segala tindakannya, seseorang akan meraih kebaikan dan terhindar dari hal-hal yang buruk. Demikian itu karena segala sesuatu yang ditetapkan oleh Allah menyangkut kebaikan bagi manusia dan untuk menghindari hal-hal yang merugikannya.
.. وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [٢: ٢٢٠]
"…dan Allah mengetahui apa yang dapat merusak dari yang baik. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Baqarah/2: 220)
Dan diisyaratkan oleh Rasulullah s.a.w.,:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِي الدِّينِ (رواه أحمد – صحيح)
"Orang yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, niscaya ia akan dibuat-Nya memahami agama (Islam)." (Riwayat Ahmad – shahih)
Apakah Gwen bisa luluh hatinya, ketika Aisyah memberikan ilmunya sedikit kepadanya?
Tapi kakak, jaman sekarang itu susah sekali membenamkan ilmu fiqih kepada anak-anak. Ataupun di era yang semuanya serba ponsel, serba televisi dan modern seperti ini.
Terkadang, orang tua sudah sangat ketat memberikan pelajaran ilmu fiqih kepada anak-anaknya. Namun, anak-anak zaman sekarang sangat sulit di beri pembelajaran. Ada kalanya jika ada anak yang kurang ajar dan tidak memiliki adab, jangan salahkan orang tuanya, karena bagaimanapun juga, orang tua tetap ingin yang terbaik untuk anaknya.
Begitu pula sebaliknya, kadang memang ada orang tua yang enggan mendidik anaknya dengan benar. Maka dari itu, Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zaman mereka, bagaimanapun juga, mereka tidak hidup di zaman orang tuanya."
"Mengenai najis baik ringan atau besar, adab-adab dalam wudhu, buang air dan lain-lain, kemudian tata cara sholat baik wajib ataupun sunnah, azan, iqomah, dan terakhir puasa wajib atau sunnah. Tapi itu masih banyak lagi," jelas Aisyah.
"Ah iya, aku akan mudah paham jika kau bersedia mengajariku. Besok, aku akan mulai belajar bersamamu." ucap Gwen dengan membusungkan dada.
Mereka kembali ke rumah. Yusuf sudah menyiapkan kamar untuk Gwen tempati. Kamar itu sebelumnya dipakai oleh Hamdan dan juga Falih ketika mereka remaja. Tentu saja kamar itu rapi dan bersih karena selalu Yusuf bersihkan.
"Nah, setelah kalian ganti pakaian, kalian ke dapur ya. Kita makan malam bersama. Ayah sudah menyiapkan makanan enak untuk kalian berdua," ucap Yusuf semangat.
"Lalu, untuk Rifky. Ada beberapa baju baru dan baju lama Rafa ada di almari kamar itu. Mulai saat ini, kamar itu milikmu beserta dengan isinya. Pergilah dan segera ganti pakaian," lanjut Yusuf mengusap kepala Gwen.
"Baik, Ayah! Eh, bolehkan aku memanggil anda dengan sebutan Ayah?" hampir saja Gwen keceplosan.
Yusuf mengangguk.
Makan malam yang selalu Gwen impikan. Bersama keluarga dan membicarakan banyak hal. Sejak dulu, Gwen selalu makan ditemani oleh Willy dan asisten rumah tangga saja. Rebecca selalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menyisihkan waktu untuknya meski hanya untuk makan siang.
Aisyah dan Yusuf yang terbiasa diam ketika makan, malam itu dibuat tertawa oleh tingkah Gwen. Lelucon yang dilontarkan Gwen adalah, dirinya hendak bekerja di toko milik Yusuf dengan bayaran yang lumayan.
"Kenapa kalian tertawa. Ayolah, waktu itu adalah uang. Jadi, aku mau bekerja jika Ayah membayarku dengan gaji yang lumayan," celetuk Gwen.
"Apa yang bisa kamu tawarkan kepadaku, sehingga kamu meminta bonus yang lebih besar?" goda Yusuf.
"Aku bagaikan mentri pertahanan. Aku juga permata dalam batu. Sudahlah, aku hanya ingin gaji yang sedikit besar, jadi bagaimana? Apa aku sudah diterima menjadi karyawanmu, Ayah?" Gwen lagi-lagi berkata yang membuat Yusuf dan Aisyah tertawa.
Meski anak orang berada, Gwen sangat mata duitan. apapun yang bersangkutan dengannya pasti tidak jauh-jauh dari uang. Teringat beberapa waktu lalu ketika Gwen dimintai tolong oleh Aisyah membersihkan baju lama Rafa. Tetap saja Gwen meminta uang sebagai imbalannya.
"Bagaimana kalau kamu sekolah dan belajar mengaji? Ibumu muslim, bukan?" usul Yusuf.
"Aku malah belajar. Ada Aisyah yang mengajariku, kenapa aku harus belajar dengan orang lain?" desis Gwen.
"Rifky, mau sampai kapan kamu belajar dengan Aisyah. Ada guru yang lebih banyak ilmu yang mampu mengajarimu. Ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak mau belajar?" tanya Yusuf.
"Haih," Gwen menghembuskan nafas panjang.
Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Gwen menerima saran dari Ayahnya untuk masuk ke sekolah bersama dengan Aisyah. Meski masih membutuhkan waktu bagi Yusuf untuk menemukan identitas asli Gwen, namun tetap saja Gwen harus pergi belajar.
"Tapi aku punya syarat," ujar Gwen mengangkat telunjuknya.
"Rifky!" seru Aisyah.
"Katakan!" ucap Yusuf.
"Belajar itu membutuhkan waktu berapa jam?" tanya Gwen.
"Belajar ngaji apa sekolah?"
"Sekolah yang memakai seragam seperti Aisyah," tunjuk Gwen.
"Kalau Aisyah biasa dari jam 7.45 sampai 13. 45, ada apa?" jawab Yusuf.
"Satu jamnya aku ingin ayah membayarku 100 ribu, bagaimana?"
Aisyah menepuk keningnya sendiri. Ia sudah tidak tahan mendengar betapa rakusnya Gwen. Aisyah pun meninggalkan Yusuf dan Gwen berdua di meja makan. Terjadilah negosiasi diantara mereka berdua.
Semua demi masa depan Gwen, yang menurut Yusuf belum tahu siapa Gwen sebenarnya. Tapi, Yusuf tetap ingin Gwen belajar dengan baik. Selebihnya, Gwen harus memiliki adab yang baik jika dia tidak pandai dalam pelajaran.