
"Mas Agam?"
"Mas ngapain di sini?" tanya Gwen.
"Kamu, kemarilah!" kembali Agam memanggil Xia. Perlahan, Xia membawa Ilkay dan Rifky mengikuti Gwen dan Agam dengan tanpa sepengetahuan dari Jackson Lim dan Cindy yang tengah sibuk mencari penawar yang Xia arahkan.
Tangan Agam masih menarik telinga Gwen sampai di dekat mobil berwarna hitam di pinggir jalan. "Kamu ini nakal sekali! Mas sudah bilang, jangan datang ke mari. Kamu bisa mempercayakan ini semua kepada saudaramu. Kenapa kamu masih bandel? Kalau seperti ini, kamu tidak menghargai dan mengormati Mas sebagai suami kamu, Dek?" tutur Agam.
"Mas melarang bukan Mas tidak peduli. Mas pasti akan bantu meski tidak langsung dari sini. Melihat kamu berkelahi seperti itu, membahayakan diri sendiri seperti itu … apa tak sedikitpun kamu tidak memikirkan, Mas?"
"Kenapa kamu sebandel ini, Dek? Mas kecewa sama kamu!" tukas Agam memalingkan wajahnya dan melepas telinga Gwen.
Gwen menunduk malu. Dirinya memang bersalah, ia tidak menyangkalnya jika Agam masih ingin memarahinya. "Mas, aku--"
"Kak Gwen, siapa dia?" tanya Xia, tiba-tiba datang dengan membawa Ilkay di tangannya dan Rifky di gendongannya.
Agam berjongkok, kemudian memeluk Ilkay dengan kasih sayang. Lalu, meminta Ilkay untuk masuk ke mobil dan akan mengantarnya di kediaman Wang. Tempat yang cocok untuk mereka (Ilkay dan Rifky) berada.
"Kamu masuklah, kita akan membawa pulang anak-anak," pinta Agam kepada Xia dengan lembut.
Xia merasa jika Agam memang orang baik. Ia pun menurut dan masuk ke mobil. Kemudian di susul oleh Agam dan Gwen. Mereka pulang terlebih dahulu. Selama di perjalanan pulang, Agam hanya diam saja. Ia sama sekali tidak menanyakan kabar Gwen. Sesekali bicara, hanya bicara dengan Ilkay dan juga bertanya kepada Xia.
Sejam perjalanan, akhirnya mereka sampai dikediaman keluarga Wang. Kebetulan juga bersamaan dengan Aisyah dan Asisten Dishi juga sampai di depan rumah. Melihat Aisyah dan Asisten Dishi turun dari mobil, segera Ilkay juga turun memanggil keduanya.
"Mama! Ayah!" teriak anak kecil bermata kehijauan itu.
Mendengar suara Ilkay memanggilnya, membuat hati Aisyah seperti di tempelin sebuah balok es. 'Nyes' dan terasa mendebarkan. Aisyah berbelok, menoleh ke arah dimana seorang anak kecil itu menyebut dirinya sebagai, 'Mama'.
"Ilkay?"
"Mama! Ayah!"
Aisyah dan Asisten Dishi bergantian memeluk putra mereka. Betapa terharunya Aisyah, akhirnya bisa bertemu lagi dengan putranya. Ia takut, jika Ibu kandungnya tidak melepaskannya. "Ini beneran kamu, Nak? Mama sangat merindukanmu. Ilkay jangan pergi lagi, ya. Mama sangat menyayangi Ilkay," ucap Aisyah.
"Ayah, aku tidak takut apapun. Seperti yang Ayah katakan, jika aku harus berani dan melindungi orang yang ada disekitarku tanpa syarat. Paman kecil terus menangis, aku mengancam pelayan rumah dan mereka mau membuatkan susu untuk Paman kecil, apa akau salah, Ayah?" ungkap Ilkay.
"Alhamdulillah kamu bisa kembali lagi. Kamu tahu, Mamamu sangat mengkhawatirkanmu, Ilkay. Ayo, jagoan Ayah masuk dulu ke rumah," ucap Asisten Dihsi mengusap kepala Ilkay.
Datanglah Agam, Gwen dan juga Xia mendekati mereka. "Ustadz Agam, Anda di sini juga?" tanya Aisyah.
"Ada seseorang yang sengaja membuat saya harus datang ke sini, Dokter Aisyah. Padahal saya sudah melarangnya. Untung saja saya sayang, coba kalau tidak … pasti pestisida sudah aku siramkan padanya," sindir Agam.
"Jahat!" cetus Gwen tidak terima.
"Xi-Xia? Kamu …?" tunjuk Aisyah heran.
"Kak, ini adik kakak. Maaf, aku telah ikut campur dalam masalah kalian. Maafkan kesalahanku yang lalu, Kak Ai, Kak Gwen. Sekarang, aku hanya akan mendengarkan kata hatiku saja tanpa harus menjadi penjahat dalma maslaah keluarga dan pribadi," ungkap Xia dengan penyesalan yang mendalam.
Aisyah melihat raut wajah remaja berusia 14 tahun itu penuh ketulusan. Tanpa dijelaskan lagi, Aisyah paham apa yang dimaksudkan oleh Xia.
Kalian sudah pulang? Ayo, segera masuk! Bawa bayi itu ke dalam, kasihan!" perintah Tuan Wang dengan tegas.
"Kenapa sangat mirip dengan, Ai? Rambutnya, apakah mirip denganmu, Ai? Secara, dulu saya pernah melihat milik Gwen, tapi berwarna pirang," tanya Nyonya Wang a.k.a Nyonya kedua.
"Kami juga baru melihat baby Rifky sekarang secara langsung. Tak kusangka jika dia mirip sekali dengan Kak Aisyah," celetuk Gwen.
Aisyah terus memandang adik kecilnya. Sembari menepuk-nepuk kepala Ilkay yang sudah mau tertidur, Aisyah terus kepikiran dengan keberadaan ayah dan ibunya saat itu.
"Ai, ada apa?" tanya Nyonya Wang.
Aisyah menghela napas panjang. Tak ingin menambah repotnya orang baik seperti Tuan dan Nyonya Wang, Aisyah berbohong jika dirinya hanya lelah saja.
"Setelah makan, kamu istirahatlah. Kami akan berusaha mencari keberadaan orang tua kalian secepatnya. Tolong, beri kami waktu," ucap Tuan Wang.
Tuan Wang seorang pria yang tegas, disegani dan juga menyeramkan. Namun, dengan Aisyah, ia mampu luluh hatinya dan menjadi lembut tutur katanya. Bahkan, Nyonya Wang saja sampai bingung mengapa Tuan Wang yang arogan bisa menjadi lembut kepada gadis berusia 23 tahun itu.
"Ilkay sudah tidur, aku akan mengangkatnya dan membawa masuk ke kamar. Kamu bisa istirahat lebih dulu, setelah ini kita akan pulang ke Jogja," bisik Asisten Dishi.
"Jogja? Aku harus kembali ke Korea, Ail!" sahut Aisyah berbisik juga.
"Ada hal yang ingin aku katakan nanti. Aku anyar Ilkay ke kamar dulu!" seru Asisten Dishi mengangkat tubuh Ilkay ke kamarnya.
Sementara itu, suasana masih terasa canggung saat Agam dan Gwen masuk ke kamar mereka. Agam terus saja mendiamkan istrinya yang bakal selama Tuan dan Nyonya Wang berbicara di ruang tengah beberapa waktu lalu.
"Mas, maaf~" ucap Gwen. "Aku salah, aku minta maaf dan aku menyesal," lanjutnya dengan suaranya yang manja.
Namun, Agam tetap saja diam. Sejujurnya Agam sudah tidak marah. Hanya saja, itu adalah kebaikan untuk Gwen supaya lain kali mau mendengar penuturan suaminya sendiri.
***
Usai makan malam, semuanya kembali ke kamarnya masing-masing. Chen dan Jovan juga sudah kembali, tapi Jackson Lim dan juga Cindy berhasil melarikan diri dengan tubuhnya yang masih terkena racun milik Xia.
Keduanya terluka, tapi tidak terlalu parah. Hanya luka memar dan satu tusukan di tangan mereka masing-masing. Chen dan Jovan juga sedang duduk bersama Feng dan Leo di ruang tengah. Mereka berdua juga sedang dalam pemulihan karena di jadikan tawanan oleh Raza.
"Jika kakekmu tau, pasti kau akan di jemput olehnya. Persis saat sekolah Dasar dahulu. Kau masih ingat? Bagaimana kakekmu menjemputmu, Tuan Muda Hao?" ejek Chen. "Kakekmu itu sangatlah aneh! Cucu sendiri malah selalu dijadikan umpan!" lanjutnya. (Chen julid)
"Berisik!" kesal Feng.
"Tuan Muda Hao, apa kah tidak mendengarku? Jadilah cucu yang patuh, kau ini penerus keluarga! Kenapa bisa mempermalukan seperti ini, hah!" Chen tak henti-hentinya menggoda Feng yang wajahnya sudah mulai memerah.
"Kau … Aku akan membawamu--" ucapan Feng terhenti.
"Kemana?" tanya Chen dengan raut wajahnya mengejek.
"Ke neraka jahanam! Menyebalkan, aku akan menusuk lebammu itu, Chen!"
"Oh, kalau begitu, aku akan menabur garam di luka telapak tanganmu," sulut Chen tak ingin kalah dari Feng.
Mereka terus bertengkar meski Nyonya Wang telah menyajikan ayam goreng di depannya. Selain bertengkar karena masalah sepele, mereka juga berebut bagian ayam goreng yang mereka sukai. Benar-benar terlihat seperti anak kecil dan begitulah gambaran Ayahnya dulu.